Empat Strategi Industri Mendorong Ekonomi Inklusif

Jakarta, 22 Maret 2018 – pelakubisnis.com – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara, Kemenperin telah menetapkan empat strategi dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi inklusif. Kebijakan itu melalui kebijakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri, pembangunan industri ke luar pulau Jawa, peluncuran program e-smart IKM, dan penerapan Industry 4.0.

Dalam siaran pers Kemenperin hari ini, Ngakan menjelaskan, pengembangan SDM industri bertujuan untuk mencipatakan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan di dunia usaha saat ini. Upaya tersebut, antara lain dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi, program link and match SMK dan industri, serta program pelatihan industri dengan sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi dan penempatan).

Lebih lanjut ditambahkan, Kemenperin menargetkan lebih dari satu juta tenaga kerja industri kompeten yang dihasilkan dan telah tersertifikasi hingga tahun 2019. Selama periode tahun 2013-2017, terjadi peningkatan signifikan terhadap jumlah tenaga kerja sektor industri dari 14,9 juta orang pada tahun 2013 menjadi lebih dari 17 juta orang tahun 2017, atau rata-rata naik 512 ribu orang per tahun.

Sementara strategi pembangunan industri ke luar pulau Jawa bertujuan untuk mendorong terwujudnya Indonesia sentris dan pengurangan ketimpangan ekonomi. Kebijakan ini dilakukan dengan memfasilitasi pembangunan kawasan industri yang mayoritas berlokasi di luar pulau Jawa.

“Saat ini, sebanyak 10 kawasan industri baru sudah beroperasi, dan ada tiga kawasan industri yang menyusul selesai pembangunannya pada tahun ini, serta ditargetkan lima kawasan industri baru pada tahun 2019,” ungkap Ngakan. Dengan demikian, sampai tahun 2019 terdapat 18 kawasan industri baru, melebihi target program nawacita sebanyak 10 kawasan industri.

Sedangkan kebijakan e-smart IKM, ditujukan untuk peningkatan kesempatan bagi IKM nasional dalam memasarkan produk secara lebih masif melalui platform digital. “Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Industry 4.0 yang saat ini tengah dikembangkan,” kata Ngakan.

Pada tahun 2017, sebanyak 1730 IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM. Tahun 2018 ditargetkan bertambah sebanyak 4000 IKM dan tahun 2019 membidik hingga 5000 IKM. Para peserta workshop mendapat pelatihan untuk peningkatan daya saing dan produktivitas usahanya serta cara berjualan di marketplace.

Kemenperin telah menyusun roadmap yang difokuskan pada lima sektor manufaktur, yakni indutri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia.“Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap yang terintegrasi untuk implementasi sejumlah strategi kita dalam memasuki era revolusi industri keempat,” jelasnya.
Kepala BPPI ini berharap peran aktif pengusaha dalam mendukung sasaran pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif tersebut. “Pengusaha memiliki peranan penting sebagai aktor utama penggerak ekonomi nasional. Dengan dunia usaha semakin meningkat, maka potensi menumbuhkan usaha-usaha baru di sektor produktif akan mampu menciptakan peluang kerja yang lebih banyak lagi,” paparnya. [] pr/yt