Naiknya Harga Batubara, Menurunkan Laba PLN

Jakarta, 29 Maret 2018, pelakubisnis.com –  Beban usaha PT PLN (Persero) mengalami kenaikan sekitar 8,3%  atau Rp 21,02 triliun menjadi Rp 275,47 triliun pada tahun 2017. Dengan kenaikan itu, laba bersih PLN pada tahun lalu mencapai Rp 4,42 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,15 triliun. Demikian disampaikan Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT PLN (Persero) I Made Suprateka secara tertulis, di Jakarta, 28/3.

Penurunan laba terutama disebabkan karena adanya kenaikan biaya energy primer batubara. Menurut I Made harga batubara mengalami kenaikan  signifikan sejak akhir tahun 2016.  Padahal 58%
produksi listrik PLN berasal dari energi primer batubara. Pada Tahun 2017, biaya pokok
produksi PLN naik Rp 16,46 triliun akibat kenaikan harga batubara yang menyesuaikan
dengan harga HBA pasar.

Selama tahun 2017,kata I Made,  beberapa kondisi makro yang mempengaruhi tarif tenaga listrik
sesuai PERMEN ESDM No 18 Tahun 2017 yaitu Kurs Dollar Amerika, Indonesia Crude Price
(ICP) dan/atau Inflasi mengalami kenaikan dibanding dengan acuan APBN.  “PLN berhasil
mempertahankan tarif serta mengendalikan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) di tengah
perubahan asumsi makro, serta kenaikan harga gas dan batubara tersebut,” katanya.

Melalui usaha efisiensi yang terus berlanjut, tambah I Made,  tarif listrik tidak mengalami kenaikan sejak 2015 sehingga tidak menambah beban pelanggan serta  menjaga agar industri dan bisnis tetap kompetitif. PLN terus berupaya menekan BPP meskipun Subsidi Listrik menurun dan tidak adanya kenaikan tarif listrik.

Lebih lanjut ditambahkan, efisiensi yang dilakukan  operasional PLN,  membantu keuangan PLN tetap dalam kondisi sehat. Dalam kurun waktu 2015 – 2017,  secara  kumulatif penambahan pinjaman
PLN sebesar Rp 83,6 triliun, jauh lebih rendah dibanding tambahan penyerapan investasi
sebesar Rp 190,7 triliun. Selama tiga tahun terakhir (2015-2017), PLN berhasil memberikan
kontribusi fiskal kepada Negara sebesar Rp 239,5 triliun yang terdiri dari peningkatan
pajak dan deviden sebesar Rp 96 triliun dan penghematan subsidi sebesar Rp 143,5 triliun.

Berbagai upaya peningkatan pelayanan telah dilakukan oleh PLN untuk memberikan
akses yang lebih mudah bagi masyarakat dalam mendapatkan listrik. Hal ini menjadikan
Indonesia menduduki peringkat 38 pada tahun 2018 dalam Getting Electricity sebagaimana hasil survey terkait EODB yang dilakukan oleh World Bank. Kontribusi PLN dalam Kemudahan Getting Electricity membuat peringkat Indonesia dalam survey Ease of Doing Business turut meningkat menjadi ke posisi 72 dari 190 negara. [] mk