Berjibaku Membangun Bisnis Mukena Colet

Mardiyah rela meninggalkan posisi empuknya di salah satu bank swasta nasional untuk menekuni bisnis mukena lukis khas Pekalongan. Bagaimana liku-likunya membesarkan usaha?

Minggu itu jam 7 pagi, beberapa karyawan di Gallery Omah Colet yang berlokasi di Perumahan Kota Legenda, Bekasi sudah mulai sibuk berbenah. “Bu Mardiyah sedang lari..sebentar lagi sampai,”ujar Avin, salah satu karyawan Omah Colet yang kelihatan sibuk menata tumpukan mukena yang  baru datang dari Pekalongan, memberitahu pemilik gallery sedang berolahraga.

Gallery Omah Colet seluas 120 meter persegi dibeli Mardiyah dari tabungannya selama bekerja menjadi karyawan di PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan hasil berjualan mukena lukis yang telah dimulainya sejak 11 tahun lalu.

Sepanjang tahun itu bisnisnya terus menggeliat di tengah persaingan yang amat ketat. Maklum, ada beberapa pemain sejenis di pasar mukena colet (demikian jenis kreasi mukena Omah Colet). Di luar jenis mukena colet, ia harus bersaing dengan mukena-mukena dengan kreasi yang lain seperti  mukena bordir Tasik dan mukena bordir Padang. Belum lagi, beberapa tahun terakhir bermunculan mukena-mukena lukis dari beberapa daerah di Indonesia dengan kualitas bahan kain yang lebih rendah.

Tapi diakui ibu dua anak ini,  mukena lukisnya tidaklah sama dengan mukena-mukena lukis yang banyak didapati di pasar grosir. Ia menyebutnya, Mukena Batik Colet, yakni mukena yang dilukis (dicolet) dengan kuas bambu yang ujungnya ditumbuk menyerupai sabut lukis. Mukenanya menggunakan  kain katun santung kualitas prima dengan tekstur tebal tapi ‘adem’.

Dari tahun ke tahun penetrasi pasar semakin meluas hingga ke beberapa kota di Indonesia. Bahkan lintas negara seperti Malaysia, Taiwan, Australia, Korea, Jepang, Arab Saudi dan lain-lain. Memang sampai saat ini mukena colet sampai keluar negeri masih melalui  jalur pertemanan dan saudara yang menjual mukena colet lintas negara.

Tak sia-sia istri dari Dicky  D Roswy ini mengambil keputusan terjun menjadi pebisnis.  Ia teringat dengan celetukan  ayahnya, bahwa sembilan anaknya telah berhasil ia sekolahkan hingga menjadi sarjana. Namun sang ayah heran, mengapa semua anaknya hanya menjadi pegawai dan bekerja untuk orang lain. “Ayah saya itu ingin anak-anaknya menjadi seperti Aburizal Bakrie, pengusaha yang membuka banyak lapangan kerja buat orang lain,” kata Mardiyah dalam sebuah wawancara dengan media online.

Koleksi mukena siap didistribusikan dari Gallery Omah Colet

Ucapan adalah do’a. Rupanya Mardiyah mewujudkan keinginan ayahnya untuk menjadi pengusaha. Impian sang ayah terwujud. Hatinya senang melihat kesuksesan puteri-puterinya mengelola bisnis mukena.

Ternyata, Mardiyah bukan yang pertama, melainkan kakak perempuannya, Marfuah lah yang mengawali bisnis mukena colet ini.

Marfuah  adalah pegawai divisi marketing di kantor cabang salah satu bank swasta nasional. Dengan posisinya ini Marfuah memiliki koneksi yang luas dengan para cukong dan pemasok bahan-bahan tekstil dan bahan baku mukena lukis.

Di masa kecilnya, kakak beradik, Mardiyah dan Marfuah ini semasa sekolah tinggal dengan bu’de (kakak ibunya-red)  yang memiliki toko tekstil dan juga menjual mukenah. Berbekal ilmu berdagang dari bu’de nya ini keduanya berkolaburasi. Masing-masing menjalani perannya, dimana Marfuah yang memproduksi dan adik-adiknya yang memasarkan.

Singkat cerita,  dua tahun pertama  Mardiyah belum fokus menjalani bisnisnya. Barulah di tahun 2007, Mardiyah  memutuskan untuk lebih serius dan mendirikan butik mukena lukis dengan nama  Mukena Batik Omah Colet di komplek ruko dekat rumahnya.

Bersama sang suami Dicky D Roswy, Mardiyah terus menekuni bisnis penjualan mukena lukis miliknya. Tanpa kenal lelah ia terus berjuang memperkenalkan koleksi mukena Omah Colet melalui berbagai cara. Diantaranya melalui  ajang  pameran UMKM  seperti yang sering diselenggerakan Bank Danamon maupun lembaga lain.

Menurut wanita kelahiran 19 Januari 1970 ini, tahap pertama yang terpenting adalah menanamkan merek mukenanya dibenak konsumen.

Seiring berjalannya waktu,  pelanggan Mardiyah semakin meluas. Dari jaringan pertemanan dan saudara, masuk online store hingga social media. Melalui jalur-jalur promosi di social media seperti facebook dan Instagram, mukena Omah Colet pun semakin dikenal dan diminati pasar.

Usahanya bersama sang kakak yang semula hanya mempekerjakan 2 orang karyawan kini sudah memiliki lebih dari 50 karyawan. . Sepanjang periode Semester I 2016, Mardiyah mampu meraup omzet lebih dari Rp1 miliar.”Pokoknya sebanyak mungkin, agar terpenuhi kebutuhan para muslimah.

Selain di Galery atau Butik Omah Colet, Mardiyah juga membeli sebuah ruko untuk mendisplay mukena nya  di pertokoan Dukuh Zamrud,  Kota Legenda, Bekasi.

Kini, 11 tahun sudah Omah Colet   menghasilkan beragam jenis produk mukena yang dibantu  kreativitas para desainer seni colet ini yang berpusat di Pekalongan. Kini terdapat belasan model colet mukena, mulai dari mukena colet biasa perpaduan bunga-bunga aneka warna plus renda, mukena gradasi, mukena pasir cinta, mukena gribigan (motif bilik), mukena colet timbul, mukena gelombang cinta, mukena mega cinta -perpaduan colet dengan bahan full color-, mukena anak-anak dari ukuran S, M, dan L dan untuk ABG pun diproduksi.“Rata-rata harga mukena Omah Colet bervariasi antara Rp100 ribu – Rp300 ribu,” tutur Sarjana Ilmu Sosial ini yang juga melengkapi butiknya dengan koleksi gamis, sarung, heejab dan mukena katun Jepang yang lebih lebar dan lebih panjang dari rata-rata mukena berbahan katun Jepang yang beredar di pasaran.

Kesuksesannya memproduksi mukena colet  membuatnya berani  mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai professional di Bank Danamon. Setelah 9 tahun berstatus double antara pengusaha mukena sekaligus Media External Bank Danamon, Mardiyah akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari bank swasta tersebut. Ia memutuskan untuk total berkiprah sebagai pengusaha. “Selama 3 tahun terakhir ini keinginan keluar sudah kuat. Akhirnya saya berhasil mengambil keputusan yang tepat,” tutur Mardiyah. []Siti Ruslina