Dibalik Savana Pulau Rinca!

Saya  lahir dan dibesarkan di negeri ini, namun baru saya sadari kemolekannya dalam dua tahun belakangan ini. Sebelumnya, gagasan  untuk bepergian dan menghabiskan liburan yang luar biasa selalu berorintasi  pada keindahan objek wisata di luar negeri.  Setidaknya  melihat keindahan   negara-negara ASEAN seperti Singapura ataupun Thailand.

Ternyata gagasan wisata dalam lingkup domestik, tak kalah menariknya! Malah lebih efisien untuk urusan  waktu dan uang,  bila  dibandingkan  harus pergi ke luar negeri. Beberapa teman saya yang telah mengunjungi Eropa dan pantai-pantai lain di dunia mengakui bahwa Indonesia memiliki beberapa pantai yang eksotis. Terutama di bagian timur negeri ini.

Salah satu perjalanan luar biasa yang saya lakukan baru-baru ini adalah perjalanan berlayar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur dengan Travel Society.  Pulau Rinca adalah perjalanan ketiga selama kami tiba di Labuan Bajo setelah Pulau Kelor dan Manjarite. Menyusul beberapa pulau lainnya seperti Pulau Padar, Pulau Namo (Pink Beach), Pulau Kanawa hingga Angle Island.

Letak Pulau Rinca lebih dekat dari Labuan Bajo jika dibandingkan dengan Pulau Komodo, dengan titik tertinggi pulau ini berada di Doro (Gunung) Ora dengan ketinggian sekitar 670 mdpl. Di pulau  ini hidup berbagai jenis binatang seperti babi liar, kerbau, burung dan komodo.

Salah satu cara  menuju Pulau Rinca  adalah memulai perjalanan dari Labuan Bajo dengan menggunakan kapal sewaan. Pengunjung juga dapat menggunakan jasa travel agent yang menyediakan paket tour sailing Komodo di sepanjang jalanan sekitar  Labuan Bajo. Perjalanan menuju Pulau Rinca dari Labuan Bajo ditempuh selama 2 jam via laut  dan berlabuh di dermaga Loh Buaya di Pulau Rinca. Dari pos penjagaan, nantinya pengunjung akan dipandu oleh para ranger untuk menjelajahi dan menelusuri jejak komodo di Pulau Rinca.

Tersedia pilihan jalur trekking yaitu mulai dari trekking pendek, medium hingga yang panjang. Pengunjung bebas menentukan sendiri pilihan rute tinggal disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing. Dalam hal ini saya memilih trekking pendek, mengikuti travel agent yang memandu kami saat itu. Di sepanjang jalur trekking, pengunjung akan ditemani oleh pemandangan indah berupa jajaran perbukitan dan hamparan laut biru.

Di wilayah ini bukit  akan mengering di musim kemarau dan ketika masuk musim penghujan, bukit ini akan menghijau. Di sela-sela perjalanan trekking, pengunjung akan menemukan puncak bukit yang memiliki pemandangan khas Pulau Rinca. Hamparan laut biru dipadukan dengan perbukitan eksotis semakin menambah keindahan Pulau Rinca yang sungguh memanjakan mata.

Terdapat beberapa fasilitas penunjang bagi  pengunjung seperti toilet, warung makan dan homestay di sekitar lokasi pos penjagaan di Pulau Rinca.

Memasuki Sarang Komodo

Pulau ini dipenuhi oleh Komodo, spesies kadal terbesar yang hanya dapat ditemukan di Indonesia, dan akan merayap keluar hanya dengan melihat ukurannya yang sangat besar. Sebenarnya komodo yang berukuran lebih besar ada di Pulau Komodo.  Yang besar sebenarnya tidak terlalu berbahaya, karena karena bobotnya yang berat mereka tidak banyak bergerak.  Tapi komodo di Pulau Rinca  lebih kecil dan ganas.  Kontur geografis Pulau Rinca yang didominasi padang savana membuat cuaca terasa amat panas yang mungkin mempengaruhi ‘Si Naga Purba’ -sebutan komodo– di Pulau Rinca akan bersifat lebih agresif dibandingkan di Pulau Komodo. Di Pulau Rinca Anda akan menemukan banyak dari mereka hanya berbaring di tanah.

Namun, penjaga setempat tidak mengizinkan  kami untuk berjalan terpisah dari kelompok. Mungkin ada  juga orang-orang yang bisa berlari sangat cepat. Kalau  kurang cepat, komodo bisa menggigit Anda. Menakutkan, ya?  Yap, mereka karnivora! Tetapi jangan khawatir tersandung komodo yang lapar, karena makan siang mereka tersebar di mana-mana.

Saya benar-benar takut berpikir bahwa mereka mungkin berlari ke arah saya dan memakan kaki saya atau  bagian tubuh saya yang lain.

 

Coba tebak apa menu makan siang mereka? Pertama kali saya memasuki pulau ini, saya melihat begitu banyak rusa cantik berkeliaran dengan bebas. Terpikir sejenak, senangnya melihat rusa-rusa itu  hidup begitu bebas seperti ini, di habitat alami mereka yang  sangat indah.  Namun,  penjaga lokal memberi tahu saya, “Rusa-rusa  di sini disajikan untuk komodo sebagai makan siang,”. Oh My God!

Hal yang unik tentang Komodo adalah bahwa keberadaan mereka perlahan menjadi langka karena kanibalisme. Laki-laki hanya akan bertemu betina selama musim kawin, yang seperti setahun sekali. Dia kemudian akan mengabaikannya dengan begitu banyak anak yang harus dijaga. Pada saatnya sang betina itu kemudian akan memakan anak-anaknya sendiri hanya untuk bertahan hidup.[]Henry Gerson Arnold