E-Commerce: Transaksi Meningkat, Investasi Melesat

Diprediksi nilai transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun ini bisa mencapai Rp. 100 triliun. Angka ini akan terus meningkat, di tengah rontoknya sejumlah gerai ritel dalam negeri. Raksasa e-commerce dunia pun mulai masuk ke pasar dalam negeri. Apa Sebagai ancaman?

Satu dekade terakhir ini mulai terjadi perubahan pola belanja masyarakat perkotaan. Bila sebelumnya gerai-gerai ritel konvensional (mall) menjadi simbol gaya hidup belanja kelas menengah di sini, kini terjadi perubahan tren belanja anak negeri. Gaya belanja kini berada di genggaman tangan. Melalui smartphone – seisi mall (barang yang diawarkan) – ada di depan pelupuk mata. Langsung klik, terjadi transaksi. Satu atau dua hari kemudian, barang yang dibeli tiba di rumah.

Suatu evolusi belanja, bila boleh dikatakan demikian! Konsumen begitu dimanjakan dengan cara-cara digital. Tren itu kian waktu bergerak cepat, memadati rana-rana kehidupan. Fenomena itu didorong dengan meningkatnya kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan data, jumlah kelas menengah di Indonesia kini mencapai 40 juta jiwa. Angka it terus meningkat, diprediksi bisa menembus angka 200 juta jiwa pada tahun 2045.

Kini tak heran bila pengguna smartphone di Indonesia mencapai 100 juta jiwa. Suatu angkah yang sangat besar! Dan intrumen itu merupakan salah satu piranti belanja e-commerce. Menurut prediksi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), nilai transaksi e-commerce tahun 2018 ini mencapai Rp. 100 trilun. “Nilai transaksi e-commerce itu diperkirakan tahun depan akan menembus Rp100 triliun. Ini berkaca dari 2016, yaitu Rp75 triliun dari data Bank Indonesia, kita memprediksikan akan dapat tumbuh sampai Rp100 triliun. Kalau 2017 sekitar Rp85 triliun,” jelas ekonom Indef, Bhima Yudistira, sebagaimana yang dikutif dari website Media Indonesia.

Peningkatan jumlah transaksi tersebut sangat memungkinkan terjadi karena jika berkaca dari jumlah transaksi pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2017, nilai transaksinya meningkat hingga mencapai Rp 4 triliun. Sedangkan pada Harbolnas 2016 transaksinya hanya mencapai Rp3,3 triliun.

Perubahan pola perilaku belanja ini juga ditunjukkan dengan jumlah transaksi e-Commerce yang meningkat. Laporan tahunan yang dikeluarkan We Are Social menunjukkan persentase masyarakat Indonesia yang membeli barang dan jasa secara online dalam kurun waktu sebulan pada 2017 mencapai 41 persen dari total populasi, naik 15 persen dibandingkan 2016 yang hanya 26 persen, sebagaimana dikutip liputan6.com.

Berdasarkan survei Shopback terhadap lebih dari 1.000 responden di Indonesia untuk melihat pola belanja masyarakat, sebanyak 70,2 persen mengaku keberadaan toko online memengaruhi pola belanja. Mereka menjadi lebih sering berbelanja online dibangingkan di toko offline. Selain itu, sebanyak 83,1 persen responden mengaku pernah ke toko offline untuk melihat barang, tapi kemudian membelinya secara online.

Kecendrungan prilaku demikian dianggap manusiawi. Konsumen ingin melakukan benchmark harga di toko offline. Bila harga belanja online lebih murah dan kualitas barang yang diperolehnya sesuai dengan info produk yang didapatnya, maka bukan tidak mungkin ke depan belanja online menjadi pilihan.

Sementara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan masyarakat kelas menengah telah mendorong peningkatan konektivitas internet serta penggunaan smartphone. Hal ini turut mendorong perilaku berkonsumsi via internet. Mengacu pada data yang dirilis oleh statista, nilai penjualan ritel e-commerce Indonesia di tahun 2016 mencapai 5.65 milyar USD, atau meningkat sebesar 23%.

Menurut PFS, sebuah lembaga konsultan e-commerce global, Indonesia diperkirakan menjadi salah satu pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik di tahun-tahun mendatang. Di tahun 2018, pasar diperkirakan akan meningkat lebih dari 239%, dengan total penjualan sekitar $ 11 miliar.
Namun demikian PFS memperkirakan pasar Indonesia tersebar di ribuan pulau yang jumlahnya mencapai 17.508 pulau, akan terfragmentasi dan menjadi hambatan dalam perluasan e-commerce di Indonesia.

Selain itu, beberapa perusahaan startup yang inovatif yang memungkinkan pelanggan e-commerce di pedesaan untuk membayar secara tunai. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang menghubungkan toko-toko lokal dengan distributor produk sehingga transaksi dapat dilakukan secara tunai, yang lebih populer bagi orang-orang yang tidak menggunakan kartu kredit. Salah satu saluran pembayaran yang dapat dimanfaatkan adalah uang elektronik yang di miliki oleh penyedia jasa telekomunikasi.(sebagaimana yang dikutif dari sebuah artikel bertajuk: Perkembangan E-commerce di Indonesia, oleh Sita Wardhani SE, MSc, Peneliti Utama VISI TELITI SAKSAMA, dan Staf Pengajar FEB UI)
Sita Wardhani menambahkan konsumsi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi. Oleh karena itu, nilai transaksi e-commerce pun akan terus meningkat. Terlebih lagi dengan upaya pemerintah yang terus memperluas akses internet bagi masyarakat. Celah perkembangan e-commerce di Indonesia masih besar, namun regulasi yang mendasarinya masih belum tersedia dengan sempurna.


Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan pasar e-commerce, menyebabkan beberapa gerai ritel di Indonesia berhenti beroperasi. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) memprediksi akan ada lebih dari 50 gerai ritel berhenti beroperasi dan mencoba mengubah format bisnis mereka agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Menurut Ketua Umum APRINDO Roy N Mandey kepada pelakubisnis.com, sekitar 90% anggota APRINDO suda melakukan penyesuaian bisnisnya atas perubahan gaya belanja konsumen.

Walaupun Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA/ Indonesia E-Commerce Association), Aulia Ersyah Marinto, menampik jika mulai maraknya jual beli online berkontribusi besar pada tumbangnya para pemain ritel offline. Menurutnya, sebagaimana dikutif dari detik.com, banyak alasan yang membuat pemain ritel akhirnya memilih menutup gerainya.

Di negara yang toko online sudah berkembang sangat pesat, diakuinya, turut berkontribusi pada lesunya penjalan di toko-toko offline. Namun kondisi di Indonesia jauh berbeda, dimana secara keseluruhan transaksi e-commerce baru di bawah 2%. “Di tengah terjadinya situasi ini (ritel lesu), di belahan dunia dikejutkan ritel offline terpukul karena berbagai macam faktor. Ekonomi global belum membaik, kemudian di negara tertentu offline terpukul karena digitalisasi yang sudah sedemikian masif,” ungkap Aulia.

Seorang Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rachmadi dalam artikelnya bertajuk: “Beralih ke E-Commerce”, yang dimuat di Kompasiana.com mengatakan dengan beralih ke toko online juga akan mempertahankan eksistensi si pengusaha ritel dan terbebas dari ancaman ketertinggalan oleh tekhnologi digital. Ibarat seorang penjelajah dunia, dia harus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dimanapun dia singgah.

Begitupula dengan dunia usaha, adaptasi diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan kelangsungan hidup tentunya. Untuk itu kita dituntut agar dapat membaca setiap perubahan yang terjadi dengan sangat cepat agar tidak tenggelam dengan zaman dan perkembangan tekhnologi. Mulailah beralih kepada perdagangan elektronik atau e-commerce sebagai generasi baru perdagangan.

Sementara Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, sebagaimana yang dikutif liputan6.com mengungkapkan, maraknya penutupan toko ritel bukan saja menghantam Indonesia, tapi juga di negara lain. Toko-toko ritel raksasa tumbang karena tak kuasa menahan derasnya arus digitalisasi . ”Ini tren dunia. Radio Shack di AS menutup 1.643 toko, Gymboree tutup 150 toko, Walmart dan Meses pun senasib menutup cukup banyak toko. Di Hong Kong mulai diperkecil toko-tokonya, dan di Singapura mulai berubah,” kata Rhenald saat berbincang dengan wartawan di Jakarta.

Pelaku usaha, saran Rhenald, jangan sering komplain seperti apa yang disampaikan Bos Alibaba, Jack Ma. Sebab orang komplain dianggap akan tetap tinggal di masa lalu, sehingga pengusaha harus meninggalkan hal tersebut dan mulai berinovasi. “Perusahaan yang lama harus melakukan self-disruptive Mereposisi diri sehingga struktur biaya semakin rendah. Buat pemerintah, mereka harus memelopori pemikiran baru atau bisnis model baru ini, jangan linier karena ini sudah persaingan antara bisnis model,” kata Rhenald.

Itu sebabnya Ketua Umum Indonesian E-commerce Association (Idea) Aulia Marinto, optimis bahwa pertumbuhan e-commerce semakin menjanjikan. Menurutnya kita pada stabilitas ekonomi dan politik yang cukup baik. “Kita sudah melewati beberapa kali tahun politik biasa saja kok, keramaian itu justru memunculkan perputaran bisnis. Dari sisi consumer business-nya sendiri, kita melihat memang ada perlambatan daya beli, tapi kita melihat pemerintah sudah tanggap dan sudah tahu sehingga sekarang sedang diperbaiki, dan itu yang membuat kita semakin percaya. Overall, saya melihat industri e-commerce akan semakin berkembang,” jelasnya.

Lebih lanjut ditambahkan, secara umum industri digital itu akan berkembang dengan berbagai deriva¬tifnya. Apakah itu di musik, fintech, e-commerce, maupun mobile apps. Pemain di sektor ini akan bermunculan dan bukan hanya dilakukan pemain-pemain besar, melainkan juga pemain kecil dengan munculnya berbagai teknologi baru.
Walaupun diakui berbagai pihak ada yang mengkhawatirkan tahun 2018 dan 2019 yang merupakan tahun politik. Di mana pada 2018 ada 17 provinsi dan 153 kota/kabupaten digelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah serentak pada 27 Juni. Sementara pada 2019 akan digelar pemilihan umum serentak dan pemilihan presiden. Situasi politik bakal memanas dan dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Namun demikian, kekhawatiran itu terlalu berlebih-lebihan. Peristiwa tahun politik bagi Indonesia selalu berjalan lancanr tanpa ada ketegangan yang berimpilkasi chaos. Semua momentum itu berjalan aman dan terkendali. Justru tahun politik akan membawa berkah dengan meningkatnya belanja partai politik.

Di sisi lain pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5,07 persen ditopang oleh perbaikan investasi infrastruktur oleh pemerintah dan peran investasi swasta. Selain itu, membaiknya resiliensi ditandai oleh neraca transaksi berjalan yang sehat dan aliran masuk modal asing yang tinggi, serta nilai tukar rupiah yang stabil, sebagaimana dikutif dari tempo.co.

“Bank Sentral memandang bahwa terdapat peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan melalui penguatan implementasi reformasi struktural,” ujar Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo.

Fundamental dan fondasi ekonomi yang kuat itu, boleh jadi menjadi daya tarik investor e-commerce membenamkan investasi di sini. Sebab, pertumbuhan sektor perdangan elektronik (e-commerce) yang cukup bagus pada tahun lalu, membuat sektor ini masih menjadi primadona para investor pada 2018. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi di sektor e-Commerce pada 2017 mencapai US$ 4,8 miliar, sehingga membuatnya sebagai salah satu sektor ekonomi paling strategis.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan investasi di sektor e-commerce 2018 akan meningkat. Hal ini didorong oleh perkembangan ekonomi digital yang tengah berkembang pesat baik di Indonesia maupun luar negeri. Kepala BKPM Thomas Lembong memperkirakan arus modal yang masuk ke ekonomi digital akan semakin tumbuh. Sektor e-com merce diprediksi menjadi alternatif lain bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, sebagaimana yang dikutif dari metrotvnews.com.

Arus modal yang masuk ke ekonomi digital, e-commerce begitu gencar sekali. Ini menambah arus modal masuk dan laju pertumbuhan investasi,” kata Thomas ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Januari 2018. Peran dari investasi sektor e-commerce dari keseluruhan total investasi masih sangat kecil. Padahal kontribusinya terhadap pertumbuhan investasi terbilang cukup besar mencapai 60 hingga 80 persen per tahun.

Berarti sektor e-commerce itu separuhnya dari investasi tahunan di sektor migas. FDI (Foreign Direct Investment) kita USD 25-30 miliar, berarti seperlima total PMA (Penanaman Modal Asing) kita adanya di e-commerce,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong saat ditemui di Hotel Borobudur, awal Februari lalu.

Kini persaingan antara e-commerce di Indonesia semakin ketat. Belum lagi kini semakin banyak perusahaan e-commerce besar asing yang tertarik untuk masuk ke pasar Indonesia. Asosiasi E-Commerce Indonesia atau iDEA, akan menyambut dengan tangan terbuka bagi perusahaan e-commerce mana saja yang ingin menjajal peluang di pasar di Nusantara. Namun, untuk masuk ke pasar Indonesia perusahaan e-commerce asing wajib mengikuti aturan main yang ada.

Sebenarnya potensi bisnis online yang dikembangkan oleh masyarakat Indonesia juga tak kalah baik. Aulia menambahkan, hal ini mengacu pada pemikiran bahwa sebenarnya meskipun e-commerce asing sudah mempunyai teknologi maupun logistik yang memadai, namun belum tentu akan memperoleh kesuksesan seperti di negara asalnya.
Dari situ Aulia memberi contoh salah satu e-commerce besar yang berasal dari Tiongkok yakni Alibaba. Alibaba menjadi salah satu perusahaan jual beli online terbesar di Asia. Bahkan perusahaan yang dipimpin oleh Jack Ma ini mulai disandingkan dengan pesaing global Amazon untuk menjadi yang nomor satu di dunia, sebagaimana yang dikutif dari maxmanroe.com.

Salah satu alasan mengapa Alibaba bisa menjadi contoh yang tepat adalah karena saat ini Alibaba sudah menjadi pemilik dari perusahaan e-commerce Lazada paska kesepakatan akuisisi bernilai Rp 13,3 triliun beberapa waktu lalu.
Dan seperti diketahui, Lazada merupakan salah satu perusahaan e-commerce dengan cakupan paling luas di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tercatat ada beberapa negara lain yang sudah disambangi oleh Lazada seperti Vietnam, Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.

Yang menarik menurut Aulia adalah, meskipun Alibaba memiliki traksi bisnis luar biasa besar di negeri asalnya Tiongkok, namun untuk negara lain hasil yang diraih belum tentu sama baiknya.

Dan yang paling penting, kata Aulia, adanya peraturan Badan Usaha Tetap (BUT) yang diterapkan pada setiap e-commerce luar yang menjalankan bisnis di Indonesia. Dari situ tentunya setiap perusahaan e-commerce juga akan menyumbang pajak yang berguna bagi peningkatan ekonomi nasional. [] Yuniman T Nurdin