Eri Heriawati, Menembus Lintas Batas

Kemampuan kapital bukan  instrumen segalanya menjalankan usaha. Ketajaman mencium peluang,  menjadi modal mewujudkan mimpi. Erika membuktikan itu!

Sekali berarti, sesudah itu mati. Demikian penggalan sajak Chairil Anwar bertajuk ‘Diponegoro’. Sebuah pesan moral yang mengajak kita menangkap essensi hidup. Ia tidak sekedar ada, tapi harus berarti. Itulah essensi hidup. Sebuah makna yang terlupakan banyak orang!

Eri Heriawati mafhum akan pesan itu. Ia memutuskan berhenti kerja di saat karir sedang melesat sebagai senior sales staff di PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIA). Disampingnya ada suami yang senantiasa mendukungnya.  Baginya kebutuhan ekonomi saat itu terbilang cukup, walau tak berlebihan. Di tengah situasi nyaman (comfort zone) 15 tahun silam, ia rela melepaskan atribut itu. Padahal bila ia mau, Erika (demikian sapaan akrab ibu anak tiga ini-red), ia tak harus memutar jam menjalankan kehidupan kembali ke titik nadir.  Seharusnya ia tak usah galau memikirkan essensi hidup.

Namun demikian, bila Tuhan berkehendak, tak satu pun hamba-Nya mampu menghindari dari sesuatu. Masih lekat diingatannya ketika prahara itu datang. Anak ketiganya yang baru berusia 8 bulan  jatuh sakit. Hasil diagnosa dokter, si anak mengalami flek di paru-parunya yang perlu perawatan intensif berbulan-bulan.

“Salahkah saya sebagai seorang ibu, tak maksimal memberi sentuhan kasih sayang kepada permata hatinya?” Pertanyaan ini berkecamuk dalam pikirannya. Rasionalitas terkadang angkuh mengakui makna di balik peristiwa. Tiga pembantu rumah tangga yang dilibatkan dalam urusan domestik, tak jua  dapat membantu mengatasi masalah yang dihadapi Erika.

Ia pun tarik menarik mencari formulasi dalam menjalankan kehidupan hingga akhirnya sampai pada suatu keputusan, “Saya harus berhenti bekerja!,” tegas Erika sambil bertanya pada suaminya. Sang suami pun mengaminkan niat istri tercinta. Pertimbangannya waktu itu cuma satu, ia harus berada di sisi puterinya, merawat secara intens dan menjaganya sampai si anak benar-benar pulih. Tak langsung mengundurkan diri, tapi wanita asal Pandeglang , Jawa Barat ini mengambil cuti panjang di luar tanggungan selama dua tahun , mulai 2001 – 2003.

Keputusan itu merupakan langkah awal Erika mulai membangun  profesi baru sebagai pengusaha. Setelah enam bulan perawatan, si anak dinyatakan sembuh.  Ia lega, namun timbul masalah  baru dimana ia merasakan ketidaknyamanan di dalam menjalani kehidupan. Bayangkan saja, bila rumahtangga yang awalnya memiliki dua sumber income, tiba-tiba sumbunya berkurang satu. Kondisi keuangan pun menjadi persoalan.

Ingin kembali ke pekerjaan lama, namun saat itu sudah tak memungkinkan lagi. Erika berikhitiar, membangun usaha dari rumahnya. Ia pun mencoba peruntungan di bisnis laundry kiloan dan membuka toko kelontong dengan mendelegasikan pengelolaan usahanya kepada asisten rumahtangga. Tak berlangsung lama, kedua bisnisnya itu tumbang karena pengelolaan yang salah. Erika menyadari, tak punya bakat berdagang dengan cara itu.  Satu mobil harus dilepas untuk memodali usahanya itu. Tapi, apa hasil? Semuanya rontok tak mampu dipertahankan. “Usaha itu bukan passion saya. Itu hanya sekedar memberdayakan orang rumah (pramuwisma-red),” katanya kepada pelakubisnis.com.

Namun karena semangat, tak menyurutkan niatnya mengeksplorasi diri dan bangkit kembali. Ia  kembali menggali potensi diri. Ia berpikir, pengalamannya sebagai sales marketing di GIA,  bisa menjadi modal dasar membangun usaha. Pekerjaan Erika dulu berinteraksi dengan banyak orang di bidang travel, membina dan berkolaburasi dengan travel-travel agent mitra perusahaan penerbangan Nusantara tersebut. Melakukan soft selling dan membina hubungan baik dengan travel agent dan mengajarkan tentang strategi penjualan melalui penyelenggaraan event gathering dan sejenisnya.

Berbekal kepiawaian  membangun relationship dengan banyak travel agent semasa bekerja sebagai staf sales marketing, ia mencoba mencari order di banyak kementerian.  Diantaranya Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perdagangan dan Pariwisata.  “Saya membuat banyak proposal yang kemudian saya ajukan ke  kementerian,” kenang Erika yang pernah sekali waktu mendapati proposalnya di buang ke tong sampah ketika ingin ikut bidding di salah satu kantor kementerian.

Spontan Erika menangis ketika melihat proposalnya dibuang ke tong sampah.”Astagfirullah…proposal itu saya buat dengan doa dan airmata,”gumamnya. Ia pun bertanya kepada staf kementerian yang membuang proposal tersebut dan tak ada jawaban yang jelas dari yang bersangkutan. Erika  mengambil kesimpulan, mungkin saat itu proposalnya tidak lengkap, belum memenuhi persyaratan.

Waktu berlalu, setelah enam bulan berjuang ikut ‘bidding’ yang kerap dikenal dengan istilah ‘beauty countess’ ini, pada  akhirnya presentasi Erika mendapat perhatian dan  kegigihannya membuahkan hasil.

Proyek pertamanya,  memberangkatkan 30 orang peserta yang terdiri dari pengusaha yang hendak  berpartisipasi dalam pameran bisnis “27th International Sping Trade Fair’ ke Dubai, Timur Tengah.

Sukses membawa banyak pengusaha ke Dubai, ia pun mulai dipercaya membawa misi dagang pengusaha Indonesia ke Windhoek, Namibia di ajang ‘Indonesia Expo’,  menyusul event “Trade Mission Cape Town, South Africa, “Trade Mission Johannesburg, South Africa dan masih banyak lagi event bisnis lainnya.”Saya tidak pernah tahu bagaimana Dubai, bagaimana Afrika? Dulu semasa di Garuda, ada bonus tiket ke luar negeri setiap tahunnya. Tapi saya lebih banyak saya gunakan untuk umroh. Tapi saya tahu tentang banyak negara lewat internet. Saya pelajari GDP-nya berapa, apa saja nama hotel di sana, transportasinya bagaimana, komunitasnya seperti apa dan sebagainya. Dulu untuk mengakses internet kita mesti ke warnet. Saya jadi langganan ke warnet di daerah Margonda, Depok. Saya nongkrong disitu dua sampai tiga jam. Sekarang kalau lewat warnet itu saya tertawa sendiri,” tuturnya mengenang masa-masa merintis usaha travelnya.

Diawal Erika agak kelimpungan juga ketika harus mendanai proyek traveling ini. Seperti diketahui, menang ‘bidding’ di kementerian artinya kita harus siap memiliki dana talangan karena klien dari pemerintahan tak langsung membayar jasanya, melainkan menunggu setidaknya selama sebulan setelah proyek selesai baru dibayar.

Erika bersaudara yang mendukung dari awal lahirnya Annisa Travel

Erika pantang menyerah. Meski tak  punya banyak uang, tak punya gaji, tak punya modal usaha yang cukup, dimana saat itu ia baru memiliki rumah sederhana di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tapi ia terus melangkah. Apa daya modal tak punya, ia pun mengagunkan rumah mungilnya, bahkan sampai meminjam uang ke saudara-saudara guna meng-cover dana talangan ketika mendapatkan proyek di pemerintahan. Kendati demikian, ia cukup terbantu dengan klien-klien pengusaha.

Tahun 2003 ia membangun Annisa Travel, tahun 2004 mendapat kontrak dari pemerintahan selama setahun. Diakuinya, menang bidding dalam perjalanan  pertama Annisa Travel  membawa peserta pameran ke Dubai waktu itu membuka lebar jaringan bisnisnya. Dimana saat itu, peserta pameran dari tahun ke tahun diikuti oleh peserta pengusaha yang sama, maka tak sulit baginya mendapatkan klien. “Dalam agenda perjalanan peserta pameran di salah satu kementerian selama setahun saat itu, sekitar 60% proyek perjalanan saya yang handle,”ujar istri Suhardi ini sambil menambahkan, dari 60% proyek  yang membawa banyak pengusaha tersebut,  tak sedikit klien yang repeat order.

Tahun 2003-2004 merupakan pencapaian tertinggi bagi Annisa Travel. Satu tahun menancapkan image positif, membangun relationship dengan klien adalah kunci utama yang membuat travel ini berkembang.

Annisa Travel berlari kencang ketika  terpilih menjadi salah satu official travel dalam ajang Indonesia Expo 2004.  Dimana saat itu ia membawa kurang lebih  500 peserta pameran dari 27 provinsi di Indonesia. “Karyawan yang awalnya cuma 3 orang, termasuk saya, bertambah menjadi 6 orang. Semua bekerja multifungsi,”tuturnya.

Diakuinya, adalah BPEN – Badan Pengembangan Ekspor Nasional – yang berada di bawah naungan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia yang memberikan banyak pekerjaan untuknya. Dimana saat itu, BPEN memiliki kegiatan membawa para pelaku bisnis nasional  berpartisipasi ikut pameran ke luar negeri seperti ke Cairo, Dubai, Timur Tengah dan Afrika, Eropa & Amerika.

Hingga akhirnya di tahun 2004 itu muncul permintaan dari kalangan pengusaha muslim agar  membuat paket perjalanan umroh. Memang, saat itu rute perjalanan Erika seperti ke Eropa misalnya, selalu menggunakan pesawat-pesawat yang memiliki destinasi ke Arab Saudi seperti Emirates.   “Akhirnya saya coba dulu dengan paket 4 hari 3 malam. Banyak UKM yang berminat jadi peserta yang disubsidi pemerintah. Termasuk Pak Jokowi, presiden kita yang waktu itu masih jadi pengusaha furniture juga termasuk dalam rombongan umroh yang saya bawa,”cerita Erika.

Awalnya ia tak tahu sama sekali membawa jamaah umroh. Meski ia beberapa kali umroh, namun menyelenggarakan bisnis travel umroh tak semudah membalikkan telapak tangan. Pengalamannya di industri penerbangan yang tak sekali dua kali terbang ke negara-negara seperti Eropa dan Timur Tengah saja tak cukup.  Hal tersebut membuatnya merasa perlu menjajaki masuk ke travel umroh.

Di tahun 2004, Erika membawa 250 jemaah umroh yang terdiri dari pengusaha-pengusaha yang biasa menggunakan jasanya. Bekal keluwesannya dalam bergaul membuatnya mampu membangun chemistry dengan banyak pihak, termasuk dengan banyak mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Arab Saudi sambil bekerja paruh waktu . Mereka sudah terbiasa membantu land arrangement untuk travel-travel, mulai dari penjemputan ke bandara, check in hotel, hingga pelaksanaan ibadah umroh secara on the track.  “Saya coba amanah dalam hal pembayaran, jangan sampai  men-dzolimi mereka. Menjalin hubungan dengan banyak pihak itu tidak bisa dibangun dengan sekejap. Ada proses pendekatan dan komunikasi dua arah.   Kalau melayani tidak baik maka akan menjadi boomerang buat kita.  Saya berusaha dalam melayani client harus  pakai hati, dengan hati maka kita akan temukan chemistry,” ungkap ibu dari Karina Nurun Nisa, Muhammad Farhan Harish dan Salsabila Yasmin. Puteri ketiganya ini yang sejak kelas 2 SMA sudah mulai membantunya membawa rombongan tour ke mancanegara.

Bersama Salsabila Yasmin (Anak ketiga), membawa rombongan ke Spanyol dan Barcelona

Menurutnya, sukses dalam menjalankan travel umroh yang terpenting adalah fokus dan memakai akal sehat. Tak mesti menggunakan endorser dari public figure, tetapi kuatkan niat dan fokus. “Yang saya pikirkan ketika membawa para Jemaah, how to bring them  to  Baitullah as well ? , Not bring them  only to Mekkah. Karena Ka’bah adalah magnetnya.  Dari situ saya pikirkan, bagaimana transportasinya, pengetahuan perjalanan umroh untuk sampai ke Baitullah belum tentu sama, bagaimana akomodasinya?. Tujuannya adalah bagaimana mendekatkan mereka ke Baitullah dan nikmat beribadah,” papar Erika yang membangun positioning travel umrohnya membidik pasar menengah atas yang berpikir logis dan merasakan pengalaman ibadah dengan nyaman.

Tak heran bila dalam setahun terakhir ini Erika  mengusung slogan travel syariah dalam bisnisnya. Karena dari awal membangun bisnis travel, ia terus berusaha amanah dan belakangan ini terbersit dalam pikirnya untuk lebih istiqomah. Ia percaya dengan beribadah secara syariah, ia sudah memberikan warisan yang baik untuk anak-anaknya. Ketika konsep ini ditemukan, ia percaya semua upayanya akan menjadi berkah. Ia tak takut akan kehilangan kliennya yang non muslim, karena ia yakin rejeki Tuhan yang mengaturnya.

Makanya dari awal Erika memberikan nama travelnya dengan nama Annisa Travel yang memiliki arti ‘Perempuan’, yang diambil dari nama puteri sulungnya, Karina Nurun Nisa (26) yang sekarang membantunya dan  menjabat posisi GM Sales and Marketing.  “Anak adalah amanah. Dialah yang akan mewariskan usaha ini. Meskipun usaha ini kecil, tapi saya berharap dia mampu membawa Annisa Travel menjadi besar,”ujar Erika yang berusaha amanah dalam menjalankan bisnisnya  yang  suatu hari akan ia serahkan kepada puteri sulungnya yang selain memiliki kemampuan  di bidang desain grafis, juga kompeten di bidang sales and marketing.

Bersama Karina N Nisa (tengah) yang digadang-gadang bakal menggantikan Erika membesarkan Annisa Travel

Di tahun 2003 barulah Erika membesut perusahaan yang awalnya bergerak di bidang ritel tiket domestik dan menjual paket meeting dengan nama PT  Radian Kharisma Wisata yang akhirnya kini menjadi “kapal” bagi Annisa Travel yang mampu menembus lintas batas.

Transfer knowledge sedang berlangsung, legacy mulai ditorehkan. Erika berupaya menanamkan ilmu tentang bagaimana membangun bisnis yang sehat, beretika dan memanusiakan manusia. Tak hanya untuk anak-anaknya, tapi juga melalui karyawan dan lingkungan di sekitarnya.

Erika membangun chemistry dengan karyawannya melalui komunikasi. Secara intens dilakukan pertemuan-pertemuan rutin akan visi berjalan searah. Tak hanya bagi karyawan, Erika juga membangun komunitas pengajian untuk lingkungan sekitar dan karyawan melalui majelis ta’lim yang dibangunnya sejak 2008  dan membangun Taman Pendidikan Anak (TPA).

Ia membangun Majlis Ta’lim  di  kantor Annisa Travel di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sebagai sarana beribadah, sholat berjamaah, juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan belajar membaca Al Qur’an mulai dari level Iqro sampai dengan Qur’an yang dilaksanakan setiap hari Selasa seussai sholat Dzuhur sampai menjelang sholat Ashar berjamaah   dan kegiatan TPA Hafidz Qur’an for Children setiap Sabtu dan Minggu pagi mulai jam 07.30 sampai jam 11.00 , ini kami peruntukan untuk warga lingkungan sekitar kantor kami .

“Setidaknya seminggu sekali kami adakan pengajian. Pengajian untuk lingkungan disekitar rumah dilaksanakan setiap selasa, dan untuk karyawan kami adakan setiap malam Jumat. Jumlah pesertanya terus bertambah, dan sekarang sedikitnya ada 150 orang yang mengaji di sini yang kami fasilitasi dengan lima ustadz untuk mengajar mereka dan kami siapkan snack juga,”jelas Erika yang juga memberikan hadiah umroh bagi jamaah majelis ta’lim setiap tahunnya minimal dua orang.

Di Balairung Majlis ini sebagai sarana sholat fardhu Dzuhur dan Ashar berjamaah begi seluruh karyawan nya setiap hari selama jam kantor dan juga  sekaligus berfungsi sebagai tempat pelaksanaan manasik bagi calon jamaah umroh dan haji.

Dalam hal mengelola sumber daya manusia, Erika lebih memilih untuk merekrut sedikit orang dengan gaji yang cukup,  ketimbang menyerap tenaga kerja yang besar dan margin yang besar namun kualitas terabaikan.

Konsep syariah ini tak sekedar nama. Ia lakukan konsolidasi ke dalam. Berawal dari dirinya, kemudian ia tularkan ke anak-anak dan ke seluruh tim kerja Annisa Travel.

Namun kisah sukses itu bukan datang tiba-tiba. Ada pergumulan energi yang harus ditembus dengan harga mahal. Imajinasi menatap hari esok yang belum tervisualisasikan menjadi “bayang-bayang” Erika dalam menjajaki “lorong kehidupan”. Ia juga sempat terpuruk di kisaran tahun 2012 – 2013. Di mana waktu itu, tujuh ujian datang bertubi-tubi. Dari persoalan anak, materi, kehilangan orangtua, kakak dan keponakan sampai persoalan kena tipu.

Seorang teman menipunya. Ketika itu ada 3 kali keberangkatan 400 jamaah umroh di bulan Mei 2012.  Namun tersendat karena harga visa yang awalnya di kisaran USD 80/pax  tiba-tiba melejit naik ke angka USD 300./pax . Ia panik dan mencoba mencari cara agar semua jamaahnya tetap berangkat. Seorang teman di Arab Saudi menawarkan harga tiket USD 250/pack yang bisa selesai dua hari. Sial tak dapat ditolak, setelah dua hari yang dijanjikan, sang teman tak lagi bisa dihubungi. Akhirnya Erika memutar otak, mencari travel-travel yang masih memiliki kuota. Saat itu ia mengalami kerugian hingga USD 90.000,-. “Ketika tawaf saya berdoa, Ya Allah, kalau mau menguji saya, jangan menzholomi jamaah,”cerita Erika saat itu.

Memang potret sukses bukan kisah 1001 malam yang mampu menghipnotis pendengar. Ia menjadi pesan bijak yang dapat ditangkap makna di balik itu. Sementara waktu terus bergerak. Perlu ada opsi-opsi dalam menjalankan hidup. Kini ia memilih menjalankan bisnisnya secara syariah.

Syariah dalam arti, memilih paket-paket tematik, edukasi, experience yang dikaitkan dengan kebesaran Tuhan. “Orang pergi tour tak  hanya mengeluarkan uang, tapi mereka getting knowledge, experience, menjaga sholatnya dan memberikan makanan halal, dan bisa bersilaturrahim dengan komunitas dengan baik ” tutur Erika dan ia yakin bisnisnya akan terus berkembang, mengingat Indonesia adalah negara yang mayoritas masyarakatnya muslim. Berdasarkan keyakinan itu, ia ingin rejekinya berkah. “Saya akan terus berjuang menjadikan bisnis kami syariah,”tambahnya.

Tak sedikit masyarakat di tanah air yang mengidam-idamkan traveling ke negara-negara yang memiliki situs sejarah Islam seperti Turki, Spanyol , Maroko , Cairo , Jordan & Aqso . Dan tak sedikit juga yang ingin jalan-jalan ke negara-negara seperti Inggris, Jepang dan lain-lain. Dengan konsep syariah, ia membuat agenda  perjalanan tour & travel yang tetap mengutamakan ibadah dan halalan thoyyiban. “Seperti paket ke London misalnya. Kami bekerjasama dengan tour guide muslim dan untuk penginapannya,  kami pilih homestay agar lebih fleksibel dan bisa berinteraksi  dengan warga setempat,”papar Erika yang menargetkan rata-rata sekitar 200 jamaah umroh setiap bulannya,

Seperti diketahui, saat ini Annisa Travel tak hanya mengelola Umroh dan Haji Arrangement, tapi juga menawarkan paket Corporate Travel Management dan Mice –meeting, incentive, conference, exhibition) & Event Organizer. “Dari 55 orang karyawan itu kami bagi tugasnya untuk masing-masing produk. Komposisi penetrasi masing-masing produk, 40%  untuk Mice & Event Organizer,  Corporate Travel Management, 40% untuk Umroh & Haji Arrangement,  kami juga masih menjual tiket yang kontribusinya 20% dari total pendapatan kami,”papar Erika kepada pelakubisnis.com. [] Siti Ruslina