Serasa Food, Lahir Dari Social Entrepreneur

Dari kiprah sebagai aktifis pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM), ia sukses melahirkan brand Serasa Food yang memayungi produk-produk bumbu masak produksi UKM. Mimpi Yuszak M Yahya ke depan,  Serasa Food menjadi top brand di kategorinya.

Lewat brand Serasa Food, produk-produk  bumbu masak kemasan  yang diproduksi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bernaung  di bawah maanajemen PT Serasa Selera Nusantara (SSN) mampu menembus pasar modern dalam negeri. Brand Serasa Food berlogo Pak Tani, misalnya, tak bergeming menghadapi brand-brand besar produk sejenis yang diproduksi oleh perusahaan multinasional. Brand ini menjadi sertifikasi produk-produk bumbu masak bermutu produksi UKM anak negeri.

Alhasil,  tak sampai dua tahun Serasa Food mampu menembus pasar nasional. Hampir seluruh  pasar modern, kecuali minimarket dapat dijumpai puluhan item bumbu masak Serasa Food.

Yuszak M Yahya, CEO PT Serasa Selera Nusantara (SSN)

Adalah Yuszak M Yahya yang membesut Serasa Food  pada tahun 2015. Dalam kurun waktu tiga tahun, pertumbuhan penjualan Serasa Food mampu menembus tiga digit (naik hampir 300 persen-red). Suatu angka fantastik untuk ukuran UKM. “Walaupun omzetnya masih terbilang kecil. Tahun lalu  menembus angka Rp 10 milyar. Targetnya tahun ini bisa menembus angka Rp 50 milyar. Ke depan pertumbuhan terus meningkat secara signifikan. Rencanaya tahun 2022  SSN yang mengusung brand Serasa Food akan IPO, baru pertumbuhannya akan landai,” ujar Yuszak kepada pelakubisnis.com di ruang kerjanya, April lalu.

Menurut Yuszak harga jual produk  Serasa Food mampu bersaing dengan produk sejenis yang diproduksi perusahaan-perusahaan raksasa. Bahkan, harga jual produk Serasa Food jauh lebih murah dibandingkan harga jual produk kompetitor. Boleh jadi difrensiasi harga tersebut menjadi salah satu keunggulan kompetitif Serasa Food dibandingkan produk kompetitor.

Difrensiasi Serasa Food yang lain, kata Yuszak, sambil memberi contoh bumbu nasi goreng bermerek ‘Jawara’. Di Indonesia nasi goreng merupakan salah satu makanan yang digemari masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan mie instan, hampir semua masyarakat kita suka. “Sampai sekarang belum ada satu brand yang fokus bumbu nasi goreng. “Jawara ini spesialis bumbu nasi goreng. Ada nasi goreng Aceh dan nasi goreng nusantara lainnya. Sampai saat ini sudah ada 20 resep nasi goreng,” urainya tentang varian bumbu nasi goreng Jawara, keluaran Serasa Food. Walaupun saat ini baru empat jenis bumbu nasi goreng yang dilempar ke pasar. Sisanya masih tahap pengembangan.

Contoh lain adalah  merek ‘Ijah’. Merek menyasar segmen pembantu rumah tangga yang pintar. Dari merek Ijah ini, banyak bumbu masak yang diciptakan. Ada bumbu rending, bumbu opor dan banyak lain-lain. Uniknya merek ini disosialisasikan melalui sosial media. Ada forumn komunitas  #tanya Ijah di media sosial sebagai ajang komunikasi Serasa Food ke segmen pasar yang dituju.

Yuszak menambahkan,  merek Ijah lebih fokus menyasar pasar tradisional.”Ijah produk lower class, bahkan pemasarannya sampai ke tukang sayur keliling di perumahan-perumahan,” jelasnya. Berbeda dengan merek Serasa Food bergambar Pak Tani yang lebih fokus ke kelas premium.

“Kami dapat melakukan cost reduction di mata rantai produksi. Kelemahan manajemen UKM terlalu banyak fix cost yang mengakibatkan beban perusahaan menjadi berat. Ada beberapa fix cost yang dapat dirubah menjadi variable cost, sehingga biaya produksi menjadi efisien tanpa harus mengurangi kualitas produk,” jelasnya serius.

Kini Serasa food bermitra dengan 4 UKM. Masing-masing UKM mempunyai line product yang berbeda denga produk binaan UKM lainnya. Dari empat UKM tersebut, lebih dari 20 varian  produk yang telah diproduksi dari hasil kolaborasi Serasa Food. Ada bawang goreng, sambal roa, bumbu nasi goreng, bumbu rendang dan banyak lagi lainnya. “Empat UKM yang bermitra dengan Serasi Food telah terseleksi dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan manajemen kami,” kata Yuszak serius.

Ia menambahkan, bukan perkara mudah mengubah mindset UKM dalam menjalankan bisnis. Umumnya UKM bermimpi produk yang dihasilkannya mampu menembus pasar modern (supermarket, hypermarket dan lainnya). Namun demikian, kemampuan memproduksi, mengemas produk, mem-branding kan produk yang dihasilkan dan mata rantai distribusi yang tidak dikuasai, menyebabkan produk-produk UKM tak mampu menembus pasar modern. “Kami mengajarkan business process bagi para pelaku UKM agar mampu menembus pasar modern,” lanjutnya  seraya menambahkan empat UKM yang dibina Serasa Food  pertumbuhannya sangat signifikan, hal yang tak terbayangkan oleh Yuszak sebelumnya.

Memang pemerintah kerap melakukan pembinaan kepada para UKM. Salah satu program pemerintah adalah turut membantu memasarkan produk-produk UKM sampai ke outlet-outlet pasar modern. Hasilnya, produk-produk UKM itu  terdisplay di rak-rak supermarket atau hypermarket. Tapi hanya sebatas terpajang. Produk tersebut tak laku di pasaran. Mengapa fenomena demikian terjadi?

Untuk dapat menjadi mitra Serasa Food, kata Yuszak, mereka harus memiliki resep original dan sebagai pemilik resep. Yang terpenting dari resep tersebut adalah memiliki rasa khas yang membuat konsumen ketagihan menikmati masakan tersebut.

Proses pembinaan di awal hanya melakukan pendampingan dalam hal produksi. Langkah selanjutnya melakukan pembinaan dalam hal keuangan, pemasaran dan industri. Dalam arti bagaimana UKM mampu menghasilkan  produk berkualitas. Walaupun produksinya dilakukan di rumah, tapi mempunyai standarisasi yang konsisten dijalankan. Indikator standarisasi itu diantaranya memproduksi sesuai standar kebersihan, sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar kesehatan.

Lebih lanjut ditambahkan, SSN merupakan inkubator UKM yang fokus pada  produk-produk dapur dan meja makan. “Apalagi Indonesia kaya akan rempah-rempah dan ribuan resep masakan khas nusantara belum di-explore secara maksimal. “Kami hadir ingin membantu UKM untuk bisa bersama-sama maju dan berkembang,” tandas Yuszak.

Berawal dari aktifitasnya sebagai pegiat UKM sekitar tahun 2010. Yuszak bergabung dan  membangun komunitas enterpreneur. Ia diajak  salah satu petinggi perusahaan di industry food and beverage, mendirikan yayasan bernama ‘Pro Indonesia’. Salah satu pilarnya adalah pemberdayaan ekonomi dengan mengubah mindset orang Indonesia yang tadinya ingin jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), berubah menjadi entrepreneur. Yayasan ini sekarang berkembang di lebih dari 50 kota di Indonesia yang bergerak di bidang pelatihan. “ Ratusan volunteer yang telah bergabung di yayasan ini. Saya ketua periode pertama yayasan itu. Banyak yang berminat mengikuti pelatihan untuk menjadi entrepreneur,” jelasnya sambil menambahkan ia menjadi salah satu master pengajar UKM.

Sebagai konsultan bisnis dan pegiat wirausaha nasional Yuszak M. Yahya kerap melihat UKM bangkrut meskipun telah diberikan berbagai pelatihan manajemen modern. “Masalah mereka ternyata jauh lebih besar. Yang mereka butuhkan adalah pendampingan intensif dari hari ke hari oleh organisasi yang paham manajemen profesional,” ujar pria kelahiran Jakarta tahun 1978 itu.

Mudah saja baginya menemukan UKM yang layak dan tepat untuk dibantu. Seringkali dirinya menemukan UKM yang hendak dibina usai memberikan pelatihan manajemen bagi pengusaha kecil. Yuszak membatasi UKM yang dipilihnya dengan  2  kriteria. “Pertama memiliki kualitas produk yang bagus, kedua  memiliki semangat belajar yang tinggi. Karena itulah modal dasar terpenting yang akan dikembang,” urainya.

Seiring dengan perjalanan waktu ia pun mendirikan  SSN. Tujuan perusahaan ini didirikan sebagai inkubator bisnis bagi para UKM. Dari proses selama mengikuti inkubator di sini, terseleksi dan dipilih untuk menjalankan kemitraan dengan SSN. “Sebagai bentuk komitmen,  SSN melakukan penyertaan dana untuk melengkapi fasilitas produksi yang dibutuhkan UKM,” jelasnya. Sedikitnya Rp 500 juta dana yang digelontorkan SSN untuk melengkapi belanja modal para UKM.

Menurut Yuszak,   SSN telah menyalurkan penyertaan dana sebesar Rp 2 milyar bagi 4 UKM binaannya. Justru dana terbesar yang digelontorkan SSN adalah modal kerja. “Setiap Serasa Food meng-order produk, modal kerjanya menjadi tanggungan SSN,” lanjutnya yang enggan menyebut siapa saja  investor yang berperan membantu para UKM binaannya. “Yang jelas, investor yang mendukung  SSN tidak melihat secara komersial, karena model bisnisnya lebih ke arah social entrepreneur untuk membantu UKM.

Yuszak menambahkan, proses bermitra dengan Serasa Food tidak berbelit-belit. Setelah menemukan UMK yang sesuai, ia  pun memulai pengembangan UMK binaannya dengan membentuk badan hukum resmi persero untuk masing-masing usaha.

Selanjutnya, tambah Yuszak, Serasa Food akan menurunkan timnya untuk mendorong peningkatan kualitas produk, profesionalitas manajemen sekaligus menggenjot skala produksi UKM tersebut. “ Intinya kami akan menangani yang tidak bisa mereka lakukan. Di antaranya peningkatan modal dan teknologi mesin, masalah quality assurance, quality control, shelf lifescaling up, pembenahan tempat produksi dan sebagainya,” tutur Yuszak.

Di samping itu, Serasa Food didukung dengan tim R & D (Research and Development), marketing dan sebagainya. “Intinya kami melakukan apa yang tidak bisa UKM lakukan. Mereka mempunyai resep  dan formulanya tetap di tangan pemilik Resep (UKM),” papar Yuszak sambil menegaskan, tugas Serasa Food melakukan set up product, supaya akselerasi branding dan penetrasi pasar  lebih cepat.

Yuszak begitu serius dalam menggarap penjualan produknya. Serasa Food menempatkan tenaga promosi Sales Promotion Girl dan Sales Promotion Boy (SPG/SPB) di gerai-gerai di pasar modern. Pasalnya, di pasar modern banyak pilihan. Produk-produk yang tersedia di rak-rak pada pasar modern tidak akan terjual dengan sendirinya tanpa bantuan SPG/SPB. “ Masuk ke pasar modern itu satu hal, tapi membuat produk terjual, itu bukan perkara mudah, harus paham strateginya,” tambah Yuszak sambil mengungkapkan,  “Suatu hari bumbu masak nusantara dengan brand Serasa Food akan mampu menjadi top brand di kemudian hari. Semoga…! [] Siti Ruslina