Belajar Dari Ekraf Korea Selatan

Korea Selatan sukses mengembangkan ekonomi kreatif (ekraf) yang menjadi komoditi ekspor mancanegara. Sektor ini dirancang secara serius dengan dukungan penuh pemerintah. Kita patut mencontoh keberhasilan negeri Gingseng tersebut!

Ingat Korea Selatan. Ingat K-Pop dan K-Drama! Kedua karya kreatif tersebut mampu “menyihir” masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Demam kultur pop Korea, atau yang sering disebut Korean Wave sedang mewabah dalam skala global. Tidak hanya musik tapi juga film, fesyen, hingga kuliner. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Korean Foundation, per tahun 2015 tercatat ada 35 juta fans K-pop yang tersebar di 86 negara.  Angka ini disinyalir terus melesat dari tahun ke tahun.

Gelombang Korea (Korean Wave) adalah sebuah fenomena dimana terjadi peningkatan popularitas dari kebudayaan Korea Selatan yang digemari oleh orang-orang di luar Korea Selatan. Korean Wave ini pertama kali dicetuskan pada pertengahan 1999 di China oleh seorang jurnalis Beijing yang terkejut akan popularitas dan minat masyarakat China terhadap kebudayaan Korea Selatan.

Setelah fenomena Korean  Wave di China, gelombang ini menyebar ke negara-negara lain diantaranya Jepang, negara-negara Asia Timur, Timur Tengah dan juga negara-negara barat, seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Dewasa ini penyebaran Korean Wave menjadi fenomena negara-negara di dunia. Di mana kecendrungan masyarakat dunia tidak hanya minat pada kebudayan Korea Selatan saja, tapi juga tertarik terhadap gaya busana, kuliner, musik dan film gaya Korea Selatan.

Sejumlah peneliti pernah mengatakan, Korean Wave merupakan fenomena sementara. Ternyata penelitian itu melesat, justru dengan maraknya kehadiran teknologi internet (digital), Korean Wave semakin memasyarakat, penggemarnya semakin banyak, menembus lintas batas.

Satu hal yang harus dipahami ketika berusaha memahami fenomena ini adalah tren global K-pop bukanlah suatu kebetulan. Korean Wave adalah hasil kolaborasi sistematis pemerintah dan pihak swasta dalam pengembangan industri kreatif Korea Selatan yang dipicu oleh krisis finansial 1997/98.

Saat itu Indonesia pun mengalami krisis keuangan di periode yang sama pada masa itu. Sebagai gambaran, perekonomian Korea Selatan berkontraksi negatif hingga 7 persen akibat krisis finansial 1997/1998. Kondisi demikian tak urung  membuat  pemerintah Korea Selatan terpaksa meminjam dana dari IMF sebesar USD 97 miliar. Untuk memulihkan kondisi ekonomi Korea Selatan dan menyerap tenaga kerja, Presiden Korea Selatan saat itu, Kim Dae-Jung, mendorong pengembangan sektor-sektor industri baru.

Presiden Kim Dae-Jung saat itu menaruh perhatian khusus terhadap  dua sektor industri, yaitu teknologi informasi dan industri kreatif. Menurut Kim Dae Jung, dipilihnya teknologi informasi karena pengembangan di sektor ini akan berdampak positif terhadap sektor-sektor industri lainnya. Sedangkan sektor industri kreatif karena dapat mendorong ekspor produk-produk industri kreatif seperti musik, film, serta fashion sekaligus meningkatan image Korea Selatan.

Pemerintah Korea Selatan mendukung penuh persebaran gelombang budaya Korea (Hallyu). Korea Selatan bersaing dalam bidang budaya dan ekonomi di kancah global untuk melawan hegemoni budaya Barat dan westernisasi yang dilakukan Amerika Serikat.

Korea Selatan salah satu negara di dunia yang menjadikan seni dan budaya sebagai komoditas ekspor. Sejak saat itu, mereka serius menggarap bidang ini untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Saat ini, komoditas ini dikenal dengan istilah K-Pop.

Tidak hanya dari sisi pemerintah, tapi dari sisi pelaku usaha, mereka memiliki sistematika kerja yang benar-benar rapi dan menekankan kepada kualitas produk. Bayangkan, untuk mempersiapkan seorang artis K-pop, perusahaan-perusahaan manajemen artis rata-rata menghabiskan dana sebesar USD 2-3 juta selama rentang waktu 2-3 tahun untuk persiapan dan pelatihan seorang artis sebelum dikenalkan ke publik.

Pada awal pengembangan industri K-pop, para perusahaan manajemen artis juga banyak menyewa ahli-ahli di bidang industri hiburan dari Amerika Serikat, mulai dari koreografer tari, pencipta lagu, hingga pencari bakat. Selain karena mereka lebih berpengalaman, hal ini juga dilakukan sebagai sarana transfer of technology. Hal ini dimungkinkan karena suntikan modal pemerintahnya.

Di tahun 2017 ini, K-Pop masih jadi salah satu industri musik paling laris dan menarik perhatian, termasuk bagi millennials Indonesia. Tiap tahun idola-idola baru bermunculan, begitu pula dengan inovasi dari para idol-idol senior.

Tahun ini adalah tahun yang cukup berwarna bagi dunia K-Pop, beberapa grup mendapat pengakuan tingkat dunia dan beberapa yang lain mendulang kesuksesan komersial yang luar biasa. Salah satu K-Pop yang paling bersinar saat ini adalah BTS –Bangtan Sonyeondan–. Tak sedikit anak-anak muda di Indonesia yang gandrung dengan kepopulerannya. Bahkan anak-anak muda ini rela merogoh kantong untuk membeli buku biografinya, poster dan segala atribut merchandise yang berbau BTS.

BTS (Bangtan Sonyeondan)

Ada NU’EST yang debutnya sudah terlihat  sejak 2012 dan seangkatan dengan beberapa boyband senior lain seperti BAP, VIXX dan EXO. Namun, harus diakui mereka baru mengecap kesuksesan yang hakiki di tahun 2017. Berkat program survival Produce 101, akhirnya NU’EST mendapatkan sorotan yang berhak mereka dapatkan.

Walau hanya digawangi empat orang member (karena Min Hyun harus promosi dengan Wanna One), namun Jonghyun dkk berhasil melambung tinggi dan jadi salah satu group dengan angka penjualan tertinggi!

Red Velvet masih jaya dengan konsep-konsep unik dan imutnya. Girl group bimbingan SM Entertainment ini memang gak mengecewakan. Masih dengan trademark khas Red Velvet yang imut tapi gak pasaran, Irene dkk berhasil jadi salah satu grup paling bersinar di 2017 ini.

Selain itu, Seventeen terbukti jadi salah satu grup K-Pop paling berbakat & laris di 2017. Di tahun 2017, boyband asuhan Pledis Entertainment ini semakin bercahaya. Seventeen membuktikan tiap member mereka punya bakat keren lewat rilisan single dan album mereka. Gak tanggung-tanggung, S.Coups dkk berhasil jadi salah satu group dengan penjualan tertinggi dalam jajaran idola K-Pop di tahun 2017.

Masih banyak lagi group K-Pop yang sempat mencuri perhatian masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Sebut saja NCT terus merebut perhatian para penikmat K-Pop, GOT7 bagaikan bukti masa kejayaan baru bagi JYP Entertainment dan masih banyak lagi lainnya.

Kesuksesan K-Pop itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum para penyanyi K-Pop menjadi idola, mereka terlebih dahulu menjadi peserta pelatihan. Peserta pelatihan ini (dikenal sebagai trainee) adalah calon artis K-Pop yang tinggal, berlatih, dan tampil bersama sejak usia 9 hingga 10 tahun. Semua aktivitas tersebut berada dalam pengawasan ketat label musik yang menaungi mereka. Mulai mempelajari cara menjadi peserta pelatihan dan memulai perjalananmu untuk menjadi bintang K-Pop super!

Pada 2014, Negeri Ginseng bahkan menganggarkan hampir US$ 5,2 miliar  untuk bidang ini atau sekitar 1,4 persen dari total anggaran nasional. Tiga tahun berselang, angka itu kembali meningkat hingga 7,5 miliar dolar AS, sekitar dua persen total anggaran nasional.

Dan tak tanggung-tanggung, Pemerintah Korea Selatan memberikan dukungan secara berkelanjutan mulai dari suntikan modal, subsidi, hingga insentif pajak. Tahun 2005, misalnya,  Pemerintah Korea Selatan menggelontorkan  investasi sebesar US$1 miliar kepada industri musik Korea Selatan. Tak lama setelah itu, Pemerintah Korea Selatan pun  kembali menyuntikkan dana sebesar US$ 1 miliar  untuk mendukung peningkatan ekspor K-pop.

Alhasil, invstasi yang dibenamkan pemerinta itu berbuah manis. Tahun 2014, sumbangan industri kreatif terhadap ekonomi Korea Selatan mencapai US$ 11,6 miliar terhadap PDB Korea Selatan.

Tak pelak lagi, melalui industri kreatif hiburan, Korea Selatan berhasil menarik investasi dari seluruh dunia sehingga menghasilkan milliaran dolar. Menurut catatan kontribusi ekonomi kreatif terhadap Product Domestic Bruto (PDB) mencapai 8,67% pada tahun 2016.

Tak urung sukses negeri Gingseng tersebut mengemas ekonomi kreatif (ekraf) patut menjadi role model bagi Indonsia. Kepala Bekraf, Triawan Munaf menyampaikan, Korea Selatan telah memberi contoh bagaimana mengembangkan industri kreatif yang tidak hanya sukses di negara sendiri, tetapi juga sukses di negara lain.

“Budaya K-Pop sudah terbukti sangat digemari. Bukan hanya musiknya, tapi juga barangnya dan lain sebagainya. Banyak sekali yang bisa kita contoh dari Korea Selatan, seperti kreatifitasnya, kedisiplinanya, dan juga cara pemasaran industri kreatif mereka yang bukan hanya untuk pasar Korea Selatan saja, tetapi juga dunia.” kata Triawan Munaf, pada acara pembukaan K-Content Expo 2017, di Jakarta, September tahun lalu.

Indonesia dapat belajar dari Korea Selatan yang menaklukkan dunia lewat budaya populer bernilai universal sebagai pintu masuk dari budaya lainnya. “Mereka mengetuk pintu lewat cara komunikasi berkesenian universal yang ada warna Korea-nya,” kata Triawan di pembukaan pameran Indonesia Dalam Kuas Dan Lensa di Korea Cultural Center Jakarta, Mei lalu, sebagaimana dikutip  antaranews.com.

Budaya populer seperti grup idol, misalnya Girls Generation, menjadi penarik massa yang kemudian penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang Korea, termasuk budaya tradisional. “Kita harus menyerang dunia bukan dengan tarian tradisional tapi touch Indonesia pada universality. Orang akan suka dan mau masuk lebih dalam ke budaya,” tutur ayah penyanyi Sherina Munaf itu.

Lebih lanjut ditambahkan, Korea Selatan telah memberi contoh bagaimana mengembangkan industri kreatif. Tidak hanya sukses di negara sendiri, tetapi juga di negara lain.“Banyak sekali yang bisa kita contoh dari Korea Selatan dari segi kreativitas, kedisiplinan, dan cara pemasaran. Terbukti, budaya K-Pop sangat digemari. Bukan hanya musik, tapi juga produk lainnya seperti komik, games, hingga aplikasi. Jadi kreativitas itu muncul dari berbagai aspek dan Korea bisa mengkombinasikan ini menjadi kekuatan ekonomi negaranya,” ungkap Triawan serius.

Menurutnya ia telah berbicara khusus kepada pemerintah Korea Selatan agar membuka pasarnya untuk produk-produk kreatif Indonesia, serta membantu mengembangkan kemampuan pelaku ekonomi kreatif Indonesia sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Korea Selatan.

Salah satu bentuk kerja sama adalah penyelenggaraan K-Content EXPO 2017 yang dihelat pada 2-3 September 2017. Sudah kedua kalinya, acara ini diselenggarakan sebagai festival konten kreatif Korea terbesar di Indonesia, dengan menghadirkan lebih dari 40 perusahaan konten kreatif Korea sebagai eksibitor, terdiri dari K-Pop, TV Content, Game, Animation & Character, Comic, dan Beauty.

“Kerjasama ini tidak hanya kita jalin dengan Korea Selatan saja, tapi juga dengan negara-negara lainnya. Kita harus bisa seperti Korea Selatan yang tidak hanya menguasai pasar negaranya saja, tapi juga pasar dunia,” ujar Triawan.

Jadi, tidak salah bila Indonesia belajar banyak dari Korea Selatan dalam hal pengembangan industri kreatif. Bila tidak ada aral melintang, Pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan World Conference on Creative Economy pada bulan November 2018 mendatang. Konferensi ini ditujukan untuk membahas kerja sama antar negara di bidang industri kreatif.

Konferensi internasional tersebut merupakan salah satu langkah mengembangkan industri kreatif tanah. Tapi jangan dilupakan peran pemerintah dalam memberikan dukungan permodalan dan strategi pemasaran internasional. Ayo kita coba![] yt