Harapan Bekraf Menjadi Lokomotif Ekonomi Nasional

Keberhasilan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif-red) membangun ekosistem ekonomi kreatif (ekraf-red) dan sinergi lintas sektor, membuat akselerasi ekonomi nasional makin “berlari kencang”. Ke depan ekraf menjadi primadona dalam kontribusi PDB semakin terbuka lebar.

Masih ingat krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 lalu? Di tengah krisis multidimensional saat itu, ternyata sektor ekonomi kreatif mampu menyesuaikan diri menghadapi situasi itu. Diprakarsai oleh para artis  yang saat itu mendirikan kafé tenda, rupanya mampu bertahan dari terpaan krisis ekonomi.

Saat itu betapa euforia kafé tenda yang dikemas dengan live music, mampu mengundang masyarakat menikmati kuliner sambil mendengarkan musik. Tren itu merupakan terobosan kreatif anak negeri dalam membangun potensi ekonomi. Pendek kata, kreativitas menjadi kata kunci untuk mengembangkan perekonomian nasional.

Kondisi serupa akan terjadi ke depan. Di saat bahan tambang kian menipis, ekraf akan muncul menjadi basis kekuatan ekonomi nasional dan menunjang industri pariwisata Indonesia. Ekraf ke depan menjadi primadona ekonomi nasional.

Tampaknya Presiden Joko Widodo memperhatikan sektor ini. Ketika membuka acara Temu Kreatif Nasional, Agustus 2015 di Tangeramg Selatan, Banten mengatakan, kreativitas akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi, dan pada saat yang bersamaan ramah lingkungan serta menguatkan citra dan  identitas budaya bangsa.

Menurut Presiden, kontribusi  ekraf pada perekonomian nasional semakin nyata. Nilai tambah yang dihasilkan ekraf juga mengalami peningkatan setiap tahun. Pertumbuhan sektor ekraf sekitar 5,76 %. Artinya berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan.

Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki kinerja ekonomi paling hebat. Tahun 2015 lalu, kita mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 4,79%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya mencapai 2,4%. Iklim yang positif ini tentunya menjadi momen yang tepat bagi pemerintah mengokohkan fondasi perekonomian, terutama pada sektor riil.

Salah satu sektor riil yang sangat layak menjadi prioritas adalah ekraf. Presiden optimistis bahwa ekraf  kelak menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Berbeda dengan sektor lain yang sangat tergantung pada eksploitasi sumber daya alam, kekuatan ekraf lebih bertumpu kepada keunggulan sumber daya manusia. Karya seni, arsitektur, buku, inovasi teknologi, dan animasi, berasal dari ide-ide kreatif pemikiran manusia.

Keyakinan akan masa depan sektor ekraf  inilah yang mendorong Presiden membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang diharapkan berfungsi menjadi akselerator pertumbuhan ekraf Indonesia.  Presiden bahkan berjanji  memberi dukungan penuh dalam masalah anggaran kepada Bekraf. “Saya berharap Badan Ekonomi Kreatif segera bekerja dan bekerja, serta berlari cepat untuk memfasilitasi percepatan pembangunan di sektor ekonomi kreatif,” lanjut Presiden.

Badan Ekonomi Kreatif adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggung jawab di bidang ekraf yang memiliki tugas membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekraf. Pembentukan badan ini berdasarkan  Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif.

Namun harus disadari, upaya menggerakkan sektor ekraf memerlukan kebersamaan, memerlukan sinergi dari semua pihak pelaku ekraf. Salah satunya melalui temu kreatif  nasional yang melibatkan para pelaku industri ekraf  untuk curah pikiran, curah gagasan, berbagi pengalaman, unjuk kerja, unjuk kreativitas untuk kemajuan sektor ini. Industri kreatif juga butuh sinergi dan kerjasama antara  para investor dengan para investor. Sinergi ini akan mendorong karya-karya kreatif  dan  mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, mengatakan terdapat 16 kelompok industri kreatif yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Namun sementara ini hanya empat bidang yang mendapat dukungan dari Kemenperin, yakni  kuliner, fesyen, serta games dan aplikasi.

“Kalau fesyen, kita ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat muslim fesyen in the world, Indonesia nomor tiga di dunia. Di dalam fesyen itu masing-masing harus tercipta ekosistemnya. Antara customer, desainer, dan pelakunya. Antara manusia, mesin, dan datanya. Masing-masing ekosistem itu dibangun datanya,” kata Gati dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, pertengahan Mei lalu.

Selain itu, masih dari penuturan Gati, pihaknya sudah mengeluarkan salah satu produk unggulan bernama e-Smart. Di sini usaha kecil menengah (UKM) tidak hanya berjualan saja, UKM yang tidak sukses juga akan dibina penjualannya.  Dia menyebut pendorong kebijakan soal ekonomi kreatif di Kementerian Perindustrian saat ini tak bisa dipungkiri adalah sosok Airlangga Hartarto sebagai Menteri Perindustrian.

Menurut Jokowi, ekraf sangat cocok dikembangkan di Indonesia, sehingga, perlu semakin mendorong ekraf di Indonesia. Dia berharap ke depan busana muslim Indonesia dapat mendunia, karena banyak diminati. Hal ini dapat dilakukan dengan kerjasama yang baik antar pengusaha. Dia pun mendorong untuk bisa mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi.

Sementara awal Mei 2015, Bekraf bertemu dengan sejumlah insan perfilman dalam sebuah diskusi terkait dengan pembajakan film dan Hak Kekayaan Intelektual. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Ahmad M. Ramli dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga hadir dalam pertemuan itu.

Kepala Bekraf Triawan Munaf menayangkan video tentang betapa kecilnya kontribusi industri film Indonesia terhadap PDB. Industri film Korea Selatan mampu menyumbang $6,6 miliar ke dalam produk domestik bruto (PDB) negaranya. Angka itu jauh lebih besar dari industri makanan, minuman, tekstil, bahkan tembakau.  Sementara di Indonesia, dengan jumlah penduduk tiga kali lebih banyak dari Korea, industri film-nya hanya mampu menyumbang kurang dari 0,1% ke PDB pada 2014. “Film adalah produk industri budaya dan hiburan yang sangat padat modal. Pelanggaran terhadap HKI atas produk film seperti membiarkan tubuh mengalami pendarahan yang mematikan,” kata Triawan usai video diputar.

Saat pertemuan itu berlangsung, usia Bekraf baru lima bulan. Sebelumnya, ekonomi kreatif berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tak ada badan atau lembaga khusus. Di bawah pimpinan Triawan, Bekraf bertugas membantu presiden merumuskan, menetapkan, dan melakukan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di 16 bidang termasuk film, musik, fesyen, hingga kriya, sebagaimana dikutip dari tirto.id.

Triawan mengatakan, gagasan kreatif tak akan pernah habis sehingga diharapkan dapat menggantikan sumber daya alam menjadi tulang punggung perekonomian nasional. “Indonesia memiliki potensi ekraf yang luar biasa besarnya yang akan terus kita kembangkan sehingga bisa membantu meningkatkan perekonomian nasional,” kata ayah Sherina ini kepada pers di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, dukungan produk kreatif dari Indonesia yang dilakukan di dalam dan luar negeri untuk 16 subsektor ekraf, yakni seni rupa, desain produk, desain komunikasi visual, desain interior, arsitektur, seni pertunjukan, kuliner, fotografi, kriyan, fesyen, musik, periklanan, penerbitan, televisi dan radio, aplikasi dan pengembangan permainan, serta film animasi dan video.

Produk domestik bruto bidang ekonomi kreatif tahun 2018 ditargetkan naik jadi Rp1.000 triliun dari PDB tahun sebelumnya, didorong oleh dukungan 16 subsektor yang dilakukan di dalam dan luar negeri. Perkembangan ekraf di Indonesia alami penaikan setiap tahunnya, yaitu pada tahun 2015 sebesar Rp852 triliun, menjadi Rp922,58 triliun pada tahun 2016, dan pada tahun 2017 sebesar Rp990,4 triliun, dan pada tahun 2018 ditargetkan Rp 1.000 triliun.

Bekraf memprediksi kontribusi ekraf bisa menembus Rp1.000 triliun tahun ini. Artinya, industri kreatif setidaknya bisa tumbuh 8 persen dibandingkan proyeksi tahun lalu. Bila dilihat dari tren pertumbuhan ekraf beberapa tahun terakhir ini, maka target sebesar itu bisa tercapai. Apalagi pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat. Berdasarkan data, jumlah kelas menengah di Indonesia kini mencapai 40 juta jiwa. Angka itu terus meningkat, diprediksi bisa menembus angka 200 juta jiwa pada tahun 2045.

“Secara rata-rata,pertumbuhan ekonomi kreatif itu sebesar Rp70 triliun setiap tahunnya. Jadi kalau pertumbuhan Rp70 triliun itu tercapai, dan saya yakin lebih, di akhir 2017 ini akan didapat angka Rp1.000 triliun kontribusi ekraf kepada Pendapatan Domestik Bruto,” tutur Kepala Bekraf ini, September tahun lalu, sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com.

Sektor ekraf terbukti menjadi sumber dan kekuatan ekonomi baru bagi Indonesia, apalagi di tengah melambatnya harga komoditas dan bahan mentah secara global, sektor ekraf mampu memberikan sumbangan yang positif bagi perekonomian Indonesia. Triawan menyebutkan, ekraf  memberikan kontribusi sebesar 7,38% terhadap perekonomian nasional dengan total PDB sekitar Rp 852,24 triliun. Tugas ekraf adalah memberikan nilai tambah, sehingga dapat menghasilkan produk yang bernilai tinggi dan berkontribusi besar pada perekonomian.

“Dari total kontribusi tersebut, subsektor kuliner, kriya dan fesyen memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif,” tambah Triawan. Dia melanjutkan, subsektor kuliner berkontribusi sebesar 41,69%, fesyen sebesar 18,15%, kriya sebesar 15,70%.

Menurut Triawan, pertumbuhan film di Indonesia terlihat dari banyaknya bioskop yang telah dibangun, setidaknya lebih dari 1.200 bioskop yang telah terbangun di beberapa kota. Dengan banyaknya fasilitas bioskop, akan mempengaruhi jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Salah satu contohnya film Laskar Pelangi dan Ada Apa Dengan Cinta 2, ternyata memberikan daya wisata di dua daerah tersebut.

“Selama 30 tahun lebih investasi pada bidang perfilman itu tertutup untuk investor asing, mereka sudah lebih maju karena itulah dibuka investasi ini untuk film untuk pusat investasi oleh pelaku luar negeri investor pemula investasinya yang sekarang,” jelasnya seraya menambahkan masih ada hambatan dan kendala dalam pengembangan ekraf, terutama terkendala oleh ekosistem bisnis dan investasinya.

“Kami bersama dengan BKPM dengan memformulasikan tawaran kepada para investor luar untuk berinvestasi di bidang bioskop dan tentunya juga diproduksi film saat ini FOX sedang berjalan, di antaranya film Wiro Sableng,” tukas dia.

Sementara berkembangnya industri ekraf  tidak bisa dipisahkan dari e-commerce di Indonesia. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan pertumbuhan e-commerce mencapai 60-80 persen per tahun. Semakin tidak terbendungnya pasar digital menjadikan e-commerce bisa menjadi salah satu pondasi dari kekuatan ekonomi Indonesia.

Proyeksi yang dilansir oleh Price Waterhouse Cooper (PWC), menempatkan Indonesia akan berada di posisi ke-5. Gross Domestic Product (GDP) Indonesia tahun 2030 diprediksi akan mencapai USD5.424 triliun.

Pemerintah mendorong UMKM Indonesia untuk go online karena 60 persen kekuatan ekonomi Indonesia berada di sektor UMKM, dan saat ini pemerintah menyediakan saluran untuk UMKM mengembangkan usahanya melalui e-commerce.

Sementara tahun 2018 diprediksi akan menjadi puncak pertumbuhan ekraf. Tren di 2018 juga akan semakin ramai oleh generasi jaman now sebagai pencari ekraf (leisure economy) yang berkaitan erat dengan pangsa pasar industri kreatif. Wakil Kepala Bekraf, Ricky Joseph Pesik mengatakan, pihaknya akan fokus membenahi setiap subsektor di bawah naungan Bekraf. Pihaknya menggandeng lembaga kajian riset global yang berpengalaman dalam meneliti industri kreatif di seluruh dunia seperti Nielsen, PwC, Intel.

“Sekarang kami sudah jangkau pelaku ekraf di ratusan kota. Ke depannya fokus kami untuk membenahi dan memperkuat ekosistem-ekosistem subsektor sesuai dengan hasil identifikasi. Karena itu kami libatkan lembaga riset yang berpengalaman dalam ekraf di berbagai negara,” ujar Ricky.

Untuk mencapai target sebesar itu, kata Triawan, kegiatan “Bekraf Developer Day” dan “Bekraf for Pre-Startup” dilaksanakan lagi dengan menyasar ke sejumlah kota di Indonesia, selain pendampingan pelaku ekraf  melalui inkubator bisnis terus dilakukan.

Selain itu, upaya pengembangan ekraf tidak hanya menyasar perseorangan dan komunitas, tetapi juga wilayah melalui kota kreatif dan desa kreatif. Menurut dia, kemudahan akses permodalan pelaku ekraf diberikan melalui Dana Ekonomi Kreatif (Dekraf), Kredit Usaha Rakyat Ekonomi (Kurekraf), optimalisasi pengumpulan dana, hingga mengadakan forum bagi investor dan filantropi ekraf.

Bekraf bersinergi dengan pihak swasta untuk mempersiapkan startup di Indonesia untuk mendapatkan pembiayaan non-perbankan. Modal jadi salah satu kendala pengusaha rintisan (startup) dalam memulai maupun mengembangkan usaha. Bekraf mengundang sejumlah pakar dan pemangku kepentingan dunia startup menjelaskan cara mendapatkan pembiayaan non-perbankan. Salah satunya lewat “Get Funded, Startup Mentoring to Access Financing” di Hotel Grand Inna Padang, Sumatera Barat, April 2018.

Bekraf mendampingi startup untuk seluruh tingkat kemampuan, mulai dari pemula hingga yang sudah memiliki produk. Salah satunya lewat program BACKUP BASIC yang ditujukan bagi peserta perorangan yang membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kesiapan mereka.

Sedangkan BACKUP START ditujukan untuk peserta yang sudah memiliki tim dan mempunyai ide serta memiliki rencana membangun startup. Kurikulum yang diberikan berupa teknis pemrograman android dan back-end php, creative desain, dan tentunya bisnis.

Sedangkan BACKUP JOUNEY ditujukan ke startup yang telah beroperasi untuk mengikuti program pendampingan lanjutan dan link-and-match dengan mitra strategis.

Sementara Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo mengatakan, pihaknya berhasil menyalurkan Rp4,2 triliun atau 859,53% di atas target untuk penyaluran modal dari perbankan kepada 2.600 pelaku ekraf. Nilai ini sekaligus mencatatkan pertumbuhan hingga 130% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sebagai pihak yang mempertemukan pemilik dana dengan pelaku usaha ekraf, pihaknya berhasil juga mempertemukan modal Rp96,75 miliar dari sumber nonbank ke 1.092 pelaku ekraf. “Permodalan dari bank tahun 2016 mencapai Rp4,2 triliun dari bank konvensional dan Rp77,2 miliar dari perbankan syariah. Aktivitas permodalan berhasil meningkat untuk pelaku ekraf,” ujar Fadjar.

Direktur Perencanaan & Operasional BNI Bob Tyasika Ananta mengatakan, perbankan membutuhkan skema permodalan yang sesuai untuk mendorong penyaluran kredit bagi ekraf. Meskipun ingin memperbesar porsi kredit industri kreatif, pihaknya juga harus menjaga prudential atau keamanan bisnisnya.

Dia menilai intervensi pemerintah seperti kredit usaha rakyat (KUR) dibutuhkan sehingga perbankan lebih percaya diri untuk membiayai. “Kami baru fokus di subsektor kuliner, fashion , dan digital. Bank coba cari bentuk optimal dan harus dilihat peluang. Kami akan masuk dengan selektif,” ujar Bob

Dia juga menjelaskan niat BNI untuk memiliki modal ventura sehingga bisa lebih nyaman untuk membiayai ekraf. Pihaknya masih mengkaji strateginya apakah secara organik atau anorganik. Satu perhatian utama BNI dalam mendanai ekraf ialah yang dapat mendorong bisnis BNI dan semua anak usahanya.

Keberhasilan Bekraf membangun ekosistem ekraf dan sinergi lintas sektor dalam membantu sumber-sumber pembiayaan bagi pelaku ekraf, membuat akselerasi ekonomi nasional makin “berlari kencang”. Ke depan ekraf menjadi primadona dalam kontribusi PDB semakin terbuka lebar. [] yt/dari berbagai sumber