Menguak Tiga Besar Penyumbang Perekonomian Ekraf

Sektor kuliner, fesyen dan kriya menjadi penyumbang terbesar terhadap ekonomi kreatif (ekraf) di Indonesia. Sektor merupakan sumber ekonomi terbarukan. Bila potensi yang ada di dalam negeri dapat ditingkatkan akan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia di masa mendatang

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suharyanto mencatat tiga subsektor utama, yaitu kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang terbesar dari 16 sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan survey BPS pada 2016, subsektor kuliner menjadi menyumbang terbesar dalam Product Domestic Bruto (PDB) ekonomi kreatif yakni sebesar 41,69% atau sekitar Rp 382 triliun. Menusul fashion tercatat menyumbang sebesar 18,15% atau sebesar Rp 166 triliun, dan disusul subsektor kriya sebesar 15,70% atau sebesar Rp 142 triliun di 2016 lalu.

Meskipun terus tumbuh, jangan cepat puas. Masih ada yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Salah satunya ekosistem bisnis dan investasi serta infrastruktur penunjang kegiatan. Sebab, masih banyak subsector ekonomi kreatif yang harus mendapat perhatian serius untuk meningkatkan kinerjanya.

Faktor apa yang menyebabkan tiga subsektor tersebut memberi kontribusi signifikan terhadap PDB Indonesia? Berdasarkan statistik, dapat dilihat bahwa sektor kuliner memberikan kontribusi terbesar, alasan mendasar dari fakta tersebut dikarenakan kuliner merupakan kebutuhan dasar dan utama yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, industri makanan selalu dapat memberikan kontribusi besar terhadap PDB, walaupun apabila dilihat dari rata-rata pertumbuhan Nilai Tambah Bruto (NTB) industri kuliner masih dibawah industri ekonomi kreatif lainnya (Bekraf, 2017).

Walaupun persaingan pelaku usaha kuliner semakin ketat, tapi tidak membuat pelaku usaha “menahan diri” berkiprah di sector ini. Bahkan beberapa tahun terakhir ini makin berkembang di Indonesia.

“Kuliner merupakan salah satu penopang di industri kreatif. Dari unit 8,2 juta unit industri kreatif, 68 persen bergerak di industri kuliner,” kata Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf RI AR Boy Berawi pada acara peluncuran program Bango Penerus Warisan Kuliner 2018 di Restoran Suasana, Kuningan, Jakarta, Februari lalu.

Lebih lanjut ditabahkan, Boy mengungkapkan industri kuliner memiliki potensi besar di Indonesia untuk terus berkembang. Bekraf RI mencoba memaksimalkan ekosistem dalam industri kuliner Indonesia yang dibagi menjadi beberapa aspek

Aspek tersebut adalah pengembangan sumber daya manusia, permodalan, pemasaran, hak kekayaan intelektual, dan infrastruktur Warung Kopi Klotok biasa dipadati pengunjung pada saat jam makan siang. “Bekraf memperbaiki ini agar industri kuliner dapat kondusif dan tumbuh berkembang. Intervensi yang dilakukan oleh Bekraf masuk dalam lingkaran ekosistem, tetapi intervensi itu tidak dapat dilakukan satu aspek karena permasalahan ekosistem itu tidak akan selesai,” kata Boy Lewat program ‘Food Start Up Indonesia’.

Untuk itu, Bekraf mengajak pelaku di industri kuliner untuk mengembangkan bisnis. Finalis yang terpilih akan mendapat pelatihan bisnis serta akses ke investor bisnis. Program tersebut akan dilakukan roadshow di 10 kota besar Indonesia. Untuk pendaftaran dapat dilakukan di situs www.foodstartupindonesia.com. “Program ini untuk menumbuh kembangkan start up dari di bidang kuliner. Nantinya akan diberi pengembangan untuk kapasitas buildng, higienitas, permodalan, dan pemasaran. Program ini komprehensif dari hilir sampai hulu,” jelas Boy.

Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian nasional. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor mamin pada 2016 mencapai Rp 586,5 triliun atau 6,2% dari total PDB nasional senilai Rp 9.433 triliun. Selain itu, sektor mamin selalu tumbuh di atas pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Pada triwulan III 2017 PDB sub sektor makanan dan minuman tumbuh 9,46% (YoY) menjadi Rp 166,7 triliun, sementara ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,06%. Sepanjang triwulan I-III 2017, sub sektor mamin tersebut menyumbang 33,78% PDB sektor pengolahan yang mencapai Rp 1.406 triliun dan juga menyumbang 6,42% PDB nasional yang mencapai Rp 7.402 triliun, sebagaimana dikutip dari katadata.co.id.

Pada tahun 2016, sektor kuliner paling banyak diminati oleh negara China dengan minat terbesar ditaruh pada produk seperti sarang burung walet, kopi, biskuit, makanan ringan, mi instan, serta santan kelapa instan. Nilai ekspor makanan olahan Indonesia ke China pada 2016 sebesar US$1,1 miliar. Salah satu alasan mengapa perdagangan industri makanan dan minuman antara Indonesia dan China sangat kuat adalah adanya sesi one-on-one business meeting, yaitu merupakan pertemuan empat mata, antara Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda dan pihak China sehingga pendekatan antara dua  pihak tersebut lebih optimal. Pertemuan tersebut bertujuan agar dapat membangun jejaring bisnis baru dan menyeimbangkan posisi neraca perdagangan antara China dan Indonesia.

Sementara dalam rangka mendorong produk makanan dan minuman Indonesia ke Eropa, KBRI Den Haag berpartisipasi pada Horecava Expo 2018, beberapa waktu lalu..  Horecava Expo merupakan pameran inovatif untuk produk makanan dan minuman terbesar di Belanda yang merupakan platform bagi food service ternama di Belanda yang dilaksanakan setiap tahun di RAI Amsterdam, Belanda dan dihadiri 65.328 pengunjung.

Keikutsertaan Indonesia pada Horecava Expo 2018 diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Belanda serta semakin meningkatnya permintaan pasar Belanda dan wilayah Eropa Iainnya terhadap produk Indonesia serta semakin banyaknya dijumpai produk-produk tersebut di pasar Belanda.

Sebagai gambaran bahwa ekspor Indonesia ke Belanda untuk Miscellenous Food mencapai USD 8,4 juta pada Periode Januari-September 2017 dengan trend peningkatan tiap tahunnya yang cukup positif yakni sebesar 39,8%.

 Subsektor Fesyen

Sementara subsektor fesyen, menurut survey BPS pada 2016 memberi sumbangan kontribusi terhadap PDB sebesar 18,01% atau sebesar Rp166 triliun. Pada tahun 2016, komoditas fesyen yang paling banyak diekspor ke Amerika serikat adalah sepatu olahraga senilai US$732,78 juta, disusul oleh jersey, sweater, dan cardigan senilai US$455,11 juta. Kemudian jas, jaket, blazer, gaun, rok, dan celana pendek senilai US$393,11 juta (Badan Pusat Statistik dan Badan Ekonomi Kreatif, 2016).

Fesyen berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar1,43 persen terhadap PDB nasional dengan pertumbuhan mencapai 2,8 persen tahun 2016. Jika dilihat dari pertumbuhan PDB-nya, fesyen dapat dijadikan subsektor prioritas ekonomi kreatif di Indonesia.

“Artinya kontribusi fesyen begitu besar. Fesyen sudah masuk 3 besar kontributor utama. Kami di Bekraf terdiri dari 6 kedeputian terus mengembangkan ini,” kata Direktur Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Wawan Rusiawan dalam Cikini Fashion Festival (CIFFest) di Taman Ismail Marzuki, Agustus tahun lalu.

Menurut wawan beberapa program pengembangan terus digagas, di antaranya dengan menjadi fasilitator antara desainer dan perajin lokal di daerah. Sehingga desainer langsung mendampingi pelatihan bagi para perajin. “Misalnya tenun di Nusa Tenggara Timur (NTT), para desainer datang langsung terjun ke lokasi bertemu perajin,” ujar Wawan.

Sementara Juni lalu, sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) batik nasional  ikut serta dalam pameran internasional yang bertajuk “Indonesia Batik For The World” di UNESCO Headquarters, Paris, Perancis. Salah satu pesertanya adalah Batik Azmiah, IKM batik kelas premium berasal dari Provinsi Jambi yang telah mampu menembus pasar Eropa.

“Pameran  yang berlangsung pada 6-12 Juni 2018 itu dalam rangka memperingati ke-9 tahun Kain Batik Indonesia masuk dalam daftar perwakilan warisan budaya sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO yang diakui sejak 2 Oktober 2009 lalu,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Juni lalu

Menurut keikutsertaan IKM tersebut merupakan fasilitas dari kementerian Perindustrian. Tujuan Indonesia Batik For The World digelar adalah untuk memperlihatkan kepada dunia terhadap kekayaan budaya batik nasional, kompetensi pengrajinnya, dan kelangsungan industri batik Indonesia. “Kini, batik Indonesia semakin menunjukkan jati dirinya di berbagai pameran dunia,” ungkap Gati.

Pada pameran tahun ini, terdapat 100 kain batik kualitas premium yang dipamerkan oleh para pengrajin IKM batik dari berbagai daerah. “Di tahun 2015, Kemenperin memberikan penghargaan One Village One Produk (OVOP) Bintang 3 Kategori Batik kepada Batik Azmiah,” imbuhnya.

Menurut Gati, Rumah Batik Azmiah merupakan IKM batik yang telah terkenal dengan penggunaan warna klasik dan corak yang unik. “Beberapa motif yang diproduksi antara lain kapal sanggat, tampuk manggis, bungo keladi, serta merak ngeram,” ujarnya. Hal yang membedakan batik Azmiah dengan lainnya adalah proses membatik yang melalui lebih dari enam kali pewarnaan sehingga menghasilkan warna yang menarik.

Industri batik, kata Gati, telah berperan penting bagi perekonomian nasional. Sebagai market leader, Indonesia telah menguasai pasar batik dunia serta telah menjadi penggerak perekonomian di regional dan nasional. Tak hanya itu, industri batik telah menyediakan ribuan lapangan kerja dan menyumbang devisa negara.

Kemenperin mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik pada tahun 2017 mencapai USD58,46 juta dengan pasar utama eskpor ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Ini menujukkan industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional.

Saat ini, industri batik didominasi oleh pelaku IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh Indonesia.  Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang. “Kami terus berupaya meningkatkan daya saing dan produktivitas industri batik nasional. Langkah strategis yang dilaksanakan, antara lain program peningkatan kompetensi SDM, pengembangaan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan serta promosi dan pameran,” paparnya.

Di samping itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memfasilitasi 5 brand di pameran streetwear terbesar Agenda Show, di Long Beach, California, Amerika Serikat pada tanggal 28 – 30 Juni 2018. Agenda Show merupakan pameran fesyen khusus kategori streetwear,action sportdenimfootwearsurfing dan skate. Sejak digelar pertama tahun 2003, Agenda Show sudah dihadiri oleh lebih dari 10 ribu pengunjung dari berbagai negara diantaranya buyers, media, distributor dan influencers dari Amerika Serikat dan 50 negara lain di dunia.

“Keikutsertaan ini mencerminkan salah satu upaya Bekraf untuk terus meningkatkan fesyen sebagai sektor unggulan ekraf di Indonesia,” ujar Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak. Ia menambahkan diharapkan dengan dukungan ini, industri fesyen streetwear tanah air semakin berkembang pesat dan mendapat tempat di hati dunia.

Menurut data Outlook Ekonomi Kreatif 2017 yang diterbitkan oleh Bekraf, sub sektor fesyen merupakan salah satu sub sektor ekraf dengan nilai pendapatan terbesar (tahun 2016) yaitu senilai Rp 166 triliun atau berkontribusi sebesar 18,01% terhadap PDB Ekraf. Secara umum, nilai ekspor produk fesyen Indonesia pada 2015 mencapai US$ 10,90 miliar, meningkat sebesar 1,84% dibandingkan ekspor di tahun 2014 dan memberikan kontribusi sebesar 54,54% terhadap total nilai ekspor sektor ekraf. Nilai tersebut menjadikan sub sektor fesyen sebagai salah satu industri yang sangat penting bagi ekonomi kreatif.

Negara tujuan ekspor terbesar produk fesyen Indonesia adalah Amerika Serikat dengan nilai sebesar US$ 4,72 miliar, lalu di posisi kedua dan ketiga berturut-turut adalah Jepang dengan nilai ekspor US$ 943,6 juta, dan Jerman dengan nilai ekspor US$ 701 juta. Komoditas terbesar produk fesyen ke Amerika Serikat berasal dari industri pakaian jadi dari tekstil.

Dalam Agenda Show 2018, Bekraf akan membawa 5 brand lokal yang sudah melewati tiga tahapan kurasi oleh para kurator yaitu Khairiyyah Sari, Hanafie Akhmad, Syahmedi Dean, dan Febe Riyanti Siahaan. Untuk kurasi tahapan kedua dilakukan kurasi langsung oleh brand partnership Agenda yaitu Richard Soto. Pendaftaran terbuka telah dilakukan yaitu dimulai tanggal 27 Februari 2018 dan berlangsung selama 2 minggu. “Masyarakat cukup antusias dengan acara ini, ratusan peserta ikut berpartisipasi dengan berbagai produk mereka. Setelah melalui tiga tahapan kurasi, terpilihlah lima brand yang dirasa tepat,” ucap Khairiyyah Sari.

Ia menjelaskan tren streetwear berangkat dari tren fesyen dunia dimulai di tahun 90an, produk streetwear yang berasal dari gaya hidup hip hop dan skate muncul dan menjadi incaran kaum muda. Saat itu, streetwear merupakan sarana untuk menunjukkan identitas diri dan merefleksikan status sosial serta menampilkan kebanggaan dan integritas sebagai seorang individu dengan mengekspresikan diri melalui pakaian.

Di Indonesia, tren ini mulai terlihat di tahun 90an saat era Distro berjaya. Label-label produksi dalam negeri yang menjual kaus, jaket, hoodies, yang belum berani menjual labelnya sendiri, menitipkannya di distro-distro. Indonesia kembali semarak dipenuhi dengan label streetwear yang inovatif serta dipenuhinya acara-acara yang berhubungan dengan gaya hidup itu. Pemakainya, yaitu generasi Z menjadi konsumen utama produk streetwear. “Mereka menilai bahwa streetwear merupakan gaya pakaian yang nyaman digunakan dan memiliki karakter. Streetwear, saat ini bukan hanya sekadar dipakai, namun juga menjadi sebuah kebanggaan bagi para pemakainya,” tambahnya.

Lebih lanjut, 5 brand yang didukung oleh Bekraf di Agenda Show 2018 ini adalah Elhaus dengan modern menswear dan denim, Paradise Youth Club dengan inspirasi gaya hidup 90’s skate dan musik, OldblueCo yang fokus di produksi denim, Monstore yang memiliki koleksi unisex, apparel, dan home, serta Potmeetspop asal Bandung yang berkreasi dengan aneka denim rancangan modern.

Subsektor Kriya

Data BPS mencatat bahwa subsektor kriya memberi sumbangan terhadap ekonomi kreatif sebesar  sebesar 15,70% atau sebesar Rp 142 triliun berdasarkan survey yang dilakukan BPS dengan Bekraf tahun 2016 lalu.  Angka sebesar itu menunjukan sektor ini menempati posisi ketiga dalam sumbangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Namun demikian,produk-produk kriya Indonesia terkenal dengan ”buatan tangannya”, dan memanfaatkan hal tersebut sebagai nilai tambah sehingga bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi. Namun, tidak cukup hanya bermodal itu untuk dapat menembus pasar internasional.

Dibutuhkan berbagai elemen lain yang saling bersinergi sehingga akhirnya produk lokal dapat sejajar dengan produk luar negeri. Pemerintah melalui Bekraf mengangkat potensi industri kriya ini dengan mensinergikan arah kebijakan ekonomi kreatif yang terdiri dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi untuk menciptakan ekosistem yang baik pada masa depan, sebagaimana dikutip dari okezone.com.

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari mengatakan, kelima hal ini memiliki permasalahan masing-masing, itulah yang coba diatasi oleh Bekraf. Dari segi produksi kreasi misalnya, kebanyakan produk kriya lokal hanya menjiplak produk pada masa lalu. Padahal, kreativitas dibutuhkan untuk bertahan dan permintaan pasar juga tidak bisa diabaikan.

Bekraf kemudian mendatangkan desainer untuk memberikan pelatihan kepada para perajin yang ada di segenap daerah. ”Akhirnya produk kriya difokuskan pada tiga aspek, yaitu untuk suvenir, home appliance , dan education toys . Ketiga item ini banyak mendapat permintaan dari pasar,” kata Hari.

Kini banyak pelaku usaha sektor kriya yang berhasil menembus pasar ekspor. Salah satunya adalah Fernanda Reza. Direktur Indonesia Archipelago ini mengakui,  tak sedikit pengrajin yang membuat kerajinan rumah tangga dengan menggunakan bahan material dari kerang. Kemudian, Indonesia juga punya keunggulan di industri kerajinan tangan (hand made) yang sulit ditiru. Kedua keunggulan ini yang mengilhami Fernanda  mengembangkan produk ekspor kerajinan berbahan material kerang yang dikemasnya menjadi produk dekorasi rumah tangga (lampu-lampu hias) dan perlengkapan kamar mandi (toilet seat cover dan soap dish).

Kini produknya menembus pasar ekspor, seperti Australia, Eropa, Amerika Serikat, Asia dan Timur Tengah. Menurutnya membangun kepercayaan untuk menjalin hubungan baik secara intens dengan para mitra buyer atau distributor di luar negeri sesuatu hal yang harus dilakukan. Baginya membangun kepercayaan merupakan harga tanpa batas.. Dalam kacamatanya, membangun bisnis  tidak bisa main dengan hitung-hitungan angka pasti. Tapi dibutuhkan juga sisi emosional, baik kepada klien maupun dengan supplier dan orang-orang yang bekerja pada kita, lihat pelakubisnis.com, cannal UKM edisi Maret 2018.

Menurut Reza semakin besar level buyer, semakin besar ordernya, maka semakin rumit persyaratannya. Perlu peran serta pemerintah untuk mendorong UKM supaya tetap lancar dalam proses ekspornya., di samping kebijakan perbankan lainnya.

Akhirnya boleh jadi ekonomi kreatif yang berlandaskan kreativitas merupakan sumber ekonomi terbarukan. Bila potensi yang ada di dalam negeri dapat ditingkatkan akan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesi.

Oleh karena itu, identifikasi masalah yang dihadapi pelaku usaha ekonomi kreatif harus segera dibenahi. Dan akhirnya adanya adanya kerja sama antara pemerintah, para pengusaha ekonomi kreatif, dan masyarakat dapat menjadi pilar ekonomi di masa mendatang.[] yt