Perlu Talent Schooling Untuk Lahirkan Kreator

Bakat saja tidak cukup untuk menghasilkan sebuah kreatifitas. Diperlukan ilmu pengetahuan untuk melahirkan karya brillian.

Lima anak muda Indonesia berkesempatan mengikuti workshop Berlinale Talents 2015.  Mereka menjadi bagian dari 300 pelamar terpilih untuk mengikuti workshop ini. Mereka mengalahkan 2559 pelamar dari 117 negara di dunia.  Pada kesempatan itu sutradara Wregas Bhanutedja (22) asal Yogyakarta-Indonesia, menjadi sutradara termuda di ajang Festival Berlinale 2015 dan film pendeknya berjudul ‘Lembusura’ lolos seleksi program kompetisi di ajang festival film bergengsi ini.

Indonesia memang memiliki anak-anak muda berbakat di bidang kreatif. Sebut saja sutradara-sutradara muda yang berhasil menyabet penghargaan di kancah perfilman internasional. Contoh film ‘Teguh Lolo’, film Sepatu Baru karya anak Makasar, bisa meraih special mention  sebagai film pendek animasi terbaik kategori generation Kplus di Festival Film Berlin “Berlinale”.  Belum lama  film animasi ‘Battle of Surabaya’ karya anak Indonesia ditawar US$ 15 juta oleh perusahaan film dunia Walt Disney Pictures.  Indonesia memang punya banyak sutradara muda berbakat.   Tapi bakat saja tak cukup untuk  melahirkan karya kreatif, diperlukan sentuhan ilmu untuk berkarya.

Keprihatinan para creator Indonesia menggugah mereka membangun kawah candradimuka pencetak sumber daya manusia berkualitas. Di bidang perfilman ada actor Didi Petet, sutradara  Hanung Bramantyo dan lainnya. Di industry music ada Purwacaraka dan Dwiki Darmawan  yang juga  sukses membangun sekolah musik.

Almarhum Didi Petet memiliki cara cerdik untuk membangun Didi Petet Acting School (DPAS). Ia menggandeng mantan model papan atas Indonesia, Lulu Dewanti dkk, yang sudah sukses di bidang talent schooling melalui sekolah berlisensi Look School. Look School Indonesia berdiri tahun 1997 lalu.  Cara ini menjadi mudah bagi Didi untuk menjaring peserta didik karena dari  reputasi brand Look School sudah tidak diragukan masyarakat di tanah air.

Demikian halnya dengan Hanung. Ia membangun Dapur Film akhir 2003 sebagai suatu komunitas sanggar kreatif untuk bidang film dan drama. Peserta nya adalah anak-anak muda kreatif yang siap terjun ke dunia film (movie, video music, documenter, commercial dan tv program).

Di bidang animasi ada Christiawan Lie pencipta sosok GI Joe yang berhasil membangun komunitas pencinta komik melalui Caravan Studio. Lalu ada Andre Surya, digital artist asal Indonesia terlibat dalam pembuatan film Transformer, Iron Man dan Star Trek. Spesialisasinya di bidang animator rekayasa visual tiga dimensi dan Digital Art. Bersama 2 orang teman asal Indonesia ia membuat Enspire Studio dan Enspire School of Digital Art (ESDA). “Ke depannya Enspire tak hanya di bidang animasi saja, tapi akan lahir Enspire Music, Enspire Sound, pokoknya menjadi enterainment industry,”ucap Andre.

Lain lagi cerita specialist bidang internet and mobile start up, venture capital,e-commerce, creative entrepreneurship, digital advertising and marketing, Andi S Budiman. Mafhum dengan bakat yang dimiliki anak Indonesia di bidang kreatif,  pada tahun 1999 ia membangun sekolah animasi pertama di Indonesia dengan nama International Design School –dulu bernama Digital Studio College–.

Ratusan alumninya telah berkarya di industri kreatif seperti sub sector film, games maupun proyek-proyek animasi nasional dan internasional.  Tak hanya bergerak di bidang perfilman, games dan animasi, sekolah informal yang popular dengan sebutan IDS ini menghasilkan peserta didik yang professional di bidang periklanan. Ada mata pelajaran advertising design, brand identity, editorial design (desain lay out majalah dan buku) dan lain-lain. IDS merekrut tenaga professional di industri kreatif seperti Nikko Purnama Lukman, Best of The Best Designer, IGDA 2010 dan 2nd Winner, Deep Indonesia Poster Design 2013. “Setiap tahun peserta didik kami mencapai 200 – 300 student untuk semua program,”ungkap Andi S Budiman.

Di Indonesia desain grafis sangat diminati.  Banyak perguruan-perguruan tinggi negeri atau swasta bahkan kursus yang memiliki program-program studi yang mempelajari desain grafis lebih dalam.  Saat ini, desain grafis sangat efektif untuk memberikan sarana-sarana yang mampu mengapresiasikan suatu karya di bidang periklanan dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik.

Sebenarnya desain grafis sudah mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak berdirinya Sekolah Toekang Reklame di tahun 1950 yang merupakan cikal bakal lahir nya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kemudian pada tahun 1969 berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI).

Ke depannya sekolah-sekolah pendukung industri kreatif  di Indonesia akan terus berkembang, Menjamurnya sekolah design grafis  misalnya, tidak lepas dari perkembangan teknologi dan media informasi maupun gaya hidup. Hampir semua sektor seperti konsumsi, hiburan, media, infrastuktur, properti, keuangan, pendidikan dan sebagainya membutuhkan sentuhan desainer. Fenomena ini yang membuka peluang tumbuhnya profesi-profesi baru terkait dengan desain grafis yang pada akhirnya meningkatkan permintaan akan jasa pendidikan desain.

Kalau dulu anak-anak Indonesia bercita-cita keren ingin menjadi dokter, insinyur, dan pilot.  Sekarang keinginan mereka berbeda.  Di era ekonomi kreatif, profesi-profesi di bidang kreatif mulai menjadi pilihan utama. Menjadi musisi, penulis, DJ, film maker, animator dan desainer menjadi salah satu pilihan profesi favorit saat ini di samping banyak profesi di bidang kreatif lainnya.[] siti Ruslina