KEK Mandalika, Dorong Ekonomi NTB

Meski Kawasan Ekonomi khusus Mandalika belum seluruhnya seluruhnya selesai, tapi kawasan ini kelan menjadi destinasi wisata yang membuat decak kagum masyarakat dunia. Kehadirannya mampu mendorong ekonomi NTB

Bank Indonesia merilis pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) tanpa sektor tambang mencapai 7,10% pada 2017 atau mencapai rekor tertinggi sejak 2009. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sekitar 5,72%. Bahkan, pertumbuhan tersebut melebihi dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan ekonomi non-tambang tersebut didukung oleh laju pertumbuhan ekspor domestik yang cukup tinggi sepanjang tahun 2017. Hal itu terkait peningkatan produksi tanaman palawija, khususnya jagung. Menurut catatan, NTB mampu memproduksi jagung sebanyak 1,2 juta ton dari target 1,1 juta ton pada 2016. Angka produksi bertambah menjadi 1,5 juta ton pada musim tanam 2017.

Di samping itu, meningkatnya konsumsi pemerintah dan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) mendorong membaiknya konsumsi domestik NTB secara agregat. Dengan pencapaian realisasi tersebut, NTB menyumbang 0,98 persen terhadap PDB nasional.

Penyerapan belanja daerah Pemerintah Provinsi NTB dan seluruh kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan IV 2017 mencapai Rp19,91 Triliun. Penyerapan belanja tersebut lebih tinggi dibandingkan penyerapan dalam periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp17,14 Triliun. Hal ini ditopang oleh penyerapan pos belanja barang, belanja modal dan belanja pegawai meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, realisasi pendapatan dalam APBD Provinsi dan kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan IV 2017 sebesar Rp19,91 Triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi pendapatan dalam periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp17,91 Triliun. Pada tahun 2017 pendapatan daerah berupa pajak daerah dan pendapatan lain-lain yang sah meningkat.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada triwulan II 2018 diperkirakan menurun. Ekonomi triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh antara 1,99 s.d 2,39% (yoy), lebih rendah dibandingkan perkiraan triwulan I 2018 yang mengalami peningkatan. Perlambatan pertumbuhan tersebut seiring dengan penurunan kinerja ekpor luar negeri, terutama ekspor tambang. Perekonomian Provinsi NTB secara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2017.

Indikator kesejahteraan Provinsi NTB menunjukkan peningkatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, terutama non tambang, pada triwulan IV 2017. Hal itu terlihat dari beberapa indikator seperti Nilai Tukar Petani (NTP) yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, persentase kemiskinan menunjukkan adanya penurunan.

Dimana dari sisi kesejahteraan masyarakat, NTB juga mengalami perbaikan. Tingkat kemiskinan NTB menurun dari 23,08 persen di 2008 menjadi 15,05 persen periode 2017. Tingkat pengangguran juga menurun dari 6,25 persen di tahun 2009 menjadi 3,32 persen di tahun 2017.

Menko Maritim Luhut Pandjaitan memberikan apresiasi kepada Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB) atas keberhasilannya memimpin provinsi ini dalam dua periode. “Momen ini di masa-masa akhir jabatan Gubernur TGB, kita harus apresiasi hasil kerja beliau selama 10 tahun ini. Pertumbuhan ekonomi di provinsi ini mencapai 7,1 persen melebihi pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Menurut Luhut, pemerintah sedang mengerjakan beberapa proyek untuk lebih meningkatkan perekonomian provinsi ini. “Pertambangan, perkebunan tebu, jagung adalah beberapa proyek yang sedang dikembangkan pemerintah. Gubernur juga mendorong semua upaya ini agar pertumbuhan NTB bisa terus tumbuh di atas tujuh persen, dan semoga dalam lima tahun ke depan bisa menjadi delapan atau bahkan 10 persen,” ujar Menko Luhut.

Walaupun menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2017 hanya tumbuh sebesar 0,11%. Dibandingkan tahun 2016. . Tren pertumbuhan ekonomi yang kurang baik ini disebabkan terlalu bergantungnya perekonomian NTB terhadap sektor pertambangan. Dalam tren beberapa tahun terakhir, kontribusisektortambang cenderung mengalami penurunan. Penurunan kontribusi sektor tambang membuat pemerintah harus memikirkan sumber potensi perekonomian Nusa Tenggara Barat lainnya.

Salah satu sumber perekonomian potensial NTB adalah sektor pariwisata. Hal ini disebabkan NTB kaya akan obyek wisata bahari dan wisata budaya dengan panorama ekso s dan berdekatan dengan Pulau Bali. Maka dari itu, demi memperkuat sektor pariwisata dari Nusa Tenggara Barat, pemerintah menghadirkan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Mandalika yang memiliki fokus di bidang pariwisata.

KEK Mandalika baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi pada bulan Oktober 2017. Terletak di bagian selatan Pulau Lombok, KEK Mandalika ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2014 untuk menjadi KEK Pariwisata. Dengan wilayah seluas 1035,67 ha dan menghadap Samudera Hindia, KEK Mandalika merupakan harapan pemerintah untuk mengakselerasi sektor pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat yang sangat potensial. KEK Mandalika diperkirakan akan menarik 2 juta wisatawan mancanegara per tahun pada tahun 2019 (Dewan Nasional KEK, 2017).

Untuk prospek ke depan, perekonomian NTB diprediksi akan semakin kuat. Salah satunya dikarenakan investasi pembangunan yang sedang marak dilakukan, seperti Kawasan Eonomi Khusus (KEK) Mandalika dan pembangunan Pelabuhan Gili Mas. “Jadi diharapkan kedua proyek ini bisa mendorong ekonomi NTB ke depan, selain sektor pariwisata yang juga semakin membaik,” ujar Suwaraha.

Sebelumnya Luhut meninjau kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. “Pembangunan di sana sudah semakin baik dari saat saya terakhir datang ke sana. Persoalan tanah dan lain lain sudah selesai setelah lebih dari 29 tahun terbengkalai,” katanya seraya menambahkan  Qatar Investment Authority (QIA) rencananya menanamkan modalnya di Indonesia juga sedang melihat potensi investasi di KEK Mandalika.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengakui pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, paling pesat di antara KEK yang telah ditetapkan pemerintah. melihat betul perkembangan pembangunan Mandalika ini yang paling pesat di antara KEK yang lain,” ujar Menteri BUMN Rini Soemarno saat peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan Paramount Lombok Resort & Residence di KEK Mandalika, Lombok Tengah, NTB, April lalu.

Rini mengapresiasi kinerja PT Indonesia Tourism Development Corporation (PT ITDC) selaku pengelola KEK Mandalika dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat serta Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dalam upaya mendukung pembangunan di KEK Mandalika.

Direktur Pengembangan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Edwin Darmasetiawan menyampaikan rencana pengembangan dan pembangunan KEK Mandalika dengan segala keunggulan dan diferensiasi kawasan guna mewujudkan sebuah destinasi pariwisata kelas dunia.

ITDC merupakan BUMN yang mengelola Nusa Dua, Bali dan KEK Mandalika di Lombok. Edwin menyebutkan, Lombok memiliki lokasi yang bersebelahan dengan Bali, di mana Bali sudah jauh lebih dahulu populer sebagai daerah tujuan wisata dunia. Menurutnya, KEK Mandalika akan hadir bukan sebagai kompetitor daripada sektor pariwisata di Bali, melainkan saling melengkapi.

KEK Mandalika, kata Edwin,  kurang lebih akan seperti Nusa Dua, Bali, dengan ukuran yang jauh lebih luas atau sekira tiga lebih besar dari Nusa Dua. Konektivitas langsung antara Nusa Dua dengan KEK Mandalika juga sedang dikaji agar pertumbuhan wisatawan bisa semakin meningkat.

Difrensiasi lain yang coba dikembangkan ITDC ialah membangun dermaga marina untuk kapal yacht. Letak Lombok berada pada lokasi yang strategis karena kerap dilalui kapal yacht dari Australia. “Di sini juga akan ada sirkuit Moto GP, menjadi sirkuit MotoGP satu-satunya yang berada dalam kawasan wisata terpadu seperti ini,” ungkap dia

Oleh karena itu, di sini akan dibangun dua rumah sakit (RS) bertarif internasional yang dilengkapi dengan  fasilitas trauma healing dan helipad. Pembangunan itu merupakan persyaratan dibangunnya sirkuit Motor GP di KEK Mandalika.

Sebuah perusahaan asal Prancil Vinci  di KEK Mandalika  menyiapkan investasi mencapai Rp 6 triliun. Memorandum of Understanding (MoU) dengan ITDC selaku pengelola sudah dilakukan. Langkah selanjungnya, Vinci akan melakukan rancangan dan desain sirkuit Motor GP yang akan dibangun tersebut. Kemudian akan dikaji dan disesuaikan dengan masterplan rencana pengembangan KEK Mandalika dan ketentuan lain yang ada.

Menurut General Affair PT ITDC, I  Gusti Lanang Bratasuta,  di lokasi KEK Mandalika yang luasnya lebih dari 1000 hektar ini akan dibangun belasan hotel berbintang dengan jumlah kamar sekitar 12.000 kamar. Rencana ini akan terwujud dalam beberapa tahun mendatang. “Ini bukan mimpi. Kami harapkan lebih banyak investor AS yang datang. Berkeinginan berinvestasi di Mandalika, melihat potensi di Mandalika,” tandasnya sebagaimana yang dikutip dari suarantb.com.

Presiden Joko Widodo ketika meresmikan KEK Mandalika, Oktober lalu mengatakan Mandalika akan menjadi satu kawasan pariwisata besar yang akan memberikan dampak yang besar bagi Nusa Tenggara Barat. Penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 58 ribu orang.  “Proyek KEK Mandalika akan berdampak ke masyarakat. Ada yang bisa jualan cinderamata, buka warung makan, homestay. Kita sudah hitung, ada rekrutmen 58 ribu karyawan karena 8 investor hotel investasi sekitar Rp 13 triliun,” ujar Jokowi saat Peresmian KEK Mandalika,

Menurut Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Bukan hanya untuk NTB, tapi untuk Indonesia. “Untuk ekonomi NTB pasti akan penting. Penyerapan tenaga kerjanya, multiplier effectnya, kemudian lebih dari itu branding NTB, Lombok dan Sumbawa, dalam peta dunia. Jadi memang sangat penting itu,” kata dia, sebagaimana dikuti dari properti.kompas.com.

Selain itu, pengembangan wisata Mandalika juga akan mengedepankan konsep wisata halal, yang kini cukup tren di berbagai belahan dunia. Bahkan, Qatar disebut telah bersedia mengembangkan konsep wisata itu di kawasan ini. “Segmen wisata yang nilainya sudah 200 miliar (dollar AS) per tahun di dunia. Yang halal tourism. Jadi kita harus ambil lah beberapa persen dari itu,” tandasnya.[] yt