Meneropong G-Land, Surganya Para Selancar

Hembusan ombak dengan ketinggian mencapai 8 meter melaju kencang menghampiri bibir pantai. Di setengah lekukan ombak, para peselancar melaju, meliuk-liuk seakan ingin “ditelan” gelombang ombak. Mereka yang melihat aksi para surfing itu berdecak kagum. Itulah Pantai G-land (Pantai Plengkung) yang menyimpan sejuta pesona.

Akhir Juli lalu, puluhan ribu pelancong dari dalam dan luar negeri tumpah ruwah di Banguwangi. Saat itu digelar Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018. Pagelaran seni dan budaya itu makin memperkuat kota di ujung timur Provinsi Jawa Timur ini merupakan “jembatan” penghubung antara antara Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Tak pelak, pagelaran itu membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya yang juga Putera Banyuwangi ini menyampaikan kegembiraannya terhadap respon positif publik pada event BEC 2018 ini. “Banyuwangi ini benar-benar menampilkan karya terbaik. Kami sangat gembira karena BEC tahun ini digelar sangat meriah. Melihat respon publik kepada BEC, Banyuwangi ini memang menjadi destinasi yang menjanjikan,” kata Menpar Arief.

Bahkan, karena kedekatan lokasi dengan Pulau Dewata, jangan heran bila beberapa tradisi dan kesenian di Banyuwangi memiliki sedikit kemiripan dengan Bali. Tak hanya tradisinya, keindahan alam Banyuwangi pun layak disandingkan dengan Bali. Organisasi Parawisata Dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (UNWTO) awal 2016 lalu menganugerahi Banyuwangi penghargaan UNWTO Awards for Excellence and Inovation in Tourism.

Panorama alam yang menajubkan itu membuat dua sineas Indonesia, yaitu Riri Reza dan Mira Lesmana mengambil lokasi shooting di beberapa tempat di Banyuwangi dalam film “Kulari ke Pantai”. Film ini berhasil menyajikan bahasa visual yang membuah penonton berdecak kagum atas keindahan alam di sana. Mungkin kita selama ini hanya mengenal Bali, ternyata Banyuwangi  tak kalah indahnya.

Sebut saja pantai G-Land (Pantai Plengkung)! Pantai ini berhadapan langsung dengan perairan Samudra Hindia, sehingga pantai ini mempunyai ombak yang besar. Tekstur ombak  di Pantai G-Land memanjang, tinggi dan memiliki kecepatan yang tinggi. Itu sebabnya tak heran bila pantai ini menjadi lokasi incaran  para peselancar dunia.

Ombak di pantai ini memliki tiga tingkatan. Bagi selancar (surfing) professional bisa berselancar di tempat ombak yang mempunyai tingkat ketinggian mencapai 8 meter, sedangkan tingkat sedang,  tinggi ombaknya mencapai 6 meter dan si selancar tingkat pemula dapat mencoba  berselancar dengan ketinggian  ombak 3 – 4 meter.

Nama G-land sendiri diberikan oleh peselancar yang memiliki arti “Great”, “Green” atau “Green land” dan Granjang”. Di sisi lain nama G-land itu sendiri diberikan karena bentuknya menyerupai huruf G.

Orang pertama yang mempopulerkan pantai dan ombak ini di Pantai Plengkung adalah Bob Laverty dan Bill Boyum di tahun 1972. Kemudian mereka mendirikan surf camp di sana dan akhirnya dikenal luas peselancar kelas dunia dari berbagai negara. Berikutnya, Bobby Radiasa seorang peselancar dari Bali , mengembangkan surf camp dan mengelolanya hingga saat ini.

Dan yang terpenting panjang pergerakan ombak mencapai 2 km yang memiliki formasi tujuh bersusun. Fenomena ini mendorong para selancar ternama mancanegara pernah menguji kepiawaian berselancar dengan lekukan ombak melengkung, seakan si selancar akan “tertelan” dengan kecepatan pergerakan ombak itu.

Pantai ini unik karena memiliki ombak yang bisa berjalan setelah berhenti 1-2 km, kemudian berguling dari timur ke barat dengan titik tertinggi 4-6 meter dalam interval selama 5 menit. Tak ayal, jika pantai ini menjadi tuan rumah lima pertandingan peselancar Internasional. Dengan tujuh layer ombak secara konstan menyentuh pinggiran dalam formasi.

Selain di Pantai Plengkung, ombak sebesar itu hanya ada di Hawai dan Afrika Selatan. Di pantai  ini pernah diadakan lomba selancar internasional Quicksilver Pro Surfing Championship pada tahun ’95, ’96, dan ’97 serta Da Hui Pro Surfing World Championship seri III tahun ‘2003. Dengan potensi yang dimilikinya, tak pelak lagi Pantai Plengkung pun dikenal sebagai surga bagi para peselancar professional.

Angin lepas pantai yang berhembus di Plengkung terjadi antara bulan April dan September. Hal ini menyebabkan ombak paling besar terjadi pada bulan-bulan ini. Pada waktu-waktu tersebut ombak datang bertahap, masing-masing berlangsung selama beberapa hari, dengan rentang beberapa hari di antara setiap ombak. Gelombang cenderung lebih besar dan lebih baik pada saat pasang, jadi waktu yang terbaik untuk merencanakan perjalanan surfing adalah seminggu setelah masa bulan purnama atau bulan baru, karena pada waktu-waktu ini gelombang tinggi terjadi selama setengah hari.

Pantai G-land ini masuk ke dalam kategori Tujuh Keajaiban Ombak Tertinggi berdasarkan survey dari peselancar yang pernah ke sini. Ini dikarenakan, ombaknya memiliki tujuh gelombang, dan setiap gelombang bisa mencapai ketinggian 8 meter.

Gelombang besar di Pantai Plengkung mungkin tidak cocok untuk pemula, namun, pemandangan mempesona di sekitar pantai benar-benar menyajikan daya tarik yang sama jika Anda tidak surfing. Pasir putih yang lembut berkilau seperti kristal membuatnya menjadi fitur yang paling menyenangkan untuk berjalan-jalan pagi atau sore hari. Dan, sejauh mata memandang, air jernih yang biru dan murni memberikan panorama mencengangkan.

Mereka yang ingin belajar surfing bisa pergi ke Pantai Batu Lawang di dekatnya, yang terletak sekitar 20 menit berjalan kaki dari Plengkung. Kebanyakan peselancar menyebut gelombang disini “20-20” karena membutuhkan waktu 20 menit untuk mendayung ke laut dan 20 menit untuk menikmati naik gelombang.

Foto: Istimewa

Pantai Plengkung selain bagus untuk surfing juga memiliki kombinasi tiga warna. Pantai G-Land mempunyai kombinasi tiga warna, yaitu putih, biru, dan hijau. Pemandangan tersebut akan terlihat dari laut. Sungguh pemandangan yang berbeda dari Bali atau pun Hawaii. Kalau Hawaii dan Bali, dibelakang pantainya itu gedung-gedung. Namun G-Land ini dilatarbelakangi oleh hutan yang hijau.

Pantai berpasir putih ini dikelilingi oleh hutan tropis yang masih murni,  hijau, subur dan terpencil dari setiap keramaian hiruk pikuk kehidupan kota. Jelas Anda tidak akan mendapatkan telepon di sini atau bahkan jaringan televisi. Namun, itulah yang membuat pantai ini begitu istimewa: itu adalah tempat yang sempurna untuk melarikan diri dari “kota modern”, suasana sehingga Anda dapat benar-benar menikmati apa yang alam telah berikan. Dengan kata lain, melupakan semua yang lain, hanya fokus ke dalam air dan surfing!

Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Karena berada di dalam kawasan Taman Nasional tersebut, akses ke Pantai Plengkung bisa dilakukan dengan menuju Taman Nasional Alas Purwo. Namun akses untuk menuju pantai ini masih terbilang sulit. Hal ini dikarenakan lokasinya cukup terpencil dan harus melewati jalanan yang belum sempurna. Namun, hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri dari Taman Nasional Alas Purwo. Apalagi kebanyakan wisatawan yang mampir ke sana adalah bule-bule dari luar Indonesia.

Ada dua rute utama menuju ke Pantai Plengkung. Rute pertama dan terpanjang adalah darat dengan mobil di jalan Banyuwangi – Kalipahit. Jarak dari Banyuwangi ke Kalipahit sekitar 59 km, ini diikuti oleh jalan Kalipahit – Pasaranyar sepanjang 3 km. Dari Pasaranyar, jalan dilanjutkan ke Trianggulasi – Pancur sampai 15 km lagi, sebelum akhirnya sampai di Plengkung (Pancur – Plengkung) setelah 9 km lainnya.

Yang kedua adalah melalui jalur darat. Dari Banyuwangi Anda bisa menuju ke darat sampai Benculuk sekitar 35 KM, dan dilanjutkan dengan rute 18 km dari Benculuk ke Grajagan. Dari Pantai Grajagan naik speed boat ke Pantai Plengkung sementara yang lain bisa tiba dengan perahu dari Bali.

Harga kamar hotel atau penginapan di sana rata-rata kurang lebih Rp 1.000.000,-. Cukup mahal untuk wisatawan domestik. Namun kebanyakan harga ini cocok di kantong para bule yang ingin menginap. Lokasi ini akan mengingatkan Anda pada Pantai Terindah di Bali karena memang lebih banyak didominasi oleh turis mancanegara.

Fasilitas di hotel dan penginapan itu juga cukup baik, seperti dengan fasilitas internet gratis, makanan yang enak, dan tempat tidur yang nyaman. Selain hotel dan penginapan, di pantai ini juga ada fasilitas lain seperti penyewaan papan selancar, rumah makan atau resto, jungle camp, bari, dan masih banyak lagi.[] yt