Menjaga Momentum Asian Games 2018

Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin

Ini kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan akbar olahraga Asia  yang akan berlangsung 18 Agustus – 2 September 2018. Sebelumnya, 56 tahun silam Indonesia pun dipercaya – untuk pertama kalinya —  menjadi tuan rumah Asian Games IV. Kedua momentum itu mempunyai semangat yang sama, optimisme yang sama dan percaya diri bahwa bangsa ini memang layak menjadi tuan rumah bergengsi pesta olahraga negara-negara Asia.

Berapa banyak energi yang dimuntahkan untuk menggelar pesta itu. Dana dikucurkan dengan “angka-angka” menggunung. Ribuan tenaga kerja tersedot membangun infrastruktur. Anak bangsa pun terpanggil untuk sebuah penghormatan kepada “Ibu Pertiwi”. Berharap cemas untuk mendengarkan lagu Indonesia Raya, tatkala mendali emas disematkan.

Masih lekat dalam ingatan sejarah ketika Asian Games IV diputuskan Indonesia menjadi tuan rumah. Tak ada yang gamang di mata Bung Karno – Presiden Indonesia pertama – menyambutnya dengan gegap gempita. Justru momentum itu harus ditangkap sebagai “harga diri” bangsa Indonesia di mata internasional.

Berapa banyak dana yang harus dikeluarkan, baginya bukan kalkulasi matemetik yang berakhir dengan “ketidakpercayaan diri”sebagai suatu bangsa. Bangsa ini tidak bisa dihitung berdasarkan sederet angka yang dapat dibandingkan dengan stempel negara miskin.

Bangsa ini harus berdiri tegap di tengah negara-negara Asia, bahkan lima benua sekalipun. Sebab, sebuah pengakuan di mata internasional, jauh lebih berarti dari untung rugi sebuah pesta. Bila kita berani menggelar pesta, maka momen itu menjadi simbol identitas diri. Bila tercoreng momen itu, bukan tidak  mungkin pengakuan sebagai suatu bangsa “melorot” di mata internasional.

Itulah harga sebuah simbul! Ia tak dapat dirnilai dalam ukuran angka berapa pun. Angka-angka dalam pesta hanya merupakan persyaratan ke-16 dari sekian banyak persyaratan. Itu sebabnya – apa pun persyaratan dalam sebuah pesta – harus dipenuhi sebagai sebuah standar layak sebuah pesta.

Tak urung pembangunan infrastruktur bertaraf internasional dibangun dalam waktu singkat. Dalam hitungan kurang dari dua tahun, komplek Senayan yang di dalamnya  terdapat berbagai fasilitas olahraga, diantaranya kini bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno bertengger menyambut para atletik negara-negara Asia. Dan infrastruktur penunjang lainnya pun, seperti Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, sarana dan prasarana TVRI saling melengkapi, menjadi simbul prestise sebuah bangsa.

Itulah sebuah nilai Indonesia Raya dalam momentum pesta olahraga bertaraf internasional. Sebuah prestasi tak dapat disejajarkan dengan ukuran materi. Tapi bukan berarti prestasi minim materi. Ia memang harus mendapat apresiasi yang layak berdasarkan ukuran profesionalitas.

Sebaliknya para atletik tidak terjebak hedonisme dalam menilai prestasinya. Prestasi yang ditorehkannya merupakan nilai yang tertinggi sebagai anak bangsa terhadap Ibu Pertiwi. Betapa Soekarno menilai kesehatan jasmani, melalui olahraga menjadi dogma sebuah nasionalisme dalam berbangsa. Semangat itu selalu dipompakan di seluruh jajaran struktur pemerintah maupun non-pemerintah.

Alhasil saat itu, prestasi olahraga kita patut dibanggakan. Indonesia pada Asian Games 1962 berhasil memperoleh 21 mendali emas, 26 mendali perak dan 30 mendali perunggi. Saat itu Indonesia berada pada peringkat kedua setelah Jepang. Prestasi itu mengharu biru bagi bangsa ini. Ia patut dibanggakan di mata internasional.  Ada semacam “keseimbangan” dalam hubungan internasional. Torehan prestasi itu dapat menutupi kekurangan Indonesia dari segi ekonomi, misalnya, di mata internasional.

Pasalnya, olaharaga merupakan simbul universal dalam hubungan internasional. Ia dapat menjadi instrument diplomatik diantara negara-negara lainnya. Simbul itu boleh jadi bisa memperkuat bargaining power suatu negara. Soekarna mafhum akan hal itu. Dan dia buktikan dalam sejarah negeri ini di tahun berikutnya.

Presiden Soekarno di akhir tahun 1962 mempunyai inisiatif menyelenggarakan Games of The New Emerging Forces (GANEFO). Ini merupakan ajang olahraga tandingan Olimpiade. Kehadiran GENEFO menegaskan bahwa perpolitikan tidak bisa dipisahkan dengan olahraga. Soekarno saat itu berani melawan dokrin Komite Olimpiade Internasional (KOI)  yang memisahkan antara politik dengan olahraga.

Indonesia mendirikan GANEFO setelah kecaman KOI yang bermuatan politis pada Asian Games 1962, karena Indonesia tidak mengundang Israel dan Taiwan dengan alasan simpati terhadap Tiongkok dan negara-negara Arab. Aksi ini diprotes KOI karena Israel dan Taiwan merupakan anggota resmi KOI. Akhirnya KOI menangguhkan keanggotaan Indonesia, dan Indonesia diskors untuk mengikuti Olimpiade Musim Panas 1964 di Tokyo. Ini pertama kalinya KOI menangguhkan keanggotaan suatu negara.

GANEFO pun digelar di Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Jumlah peserta sekitar 2.700 atletik dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerikaa Latin. GANEFO menjadi pembelajaran bagi kita bahwa Indonesia bisa mempengaruhi negara-negara di dunia lintas benua, walau kebijakan ini menimbulkan kontroversi di mata internasional.

Paling tidak kita bisa menangkap esensi di balik penyelenggaraan pesta olahraga internasional. Pesta itu kini lebih linier, tak terkontamisasi dengan friksi-friksi politik yang lebih vulgar di pertontonkan di mata internasional. Tapi bukan berarti pesta itu bebas nilai. Ia tetap mempunyai nilai. Mungkin kini nilainya lebih bersifat ekonomi, walau tidak kehilangan nilai-nilai “diplomatis” di mata internasional.

Simak saja bagaimana tarik ulur sebuah nilai ekonomi dalam penyelenggaraan Asian Games 2018. Indonesia Asian Games Organizing Committee ( INASGOC) dengan   Olympic Council of Asia  (OCA). Pihak INASGOC dan OCA akhirnya  sepakat dalam sebuah pertemuan di Kantor INASGOC, Senayan, Jakarta, untuk menambahkan sebuah pasal mengenai waktu pencairan dana sponsor tertuang dalam Host City Contract (HCC). Dalam kesepakatan itu, INASGOC  bisa menggunakan dana yang ada lebih awal. Sebelumnya, INASGOC hanya bisa memakai anggaran sehari setelah upacara pembukaan Asian Games 2018 digelar. Dan dana sponsor nantinya tetap dibagi 50:50 sesuai kesepakatan awal.

Itu artinya ada negosiasi ulang dalam hal penggunaan dana hasil sponshorship yang diperoleh dari INASGOC. Artinya kedua belah pihak sudah mulai menghitung berapa angka-angka (dana) yang masuk untuk bagiaannnya masing-masing. Itulah kekinian dalam penyelenggaraan pesta olahraga berskala internasional.

Pihak penyelenggara pesta mulai mempunyai kalkulasi nilai ekonomi. Sebagai tuan rumah – momentum Asian Games 2018 – selain membangun citra diri sebagai suatu bangsa, juga diharapkan menjadi instrument penggerak ekonomi.  Sebab, perhelatan sebesar Asia Games itu merupkan pasar potensi bagi Indonesia untuk memasarkan produk-produk/jasa-jasa  baik dalam negeri maupun ekspor.

Kita tak ingin dana yang digelontorkan tak kurang Rp 34 triliun untuk biaya konstruksi fasilitas pendukung Asian Games 2018, termasuk di antaranya renovasi Gelora Bung Karno, Stadion Jakabaring, wisma atletik, dan Light Rapid Transit (LRT) tanpa nilai dikemudian hari. Angka itu belum termasuk biaya operasional sebesar Rp 7,2 triliun itu nantinya hanya menjadi “menara gading” yang tak produktif.

Kita berharap semua pihak yang telah memuntahkan energi untuk sebuah penyelenggaraan Asian Games 2018, dapat membawa kemaslahatan bagi negeri ini. Di satu pihak bangsa ini dapat menyakinkan di mata internasional bahwa “Ibu Pertiwi” tak bisa dipandang sebalah mata.

Dari sisi prestasi atletik dapat mengharumkan nama bangsa, di samping negara pun mengapresiasi para atletik dengan nilai-nilai profesionalitas. Dari sisi ekonomi menjadi momentum yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Di sisi membangun karakter bangsa, momentum ini dapat membangkitkan kembali nilai-nilai sportivitas dan kejujuran yang saat ini kita mengalami degredasi atas hal itu.

Itu sebabnya Asian Games 2018 harus tetap digelorakan walau pesta usai. Mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan bukan akhir dari segalanya. Ia harus dirawat  agar tetap bersemai di sanubari anak bangsa![]

 

*Penulis adalah pemimpin redaksi pelakubisnis.com