Rasya Batik, Angkat Kreasi Batik Garutan

Sejatinya batik garutan bisa sukses menjadi tuan rumah di daerahnya. Namun kenyataannya dalam tiga tahun terakhir bisnis batik garutan Rasya Batik  terus mengalami penurunan omzet hingga 50%.  Kurangnya perhatian pemerintah setempat jadi persoalan.

Ada beragam motif batik Indonesia dari berbagai daerah. Salah satu yang khas adalah motif batik garutan yang menjadi warisan turun temurun masyarakat  Garut, Jawa Barat. Meski ekonomi nasional melemah, tapi dalam beberapa tahun ini membuat para pebisnis batik garutan mengeluh  mengalami penurunan sampai 50%.

Salah satunya Rasya Batik yang menjual batik garutan dengan range harga batik cap mulai Rp 65 ribu, batik tulis mulai Rp 300  ribu  sampai Rp 5 juta hingga tenun bulu sutra yang dibandrol Rp 950 ribu  dan sutra ikat Rp 500 ribu/meter.

Sekitar tahun 1945 batik Garut semakin popular dengan sebutan Batik Garutan.    Rata-rata motif batik khas garutan berbentuk geometric bergambar kawung atau belah ketupat. Bentuk lainnya bergambar flora dan fauna. Bila batik dari Jawa  Tengah bergambar penuh dan berwarna gelap, tidak demikian halnya dengan batik garutan yang menggunakan warna-warna cerah namun dengan pewarnaan yang soft.  Batik Garutan memang kaya dengan motif yang masing-masing memiliki nama seperti rereng peuteuy, rereng kembang corong, rereng merak ngibing, rereng pacul, dan limar, lereng adumanis, lereng suuk, lereng calung, lereng daun, cupat manggu, bilik, dan sapu jagat.

Outlet Rasya Batik

Populer nya batik garutan menggelitik Ellen Erliana  terjun memproduksi batik tulis dan cap garutan.  Tahun 2000  anggota Yayasan Batik Indonesia ini  mulai menjajaki bisnis batik. Persisnya tahun 2007 wanita asal Tasikmalaya ini mulai serius membangun Rasya Batik. Background  keluarga pembatik, mendorong Ellen untuk menekuni bisnis batik.   Ia pun sempat mendapat pembinaan dari Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Dengan modal uang kurang dari Rp 50 juta dari kantong pribadi, ia mengembangkan Rasya Batik Garutan dengan dibantu 5 orang karyawan pembatik.  Konsentrasi produksinya di wilayah Garut.

Pada tahun kedua bisnis wanita tangguh asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini pun kian berkembang. Dari usaha mikro (UMKM) naik menjadi usaha kecil menengah (UKM) dengan perolehan omset  saat itu mencapai Rp 150 juta/bulan atau lebih dari Rp 1 milyar / tahun. Kualitas batik dengan warna-warna soft, desain kontemporer serta jaminan tidak luntur membuat Ellen percaya diri untuk mengembangkan bisnisnya lebih besar lagi. Ia pun mengajukan permohonan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke Bank BTN Garut.  Gayung bersambut, saat itu ia   mampu meyakinkan bank tersebut  untuk menggelontorkan pinjaman hingga jutaan rupiah.

Namun rupanya masa terus berubah. Jika sebelumnya  ia  diberi kemudahan dalam mencari pendanaan, diantaranya mendapat suntikan dana dari Program Corporate Social Responsibility PT Telkom.  Kini terbilang sulit untuknya mengembangkan bisnis batik garutan.

Pertama, sulitnya mencari suntikan dana. Kedua, daya beli masyarakat secara nasional memang menurun. Ketiga, kurangnya keberpihakan pemerintah daerah setempat dalam merangkul para UMKM/UKM batik garutan di daerahnya sendiri. “Sekarang yang berkembang justru Tasikmalaya. Daerah ini sekarang sedang tren menjual batik garutan,”terang Ellen.

Di tahun 2011  puteri Ellen, yakni  Rasya Adiah Miraza mulai mengikuti jejaknya.  Jika sang ibu fokus pada produksi batik garutan, Rasya melengkapinya dengan mengkombinasikan batik dengan tenun ikat, tenun bulu  dan membuat baju batik hasil desainnya dengan menggunakan brand RBC  –Rasya Batik Collection–. “RBC untuk jenis kain nya menyasar pasar menengah ke atas dengan warna-warna khusus dan dikombinasikan dengan tenun ikat dan bulu. Sementara Rasya Batik lebih menyasar kelas grosiran. Lebih banyak melayani order seragam-seragam batik cap dan batik tulis yang kental dengan ciri khas garutan. Sedangkan RBC lebih dominan bermotif kontemporer dan menggunakan tenun ikat,”papar wanita 49 tahun ini sambil menegaskan bahwa Batik Rasya dan RBC sudah dipatenkan, mendapatkan perlindungan hukum (HAKI)  hak cipta batik klasik.

Bersama Rasya, Ellen tak hanya menunggu customer lewat butik-butiknya di Garut dan 2 gerai butik di Bandung, ia pun menjemput bola  melakukan aktifitas pemasaran seperti mengikuti  pameran  setidaknya 3 kali dalam  setahun,  diantaranya bersama  APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) Jawa Barat.

Tiga tahun lalu  Ellen banyak aktifitas pemasaran.  Ikut  terlibat di Indonesia Fashion Week dan Fashion Tendence APPMI, Fashion Show di Hotel Ritz Carlton, Kuala Lumpur-Malaysia. Beberapa tahun lalu ia  sibuk memasarkan produk batik dan tenun ikatnya. “Tahun  2012 lalu saya ikut pasar malam Indonesia di Denhaag, dan Mei lalu saya ikut juga acara Workshop Pelatihan Membatik di event Tongtong Denhaag 2018,” papar Ellen tentang pengalamannya mengikuti sejumlah event pameran di luar negeri.

Namun memang  tak mudah membangun usaha. Sejumlah kendala ia hadapi hingga saat ini seperti  me-manage tenaga marketing sampai masalah permodalan.” Saya kesulitan mendapatkan sumber daya manusia yang bagus dan  tempat produksi secara bertahap terus kami benahi perlahan-lahan yang membuat modal sering terganggu  karena sesungguhnya kami coba mandiri,”tutur anggota APPMI Jawa Barat ini.

Kini ia menjalankan bisnisnya dibantu LPDB –Lembaga Pengelola Dana Bergulir–  Kementerian KUKM untuk pinjaman modal yang lebih besar  untuk mewujudkan mimpinya membawa batik garutan ke mancanegara. Beberapa kali ia mendapat kesempatan ikut pameran bersama Kementerian Koperasi dan UKM di luar negeri seperti Amerika Serikat, Belanda dan Malaysia.

Maklum produk Rasya Batik  tak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian customer dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda, Malaysia dan Bangladesh. Pun jika sebelumnya  Rasya Batik mampu mencetak Rp 125-150 juta per bulan dengan range harga mulai 150 ribu untuk bahan katun sampai jutaan rupiah untuk bahan sutra. Kapasitas produksinya melampaui angka 4500 potong, minimal rata-rata 1000 potong/bulan.

Padahal, di periode 1967 – 1985 di Garut terdapat 126 unit usaha dengan kapasitas produksi sekitar 1300 potong per tahun. Tapi kini seorang pengusaha kecil menengah seperti Ellen mampu mencetak angka produksi rata-rata 1000 potong per bulan. Bahkan di penghujung  tahun angka produksi bertambah sampai 4500 potong/bulan. “Bank OCBC salah satu pelanggan yang pernah kerjasama selama tiga tahun berturut-turut, kami buatkan seragam batiknya. Mudah-mudahan bisa terus berlanjut kerjasama ini ke depannya,”ungkap Ellen.

Mimpi  Ellen   adalah  melakukan penetrasi pasar lebih luas keluar Garut.  Untuk itu ia berharap mendapat pendampingan dari pemerintah setempat  untuk kemudahan akses menembus pasar  dan  berkembang hingga ke mancanegara hingga ke Eropa yang lebih besar.  Juga membangun gallery dan workshop batik Garut untuk kegiatan wisata mengenal lebih dekat hasil produksi daerah Garut lewat batik. Ia berharap pada momen akbar seperti Asian Games 2018, masyarakat dunia bisa mengenal lebih dekat  batik khas garutan asal Indonesia.”Alhamdulillah bulan Oktober mendatang kami  terpilih menjadi salah satu dari 12  UKM Indonesia untuk ikut Trade Expo 2018  kategori UKM Pengrajin Jawa Barat,” ujar Ellen. []Siti Ruslina