BNI Syariah Agresif Bidik Nasabah Haji dan Umrah

Ratusan penghargaan bergengsi diperoleh BNI Syariah. Bahkan bank syariah  dengan peringkat “idAA+” ini  mampu menargetkan pertumbuhan  nasabah umrah pada 2018 sebesar 100% dan  nasabah haji ditargetkan tumbuh 28%.

BNI Syariah  (BNIS) salah satu bank syariah yang terbilang paling agresif menjemput bola. Berinteraksi dengan nasabah melalui kegiatan pemasaran below the line seperti pameran, seminar dan event  promo lainnya. Hampir di setiap event pameran, booth BNIS selalu ramai pengunjung karena berjalan atraktif dan dinamis.

Mengapresiasi atlet Asian Games 2018, Defia Rosmaniar (kiri kedua) Peraih Medali Emas cabang olahraga Taekwondo , Sumber : BNI Syariah

Dan, tak mau kehilangan momen, BNIS sangat jeli melakukan kampanye tematik. Contoh! Di Hari Pelanggan Nasional 4 September lalu,  bank yang berdiri sejak Juni 2010 ini  turut serta mensponsori event-event akbar seperti Asian Games 2018, dengan  memberikan apresiasi kepada atlet Asian Games 2018 yang memperoleh Medali Emas Pertama bagi Indonesia, yakni Defia Rosmaniar dari cabang olahraga Taekwondo, dengan mewujudkan niat Defia menunaikan ibadah ke Tanah Suci melalui Tabungan BNI Baitullah IB Hasanah. Penyerahan secara simbolis berupa buku tabungan, Kartu Haji dan Umroh serta Hasanah Card.

BNIS memang yang terbilang paling atraktif  membidik segmen nasabah  haji dan umrah. Tak heran bila Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menunjuknya menjadi salah satu bank penerima setoran haji regular dan haji khusus. Tahun 2017 lalu BNIS melunasi 27.236 haji regular dan haji khusus. Hingga akhir 2017, BNIS telah menerima setoran haji regular sebanyak 51.922 jemaah.

Sementara di pasar umrah, tahun lalu BNIS memberangkatkan 2.462 jemaah dari 690 travel yang telah memiliki izin Kemenag, dimana 49 diantaranya bekerjasama dengan BNIS dalam memasarkan produk paket umrahnya.

Sponsorship di Islamic Tourism Expo 2017, Sumber: My Sharing

Main Sponsor di event Islamic Tourism Expo 2017 ini hadir untuk memberikan solusi keuangan baik dari sisi business to customer (B2C) maupun business to  business (B2B). Potensi bisnis haji dan umrah maupun wisata halal yang cukup besar jadi alasannya. Indonesia adalah negara urutan kedua untuk pasar umrah setelah Pakistan dan urutan ketiga untuk tujuan wisata kuliner setelah Malaysia dan Dubai.

Banyak produk pembiayaan yang diitawarkan BNIS untuk segmen haji dan umrah. Tak hanya promo yang ditujukan bagi nasabah seperti pembiayaan umrah (fleksi umrah), fasilitas one day approval, dimana saat nasabah datang dengan membawa sejumlah kelengkapan yang dibutuhkan, nasabah dapat langsung mengetahui fasilitas pembiayaan yang dapat digunakan. Dengan maksimal pembiayaan hingga Rp 200 juta, nasabah payroll di BNIS maupun BNI (konvensional) diberi kemudahan membayar dengan jangka waktu 3 sampai 5 tahun.

Sedangkan bagi penyelenggara umrah, BNIS memiliki produk Pembiayaan Investasi, yakni fasilitas pembiayaan yang diberikan BNIS kepada Biro Perjalanan PIHK/PPIU untuk keperluan modal kerja meliputi pembelian gedung, mobil operasional dan lain-lain dengan nilai investasi hingga Rp 10 milliar atau 80% dari kebutuhan biaya penyelenggaraan haji khusus.

Ratusan penghargaan diraih bank syariah BNIS dalam 5 tahun terakhir ini. Belum lama, BNIS meraih lima penghargaan dalam acara Digital Brand Awards 2018 yang diselenggarakan oleh Majalah Infobank. BNIS menyabet 5 kategori penghargaan sekaligus, yaitu,  Digital Brand KKB Bank Umum Syariah, Digital Brand Kartu Debit Bank Umum Syariah, Digital Brand KPR Bank Umum Syariah, Digital Brand Tabungan Bank Umum Syariah, dan Digital Brand Deposito Bank Umum Syariah serta Golden Trophy The Best Digital Brand KPR Bank Umum Syariah lima tahun berturut-turut periode 2013-2017.

Tak heran bila kinerja bank syariah ini terus kinclong. Tahun ini saja per Juni 2018, BNIS   mampu menghimpun tabungan haji mencapai Rp 1,41 triliun, tumbuh 33,8% year on year (yoy) dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,05 triliun. Nilai tersebut terhimpun dari 538.000 akun tabungan.

“Sedangkan total dana Haji dan Umrah yang dikelola di BNI Syariah mencapai Rp 9,9 triliun, atau sekitar 30% dari total DPK keseluruhan,” ujar Direktur Bisnis BNI Syariah Dhias Widhiyati seperti dikutip Kontan.co.id.

Hingga akhir tahun BNI Syariah menargetkan dapat mengelola dana haji dan umrah sebesar Rp 10,3 triliun.

Melepas 217 Jemaah Haji Tahap I 2018, Sumber: infobanknews.com

Sejumlah strategi dijalankan. Pertama, menjalin kerjasama dengan travel Haji dan Umrah, institusi pemerintah, BUMN, dan institusi lainnya untuk setoran awal haji. Kedua, mengoptimalkan sinergi dengan induk usaha BNI melalui pemanfaatan lebih dari 1.500 outlet BNI untuk melayani pembukaan rekening tabungan Haji dan Umrah BNI Syariah. Ketiga, penawaran program-program yang menarik baik yang dilakukan BNI Syariah maupun kerjasama dengan mitra travel umrah. Terakhir, pengenalan dan penawaran produk Haji dan Umrah melalui event baik skala lokal maupun internasional.

Dhias menyebut, hingga saat ini BNI Syariah telah bekerjasama dengan 64 travel Haji dan Umrah. Pihaknya akan terus menjalin kerjasama dengan berbagai travel perjalanan haji dan umrah dengan syarat memiliki track record yang baik.

Bagi umat muslim di negeri ini menunaikan ibadah haji atau umrah ke tanah suci Mekkah utamanya memang untuk menjalankan perintah ajaran agama. Tapi lebih dari itu, ritual ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang berlangsung selama ratusan tahun.

Untuk mewujudkan impiannya itu, mereka harus mempersiapkan semua kebutuhannya secara matang. Selain butuh kesiapan fisik dan mental, pergi haji dan umrah juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Toh, banyak cara bagi para calon jamaah untuk dapat mengumpulkan dana agar tujuannya bisa tercapai. Salah satunya adalah menabung di bank. Saat ini, hampir semua bank konvensional maupun syariah memiliki produk tabungan haji dan umrah.

Di semester I tahun ini BNIS membukukan laba bersih Rp94,48 miliar per31 Maret 2018. Pencapaian anak usaha PT Bank Negara Indonesia Tbk itu meningkat 21,69 persen dibandingkan periode setahun lalu sebesar Rp77,64 miliar. Dimana aset perusahaan pada akhir kuartal tersebut juga naik 29,7 persen menjadi Rp38,54 triliun. Dari sisi pertumbuhan aset Year on Year (YoY) pada 2017  naik sebesar 19,7% dari Rp25,7 Triliun pada Juni 2016  menjadi sebesar Rp 30,7 Triliun.

Petumbuhan laba ini menurut Firman, didorong oleh ekspansi pembiayaan dengan  kualitas pembiayaan yang terjaga dan efisiensi operasional juga terus membaik. Kegiatan bisnis pembiayaan perusahaan  tercatat naik 11,7 persen menjadi Rp23,75 triliun. Dimana komposisi pembiayaan disumbang sektor konsumer sebesar Rp12,19 triliun, UKM Rp5,15 triliun, mikro Rp1,43 triliun, dan komersial Rp4,58 triliun.

Sementara, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BNIS  mencapai Rp32,95 triliun, naik 27,66%, dengan jumlah nasabah sebanyak 2,6 juta.  Meningkat dari angka Rp 26,7 Triliun pada Juni 2017. Untuk pembiayaan konsumer, maka sebagian besar portofolio merupakan BNI Griya iB Hasanah, yakni sebesar 84,9% di kuartal pertama 2017.

“ Dengan semangat ber-Hasanah , kami bersyukur kinerja BNI Syariah triwulan I 2018 berjalan dengan baik,” kata Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, mengutip Dream.co.id.  April 2018.

BNIS  memang bukan pioner di industri perbankan syariah Indonesia.   PT Bank Muamalat Indonesia  yang mengawalinya   pada akhir  1991. Baru pada tanggal 29 April 2000 BNI mendirikan Unit Usaha Syariah (UUS)  dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta-Jawa Tengah, Malang-Jawa Timur, Pekalongan-Jawa Tengah, Jepara-Jawa Tengah dan Banjarmasin-Kalimantan. Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu.

Saat itu nasabah dapat menikmati layanan syariah di Kantor Cabang BNI Konvensional (office channelling) dengan lebih kurang 1500 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di dalam pelaksanaan operasional perbankan, BNI Syariah tetap memperhatikan kepatuhan terhadap aspek syariah.

Babak kedua   dilakukan spin off yang  terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dan  menjadi milistone beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS).  Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat.

Sejak 2010, Unit Usaha BNI Syariah berubah menjadi bank umum syariah dengan nama PT Bank BNI Syariah. Bank ini memiliki visi menjadi bank syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja dengan salah satu misinya yaitu memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan syariah.

BNIS memiliki fasilitas layanan yang lebih kompetitif dibanding bank lainnya karena adanya dukungan dari BNI Induk, antara lain,  Jaringan pelayanan yang  telah mencakup 324 Outlet Kantor Cabang Reguler dan Mikro, dengan lebih dari 1.490 Outlet BNI Syariah yang terdapat pada Cabang BNI Induk (Office Channeling) yang tersebar di kota-kota seluruh Indonesia. Selain itu terdapat pula layanan pada 9 (Sembilan) cabang Luar Negeri diantaranya yaitu Singapura, Hongkong, Abudhabi, Malaysia, Riyadh, Qatar, Bahrain / Kuwait, Jeddah, dan Taiwan.

Dan,  transaksi perbankan BNIS dapat dilayani diseluruh jaringan ATM di seluruh Indonesia dan dunia yang berlogo Master Card, Cirrus, ATM Bersama, ATM Prima dan Visa. Serta layanan perbankan melalui telepon 24 jam. Dengan adanya jaringan yang sangat luas, maka dimungkinkan pelayanan BNI Syariah dapat terjangkau ke seluruh daerah.

Pefindo (Pemeringkat  Efek Indonesia) memberikan peringkat “idAA+” untuk BNIS  yang menunjukkan kondisi stabilnya  perusahaan. Peringkat “idAA+” tersebut mencerminkan status perusahaan. Selain itu, peringkat juga mencerminkan potensi pertumbuhan yang tinggi di segmen perbankan syariah. Serta portofolio pendanaan yang kuat.

Bank peraih The Most Effective  dan  1st Rank The Best Islamic Finance-Islamic Full Fledfe Bank dari Islamic Finance Award 2015 Karim Consulting ini memang salah satu bank syariah yang menggenjot bisnisnya dengan strategi pengelolaan NPF yang efektif dengan kebijakan yang pruden, konsisten dengan model bisnis dan monitoring yang kuat.

BNIS secara aktif mengembangkan model bisnis komprehensif sebelum masuk ke dalam industri dan mendalami portfolionya. Setelah ketemu model bisnisnya barulah secara konsisten dipertahankan. Seperti yang dilakukan pada bisnis KPR (griya), Hasanah Card, Haji dan Umroh serta produk bisnis makronya.

BNIS memiliki  system monitoring yang lengkap seperti adanya unit khusus monitoring and collection di pusat dan cabang,   traffic light system dan pengembangan aplikasi collection untuk segmen konsumen.

Selain itu, BNI Syariah juga memiliki Whistle Blowing System (WBS) yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi adanya resiko operasional di dalam proses pembiayaan yang disebabkan karena sumber daya manusia (fraud), dalam hal ini WBS  dilakukan untuk mengawasi terselenggaranya Good Corporate Governance (GCG). []Siti Ruslina