Membangun Kembali Kejujuran dan Sportivitas

Oleh Yuniman Taqwa Nurdin

Tak dinyana, pelukan haru dua tokoh nasional Presiden Joko widodo dan calon Presiden Prabowo Subianto di ajang nonton bareng (nobar) pertandingan silat di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Rabu, 29 Agustus lalu, merubah tensi politik dalam negeri spontan menjadi sejuk. Padahal sebelumnya, kedua calon presiden itu telah terjadi polarisasi di akar rumput.

Bayangkan bila pada saat itu Atlet pencak silat putra Indonesia, Hanifan Yudani Kusuma, peraih medali emas pada partai final nomor kelas C Putra 55 kg sampai 60 kg tidak mengambil inisiatif untuk menyatukan ketua tokoh itu dalam pelukan mengharu biru, mungkin cerita akan lain. Suhu politik di akar rumput akan terus memanas, mungkin karena perbedaan persepsi, ideologi dan apa pun namanya yang selalu dihembus-hembusan oleh masing-masing pihak.

Dan tidak mudah membangun kembali sekat-sekat polarisasi yang terlanjur terbentuk di dalam masyarakat. Rasionalitas seakan berada di awang-awang yang sulit menyatukan persepsi terhadap dua hal yang berbeda. Perbedan yang telah terbentuk – mungkin sengaja dikontruksi sedemikian rupa — untuk menciptakan loyalitas permanen.

Dan loyalitas itu baru bisa mencair bila ada sentuhan psikis dari para elite atau variable yang tidak mempunyai kepentingan, tapi mempunyai nilai universal. Tapi tak mudah menciptakan nilai-nilai universal tanpa ada kepentingan. Sebab, banyak pihak yang “menggiring nilai-nilai universal” untuk kepentingan tertentu.

Lantas apa nilai universal tanpa ada kentingan dan sulit digiring untuk kepentingan tertentu? Kejujuran dan sportivitas. Dia ada dalam sanubari manusia. Nilai-nilai ini sejatinya sejak dini harus dipupuk, sehingga membentuk suatu kepribadian yang menjunjung tinggi atas nilai-nilai itu

Boleh jadi nilai universal yang sulit dijewantahkan dalam tindakan dan prilaku adalah kejujuran dan sportivitas. Bangsa ini telah lama kehilangan nilai-nilai kejujuran dan sportivitas. Kejujuran hanya jadi lips service, mudah terucap, tapi tak tercermin dalam prilaku. Betapa banyak koruptor “menyedot” uang rakyat, menterlantarkan kepentingan-kepentingan yang seharusnya mendapat perhatian.

Kepentingan publik menjadi perhatian nomor sekian, dibandingkan kepentingan pribadi dan kelompok. Kepentingan publik bukan lagi menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan. Setiap keputusan  diukur berdasarkan  kakulasi kepentinagn pribadi dan kelompok. Akibatnya, di luar kepentingan pribadi dan kelompok, bukan menjadi prioritas. Bila perlu dibuang jauh-jauh dalam mengambil keputusan.

Fenomena itu telah tertanam sejak dini. Sadar tidak sadar, kita telah terjebak untuk menghianati kejujuran. Sejak kecil kita dipertontonkan ke hal-hal yang tidak jujur. Ketika tamu mengetok pintu rumah – karena orang tua malas atau apa pun alasannya enggan bertemunya, maka orang tua menyuruh anak bilang: “Bapak belum datang,” kata anak kepada sang tamu.

Banyak hal yang dipertontonkan orang tua kepada anak hanya semata-mata menguber prestasi. Nilai pelajaran harus tinggi dengan cara apa pun. Si anak dipaksa les sani-sini hanya semata-mata memenuhi egosisme orang tua. Tak jarang orang tua rela merogok kocek lebih dalam hanya demi anaknya bisa kuliah di universitas bergengsi.

Belum lagi kurikulum pendidikan dan tata nilai dalam mengapresiasi prestasi belajar, lebih menonjolkan pelajaran-pelajaran dan apresiasi yang berkaitan keilmuan praktika. Pelajaran-pelajaran di lini ini jauh lebih komprehensi dibandingkan pelajaran-pelajaran humaniora (agama budi perkerti olah raga dan bahasa). Ada semacam tuntutan yang sangat besar di masyarakat bahwa pelajaran-pelajaran ilmu praktika jauh menjadi tolak ukur dalam menilai prestasi belajar.

Dan pelajar-pelajar anak negeri pun terjebak dalam pengkotakan keilmuan itu. Ilmu-ilmu humaniora dianggap berada di peringkat bawah. Mungkin telah tertanam persepsi  bahwa pelajaran ilmu humaniora  tak bersentuhan langsung dalam membangun jenjang karier di masa mendatang.

Kurang pedulinya pelajar menghayati pelajaran olah raga, misalnya, menyebabkan tidak berkembangnya jiwa sportivitas. Sebab, olah raga menjunjung nilai-nilai sportivitas. Karena sudah terjebak dalam semangat kalkulasi matematika, rumusan kimia dan fisika atau untung rugi dalam menghitung laporan keuangan, akhirnya tidak muncul jiwa sportivitas. Mengakui salah bila salah dan mengambil tanggungjawab atas konsekuensi atas kesalahannya.

Alhasil negeri ini banyak melahirkan orang-orang pintar. Tapi adakah orang-orang pintar asal Indonesia berhasil mendapat hadiah Nobel? Seharusnya kalau orang-orang pintar negeri ini berprilaku hanya semata-mata untuk masyarkat dunia, di sini akan lahir orang pintar yang mampu meraih hadiah Nobel!

Hadiah Nobel dianugerahkan setiap tahun kepada mereka yang telah melakukan penelitian yang luar biasa, menemukan teknik atau peralatan yang baru, atau telah melakukan kontribusi luar biasa ke masyarakat. Penghargaan ini dapat dikatakan sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang berjasa besar terhadap dunia.

Tapi, kalkulasi orangtua terhadap anak-anaknya dihitung berdasarkan nilai-nilai materi. Bila si anak berhasil meraih pendidikan tinggi, walau dengan cara apa pun, maka “doa” selanjut agar anaknya bisa sukses, dan jangan lupa menjalankan ibadah…!

Ironis memang budaya  yang dibangun orang tua tanpa disadari menggiring generasi pragmatisme dan transaksional. Betapa tidak, alam tidak sadar cikal bakal pemimpin telah dititipkan pesan mendalam orang tuanya – dalam bentuk “doa” dan atau pun simbul-simbul yang disampaikan akan menjadi nilai yang harus diwujudkan oleh si anak. Nilai-nilai keberhasilan dan kebanggaan orang tua terukur dengan materi.

Itulah potret anek negeri! Di pundaknya memikul beban berat untuk melahirkan nilai-nilai materi yang menjadi simbol keberhasilan. Nilai itu menjadi teramat tinggi apresiasinya di masyarakat, sehingga tak jarang kita terjebak dalam kondisi demikian.

Si anak pun berusaha keras mewujudkan pesan-pesan yang terniang-niang di masa silamnya. Entah paham, sadar atau tidak, ibadah yang seharusnya menjadi kewajiban, seakan-akan berada pada peringkat kedua dalam tata nilai global.

Kembali pada dramatik tontonan pelukan Presiden Joko widodo dan Prabowo Subianto  beberapa waktu lalu. Kita kembali diingatkan akan nilai-nilai kejujuran dan sportivitas. Kedua nilai itu yang akan mendidik bangsa ini agar tidak terjebak dalam polarisasi nilai yang dapat memecah belah bangsa.

Ada semacam aksioma bahwa pertandingan olah raga dapat mempersatukan perbedaan apa pun di antara pihak-pihak bertikai. Betapa tidak, essensi dari olah raga adalah membangun nilai-nilai kejujuran dan sportivitas. Sikap itu yang seharus dipertontonkan elite-elite politik tanah air. [] Ilustrasi: IDN Times

 

*Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com