Swarna Art, Habiskan Dana satu Milyar Rupiah Bereksperimen

Meski omsetnya saat ini baru menembus angka Rp 75-an juta perbulan, tapi Mario optimis bisnis ini akan berkembang. Dengan difrensiasi ceramic tiles handmade dengan pendekatan customize, ia yakin tahun depan omsetnya bisa menembus angkat Rp250 juta perbulan.

Mario Surjana tak henti bekreasi menggapai mimpi. Walaupun badai menerjang usahanya pada krisis ekonomi 2008, tak membuatnya patang arang. Bisnis yang telah ditekuninya selama 10 tahun itu, terpaksa ditutup karena tak mampu menanggung cash flow yang menggerogoti pundi-pundinya.

Baginya asa kehidupan tak boleh padam! Kekuatan energi yang dimilikinya, mendorong kebangkitan dalam kondisi apa pun. Ia bergerak, mencari cela dan menangkap peluang. Meski harus dimuali dari nol.

Paskah ditutupnya bisnis digital printing pada 2008, ia  menjadi profesional sebagai marketing interior design sablon. Di tengah kesibukannya sebagai marketing, jiwa seninya acap meletup-letup. “Saya mencoba membuat desain-desain tiles yang bermuatan sejarah khususnya berasal dari Timur Tengah,” ujar Mario lulusan California State University, jurusan komputer seni tahun 2004.

Kebetulan keluarga memilik bisnis percetakan sablon untuk kramik, kaca dan sebagainya. Kemampuan seni desain dan hobby travelling, melahirkan kreativitas yang menurutnya bisa dikembangkan menjadi bisnis. “Keluarga memiliki tungku untuk membuat kramik. Tungku ini bila dimodifikasi bisa memproduksi kramik, seperti asbak rokok, mud, piring dan sebagainya,” katanya kepada pelakubisnis.com di sela-sela pembukaan  pameran Homdec 2018, pada, 6 September lalu.

Menurutnya yang lebih menarik, ternyata tungku itu bisa membakar kramik sampai suhu  mencapai temperatur 1250 drajat celsiun. Dengan karakteristik  tersebut, kata Mario, setelah dipelajari lebih mendalam bisa membuat ceramic tiles. Di sini justru menariknya, membuat tiles dengan difrensiasi yang khas sesuai customize. “Ini yang membedakan tiles kami dengan tiles produksi pabrik yang massal,” katanya serius.

Melihat fenomena itu, Mario pun melakukan berbagai eksperiment di sela-sela kesibukan sebagai marketing interior design sablon. Tak kurang  dua tahun ia berkutat dengan berbagai percobaan untuk mencapai hasil maksimal. Pasalnya, untuk membuat kramik dengan hasil sempurna diperlukan ketelitian dan kesabaran yang tinggi. Bayangkan, diperlukan proses pembarakaran dengan temperaturan yang berubah-rubah sampai suhu maksimal 1250 drajat celsiun dengan lama pembakaran 12 jam.

Prosesnya dimulai 30 menit pertama tungku dinyalakan dengan pemperatur 200 – 300 drajat Celsius. Pada temperatur rendah ini berfungsi menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat dari kramik. Kemudian temperatur tungku ditingkatkan secara berlahan-lahan. “Kalau temperatur ditingkatkan secara cepat, maka tiles akan pecah. Untuk menaikkan temperatur sampai suhu 1250 perlu waktu delapan sampai sembilan jam dan besoknya baru kramik dikeluarkan serta proses dianggap selesai,” jelasnya.

Tak jarang ia mengalami kegagalan, di mana pengaturan  temperatur tidak sesuai, sehingga hasilnya tidak yang diharapan. Proses pembakaran itu terus diulang-diulang, sehingga ditemukan formala yang tepat dalam menentukan tahapan-tahapan temperatur. “Sekitar dua tahun saya bereksperimen untuk menghasilkan kramik yang sesuai dengan desain dan standar kualitas yang dikendaki,” lanjut Bapak yang lahir pada Mei 1981 menceritakan pengalamannya.

Lebih lanjut ditambahkan, tak kurang satu milyar rupiah dana yang dihabiskan untuk melakukan uji coba pembuatan kramik itu. Dari jumlah itu, sebagian besar dana dialokasikan untuk Sumber Daya Manusia (SDM). Sebab, fix cost terbesar yang harus dibayar tiap bulannya adalah gaji para desain dan tenaga produksi. Walaupun belum berproduksi komersial, tapi gaji karyawan harus tetap dibayar.

“Swarna Art baru di-launching pada April 2017 saat pameran Inacraft berlangsung. Ternyata responnya melebih ekspektasi yang saya perkirakan,” kata Mario seraya menambahkan karena kramik yang diciptakan ini handmade, maka harganya lebih tinggi dibandikan harga kramik produksi pabrik. Pada pameran Inacraft tahun lalu, misalnya, Swarna Art berhasil mencatat tansaksi mencapai Rp 20 juta.

Kramik motif kura-kura untuk interior rumah, foto: Swarna Art

Mario menambahkan untuk menciptakan sebuah desain tiles, misalnya, cukup rumit. Ia harus membaca sejumlah referensi buku-buku sejarah peradapan manusia di masa silam. “Saya banyak melakukan eksplorasi dari Timur Tengah, karena dulu tiles yang bagus-bagus asalnya dari Turki, Maroko dan pakem-pakem bagus,” urainya. Kemudian desain-desain tiles berkembang kearah Protugas. Sedangkan dari Asia kebanyakan berasal dari China yang motifnya  berbeda dibandingkan motif Timur Tengah.

Sejauh ini menurut Mario selera masyarakat Indonesia masih  menyukai motif-motif geometris atau yang sederhana, belum mengarah ke motif-motif rumit. Tapi ada juga yang menyukai desain kontemporer. “Saya pernah bikin desain motif batik, ternyata setelah dipajang kesannya gelap, sehingga saya harus melakukan modifikasi lagi,” jelasnya.

Sejauh ini penetrasi pasarnya masih dilakukan dari pameran ke pameran, di samping melakukan kerjasama dengan sejumlah desainer atau arsitek. Meskipun Swarna Art sudah membangun website, tapi masih terbatas mengedukasi konsumen. Belum masuk ke marketplace, karena kapasitas produksinya masih sangat kecil. “Ini kan produk handmade. Saya punya orang di pabrik hanya empat tenaga kerja,” urainya sambil menambahkan jumlah karyawannya saat ini 10 orang, termasuk desainer, dan ia sendiri.

Meskipun Swarna Art, saat omsetnya baru berkisar Rp. 75 juta-an perbulan. Dengan omzet tersebut, paling tidak mampu menutupi cash flow tiap bulannya. Ke depannya menurut Mario, Swarna Art harus melakukan inovasi, sehingga dapat memproduksi handmade  dengan biaya produksi lebih murah. “Keunggulan Swarna Art dipesan berdasarkan customize dengan jumlah  terbatas,” tambah Mario.

Sebab, di sini difrensiasinya. Ia tidak ingin membuat produk massal menggunakan mesin, sehingga sudah tidak mempunyai nilai lagi. Kalau memproduksi dengan menggunakan mesin, Swarna Art akan kalah bersaing dengan pabrik-pabrik kramik besar.

Dengan fokus memproduksi tiles handmade, tambah Mario, nilai tambahnya sangat tinggi. Harga jual tiles handmade per- meter persegi bisa di atas Rp. 3.000.000/m2. “Sebenarnya kalau saya jual di Amerika atau Eropa, harga sebesar itu coverage. Tapi kalau di Indonesia harga jual sebesar itu, susah,” jelasnya.

Memang Mario pernah melakukan pentrasi pasar dengan beberapa developer. Tapi pihak developer terlalu rendah menawarkannya. Harganya tidak masuk. “Saya pernah memasang tiles di sebuah project. Tapi harganya sangat mepet. Kalau saat pemasangan terjadi reject, misalnya, bisa rugi katanya.

Mario menambahkan proses pembuatan tiles – dari mulai bahan mentah – sampai jadi memerlukan waktu paling sedikit satu bulan. Dari mulai tanah liat dibentuk, tunggu sampai  dikeringkan. Setelah itu dibakar setengah matang, baru dilakukan pewarnaan. Kemudian dibakar kembali. “Proses dari tanah liat sampai selesai pembakaran  memerlukan waktu dua minggu lebih. Belum ditambah proses desain sebelum kramik dibuat dan pengepakan sebelum dikirim ke klain,” jelasnya.

Sementara harga jualnya tergantung tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Ada desain-desain yang mempunyai tingkat kesulitan  tinggi. Seperti garis-garis  sangat kecil dan tipis, warna-warna gradasi. “Itu semua mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Makin tinggi tingkat kesulitannya, makin mahal harga jualnnya,” tambahnya.

Menurut Mario, sebelum tiles-tiles tersebut, diproduksi, terlebih dahulu dibuat cetakannya. Pembuatannya dilakukan dengan tangan. Proses pembuatan cetakan ini sesuai ukuran yang dikehendaki. Sampai saat ini sudah ada sekitar 60 motif desain yang siap diproduksi.

Sampai saat ini kapasitas produksi ceramic tiles masih sangat kecil. Maksimal hanya 20 m2/perbulan. Namun demikian, Swarna Art pun memproduksi sejumlah kramik untuk interior pajangan rumah, seperti membikin vas bunga, cangkir, piring dan sejumlah pernik-pernik interior rumah lainnnya. “Untungannya sangat kecil, hanya bisa untuk membayar gaji karyawan. Nggak bisa dikembangkan untuk perkembangan usaha,” urainya serius.

Pernik-pernik interior seperti itu, tambah Mario, dijual ritel seperti pada saat pameran. Harganya relatif terjangkau. Satu set poci kecil dijual dengan harga Rp300.000 per-set, vas bunga (pot) dibandrol dengan harga Rp400.000, satu set piring ( empat piring, empat cangkir dan empat  mangkok) dijual dengan harga Rp1.5000.00/set.

Menurut Mario product utama yang ditawarkan Swarna Art adalah ceramic tiles, sementara kramik-kramik interior itu hanya produk sampingan. Boleh dikatakan sebagai gimmick agar bisa tertarik membeli produk utamanya, yaitu ceramic tiles yang harganya di atas Rp3.000.000/per-meter persegi.

keramic tiles handmade: harganya mencapai Rp 3 juta/m2, foto: pelakubisnis.com

“Difrensiasi Swarna Art lebih fokus memproduksi ceramic tiles secara handmade yang mempunyai nilai sejarah,” ungkapnya. Ia pernah melihat  sebuah lukisan pemandian air panas yang di tengahnya ada air mancur. Di tengah-tengan bingkai air mancur itu dihiasai menggunakan ceramic tiles. Dari pemandangan itu dia ubah menjadi desain tiga dimensi. Dan hasilnya sangat bagus sekali..

Kini Mario terus melakukan inovasi supaya biaya produksinya bisa ditekan. Langkah berikutnya memperluas jaringan pemasaran. Target tahun depan Swarna Art minimal harus bisa menembus omset minimal Rp250 juta perbulan. Belangan ini Swarna Art telah menjalin kerjasama dengan sejumlah desainer dan arsitek, sebagai salah satu instrumen pemasaran yang diharapkan mampu menembus target tersebut. [] Yuniman T Nurdin/foto utama: pelakubisnis.com