Bisnis Kurir Menggiurkan di Era E-Commerce

Pertumbuhan bisnis e-commerce yang ditafsir nilainya mencapai Rp1.710 triliun pada 2020, mendorong bisnis kurir berkembang pesat. Perusahaan ini semakin menyebar bahkan hingga ke wilayah terpencil, dengan tawaran fasilitas serta harga yang bersaing!

Kue bisnis kurir memang mengiurkan. Betapa tidak, tahun lalu, misalnya, pertumbuhan sektor ini mencapai  14,7%.  Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) menargetkan, pertumbuhan rata-rata industri ini sekitar 14%-15%, dengan total nilai pasar Asperindo pada 2016 sudah mencapai Rp50 triliun.

Pertumbuhan yang cukup significant tersebut disumbang dari maraknya belanja online (e-commerce) . Masyarakat sudah menempatkan e-commerce sebagai gaya hidup. Valuasi bisnis e-commerce sebagai bagian dari industri kreatif bernilai fantastis. Riset Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Google Indonesia, dan TNS (Taylor Nelson Sofres) memperlihatkan bahwa tahun 2013, nilai pasar e-commerce Indonesia mencapai 8 miliar dolar AS atau setara 94,5 triliun rupiah.

Dalam riset tersebut terungkap bahwa nilai bisnis e-commerce sebesar US$ 130 miliar tersebut meningkat 5,7 kali lipat dari perdagangan pada 2016 baru sebesar US$ 22,6 miliar. Jika 13% dari US$ 130 miliar nilai tersebut dipergunakan untuk belanja kebutuhan pengiriman ekspres, pos, dan logistik, market size industri e-commerce ini sebesar US$ 16,9 miliar atau Rp 219,7 triliun.

Dan pada 2016 diprediksi naik tiga kali lipat menjadi 25 miliar dolar AS atau sebesar 295 triliun rupiah. Potensi ini dibarengi dengan jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30 persen dari total penduduk  Indonesia. Sementara berdasarkan prediksi perdagangan online atau e-dagang, menurut Kementerian Kominfo, bakal mencapai US$130 miliar atau setara sekitar Rp1.710 triliun pada 2020 mendatang.

“Sektor logistik dan distribusi ini akan terus berkembang selama orang masih berkonsumsi. Terlebih, semakin banyak ekonomi tumbuh, permintaan sektor jasa ini juga akan semakin besar,” ujar Mohamad Feriadi, Presiden Direktur JNE. Ia mengungkap, saat ini nilai pasar industri logistik di Tanah Air sebesarr Rp 2.100 triliun. Adapun pertumbuhannya tahun ini mencapai 14,7%, sebagaimana dikutip dari swa.co.id.

Asperindo memprediksi e-commerce akan berkontribusi 25% industri logistik nasional  atau US$40,8 milyar atau 550 triliun rupiah, yang diperkirakan akan meningkat sebesar 15,2% per tahun sampai 2019 (E-commerce Incoming; An Industry on the Rise).

Kemunculan pemain besar bisnis e-commerce seperti Bukalapak, Blibli, Blanja, Zalora, Alfacart, Matahari Mall, Alibaba, Tokopedia, hingga JD.ID memberikan pengaruh besar dalam peningkatan kuantitas pengiriman barang dalam beberapa waktu belakangan ini. Sumbangsih e-commerce terhadap jasa pengiriman ekspres juga tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat yang menyukai sistem belanja online dengan pengiriman waktu yang cepat dan simpel.

Berdasarkan data Kominfo, transkasi bisnis secara digital pada 2016 diperkirakan akan ada 8,7 juta pembeli, atau naik dari 7,4 juta di tahun 2015. Sementara jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2015 diprediksi mencapai 93,4 juta naik ketimbang 2014 sebanyak 88,1 juta pelanggan.

Tingginya pembeli secara online ini karena bisnis e-commerce di Indonesia memiliki beragam segmen, dari online retail, marketplacedaily dealsclassified adprice comparisontravel, sistem pembayaran, logistik, keuangan, dan lain-lain.

Bahkan, Head of Mass Media Relations JNE Idham Azka mengakui bahwa pertumbuhan e-commerce dan industri kreatif membuka kesempatan bagi perusahaan logistik untuk turut memberikan kontribusi dalam proses pengiriman. “Penguatan bisnis di industrf kreatif  menjadi daya dorong yang baik secara bisnis di segmen logistik,” terang Idham di Jakarta, belum lama ini, sebagaimana dikutip dari kominfo.go.id.

Sementara era disruption ditandai dengan perkembangan Digitalisasi  khususnya e-commerce di Indonesia, maka diprediksi bahwa  pengangkutan barang di domestik dan regional akan tumbuh sehat didukung oleh perkembangan  industri lokal seiring dengan permintaan melalui akses langsung via web (Industri E-Commerce  Semakin Berkembang, Indonesia Paling Pesat! Okezone,com 30 Agustus 2017)

Peningkatan jumlah transaksi perdagangan online atau e-commerce tak akan bisa terselesaikan jika barang yang diperjualbelikan tidak bisa sampai ke penerima. Maka perdagangan online berkontribusi memberi berkah pada perusahaan jasa pengiriman. Sebab, jarak antara pembeli dan penjual semakin tak terbatas, dan jarak itu berhasil dijembatani oleh jasa pengiriman.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) Mohamad Feriadi tak menepis berkah e-commerce bagi sekitar 200 perusahaan yang tergabung dalam asosiasi yang dipimpinnya. Kaitan antara pertumbuhan sistem keuangan, internet, marketplace, jasa pengiriman, menurut dia, sangat erat. Penetrasi internet yang kian pesat yang merasuk hingga pelosok nusantara, membuat bisnis jual beli online tidak lagi didominasi kota-kota besar tapi juga daerah. Ditambah lagi secara geografis Indonesia terdiri dari pulau-pulau. Kondisi ini semakin membesarkan industri jasa pengiriman.

Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara mengatakan kegiatan perdagangan digital merupakan kekuatan ekonomi baru yang akan menempatkan Indonesia terdepan di kawasan regional. Ia berharap semua pihak mendukung program pemerintah tentang teknologi dan ekonomi digital bagi UMKM, serta mendukung program Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam mensosialisasikan Peta Jalan – E Dagang Indonesia, khususnya dalam pencapaian 1.000 technopreneur di tahun 2020.

Seperti dikutip dari situs Kominfo.go.id, Indonesia memiliki bekal cukup untuk menjadi negara dengan industri e-commerce terkemuka di masa depan. Selain memiliki sumber daya manusia yang tak kalah bagus, pasar lokal juga menjadi potensi besar untuk mengembangkan e-commerce. Potensi ekonomi digital Indonesia sendiri saat ini sangat luar biasa karena penetrasi seluler 126 persen, internet 52 persen, penduduk muda 30 persen dan 60 juta UMKM.

Sementara Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurut survey dan pemetaan ABRI (Pussurta ABRI) pada tahun 1987 menyatakan bahwa jumlah pulau di Indonesia sebanyak 17.508 pulau, walau tidak semua pulau itu berpenghuni.

Berdasarkan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan, maka  e-commerce akan memberi kontribusi signifikan terhadap bisnis logistic.  Ekosistem selanjutnya adalah proses pengiriman barang. Fenoema ini membuat market size kurir akan mengelembung. Anggota Asperindo berjumlah 200 perusahaan kurir, membuat persaingan di lini bisnis ini semakin ketat.

Pemetaan kue logistik di sektor kurir untuk pengiriman domestik dikuasai  pemain nasional, tapi untuk pengiriman luar negeri masih dikuasai perusahaan kurir asing. Sedangkan untu shipping internasional masih dikuasai asing, tapi domestik shipping sudah  dikuasai lokal. Untuk transport,  lokal masih menguasai pangsa pasar.

Para anggota Asperindo saat ini telah mampu melakukan penjemputan (pick up) dan delivery (pengantaran) barang dari atau ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan dunia. “Hal ini diharapkan tidak saja mampu memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, namun juga mampu menggerakkan perekenomian nasional yang pelakunya sebagian besar terdiri dari wirausaha kreatif, UKM serta perorangan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” kata Mohamad Feriadi beberapa waktu lalu, sebagaimana dikutip dari elogistik.id.

Dikatakannya,  dengan digitalisasi layanan, kemampuan pelayanan prima dapat semakin ditingkatkan. Melalui pemanfaatan teknologi digital di sektor pos, ekspres dan logitik diharapkan produk dalam negeri dapat dengan mudah menjangkau konsumen di seluruh wilayah Indonesia hingga pasar global.

Menurut Bagus Nuari Harmawan, Mahasiswa Pascasarjana Manajemen dan Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada , dalam artikelnya berjudul Optimisme Usaha Jasa Kurir, Sabtu, 28 Oktober 2017, dimuat pada beritasatu.com, menyebutkan beberapa tahun terakhir, kontestasi antarpenyedia layanan jasa kurir semakin berkembang dengan kondisi persaingan antar-provider yang semakin ketat. Salah satu mekanisme yang digunakan untuk melihat output kontestasi antarpenyedia jasa kurir bisa kita lihat dari hasil survei Top Brand Award di interval tahun 2015 sampai 2017.

Indikator hasil survei berasal dari tiga parameter yakni top of mind sharetop of market share dan top of commitment share. Dalam tiga tahun terakhir, JNE menjadi juara jasa kurir dengan Top Brand Index pada tahun 2015 sebesar 43,5%, tahun 2016 sebesar 47,6% dan tahun 2017 berada pada 49,4%.

Para pesaing JNE dari provider swasta seperti TIKI juga masih tertinggal jauh. TIKI, selama tiga tahun terakhir memiliki persentase 36,2% pada 2015, 35,7% pada 2016, dan 34,7% tahun 2017. Sementara itu, layanan kurir Pos Indonesia tiga tahun terakhir memiliki persentasi 6,7% hingga 7,9%.

Sementara itu, DHL sebagai penyedia layanan yang telah mengglobal juga masuk dalam Top 4 produk. Meskipun berfokus pada distribusi logistik atau kargo dengan kuantitas besar, DHL masih mendapatkan persentase yang baik dalam layanan pengiriman ekspres yang dilakukannya.

Persentase tiga tahun terakhir memang cenderung turun yaitu dari 2,1% pada tahun 2015 ke arah 1,3%. Akan tetapi, DHL masih mampu menarik minat pengguna layanan pengiriman ekspres di tengah persaingan yang ketat dan didominasi oleh JNE dan diikuti TIKI.

Jika kita melihat contoh perkembangan market share JNE sebagai provider yang mendapatkan permintaan terbesar, terlihat peningkatan signifikan pada tiap tahunnya. Pada tahun 2013 dan 2014, JNE telah melaksanakan jasa pengiriman barang rata-rata sebanyak 6 juta dan 8 juta kiriman per bulan. Sedangkan pada tahun 2015, rata-rata jumlah pengiriman barang mencapai 12 juta per bulannya. Pada tahun 2016 menunjukkan kenaikan sebesar 30% dibanding tahun sebelumnya dengan jumlah pengiriman hingga 16 juta kiriman dalam sebulan (www.jne.co.id).

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah pemain baru jasa kurir juga berdiri. Menurut Mohamad Feriadi menambahkan hal tersebut wajar mengingat besarnya potensi dagang-elektronik. Dia mencontohkan J&T Express yang begitu agresif padahal baru berdiri sekitar 2 tahun. Perkembangan pesat perusahaan besutan Jet Lee dan Tony Chen tersebut lantaran fokus pada dagang-el, sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Asperindo mencatat, saat ini ada 35.000 gerai tempat penitipan barang yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini belum termasuk gerai milik Pos Indonesia dan Bhanda Ghara Reksa.

Bila dulu hanya PT Pos Indonesia yang menjadi jasa pengiriman barang ke luar kota. Tapi sekarang, perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman bertambah banyak. Ada TIKI, JNE, Wahana, J&T, Si Ninja Express, 21 Express, Si Cepat dan beberapa jasa pengiriman lainnya. Perusahaan ini semakin menyebar bahkan hingga ke wilayah terpencil, dengan tawaran fasilitas serta harga yang bersaing.[] Siti Ruslina/ Yuniman Taqwa/foto ist