Eri Palgunadi: Konsisten Membangun Kolaborasi dan Ekosistem

Eri Palgunadi (Vice President JNE)

Pertumbuhan bisnis logistik beberapa tahun terakhir bertengger di kisaran dua digit. Frost & Sullivan memperkirakan, industri logistik Indonesia akan tumbuh 15,4% dengan nilai Rp4.396 triliun pada tahun 2020. Pertumbuhan yang significant itu didorong oleh konsumsi penduduk, perbaikan infrastruktur serta investasi asing.

Mengacu kepada riset yang dilakukan iDEA dan Taylor Nelson Sofres, menyebutkan bahwa perdagangan dalam jaringan atau e-commerce di Indonesia nilai transaksinya akan mencapai sebesar US$ 130 miliar. Nilai perdagangan dalam jaringan tersebut meningkat 5,7 kali lipat dari perdagangan tahun 2016 sebesar US$ 22,6 miliar. Jika 13% dari total tersebut dipergunakan untuk belanja kebutuhan pengiriman ekspres, pos serta logistik, maka market size industri ini dalam e-commerce adalah sebesar US$ 16,9 miliar atau sekitar Rp219,7 triliun.

Angka itu baru dari sisi e-commerce! Sementara iklim investasi di Indonesia yang menunjukkan indikasi kondusif. Tidak hanya itu, awal September lalu   Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat Indonesia di level layak investasi (Investment Grade) . Dalam siaran persnya, Fitch memberikan afirmasi atas Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB/outlook stabil.

Dengan level BBB tersebut, merupakan cerminan keyakinan lembaga rating atas perekonomian Indonesia. Hal ini yang menyebabkan Indonesia dinyatakan sebagai negara yang layak investasi. Dalam kondisi demikian, arus investasi yang masuk ke Indonesia akan semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Fenomena demikian turut mendorong pertumbuhan bisnis logistik dalam negeri. Walaupun pangsa pasar bisnis ini sangat segmented karena banyaknya pemain dan beragamnya jasa layanan yang ditawarkan. Bagaimana Vice President PT Jalur Nugraha Eka Kurir (JNE), Eri Palgunadi melihat peluang bisnis tersebut?  Bagaimana proyeksi bisnis ini ke depan? Langkah strategis apa yang diambil JNE menghadapi iklim bisnis kurir di Indonesia ke depan. Berikut wawancara pelakubisnis.com dengan Vice President PT  Jalur Nugraha Eka Kurir (JNE), Eri Palgunadi:

Bagaimana Bapak melihat market size bisnis logistik di tanah air?

Nilai pasar industri logistik di Tanah Air mencapai Rp 2.100 triliun, sedangkan pertumbuhannya tahun 2017 mencapai 14,7%. Jumlah paket yang beredar di tahun 2017 ada sekitar 800 juta paket, sebagian besar saat ini diperkirakan berhubungan dengan e-commerce.

Dari pertumbuhan tersebut, berapa besar  pertumbuhan JNE beberapa tahun terakhir ini?

Sampai dengan saat ini rata-rata jumlah pengiriman JNE dalam 1 bulan adalah sekitar 19 juta paket, bahkan pada saat high season Ramadhan dan Idul Fitri kemarin mencapai lebih dari 20 juta paket. Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu yang sampai dengan akhir tahun memiliki rata – rata sekitar 16 juta paket per bulan. Sementara pertumbuhan JNE sendiri selama beberapa tahun terakhir konsisten mencapai 20% – 30% per tahun. Peningkatan jumlah pengiriman oleh JNE seiring dengan perkembangan e-commerce di Indonesia. Diproyeksikan tahun depan (2019) JNE dapat mencapai pertumbuhan jumlah pengiriman yang sama, yaitu sebesar 20% – 30% dari tahun 2018.

Berapa besar market share JNE di sektor pengiriman ekspres dan logistik?

Dalam industri pengiriman ekspres dan logistik, berdasarkan riset yang diselenggarakan oleh Frost & Sullivan, salah satunya dalam industri logistik, market share JNE di Indonesia adalah kurang lebih 22%.

Apa yang Bapak maknai dengan massifnya pembangunan infrastruktur di era pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla?

Sejauh ini JNE mayoritas menggunakan moda transportasi udara sebagai pengangkut paket pelanggan, sehingga pembangunan bandara–bandara tentu berdampak pada kelancaran pengantaran ke kota–kota yang menjadi destinasi dari paket pelanggan tersebut. Sementara Jalur–jalur darat baru yang kini telah dibangun pemerintah, berdampak juga terhadap produk layanan JNE yaitu JTR (JNE Trucking) sehingga dapat memperluas cakupan area pengantaran.

Tantangan apa yang dihadapi JNE dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan?

Membutuhkan strategi – strategi khusus untuk dapat mendistribusikan paket pelanggan hingga ke pelosok. Namun JNE bersyukur karena sampai dengan saat ini telah mampu menjangkau ke alamat mana pun di seluruh nusantara. JNE juga mengapresiasi langkah – langkah pemerintah yang terus mengembangkan wilayah cakupan jaringan IT sehingga JNE pun dapat mengkoneksikan seluruh jaringannya secara online demi memberikan kualitas pelayanan prima kepada pelanggan.

Sejauhmana pendapat Bapak atas tingginya biaya logistic di Indonesia?

Terkait dengan tingginya biaya logistik, karena JNE mayoritas menggunakan jalur udara, maka tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut secara keseluruhan. Namun jika berbicara tentang biaya pengiriman paket di dalam kota maupun antarkota, maka tarif pengiriman paket di Indonesia lebih murah dibanding Negara–Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan yang lainnya. JNE juga  banyak menggunakan moda transportasi udara. Kebijakan pemerintah yang dapat meminimalkan biaya operasional adalah kebijakan mengenai Regulated Agent (RA) di bandara. Diharapkan biaya RA dapat diminimalkan semaksimal mungkin agar beban biaya operasional dapat lebih efisien, sehingga tidak berpotensi mempengaruhi tarif pengiriman yang tentu dapat berdampak langsung terhadap konsumen yang didominasi oleh para UKM/ IKM.

Dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital, langkah-langkah strategis apa yang diambil JNE untuk mengembangkan kapabilitas perusahaan?

Ada beberapa langkah yang diambil, pertama   IT, baik teknologi informasi dan komunikasi untuk kinerja internal seluruh karyawan maupun fasilitas serta produk layanan yang digunakan oleh pelanggan. Pengembangan IT untuk internal perusahaan juga membuat perusahaan dapat mengkoneksikan seluruh cabang secara online sehingga pertumbuhan jumlah pengiriman dapat terupdate dengan maksimal. Begitu juga dalam pelayanan, pengembangan IT memaksimalkan pelayanan prima, salah satunya adalah fasilitas trace & tracking bagi pelanggan untuk memonitor status pengirimannya secara real time, dan sebagainya. Kedua,  infrastruktur, input teknologi mesin dan IT dalam tools penunjang kinerja operasional, pembangunan Mega Hub, dsb. Ketiga, perluasan jaringan di seluruh Indonesia mulai kota besar sampai dengan kabupaten hingga kecamatan. Langkah ini juga membuka peluang kerjasama kemitraan dengan masyarakat yaitu sebagai titik layanan JNE/ agen JNE. Keempat, Sumber Daya Manusia (SDM), meliputi program pelatihan, program apresiasi, dan program – program lainnya untuk mendorong performa kerja karyawan. Training untuk karyawan bukan hanya terkait skills tapi juga spiritual seperti training ESQ, assessment program untuk pengembangan karir, dan yang lainnya.

Sejauhmana JNE melakukan kolaborasi dengan sejumlah pihak dan membangun ekosistem di sektor e-commerce?

Pengembangan kapabilitas dan kolaborasi dengan seluruh pihak untuk mendukung ekosistem e-commerce dilakukan secara keseluruhan. Sedikitnya ada hal yang dilakukan JNE, yaitu: Pertama, online platform. Dalam online platform berupa program – program marketing yang bekerjasama dengan online marketplace seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, dan yang lainnya. Program atau acara tersebut bertujuan untuk memberikan manfaat kepada seluruh customer JNE, baik online seller maupun online buyer di seluruh Indonesia.  Kedua,  bekerjasama dengan perusahaan penyedia Fintech sehingga JNE dapat menyediakan beragam fasilitas terkait dengan transaksi keuangan (JOP, JNE – Koin Works, dan yang lainnya). Ketiga, kolaborasi dengan berbagai pihak dalam industri logistik, seperti bergabung dalam Asperindo dengan perusahaan jasa pengiriman ekspres dan logistik lain, sehingga dapat berkolaborasi di berbagai hal maupun menjadi mitra pemerintah terkait dengan kebijakan atau regulasi.

Prinsip apa yang menjadi landasan dalam membangun ekosistem?

Seluruh langkah yang dijalankan, dilandasi dengan prinsip dan semangat tagline JNE yaitu “Connecting Happiness” yang bermakna menghantarkan kebahagiaan. Program atau acara harus bermanfaat, bukan hanya untuk pelanggan JNE tapi juga masyarakat luas. Hal ini agar ekosistem dapat tumbuh dengan baik yang dampaknya juga akan positif terhadap perkembangan JNE.Selain itu, JNE mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam ekosistem e-commerce, baik dalam penyediaan fasilitas atau produk layanan untuk pelanggan, sampai dengan program serta acara yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bisa dijelaskan pengembangan kapabilitas perusahaan yang saat ini sedang dijalani?

Pembangunan Mega Hub yang akan dibangun di Kedaung Wetan, Neglasari, Tangerang, Banten. Lokasi ini sangat strategis karena berada sangat dekat dengan Bandara Internasional Soekarno – Hatta, sehingga diharapkan dapat mempercepat proses mobilitas paket kiriman.  Dibangun diatas tanah seluas 39.000 m², Mega Hub akan memiliki kapabilitas untuk menangani sekitar 30 juta paket per bulan atau kurang lebih 1 juta paket per hari yang berarti 48 ribu paket  per jam. Dengan kapasitas yang dimiliki ini, maka dapat dipastikan JNE akan akan siap menangani lebih banyak lagi amanat pelanggan dan mendistribusikan hingga ke pelosok Nusantara mau pun 250 negara di semua benua.

Fasilitas apa yang diperlukan untuk membangun Mega Hub tersebut?

Untuk pembangunan Mega Hub ini diperlukan fasilitas utama berupa mesin sortir otomatis dan dalam proses pengadaan alat tersebut, telah dilakukan proses pitching yang kemudian JNE menunjuk Damon yang bermarkas di Shanghai, Tiongkok. Mega Hub ini ditargetkan akan selesai dibangun pada kuartal keempat tahun 2019. []  Siti Ruslina