Generasi Ketiga Ciputra, The Millennial Innovator

Pemahaman bisnis proses dapat dengan cepat dipelajari. Tapi jauh lebih penting berintegritas dan mempunyai mindset INOVASI sebagai modal utama mengembangkan bisnis. Cucu maestro properti Indonesia yang satu ini membuktikan petuah itu!

Nararya Ciputra Sastrawinata. (Foto: Ciputra Group)

Meski usia masih muda, Nararya Ciputra Sastrawinata sudah mendapat kepercayaan memimpin proyek-proyek properti di bawah naungan Ciputra Group. Kepercayaan itu bukan langsung datang dari “langit”. Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia ini. Kedua orangtuanya – Rina Ciputra dan  Budiarsa Sastrawinata — acap mengajak anak-anaknya, termasuk Nararya ke sejumlah proyek  Ciputra Group.

Tidak hanya itu, sesekali dalam pertemuan di meja makan, keluarga ini pun  kerap berdiskusi tentang bisnis properti. Nuansa itu boleh jadi begitu melekat dalam benak Nara, -begitu Ia akrab disapa-. Tanpa sadar orangtuanya telah membangun nilai-nilai atas pentingnya sebuah hunian dalam perspektif kehidupan yang lebih luas. Kebiasaan ini mengkristal dalam diri Nararya.

Nararya remaja sering kagum dengan konstruksi bangunan proyek-proyek yang ditangani orangtuanya. Namun, bukan berarti Ia latah, lalu mengambil bidang studi yang terkait dengan bisnis properti.  Nararya justru memilih Jurusan Teknik Mesin yang boleh jadi tak langsung bersinggungan dengan bidang properti yang ditekuni keluarganya. “Saya tertarik mengelola bahan-bahan menjadi bangunan yang berdiri di tanah kosong, kemudian berkembang menjadi kawasan hunian dalam sebuah kota,” kata Nararya kepada pelakubisnis.com akhir September lalu.

Walaupun kedua orangtuanya tak memaksa anak-anaknya kelak menekuni dunia properti,  namun, ekosistem yang dibangun  keluarga, membuat Nararya pada akhirnya kepincut juga menggeluti bisnis properti. Apalagi Ciputra Group dibentuk sebagai wadah keluarga, maka siapa yang berminat dan mampu boleh masuk,” kata Nararya. “Opa (Ciputra-red) pun senang bila keluarga bisa bersatu, baik di dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan,”sambungnya.

“Orangtua tak memaksa kami anak-anaknya menekuni bisnis properti” (Foto: Ciputra Group)

Masih lekat dalam ingatan Nararya, sejak kecil sudah diperkenalkan main golf dengan keluarga (Papi, Mami, termasuk Opa-red). Pada momen-momen tersebut, keluarga besar Ciputra ini berkomunikasi tanpa ada batas-batas psikis. Komunikasi dibangun secara komunikatif, sehingga tak jarang anak-anak dan cucu-cucu Opah mendapat nilai-nilai filosofi dalam dunia properti dari sang maestro properti Indonesia.

Lulusan Master of Engineering (MEng) in Mechanical Enginering, Imperial College, London, UK, 2008 ini mengakui, ilmu teknik mesin yang diperolehnya di bangku kuliah memang tidak ada hubungannya dengan bisnis properti. Namun menurut Nararya, tidak ada yang sia-sia dalam menuntut ilmu. Apa yang ia peroleh di bangku kuliah setidaknya  telah mengajarkan Nararya bagaimana  cara berpikir, cara menstruktur organisasi, cara melihat masalah dan memberikan solusi serta melaksanakannya. Hanya sebatas itu!

Usai lulus Teknik Mesin dengan mata pelajaran Mesin Pesawat di Inggris,  Nararya tidak langsung pulang ke Indonesia. Ia sempat bekerja di beberapa perusahaan. Di tahun 2002 ia sempat bergabung dengan salah satu developer di Indonesia se­bagai internal auditor. Empat tahun berselang, Nararya pindah ke Singapura dan bergabung dengan Schindler Lifts Singapore Pte Ltd. sebagai Project Engineer.

Sebelum bergabung dengan perusahaan keluarga di tahun 2009,  Nararya tercatat sebagai Junior Researcher di Practical Action (Inggris).  “Setelah Saya masuk ke perusahaan keluarga, Saya pikir agak sulit rasanya untuk keluar, jadi Saya merasa bahwa harus mendapatkan pengalaman bekerja di luar terlebih dahulu,” kenangnya sambil menjelaskan di tahun 2009  adalah awal Ia bergabung di Perumahan CitraRaya, Tangerang, Banten.

Di CitraRaya, ia bekerja sambil belajar tentang peran developer.  Karena tidak ada dasar ilmu yang dimiliki, demikian juga dengan pengalaman satu tahun bekerja sebagai konsultan engineering, tentu tak cukup untuknya memahami bisnis properti.

Ia mulai bekerja dari satu bagian ke bagian lainnya (management trainee-red). Semua departemen (bagian) dilalui untuk dapat memahami bisnis proses dunia properti.”Setelah menguasai bisnis proses, baru Saya bisa berkontribusi,” tandasnya lagi.

Hingga, Nararya pun ditunjuk memimpin proyek Ciputra Group,  Grand Shenyang International City, kota Shenyang, China, yang merupakan kesempatan dan tantangan tersendiri dalam  mengembangkan properti seluas 300 hektar. Ini kesempatan langka dan tidak semua developer mempunyai kesempatan yang sama. “Saat itu Saya dikirim ke Shenyang untuk mengikuti proyek dari tahap awal sampai akhir. Dari mulai negosiasi tanah, dan setelah negosiasi tanah selesai, Saya harus memulai set up recruitment dengan mengkombinasi sumber daya manusia (SDM) dari Indonesia dengan di China,” urai Nararya yang sempat menjadi Student Researcher Undergraduate Research Opportunities Placement (UROP) di Inggris.

Lebih lanjut ditambahkan, ada beberapa kendala yang dihadapi. Dari mulai masalah bahasa sampai tunjangan seperti BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) di China yang  berbeda  dengan di Indonesia. Ia juga bertanggungjawab mengurus masalah perizinan, desain rumah, pembangunan rumah, marketing sampai penyerahan rumah ke konsumen. “Sampai cluster pertama selesai kemudian dilaksanakan  serah terima ke konsumen, dan hingga saat ini Saya masih sering bolak balik Jakarta – Shenyang,” kenangnya.

Keberhasilan Nararya mengelola  lahan proyek properti di Shenyang, bukan semata-mata lahir dari dirinya. Ia ditemani seorang senior dari Ciputra Group dan tim yang solid. “Salah satu kekuatan Ciputra Group adalah, mampu mengembangkan ratusan proyek properti di puluhan  kota di Indonesia dan di luar negeri,  karena tim yang solid,”ucap pria kelahiran 1986 ini.

Bagi Nararya,  Ciputra Group mampu membangun mindset-nya untuk melihat masalah sebagai bagian dari pekerjaan. Dengan demikian secara psikologis akan terbangun budaya mengatasi masalah, bukan menghindari masalah. “Mindset ini yang harus dibangun, sehingga ada kepercayaan bahwa   masalah dapat diatasi,’ jelasnya.

Selain itu, kata Nara lebih lanjut, kesuksesan yang dicapai Ciputra Group selama ini tidak terlepas dari nilai-nilai budaya kerja yang telah ditanamkan kepada karyawan oleh Founders Ciputra Group (Bapak Ciputra-red), yaitu, Integritas, Profesionalisme dan Entrepreneurship.

Alhasil,  goals perusahaan atas proyek properti di Shenyang itu, kata Nararya, tidak hanya dilihat dari kemampuan menjalankan proyek semata. Tapi yang lebih strategis adalah pembelajaran yang lebih holistic lagi, tidak sekedar di project level saja. “Sebagai pimpinan proyek, bagaimana Saya harus memonitor, memimpin dan mengembangkan ekspansi perusahaan yang bisa jauh lebih cepat. Dan, ternyata kami bisa lebih cepat,” katanya lagi sambil menambahkan dari tahun 2009 sampai sekarang ia sudah menangani sekitar lima belas proyek dan  menyusul beberapa proyek yang sedang dan akan berjalan.

Lakukan ekspansi ke luar negeri supaya konsolidasi group lebih stabil. (Foto: pelakubisnis.com)

Selain itu, Nararya juga meng-handle  Business Development Department yang tugasnya mencari proyek-proyek potensial dan meningkatkan kinerja perusahaan. “Ada beberapa proyek yang belum berjalan, tapi sudah ada kerjasama dengan beberapa pengusaha dan  lahan sudah dibeli. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dikembangkan,” tambahnya.

Selain di Shenyang, China, sebelumnya Ciputra Group juga telah berhasil membangun proyek di luar negeri seperti Hanoi-Vietnam dan Kamboja. Menurut Nararya yang saat ini termasuk dalam jajaran Direktur Ciputra Group, ada kepentingan yang lebih strategis dari group untuk diversifikasi,  bukan hanya dari sisi produk saja, tapi harus melakukan ekspansi ke luar negeri supaya konsolidasi group lebih stabil.

Nararya menilai,  periode 2011, 2012 dan 2013 pertumbuhan properti di Indonesia  sangat bagus. Sebaliknya di Hanoi dan Kamboja pada periode tersebut pertumbuhannya sangat rendah. Ada perbedaan ekstrim  saat itu. Tapi bila ditarik ke depan empat lima tahun kemudian, Iklim  properti di Indonesia biasa-biasa saja, sementara di Hanoi dan Kamboja sedang bagus-bagusnya. “Suatu waktu revenue satu project di Hanoi bisa menyamakan sekitar 10  proyek di Indonesia,” katanya seraya melanjutkan, “Saat ini pertumbuhan properti di Indonesia di level menengah, masih bertumbuh, tapi belum mampu menembus seperti level yang dialami di tahun 2012,.

Ketika Ciputra Group masuk ke Hanoi, memang saat itu bisnis properti sedang booming. Sementara, investasi Ciputra Group di China  baru dikembangkan  sekitar 20 hektar dari 300 hektar lahan yang ada. “Kami melihat proyeksi bisnis properti 20 sampai 30 tahun ke depan. Kalau cepat melihat selera atau keinginan pasar, maka akselerasinya bisa lebih cepat. Proyek di Hanoi, misalnya,  development value-nya sudah mencapai sekitar Rp7triliun, karena sudah dimulai sejak tahun 2002. Sedangkan di China belum sebesar itu, karena baru dimulai 2009,”terangnya.

CitraPlaza Nagoya Batam

Banyak hal menarik bagi Nararya ketika terjun ke bisnis properti keluarga. Milestone yang paling terkesan baginya selama berkarya di Ciputra Group sejak 2009 sampai sekarang,  adalah saat menangani proyek  CitraPlaza Nagoya di Batam. “Proyek ini mulai dijual tahun lalu di atas lahan 6,3 hektar. Tahun ini sudah terjual satu tower dan di akhir tahun ini rencananya akan dipasarkan tower kedua. Value dari satu tower mencapai Rp500 miliar,” kata Nararya.

Lebih lanjut ia menambahkan, proyek CitraPlaza Nagoya merupakan superblock dengan 9 gedung yang terdiri dari apartemen, mall, pertokoan, dan hotel. Pada tahap awal dipasarkan adalah apartemen,  fokusnya  lebih pada kenyamanan hidup. Menurutnya, bila tinggal di apartemen akan  lebih mudah dari sisi kebersihan, keamanan, dan maintenance. Selain itu, dari sisi produk dapat dipastikan memiliki kapasitas yang lengkap.

Dan setelah 10 tahun menekuni dunia properti,  Nararya menyimpulkan, bahwa pada akhirnya aspek lokasi  menjadi faktor utama keberhasilan sebuah proyek. Dalam membangun bisnis properti, yang utama adalah ada lahannya. Jika sudah ada lahan, baru dibuatkan konsepnya. Jadi, pada dasarnya semua lahan ada pasarnya. Bahkan, yang lebih penting adalah kebutuhan pasar di mana lahan tersebut berada. “Yang dianalisa lahannya ada di mana, potensi pasar di sana seperti apa, semua dianalisa dari sisi proses. Baru kemudian diputuskan produk apa yang sesuai di lokasi tersebut,” jelasnya.

Nararya menambahkan, dalam mengembangkan proyek untuk kaum milenial, misalnya, tidak ada spesifikasi khusus menargetkan untuk segmen tersebut. Terkadang dalam praktiknya di segmen itu banyak juga yang tidak terjangkau dari sisi harganya, sehingga penetrasi pembeli justru  di segmen orangtua dengan tujuan investasi untuk anak cucunya. “Kami dari Ciputra Group   tidak spesifik target pasar diperuntukkan kaum muda, tapi kami ingin mencakup pasar yang lebih luas,” katanya.

Creative Office (CreO)

Citra Towers Kemayoran, Jakarta

Sejauh ini menurut penilaian Nararya, produk-produk Ciputra Group bisa di-develop sesuai dengan ekspektasi konsumen. Itu sebabnya, integritas dipegang teguh. Semua janji-janji harus ditepati. Integritas ini yang menjadi value bagi Ciputra Group di mata konsumen.

Hasilnya, kata Nararya, tahun lalu Ciputra Group tumbuh 18%. Dan tren pasar dalam dua tahun terakhir ini bisa menerima produk yang lebih kecil. Bahkan Ciputra mengembangkan properti perkantoran di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan menekan nilai investasi agar sesuai dengan strata companies (strata title-red) yang sebelumnya mereka menyewa di ruko/rukan atau co-working space, Ciputra memiliki produk Creative Office (CreO) dengan harga berkisar Rp 664 juta untuk luas mulai 18 m2. Proyek yang bernama Citra Towers ini  mirip dengan apartemen studio. Konsumen menginvestasi hanya untuk ruang bekerja. Sementara ruang rapat, sekretaris dan sebagainya disiapkan di luar. “Konsep seperti ini dibutuhkan perusahaan-perusahaan kecil yang mungkin  kemampuan invetasi di kantor belum besar, tapi ingin memiliki alamat kantor yang representatif,” tambahnya.

Menurut suami dari Melisa Kristi Kristianto ini, konsep CreO merupakan ruang kantor yang dibuat bertujuan untuk menggabungkan kebutuhan kantor yang investasinya tidak terlalu tinggi, tapi ada kemauan pemilik perusahaan untuk memiliki asset yang kedepannya ada potensi  kenaikan harga dan menghasilkan keuntungan yang besar. “Jadi Saya menggabungkan co-working untuk sewa dengan konsep memiliki kantor untuk ruang kerjanya saja, tapi fasilitas lainnya disediakan di luar kantor,” urainya.

Pihaknya menawarkan solusi memiliki ruangan kantor dengan harga relative terjangkau. Sebab, konsep menyewa kantor, kata Nararya, sebagai pengusaha adalah uang yang tidak menghasilkan. “Kalau di Kemayoran ini, daripada mereka menyewa kantor, lebih baik, membayar cicilan yang mana dalam tempo dua atau tiga tahun telah lunas dan menjadi aset,” ujarnya. Dalam tempo beberapa tahun saja nilai  jualnya sudah meningkat karena ada potensi dari kenaikan nilai investasinya.

Dari tiga lantai untuk co-working space yang ditawarkan, sudah 80% terjual. Di mana seluruh fasilitas untuk makan, rapat dan hiburan (bioskop-red) tersedia di sini. Citra Towers  saat ini sedang finishing dan serah terima unit kantor direncanakan awal tahun depan.

Citra Towers Kemayoran, Jakarta

Di tengah kesibukan menangani beberapa project, kegiatan Nararya pun masih disibukkan  dengan keterlibatannya di proyek di CitraGarden City -Jakarta Barat- yang merupakan proyek pemukiman pertama yang dibangun Ciputra Group. Sampai sekarang proyek ini masih terus berjalan, karena masih ada lahan yang bisa dikembangkan. Bahkan, di lokasi yang berdekatan dengan proyek ini, ada dua proyek apartemen, yaitu CitraLake Suites dan Citra Living.

Menurut Nararya, CitraGarden City masih bisa dieksplor, karena produk  properti yang dicari pasar berbagai macam karakteristiknya. Apalagi pengalaman Ciputra Group dalam mengembangkan kawasan baru dengan skala kota. Pasalnya, konsumen memilih produk properti bukan  semata-mata keperluan memiliki rumah. Tapi jauh dari itu! Ia memerlukan fasilitas yang terintegrasi, dari mulai pendidikan, kesehatan, fasilitas belanja, olah raga dan lainnya.

Naraya menambahkan, produk-produk properti mempunyai segmennya tersendiri. Ada segmen konsumen yang ingin memiliki rumah senilai Rp300 juta, 500 juta, Rp 1 miliar ke atas dan sebagainya. “Semua segmen itu kami sediakan. Contohnya CitraGarden City. Dari 30 tahun lalu kita menjual rumah mulai dengan luas 90 m2, sekarang ada rumah di atas luas lahan lebih dari  400 m2,” tambahnya serius.

Lebih lanjut ditambahkan, harga tanah dari waktu ke waktu terus bergerak naik. Di CitraGarden City saja, harga jual tanah sudah mencapai Rp20 juta/-m2. Tingginyanya harga tanah, membuat pihak manajemen membangun apartemen di sini. “Harga jualnya ada yang mulai Rp400 jutaan,” urainya seraya menambahkan langkah ini diambil untuk mensiasati harga tanah yang terus meningkat. Diversifikasi produk ini, kata Naraya, sebagai upaya membuka peluang baru yang bisa cocok di pasar.

Meskipun Nararya mengakui sekali-kali ada gap antara lintas generasi. Tapi menurutnya gap itu hanya merupakan kesenjangan pengalaman antara generasi muda dengan yang tua. Justru munculnya gap itu menjadi pembelajaran bagi generasi muda dalam melihat permasalahan. Secara tidak langsung munculnya gap makin mempercaya perspektif kita dalam melihat masalah, sehingga memperkaya khasanah dalam mengatasi problem solving.

Di satu sisi, kata Nararya, mereka (generasi tua-red) mau mendengar dan menerima ide-ide baru. Proses dialektika dalam keluarga Ciputra berjalan harmonis. Sebab, dunia berubah, kebutuhan pasar berubah, makro ekonomi pun berubah dan pesaing pun mempunyai karakteristik tersendiri yang harus diantisipasi. “Kami harus berinovasi! Ini yang selalu ditekankan Opa, Papi dan Mami,” lanjut Nararya.

Apalagi mindset Opa dan Papi terbuka dan inovasi menjadi kuncinya. “Untuk generasi penerus dan tim yang tergabung di dalamnya harus focus terhadap perubahan-perubahan yang bisa membantu perusahaan. Bila generasi penerus melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan generasi sebelumnya, dan terus melakukan perubahan untuk kemajuan perusahaan, maka tak heran jika  Ciputra Group selalu berkesempatan akan tumbuh terus di dunia properti. Harus terus INOVASI,” tandasnya menutup percakapan[] Siti Ruslina