Kainkain Tawarkan Bisnis Bagi UMKM

Munculnya teknik sublimasi di industri tekstil dan garmen  membawa angin segar bagi UMKM.  Dengan minimal order 1 meter,  UMKM  bisa request desain kain sesuai keinginan customer

Ada yang menarik perhatian di event  BNI Syariah International Expo 2018  September lalu di Jakarta Convention Center (JCC) .  Sebuah  booth  yang space nya minimalis tapi banyak ‘emak-emak’ ramai berkunjung  kesitu.  Tengok punya tengok, di booth ini menjual   ragam kerudung (hijab-red)  berbahan polyester dengan berbagai motif dan warna .

Kerudung penutup kepala yang kerap dipakai  muslimah  adalah kerudung yang menutup bagian tubuh dari kepala, leher hingga dada.   Sejatinya  dalam memilih kerudung para perempuan muslim mencari kerudung yang nyaman dipakai, kainnya tidak panas dengan motif-motif desainnya  yang keren. Namun, belakangan ini muncul  tren baru di industri fesyen muslim di tanah air, yakni Hijab Printing.

Koleksi Hijab Kainkain. (Foto: Deni Kosasih)

Hijab printing, berbeda dengan hijab-hijab sebelumnya yang beredar di pasar grosiran.  Harganya relatif lebih mahal karena  motif-motif nya yang customize dan proses pembuatannya menggunakan mesin printer, khusus  untuk kain berbahan polyester.

Tak heran bila saat ini semakin banyak  pelaku bisnis UMKM –usaha mikro kecil dan menengah—yang sukses mencari peruntungan di bisnis hijab printing.

Salah satu produsen hijab printing yang merangkul UMKM  adalah CV Niagara Indah Busana (NIB). Melalui brand Kainkain,  Perusahaan besutan  Agnes Novella yang memiliki latar belakang dari industri garmen dan Deni Kosasih yang memiliki latarbelakang di bidang fotografi ini membangun sistem pemasaran direct selling dengan menjual paket  usaha yang sederhana. Cukup membeli  paket  Kainkain print on demand sebanyak 25 pcs hijab/scraf , pengusaha UMKM sudah bisa memulai bisnisnya  menjual hijab/scrab dengan motif sesuai keinginan.

Dalam hal ini, Kainkain menawarkan 3  paket usaha, yakni Paket UMKM 1 dengan investasi  mulai  Rp 2,6 juta, Paket  UMKM 2 dengan nllai investasi mulai Rp 9,5 juta dan Paket UMKM  3 dengan nilai investasi  hingga Rp 50 juta.  “Kainkain  baru  dibangun tahun 2017 lalu,”kata Deni selaku Co-Founder Kainkain.

Teknik Sublimasi mengikat tinta menghasilkan warna yang lebih jelas dan tahan lama (Foto: Deni Kosasih)

Sebenarnya  diawal  berdiri di tahun 2016, NIB lebih dulu  memproduksi  hijab dan sportsware muslimah bermerek  Attiqahijab .  Menyasar  segmen  wanita muslim, NIB  berkreasi menghasilkan beragam model  sportsware muslimah  dengan menggunakan  material bahan stretch,  spandex dan lain-lain.

Kreatifitas dalam berinovasi produk dan  sistem pemasaran yang hampir 100% melalui online,   jadi andalan Agnes dan Deni dalam memasarkan produk-produk NIB.  Tak pelak, dalam kurun waktu satu tahun  Attiqahijab dengan mulus berhasil melakukan penetrasi pasar.   Tak hanya memproduksi hijab dan pakaian olahraga wanita, tapi NIB juga menerima pesanan baju-baju jersey seperti kaos bola dan kaos bulutangkis.”Kami juga mulai merambah membuat mukenah,”tutur Founder In ‘N Out Studio and VideoBar ini.

Tak pelak,  dengan membidik kelas menengah atas,  brand  Attiqahijab   semakin  dikenal  pasar.  Dengan harga jual yang terjangkau di kelas menengah atas, produk -produk hijab dan sportsware muslimah NIB  masuk ke online shopping dan sedikit didorong dengan aktifitas below the line seperti berpromosi lewat ajang pameran fesyen dan  moeslim festival (moefes).

Berjalan parallel, selain memasarkan  Attiqahijab, NIB pun mulai atraktif menawarkan  produk melalui jalur business to business (B2B) dengan paket-paket usaha  untuk segmen UMKM.  Deni berharap dapat sukses melakukan penetrasi pasar  untuk segmen bisnisnya,   dengan mengusung konsep Digital Textile Printing (DTP)  atau yang belakangan muncul juga istilah Digital To Garment (DTG).

DTP maupun DTG sama-sama  melalui proses produksi yang disebut Teknik Sublimasi yang sedang menjadi tren di industri tekstil dan garmen di tanah air dalam 5 tahun terakhir ini.

Teknik sublimasi  atau teknik sablon sublimasi  adalah inovasi sablon digital yang mulai banyak digunakan dalam industri garmen dan pakaian di Indonesia. Sekarang sablon sublimasi tak hanya dapat dilihat pada kaos-kaos jersey sepakbola, jersey sepeda, jersey motorcross dan atau jersey olahraga lain pada umumnya. Tapi teknik juga berkembang ke pakaian jadi yang lain seperti kerudung, pakaian wanita, mukenah, sampai untuk sepatu dan tas.

Mengutip salah satu blog di internet, pengertian sablon sublimasi sendiri  adalah proses memindahkan gambar dari kertas ke bahan kain dengan bantuan heat press. Proses pencetakan ini menggunakan printer dan tinta khusus sublimasi.

Tinta sublimasi adalah tinta waterbased yang memiliki sifat sensitif terhadap suhu dimana tinta akan berubah menjadi gas dibawah pengaruh suhu tinggi. Tinta ini tidak langsung dicetak pada bahan kain melainkan melalui perantaraan kertas atau transfer paper. Dengan aplikasi suhu dan tekanan tinta sublimasi akan menyerap ke dalam serat kain dan menyatu dengan material kain, sehingga tidak menghasilkan tekstur timbul ketika dipegang. Jadi yang memindahkan gambar ke kain tetap tintanya, peran kertas disini hanya sebagai perantara untuk menampung tinta hasil cetakan dan memindahkannya ke kain atau media cetak. Hasil sablon sublimasi sangat baik dimana seluruh detail warna akan terlihat di bahan kain, tahan lama dan tidak akan luntur.

Teknik sublimasi ini pertama dipopulerkan oleh merek-merek asal Jepang. Uniknya, dengan mesin printer sublimasi ini dapat mencetak dengan jumlah yang sedikit. Kalau dulu, untuk mencetak 1 motif kain setidaknya minimal order  5-10 ribu yard. Tapi  dengan teknologi sublimasi,  bisa melayani dalam kuantiti kecil, kini  1 meter pun dapat dilayani dengan harga yang terjangkau dan kita bisa pilih motif sesuai selera.”Tapi teknik sublimasi tidak bisa dengan kain yang 100% katun. Masih harus menggunakan kain polyester karena dapat mengikat  tinta yang menghasilkan warna yang lebih jelas dan tahan lama,”ungkap pria 40 tahun ini yang memasang harga cetak kainnya Rp 90 ribu/meter.

Banyak yang menganggap menggunakan kain polyester tidak adem? Menurut Deni, sejauh ini produknya banyak diminati pasar meski harga jualnya terbilang tidak murah. Dan teknologi sublimasi ini ternyata selain membuat desain warna yang dihasilkan lebih terang, tetapi kondisi kain juga tetap membuat para wanita yang memakainya nyaman. “Harga eceran hijab kami  sekitar Rp 120 ribu, masih cukup terjangkau,”aku Dani.

Kenapa agak mahal? Karena produksinya bisa minimal order dan dapat mencetak kain dengan desain motif sesuai selera customer. Untuk itu, NIB menawarkan konsep kerjasama B2B untuk siapa  saja yang ingin memulai usaha dengan kreatifitas yang maksimal. “Bisnis ini cocok untuk mengakomodasi industri rumahan yang menjual kuantiti kecil,”terang Deni yang memberi ciri bagi produk yang dihasilkan dari segi desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Proses Pemesanan dari custom desain sampai jahit. (Foto: Deni Kosasih)

Seiring dengan tren yang berkembang, Agnes dan Deni pun mencoba cara  lain untuk mengembangkan bisnisnya. Yakni  menawarkan business opportunity bagi siapa saja yang mau  berkreasi di bisnis garmen.   Lebih jelasnya, NIB menawarkan produk dan jasa one stop solution. Mulai order bahan kain dengan sederet jenis kain polyester seperti maxmara, balotelli, satin silk, buble crepe dan masih banyak lagi ragamnya. “Customer bisa bawa kain sendiri atau beli langsung kepada kami. Setelah itu pilih desain sesuai selera bahkan boleh desain sendiri, nanti kami  cetak dengan tinta ramah lingkungan (tinta bersertifikat Oeko-Tex 100-red).  Setelah cetak, bisa pakai jasa jahit dari kami juga atau mau jahit sendiri. Semua pesanan tidak ada minimal order.  Kami melayani cetak kain mulai 1 meter hingga  roll-to-roll. Semuanya dibuat simpel,”jelas owner Thematic Studio  Noble Portraiture di Bandung ini.

Diakuinya saat ini kontribusi terbesar sekitar 70-80% berasal dari produk jadi seperti kerudung/hijab. Namun, produk sportswear dan kaos jersey tak kalah  memiliki prospek yang bagus dengan melihat animo pasar yang meliriknya. Sedangkan produk mukenah yang menyasar pasar menengah atas baru dipelajari dan sedang dijajaki potensinya. “Untuk mukenah kami jual mulai harga Rp 200 ribu,”jelas Bachelor, Media Studies, Motion Graphic and Multimedia, Columbus College of Art and Design, USA ini.

Untuk produk hijab printingnya memang yang paling baik diterima pasar. Terbukti dalam setiap event pameran yang diikuti NIB di beberapa kesempatan. “Sasaran kami merangkul UMKM (home industry). Ada customer yang belanja sampai 500 helai hingga senilai hampir Rp 50 juta. Bisnis hijab printing ini prospeknya masih bagus ke depannya,”tukas Deni yang menyebutkan volume penjualan produk DTG nya saat ini rata-rata mencapai 7000 – 8000 meter/bulan.

Ia yakin bisnis digital tekstil printing maupun digital to garment  masih akan terus booming di tanah air, khususnya di pasar pakaian muslim seperti hijab dan gamis. Dan tak menutup kemungkinan merambah ke produk-produk jadi yang lain seperti sepatu, tas, sprei, jaket dan lain-lain.[]Siti Ruslina