Kontrak Logistik Dongkrak Performance Pos Logistics

Meski menangani kegiatan logistik terintegrasi, namun Pos Logistics memiliki  core competence di bidang warehouse dan distribusi. Dengan mengemas kontrak logistik, membuat perusahaan bertumbuh di atas 20% sejak tiga tahun terakhir.

Perubahan teknologi informasi yang sangat pesat, membawa implikasi gaya berkomunikasi. Gaya komunikasi melalui surat kini ditinggal masyarakat. Dengan menggunakan smartphone, misalnya, aktivitas komunikasi jauh lebih praktis tanpa kertas.

Tak urung, PT Pos Indonesia yang berdiri 272 tahun dengan  rentang operasi dari Sabang sampai Merauke, harus berpikir strategis jangka panjang. Bagaimana Pos Indonesia tetap ada, bukan hanya sekedar eksis, tapi memberikan nilai dalam layanannya kepada masyarakat.

Sejak enam tahun lalu, terjadi transformasi di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.  Transformasi di perusahaan-perusahaan pos dunia pun bukan sesuatu yang baru. Mungkin Pos Indonesia agak terlambat merespon perubahan itu. Pos Indonesia bertransformasi, salah satunya ke  logistik center.

Yuzon Erman (Foto: pelakubisnis.com)

Menurut Direktur Utama PT Pos Logistik Indonesia (Pos Logistics), Yuzon Erman,  transformasi yang dilakukan Pos Indonesia melalui anak perusahaan, yakni Pos Logistics. Pertanyaannya kenapa holding memutuskan membentuk Pos Logistics?

Fleksibel dan lebih adaptif dalam mengambil keputusan untuk bisa mengambil pasar dalam negeri. “Ini suatu pertimbangan yang realistis, supaya lebih  lincah dan cepat sebagai anak perusahaan Pos Indonesia,” kata Yuzon membuka percakapan kepada pelakubisnis.com, minggu keempat September lalu.

Walaupun Pos Indonesia masih menjalankan kegiatan bisnis logistik di sektor kurir, kata Yuzon, tapi Pos Logistics lebih fokus menjalankan core business logistic dengan lingkup lebih luas, seperti contract logistic, project logistic,  dan cargo ritel. “Kalau Pos Indonesia lebih fokus di kurir, sementara Pos Logistics lebih fokus ke logistik terintegrasi. Di sini ada warehouse, distribution , contrac logistic dan project logistic dan logistic ritel,” tambahnya.

Pria asal Sumatera Barat ini menambahkan, Pos Logistics sedikitnya ada enam core business yang ditangani, yaitu: contract logistic, project logistic, postal logistic, ritel cargo, freight forwarding dan e-commerce.

Menurutnya Yuzon, positioning Pos Logistics adalah memberi layanan terluas di seluruh Indonesia. Dan hal ini menjadi keunggulan Pos Logistics dibandingkan kompetitor lainnya. Apalagi ekosistem logistik yang dimiliki Pos Indonesia menjadi keunggulan kompetitif dan komperatif  perusahaan yang memiliki  4.367 kantor cabang dan 33.000 titik penjualan ini.

Boleh jadi Pos Logistics merupakan  satu-satunya pelaku bisnis logistik yang punya jaringan luas di seluruh pelosok Indonesia. Walaupun diakui, tidak seluruh jaringan Pos Indonesia dipergunakan Pos Logistics. Boleh jadi  jaringan di kota-kota besar yang dimanfaatkan anak usaha. Sementara   bila gunakan sampai tingkat kecamatan, mungkin sifatnya rural logistik. Dulu rural logistik ini tidak pernah kita dengar. Sekarang dengan berkembangnya Usaha Kecil Menengah (UKM), nama  rural logistik jadi terangkat. Pemain logistik konvensional bila ingin  bermain di rural logistik  tentunya mengalami kesulitan. Perlu investasi besar dan belum tentu mengoperasikan dengan optimal. Pos Indonesia sudah memiliki itu.

Namun demikian, kata Yuzon, berbicara logistik,  ada tiga yang menjadi kuncinya. Pertama, teknologi, kedua Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketiga bisnis proses. Ketiga hal tersebut dipenuhi secara optimal. Di sektor SDM, misalnya, 50% dipenuhi dari merekrut professional dari luar dan sisanya dari internal Pos Indonesia. “Kami juga mengadopsi teknologi-teknologi kegiatan logistik sebagai bisnis proses yang memiliki kualitas yang baik,” jelasnya.

Di sektor SDM, misalnya, manajemen Pos Logistics senantiasa melakukan peningkatan kompetensi SDM sesuai dengan kemajuan teknologi logistik yang kian pesat. Tahun lalu, umpamanya, mengirim karyawan untuk melakukan benchmark di beberapa negara tetangga. “Mereka juga melakukan training-training untuk meningkatkan kompetensi dibidang logistik,”  jelasnya.

Lebih lanjut ditambahkan, teknologi logistik tidak bisa digunakan secara parsial. Misalnya teknologi mengurus barang di gudang dan sebagainya. Pos Logistics membangun capabilities suatu korporasi yang sarat teknologi, dan menghilangkan manual proses supaya pekerjaan lebih optimal. Kemudian bisa mengintegrasikan teknologi tersebut kepada pihak-pihak customers. “Teknologi yang digunakan bisa terkoneksi langsung kepada pelanggan,” urainya lagi.

Sementara Pos Logistik, mempunyai visi end to end, mulai dari depan, tim komersial dan seluruh tim lainnya  menggunakan sistem reporting tanpa manual. Di mana data ditransfer dari komersial ke operasional  dilakukan dengan integrasi system to system, sudah paperless. Blue  print teknologi Pos Logistics ke depan sangat jelas. Setiap devisi atau direktorat, tidak ada yang tidak punya sistem. Setiap sistem merupakan alat kerja utama bagi setiap individu bekerja, sehingga manajemen punya output di atas platform teknologi.

Yuzon menambahkan teknologi menjadi backbone dalam bisnis logistik. Teknologi yang digunakan tidak hanya melahirkan efisien, tapi juga link langsung ke customers. “Perusahaan-perusahaan yang menjadi customers cukup happy dengan teknologi yang digunakan Pos logistik,” tandanya seraya menambahkan cukup besar dana yang dialokasikan untuk investasi teknologi, walaupun angkanya masih di bawah Rp 10 milyar.

Menurur Yuzon banyak proses yang dipangkas dalam rangka efisien dan meningkatkan value bagi costumers. Apalagi di era e–commerce saat ini. Customers tak perlu melakukan packaging. Jika telah terjadi transaksi via online, customers cukup menyampaikan nomor transaksinya, kemudian Pos Logistik akan memproses langsung datang ke customers.

Bila dulu isu teknologi logistik, kata Yuzon, lebih mengintegrasikan dari satu system ke system lainnya, tapi kini isunya sudah bergeser. Sekarang bagiamana mengoptimal proses. Misalnya proses penentuan jalur yang lebih cepat dan efisiensi dalam proses pengiriman. “Banyak sumber data yang bisa dimanfaatkan untuk hal itu, misalnya titik kordinat lokasi dan sebagainya,” tambahnya.

Yuzon menambahkan, dalam menentukan titik-titik distribusi tergantung  dengan market dan volume, sehingga titik-titik jaringan distribusi yang dibangun dapat optimal, sehingga bisa lebih efisien. “Kehadiran teknologi betul-betul bisa men-drive efisiensi,” katanya.

Sementara beberapa waktu lalu Presiden Indonesia Joko Widodo mengintruksikan kepada BUMN-BUMN untuk saling sinergi. Menurut Yuzon ini merupakan opportunity. Sejauh ini Pos Logistik suda melakukan sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Diperkirakan belanja logistik di BUMN mencapai 15% dari total belanja logistik nasional.

Lembaga konsultan internasional, Frost & Sullivan, memperkirakan industri logistik Indonesia akan tumbuh 15,4%. Bila pada 2015, market size industri transportasi logistik diperkirakan mencapai Rp 2.152 triliun, maka angka akan melesai mencapaiRp. 4.396 triliun pada tahun 2020. Pertumbuhan yang significant itu didorong oleh konsumsi penduduk, perbaikan infrastruktur serta investasi asing.

Tentunya antara harapan dan kenyataan pasti ada gap. Gap itu dari waktu ke waktu harus diperkecil. Ada dua faktor penyebab terjadinya gap. Pertama dari Sumber Daya Manusia (SDM) dan kedua cultural dari Badan Usaha Mimlik Negara (BUMN)  itu sendiri. Dulu BUMN sering dilihat sebagai perusahaan-perusahaaan yang terlambat bertransformasi dibandingkan swasta. Tapi sekarang tidak sedikit BUMN yang sangat inspiring dalam transformasi teknologi, seperti Telkom, Kerapa Api, Pertamina, Garuda  dan beberapa nama BUMN lain yang menginspirasi Pos Logistik.

Beberapa tahun terakhir Pos Logistik menangani kegiatan supply chain management (SCM) Pertamina Lubricant di wilayah Indonesia Bagian Timut. Tidak hanya itu, Pos Logistik pun menangani kegiatan logistic di Wijaya Karya (Wika) dan beberapa BUMN lainnya. Walaupun secara prosentasi, kata Yuzon, Pos Logistik masih sedikit menangani kegiatan logistik di BUMN.

Di Pertamina Lubricant ada permasalahan yang terkait dengan distribusi. Mereka tidak punya  feasibility yang berbasis teknologi. Misalnya pengelolaan operasional management di dalam gudang  atau transportasi ke luar dari gudang yang selama ini dilakukan secara manual. Pos Logistik menyediakan warehouse management system, management pergudangan berbasis teknologi. Ini menjadi pembungkus operasional yang ditawarkan Pos Logistics ke Pertamina Lubricant.

Bila dulu pendistribusian Pertamina Lubricant dikelola dengan cara yang kurang efisien, sehingga banyak order yang tereksekusi dengan lambat. Tapi dengan platform teknologi, dipastikan order akan lebih cepat tereksekusi.  Di mana saat barang (pelumas-red) ke luar pabrik, barang masih dalam container, maka stok barang gudang sudah bisa terbaca. Jadi, barang di gudang hanya transit dan langsung didistrubusikan. Dulu barang baru bisa di jual, setelah ready stock di gudang.

Sejauh ini Pos Logistics lebih fokus menggarap pasar contract logistic karena line ini lebih sustainable. Apalagi belakangan ini banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan outsourcing kegiatan logistik ke perusahaan logistik. Fenomena ini menjadi peluang yang perlu ditangkap. Apalagi core competence Pos Logistics lebih kuat di sektor warehouse dan distribution.

“Pertanyaannya sekarang, bagaimana menyakinkan perusahaan-perusahaan yang ingin meng-outsource kegiatan logistik kepada kami? Selling point nya kami mempunyai warehouse di seluruh Indonesia,” katanya sambil menambahkan dimana ada kantor pos, disitu ada Pos Logistics.

Hasilnya, kinerja Pos Logistics tumbuh signifikan. Pada tahun 2016 ke 2017 mengalami pertumbuhan 22% dengan angka Rp 430 milyar. “Bahkan di tahun berjalan ini, Pos logistics sampai Agustus 2018 tumbuh mencapai 28%. Proposal manajemen sampai akhir tahun ini di atas Rp 500 milyar,” lanjutnya sambil menambahkan semester pertama tahun ini revenue Pos Logistics mencapai Rp 363 milyar. Pencapaian itu sudah menembus angka psikologis.

Sumbangan terbesar dari kinerja Pos logistics itu, tambah Yuzon, disumbang dari contract logistic, menyusul di sektor project logistic dan ketiga postal logistik.

Menurut Yuzon, industri logistik di tahun 2019 akan jauh lebih baik dibandingkan tahun ini. Indikasinya karena infrastruktur jauh lebih baik. Di samping itu, beberapa komoditi yang terkait logistik harganya mulai meningkat. Harga minyak mulai bergerak naik “Terdepresiasinya rupiah terhadap dollar, menyebabkan industri dalam negeri berusaha meningkatkan ekspor, sehingga juga mempengaruhi peningkatan pertumbuhan logistik,” jelas Yuzon serius.[] Yuniman T Nurdin & Siti Ruslina