LPI Meningkat, Biaya Logistik Masih Tinggi

Bank Dunia Juli lalu merilis Logistic Performance Indexs (LPI) 2018. Indonesia naik 17 peringkat, dari peringkat 63 sebelumnya, menjadi peringkat 46 pada tahun ini. Kita jangan merasa cepat puas terhadap perbaikan peringkat itu. Perlu kerja keras untuk menekan biaya logistik.

Beberapa waktu lalu supply Chain Indonesia (SCI) bekerjasama dengan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan Asean Federation of Forwarders Association (AFFA) mengadakan survei sektor logistik  Indonesia 2017-2018. Survei dilakukan pada periode 15 Januari-28 Februari 2018, diikuti 548 pelaku usaha dan penyedia jasa logistik, pemilik barang, akademisi, birokrasi, pemerhati dan pihak terkait di bidang logistik.

Supply Chain Indonesia (SCI) mengapresiasi keberhasilan program pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah, termasuk dalam pengembangan pelabuhan. Hal itu sesuai dengan salah satu hasil jajak pendapat sektor logistik Indonesia Tahun 2017-2018.

Berdasarkan survei tersebut, 59,7% responden menyatakan kinerja sektor logistik pada 2017 secara umum lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.“Sebanyak 65,8% responden  menyatakan kinerja sektor logistik Indonesia pada 2018 secara umum akan lebih baik dibandingkan tahun lalu,” kata Ketua SCI Setijadi,  saat merilis hasil survei tersebut di Jakarta, April lalu,

gudang bisnis online lazada (kaskus.kaskus.co.id)

Menurut Setijadi, sebanyak 73,5% responden menilai kondisi infrastruktur secara umum sudah baik atau sangat baik dalam mendukung kinerja logistik pada 2017. Namun, 23,8% responden menyatakan kondisinya masih buruk atau sangat buruk. Sedangkan khusus infrastruktur kepelabuhanan, 70,2% responden menyatakan kondisi sudah baik atau sangat baik, sedangkan 25,4% menilai kondisinya masih buruk atau sangat buruk.

Penilaian positif juga diberikan mayoritas responden untuk infrastruktur jalan (72% menilai baik atau sangat baik), infrastruktur kereta api (63,3%), dan infrastruktur bandara (81,3%). Di mana Peningkatan kualitas infrastruktur terjadi hampir di semua moda, yakni jalan dari nilai 3,9 menjadi 4,1, kereta api dari 3,8 menjadi 4,2, pelabuhan dari 3,9 menjadi 4,0, dan bandara 4,5 menjadi 4,8.

Meski demikian, lanjut Setijadi, kualitas infrastruktur Indonesia masih di bawah Singapura yang berada di peringkat 2 global (nilai 6,5), Malaysia peringkat 22 (nilai 5,5), dan Thailand peringkat 43 (nilai 4,7).

Namun demikian, para pelaku logistik optimis bahwa peningkatan kinerja tahun 2017 akan terus berlanjut di tahun 2018 ini. Pelaku usaha logistik juga berharap pemerintah akan terus mengeluarkan kebijakan  yang semakin memudahkan dan mendukung para pelaku dan penyedia jasa logistik Indonesia.

Setijadi menambahkan, hasil perbaikan infrastruktur kepelabuhanan harus diikuti dengan peningkatan efektivitas dan efisiensi pengelolaan dan pelayanan kepelabuhanan. Salah satu upaya adalah proses digitalisasi kepelabuhanan.  Teknologi informasi harus digunakan dalam pengelolaan proses operasional pelabuhan yang sebelumnya dilakukan secara manual untuk mendukung kecepatan dan keakuratan proses, sebagaimana dikutip dari kontan.co.id.

Digitalisasi pelabuhan dilakukan sejak kapal akan merapat sampai barang ke luar pelabuhan. Bahkan, informasi rinci mengenai rencana kedatangan kapal berikut barang yang dimuat sebaiknya sudah diterima oleh pelabuhan tujuan sejak kapal berangkat dari pelabuhan asal, sehingga semua fasilitas dan proses lanjutan bisa dipersiapkan lebih awal.

“Digitalisasi pelabuhan mencakup port management, warehouse management, dan assets management. Digitalisasi ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan pelabuhan, yaitu ship servicescontainer services, dan cargo services,” lanjut Setijadi.

Kondisi infrastruktur yang membaik sejalan dengan laporan Global Competitiveness Index 2017-2018 dari World Economic Forum (WEF) terhadap kualitas infrastruktur Indonesia naik ke peringkat 68 dari peringkat 80 pada tahun 2016-2017.

Sementara berdasarkan Logistics Performance Index (LPI atau Indeks Performa Logistik) 2018 yang baru saja dikeluarkan Bank Dunia, posisi Indonesia mengalami kenaikan dari peringkat 63 menjadi 46. Lompatan positif ini sejalan dengan berbagai upaya perbaikan logistik termasuk gencarnya pembangunan infrastruktur.

Bank Dunia mengeluarkan laporan LPI secara berkala berdasarkan hasil survei kepada para profesional logistik di negara-negara wilayah operasinya. Seperti pada periode-periode sebelumnya. LPI  2018 dilakukan di 160 negara berdasarkan enam dimensi, yaitu: Customs, Infrastruktur, International ShipmentsLogistics CompetenceTracking & Tracing, dan Timelines.

Pada 2018, peringkat Indonesia meningkat ke posisi 46 dengan skor 3,15 atau naik 17 tingkat dari sebelumnya di posisi 63 dengan skor 2,98. Dari semua aspek penilaian LPI 2018, aspek kepabeanan meraih skor terendah sebesar 2,67. Sementara itu, aspek penilaian tertinggi adalah ketepatan waktu dengan skor 3,67. Aspek lainnya yaitu infrastruktur dengan skor 2,89, pengiriman barang internasional 3,23, kualitas dan kompetensi logistik 3,1, dan pencarian barang sebesar 3,3.

Namun berkaca pada hasil tersebut, di antara negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah dan berskala ekonomi besar, Indonesia sebenarnya masih berada di bawah negara Asia yang tegolong sejenis seperti India dengan peringkat 44 dan skor 3,18. Sedangkan dibandingkan dengan negara Asean, Vietnam berada di atas Indonesia dengan peringkat 39 dan skor 3,27.

“Indonesia tidak bisa berpuas diri atas peningkatan LPI-nya pada 2018. Perbaikan LPI negara-negara Asean lainnya yang lebih baik menunjukkan peningkatan dukungan logistik yang lebih tinggi terhadap daya saing produk dan komoditasnya,” kata Chairman SCI Setijadi, sebagaimana dikutp dari bisnis.com.

Data LPI 2018 menunjukkan Thailand naik 13 peringkat menjadi rangking 32, Vietnam merangsek ke posisi 39 setelah naik 25 peringkat, Filipina berada di posisi 60 setelah naik 11 peringkat, dan Laos naik 70 peringkat ke posisi 82.

Sementara itu, Singapura turun 2 peringkat ke rangking 7, Malaysia turun 9 peringkat ke posisi 41, Kamboja berada di rangking 98 setelah turun 25 peringkat, dan Myanmar turun 24 peringkat ke posisi 137.  Adapun Brunei berada di rangking 80. Pada 2016, negara di utara Kalimantan ini tidak termasuk negara yang disurvei.

Setijadi menuturkan peningkatan skor Indonesia terutama didukung oleh pertumbuhan dimensi pengiriman internasional (international shipments) sebesar 0,33 poin atau 11,4%, infrastruktur 0,25 poin atau 9,4%, dan ketepatan waktu (timeliness) sebesar 0,21 poin atau 6,1%.

Selanjutnya, dimensi pencarian barang (tracking/tracing) sebesar 0,11 poin atau 3,4% serta kualitas dan kompetensi logistik sebesar 0,1 poin atau 3,3%. “Sementara itu, dimensi kepabeanan mengalami penurunan 0,02 poin atau 0,7%,” sebutnya.

LPI 2018 menempatkan Jerman pada peringkat pertama dengan skor 4,20. Di antara negara-negara ASEAN, peringkat LPI 2018 tertinggi adalah Singapore (peringkat 7), diikuti Thailand (32), Vietnam (39), Malaysia (41), Indonesia (46), Philippines (60), Brunei (80), Lao PDR (82), Cambodia (98), dan Myanmar (137).Pada periode sebelumnya, yaitu tahun 2016, peringkat LPI tertinggi di antara negara-negara ASEAN adalah Singapore (peringkat 5), diikuti Malaysia (32), Thailand (45), Indonesia (63), Vietnam (64), Philippines (71), Cambodia (73), Lao PDR (152), dan Myanmar (113).

Berdasarkan analisis Supply Chain Indonesia (SCI) terhadap LPI 2016 dan 2018, yang mengalami peningkatan peringkat di antara negara-negara ASEAN adalah Thailand (naik 13 peringkat), Vietnam (25), Indonesia (17), Philippines (11), dan Lao PDR (70).

Sementara, yang mengalami penurunan peringkat adalah Singapore (turun 2 peringkat), Malaysia (9), Cambodia (25), dan Myanmar (24). Brunei tidak termasuk negara yang disurvei pada tahun 2016.Peningkatan LPI yang sangat drastis adalah Lao PDR, diikuti Thailand yang melewati Malaysia. Peringkat Vietnam meloncat melewati Malaysia dan Indonesia. Walaupun peringkat LPI Indonesia meningkat, peringkat Indonesia di antara negara-negara ASEAN justru turun dari peringkat 4 menjadi peringkat 5, sebagaimana yang dikutip dari analisa Chairman Supply Chain Indonesia, Setijadi, dari supplychainindonesia.com.

Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita menyebut kenaikan tersebut cukup menakjubkan. Meskipun masih kalah dengan negara tetangga seperti Thailand (peringkat 32), Vietnam (39), dan Malaysia (41). “Menurut saya kenaikan peringkat LPI Indonesia yang cukup menakjubkan karena faktor custom,  infrastruktur dan banyaknya deregulasi peraturan dari pemerintah untuk memperlancar aliran barang terutama ekspor dan impor,” katanya, sebagaimana dikutp dari bisnis.com, 25 Juli lalu.

Namun, Zaldy tetap mengingatkan raihan positif tersebut belum diimbangi dengan penurunan biaya logistik. Dalam catatan biaya logistik Indonesia mencapai 23,5% pada 2017, atau masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di Asean antara lain Vietnam (15%), Thailand (13,2%), Malaysia (13%) dan Singapura (8,1%).

Zaldy berharap naiknya peringkat LPI  diimbangi dengan penurunan biaya logistik. Biaya logistik Indonesia masih tinggi,” ujarnya.Dia berharap keberhasilannya itu bisa konsisten sehingga tidak naik turun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.[] Yuniman T Nurdin