Pertumbuhan Logistik Melesat, Biaya Logistik Perlu Ditekan

Frost & Sullivan, memperkirakan industri logistik Indonesia akan tumbuh 15,4% dengan nilai Rp.4396 triliun pada tahun 2020. Pertumbuhan yang significant itu didorong oleh konsumsi penduduk, perbaikan infrastruktur serta investasi asing.

Derasnya aliran modal diperkirakan akan mendorong kegiatan manufaktur di Indonesia dan meningkatkan permintaan logistik. Retail atau barang konsumsi harian dan jasa logistik suku cadang akan menjadi area fokus pertumbuhan. Bisnis yang terkait dengan forwarding ekspor/impor, pengiriman dan pengangkutan udara akan tetap kuat berkat kegiatan perdagangan eksternal yang berkelanjutan.

Sejauh ini bisnis logistik memiliki cakupan yang luas, sehingga peluangnya tetap besar. Pasalnya, production chain dalam industri ini sangat panjang dan luas. Bisnis logistik ini meliputi raw matterial distribution & collecting, warehousing, transporting to buyer (pedagang), hingga ke customer.

Di samping itu, perusahaan yang dulu melakukan kegiatan logistiknya sendiri, sekarang kegiatan logistiknya di-outcourcing (alihdaya) ke perusahaan logistik. Ini yang turut mendorong pertumbuhan logistik di Indonesia. Dulu hanya perusahaan-perusahaan asing saja yang melakukan alihdaya kegiatan logistiknya, sekarang mulai banyak perusahaan lokal meng-outsource kegiatan logistik.

Sementara pertumbuhan market logistik tidak hanya di Jakarta saja, bahkan di luar Jakarta pertumbuhan logistik luar biasa besar. Ditambah lagi ,dengan menjamurnya minimarket yang mulai banyak membangun distribution center. Ada dua hal penyebab pertumbuhan pasar logistik di Indonesia, pertama pertumbuhan secara fisik dan kedua dari sisi jarak pendistribusian barang. Dari dua hal tersebut menyebabkan bisnis logistik menjadi besar.

Investasi asing juga membuat bisnis logistik kian deras setelah daftar negatif investasi (DNI) dilonggarkan di mana investor asing kini boleh memiliki saham hingga 67%. Perkembangan e-commerce dan infrastruktur juga dipercaya bakal menunjang bisnis logistik.

Tidak hanya itu, awal September lalu   Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat Indonesia di level layak investasi (Investment Grade) . Dalam siaran persnya, Fitch memberikan afirmasi atas Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB/outlook stabil.

Beberapa faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut, yaitu beban utang pemerintah yang relatif rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik di tengah tantangan sektor eksternal yang antara lain berasal dari tingginya ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal serta indikator struktural lainnya yang masih di bawah negara peers.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan, afirmasi rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil merupakan cerminan keyakinan lembaga rating atas perekonomian Indonesia. Komitmen yang kuat dalam menjaga stabilitas dan memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut mencerminkan kebijakan otoritas yang kredibel.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan beban utang Pemerintah dinilai lebih baik dibandingkan dengan negara peers. Pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,2% pada 2019 dan 5,3% pada 2020 dengan didukung oleh belanja infrastruktur publik yang berkelanjutan. Sementara tingkat utang pemerintah juga lebih baik dari median (nilai tengah) utang negara peers.

Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM mencatat, total nilai realisasi investasi yang masuk dalam periode Januari-Juni 2018 telah mencapai Rp361,6 triliun. Sejumlah kendala pun masih dihadapi saat ini.  Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis menjelaskan, salah satu masalah yang dihadapi masih berkutat pada koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hal kemudahan perizinan investasi.

Arus masuk investasi portofolio semester I/ 2018 tercatat mengalami  minus 1,1%. Sebagai catatan, pertumbuhan investasi portofolio sepanjang tahun lalu mencapai 20,6%. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengungkapkan pertumbuhan yang minus ini disebabkan oleh pembalikan arus investasi global sejak awal Februari akibat dari normalisasi suku bunga di AS. “Pembalikan tidak hanya dialami Indonesia, tetapi semua emerging market,” ujar Mirza dalam rapat kerja Komisi XI, 10/9 lalu.

Namun, dia yakin ke depan pertumbuhan investasi langsung akan kembali tumbuh lebih baik seiring dengan upaya pemerintah terus mengundang investasi asing langsung untuk masuk. Salah satunya, upaya pengembangan Online Single Submission (OSS), sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Di samping itu, dana pembangunan infrastruktur angkanya sangat tinggi. Pemerintahan Jokowi-JK membutuhkan dana lebih dari Rp 5.000 triliun untuk pembangunan infrastruktur selama lima tahun. Dalam RPJMN 2015-2019, pemerintah butuh anggaran sekitar Rp 5.519 triliun. Anggaran yang besar itu tidak bisa hanya mengandalkan uang negara atau APBN. Pemerintah butuh dukungan pembiayaan dari swasta, termasuk dari luar negeri, dan juga melalui BUMN.

Berdasarkan data Bappenas, sumber pendanaan berasal dari APBN hanya 40,14% atau sebesar Rp 2.215 triliun. Sebesar 9,88% dari APBD atau senilai Rp 543 triliun. Sedangkan dukungan swasta diharapkan sekitar 30,66% atau senilai Rp 1.690 triliun dan 19,32% (Rp 1.060 triliun) dari peran BUMN.

Massif-nya pembangunan infrastruktur tersebut, menjadi salah satu yang memberi kontribusi membengkaknya market size logistik. Disinyalir pembangunan infrastruktur di Indonesia akan terus berlanjut sampai RPJMN 2020 – 2025 mendatang.

Berdasarkan penelitian Armstrong & Associates, Indonesia menjadi negara dengan persentase Logistics Costs terhadap GDP terbesar di dunia meskipun dari tahun 2013 ke 2015 terjadi penurunan dari 27% menjadi 24% namun masih tingginya angka Logistics Costs to GDP Indonesia menyebabkan daya saing Indonesia semakin turun. Daya saing global Indonesia menempati peringkat 41 dari 138 negara, namun dalam hal kualitas infrastruktur Indonesia menempati peringkat 60 dari 138 negara dan Logistic Performance Index (LPI) Indonesia masih rendah, sebagaimana dikutp dari djkn.kemenkeu.go.id.

Sementara berdasarkan keterangan lembaga konsultan internasional, Frost & Sullivan, memperkirakan industri logistik Indonesia akan tumbuh 15,4% dengan nilai Rp. 4396 triliun pada tahun 2020. Pertumbuhan yang signifikan itu didorong oleh konsumsi penduduk, perbaikan infrastruktur serta investasi asing.

Bila pada 2015, market size industri transportasi logistik diperkirakan mencapai Rp 2.152 triliun, maka menurut Gopal angka ini akan meningkat sekitar 15,4%, sehingga nilai pasar sektor ini melesat dikisaran angka Rp 4.396,54 triliun.

“Pertumbuhan ekonomi dari tingginya konsumsi penduduk Indonesia, khususnya dari sektor e-commerce terus berkembang. Tingkat konsumsi sekitar 61% populasi perkotaan akan meningkat, sehingga industri berkembang, termasuk logistik,” kata Vice President Global Frost & Sullivan, Gopal R, dalam siaran pers, minggu pertama Mei lalu.

 

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) ‎memperkirakan pertumbuhan pasar logistik di Indonesia bisa mencapai 10 persen di tahun ini. Sedangkan pada 2019 berada di kisaran 10-12 persen. Sedangkan lima tahun ke depan, pertumbuhannya tidak jauh berbeda masih sekitar 12 persen.

Hal senada pun diakui Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita. Ia memperkirakan tahun ini bisnis logistik di dalam negeri bakal menyentuh 10 persen. Pertumbuhan yang moderat itu bakal ditopang oleh perkembangan e-commerce dan pembangunan infrastruktur. “Kami yakin pertumbuhan masih bisa di atas 10 persen,” ujar dia di Jakarta.

Secara umum, kata Zaldy, jika dibandingkan dengan tahun lalu, bisnis logistik tumbuh sekitar 10%-12% pada semester I-2018. “Semester I ini cukup baik, pertumbuhan kurang lebih 10%-12% dari tahun lalu. Ya, Lebaran sebagai faktor utama,” kata Zaldy, sebagaimana dikutip dari dari kontan.co.id.

Ia menjelaskan, ada kenaikan sekitar 30% saat momen Lebaran dibandingkan hari normal. Sedangkan untuk target pertumbuhan pada tahun 2018, ia memprediksi logistik bisa tumbuh 12% dibandingkan dengan tahun 2017.

Sementara konsumsi kelas menengah yang terus meningkat, menjadi kontribusi yang turun membengkaknya pasar logistik di sini. Bahkan boleh jadi kini pasar industri logistik nasional sangat besar. Indonesia memiliki 17.500 pulau yang tersebar, penduduk sebesar 262 juta jiwa dengan pengguna aktif internet 143 juta jiwa. Fenomena ini mendorong maju pesat di Indonesia.

Menurut Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemenkominfo, Ahmad Ramli  industri logistik kini mengalami perubahan. Dulu industri logistik dikuasai oleh pengiriman besar yang dilakukan perusahaan. Namun sekarang pengiriman secara individu melonjak sejalan dengan pesatnya perkembangan toko daring, sebagaimana dikutip dari republika.co.id.

Berdasarkan data, jumlah kelas menengah di Indonesia kini mencapai 40 juta jiwa. Angka itu terus meningkat, diprediksi bisa menembus angka 200 juta jiwa pada tahun 2045. Kelas menengah ini yang menjadi pendorong tumbuhnya bisnis e-commerce di Indonesia

Kini tak heran bila pengguna smartphone di Indonesia mencapai 100 juta jiwa. Suatu angkah yang sangat besar! Instrumen itu merupakan salah satu piranti belanja e-commerce. Menurut prediksi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), nilai transaksi e-commerce tahun 2018 ini mencapai Rp. 100 trilun. “Nilai transaksi e-commerce itu diperkirakan tahun depan akan menembus Rp100 triliun. Ini berkaca dari 2016, yaitu Rp75 triliun dari data Bank Indonesia, kita memprediksikan akan dapat tumbuh sampai Rp100 triliun. Kalau 2017 sekitar Rp85 triliun,” jelas ekonom Indef, Bhima Yudistira, sebagaimana yang dikutif dari website Media Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Kemenko Perekonomian dan Ernst & Young pernah bekerjasama membuat kajian mengenai bisnis e-commerce di Indonesia. Bisnis e-commerce diperkirakan akan meningkat 10 kali lipat pada 2020. Tidak main-main, nilainya diperkirakan bisa mencapai 130 miliar dolar AS atau setara Rp 1.800 triliun.

Angka yang sangat besar untuk menjadi potensi pertumbuhan industri logistik nasional. “Ini potensi besar bagi usaha logistik nasional, karena e-commerce berhasil jika didukung logistik yang kuat,” ujar Ahmad Ramli di Jakarta.

Lebih lanjut ditambahkan, pembangunan nasional saat ini juga mendukung potensi bisnis e-commerce. Pemerintah bekerja keras membangun berbagai infrastuktur seperti jalan, bandara, dan pelabuhan yang akan memperlancar arus transportasi serta logistik.

Menurut Chief Executive KIBAR Yansen Kamto yang dikutip dari detik.com, setelah e-commerce dan fintech berkembang, selanjutnya logistik. Tahun lalu, sektor ini belum tergarap sepenuhnya, tapi diprediksi 2018 akan melaju kencang. “Orang-orang sudah menyadari, mau e-Commerce atau e-Payment sebaik apapun, kalau kirim barang di Jawa saja ribet, apa lagi kirim ke Kalimantan atau Papua. Itu yang harus diberesin,” katanya.

Lebih lanjut ditambahkan, akan terbuka peluang bagi perusahan ekspedisi lokal yang ada di daerah. Karena muncul startup yang akan meng-agregat mereka. “Di daerah itu banyak lho ekspedisi lokal yang kecil-kecil, mereka bisa bergerak lebih cepat. Harga jauh lebih murah dan jangkauan lebih luas,” ungkap Yansen.

Nofrisel, mewakili Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) dalam diskusi Power Lunch milik TruckMagz bertajuk Indonesia Transportation and Logistics Outlook 2018, Klub Kelapa Gading, Jakarta Utara,akhir November tahun lalu mentakan,  beragam hasil riset menunjukan proyeksi bisnis logistik tahun 2018 masih menjanjikan dengan nilai pertumbuhan mencapai 14,5%. Indikator lain terlihat dari  produsen truk yang sekarang perlahan mengalihkan penjualannya ke sektor logistik, sebagaimana dikutip dari truckmagz.com.

“Kadin memberi apresiasi pemerintah terhadap paket lima kebijakan ekonomi terkait logistik yang sudah terbit . Hanya saja dari sisi eksekusi masih lemah. Kita  melihat pendekatan parsial oleh pemerintah menjadi pangkal masalahnya,” tutur Nofrisel. Ia pun menyayangkan isu logistik nasional sudah dibahas 10 tahun terakhir namun belum juga ada kemajuan.

Sementara itu, di bisnis kurir diprediksi akan terus bertumbuh seiring pertumbuhan e-commerce yang naik rata-rata 30% per tahunnya. “Ini tak lain karena perilaku berbelanja masyarakat sudah banyak beralih ke online. Apalagi masalah kemacetan di kota-kota besar membuat masyarakat malas keluar rumah, akhir lebih memilih menggunakan kurir,” kata Muhammad Feriadi, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo).

Perkiraan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yuki Nugrahawan Hanafi. Ia memprediksi bisnis logistik bisa tumbuh hingga 10,4 persen. Pertumbuhan yang diperkirakannya itu bahkan lebih tinggi daripada tahun lalu yang hanya 7 hingga 8 persen.

Namun, Yuki menambahkan, untuk mewujudkan pertumbuhan itu banyak hal yang perlu dibenahi. Ia menyebutkan Indonesia masih mempunyai pekerjaan rumah untuk menurunkan biaya logistik. Biaya logistik di dalam negeri masih terbilang tinggi, yakni 23,7 persen terhadap GDP. Bahkan porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen dari harga ritel barang.

Tingginya biaya logistik  akan mempengaruhi daya saing pelaku usaha. Dan bukan tidak mungkin menjadi salah satu penghambat investor asing masuk ke Indonesia.  [] Yuniman T Nurdin/foto istimea