MAK, Dari Garasi Menembus ekspor 40 Negara

Dari sebuah bengkel kecil, MAK mampu mentransformasi menjadi perusahaan alat-alat kesehatan (furniture rumah sakit) terbesar di Asia Tenggara. Produk-produknya mampu menembus 40 negara di dunia.

PT Mega Andalan Kalasan  (MAK) makin kinclong. Kinerja ekspornya makin  cemerlang. Awal November lalu, misalnya, MAK melakukan peresmian EOP (Export Oriented Production) Plant yang diresmikan Menteri Kesehatan RI, sekaligus pelepasan ekspor kelima negara meliputi Jepang, Tanzania, Australia, Myanmar, dan  Filipina.

Sejak 2015 MAK memasuki pasar ekspor dan hingga saat ini telah berhasil melakukan ekspor ke lebih dari 40 negara meliputi Eropa, Afrika, Middle East, Jepang, ASEAN, Australia, New Zealand, dengan 5 tujuan export utama: Jepang, Uni Emirat Arab (UAE), Perancis, Myanmar dan Tanzania.

Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek, menandatangani prasasti, peresmian Export Oriented Production MAK, foto: Doc: MAK

Menurut Export Marketing Manager MAK, E. Dwi Etnawati, ekspor kelima negara tersebut berjumlah 10 kontainer dengan tujuan ke Jepang 5 kontainer,  Tanzania 2 kontainer, ke Australia container perdana MAK dan Myanmar dan Filipina masing-masing satu container. “Sebenarnya ada penambahan order, sehingga memerlukan tambahan waktu, yaitu ke New Zealand, UEA dan Qatar,” katanya kepada pelakubisnis.com di sela-sela Trade Expor Indonesia 2018, minggu keempat Oktober lalu.

Khusus ekspor ke Jepang telah dimulai sejak 2013, total ekspor  mencapai kontainer ke 547 atau setara dengan 49.289 Unit Homecare Bed dengan total 2 ekspor sebesar USD 10 juta selama lima tahun. Upaya mengantisipasi peningkatan ekspor ke Jepang yang dari tahun ke tahun terus meningkat, MAK membangun pabrik khusus tujuan ekspor (Export Oriented Production Plant, EOP) dengan kapasitas 10 kontainer/minggu atau 500 kontainer/tahun dengan nilai sekitar USD 10 juta, yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2020.

Sebelum dibangun EOP, kapasitas produksi MAK hanya sekitar 4 kontainer perminggu. Dengan dibangunnya EOP, kata Dwi Etnawati, pabrik  lama tidak digunakan lagi karena seluruh produksi difokuskan ke pabrik baru. “Pabrik baru ini ada improvement quality, karena orang Jepang sangat ketat masalah kualitas,” ujarnya seraya menambahkan ini merupakan komitmen MAK untuk maintenance quality dan menaikkan kapasitas.

Lebih lanjut ditambahkan karena MAK ekspor ke Jepang, mau tidak mau harus mengikuti standar negeri Sakura tersebut. Bahkan baru-baru  ini MAK melakukan kerjasama memproduksi tempat tidur yang diperuntukkan para manula, bernam Tasomak. “Peresmian pabrik EOP, pihak Jepang datang, menyaksikan ekspor perdana produk baru tersebut,” tambahnya. Apalagi para manula di Jepang jumlahnya semakin meningkat. Ini  membuat ekspor MAK optimis meningkat ke Jepang.

Ada beberapa pertimbangan, kata Dwi Etnawati, mengapa Jepang memilih MAK. Dulunya Jepang ber-partner bisnis dengan  Thaiwan, kemudian Malaysia. MAK bisa mengalihkan dari Malaysia ke Indonesia. Memang MAK agresif mengadakan pendekatan dengan buyer dari Jepang. Selain itu, MAK menggunakan robot dan mesin-mesin yang canggih. “Kebetulan kita mempunyai engineering yang hebat, karena bisa mendesain secara customize,” tambahnya. Di mana presisi produk  harus tetap. Kurang 1 mm saja akan jadi masalah. Buyer Jepang benar-benar customize.

Tidak hanya itu, tambah Dwi Etnawati, yang membuat MAK lebih kompetitif di pasar karena seluruh proses produksi dilakukan satu atap di pabrik MAK. Kandungan lokalnya sangat tinggi. Hanya ada satu komponen, yaitu motor penggerak yang diimpor dari Denmark. “Dengan proses produksi satu atap, membuat waktu produksi lebih cepat,” tambahnya. Itu membuat delivery MAK tepat waktu.

Kalau produk bisa masuk Jepang, jelas Dwi Etnawati, kualitasnya pasti bagus. Selain itu, service-nya harus cepat. Setiap ada komplein harus diselesaikan secara cepat. “Bahkan, handphone saya ini standby 24 jam untuk mengantisipasi bila ada komplein dari pihak buyer.

Pihak MAK pun agresif melakukan penetrasi pasar ekspor. Berbagai pameran alat-alat kesehatan internasional, menjadi salah ajang memperkenalkan proruk-produk MAK. “MAK selalu mengikuti pameran alat-alat kesehatan internasional di luar negeri. Pada 12 – 15 November ini, MAK mengikuti World Forum for Medicine Internasional Trade Fair with Congress Messe Dusseldorf, Germany,” lanjutnya. Biasanya yang membeli dari Prancis, Bulgaria, Rumania dan banyak lagi negara Eropa lainnya.

Kunci keberhasilan MAK dalam meningkatkan ekspor secara berkelanjutan tidak lepas dari upaya terus menerus dilakukan (continuous improvement) dalam meningkatkan nilai-nilai Quality, Cost dan  Delivery (QCD) untuk menjamin kepuasan pelanggan. Kualitas yang sesuai harapan konsumen, harga yang kompetitif, dan pengiriman tepat waktu menjadi keunggulan utama  yang dilakukan MAK. Untuk menjamin kualitas produk MAK melakukan uji produk di Laboratorium MAK yang telah disertifikasi oleh KAN serta menjaga GMP (Good Manufacturing Practice) dengan menerapkan Management Information System atau Industri 4.0 sejak 2013.

Dwi Etnawati menambahkan, pertumbuhan pasar ekspor dari waktu ke waktu terus meningkat. Peningkatan itu  menyebabkan pada 2016 dan 2017 MAK mendapat pengharga Primaniyarta. Penghargaan tersebut merupakan apreasiasi pemerintah bahwa MAK dinilai berhasil melakukan penetrasi pasar ekspor yang cukup signifikan.

Export Marketing Manager MAK, E. Dwi Etnawati, saat menjaga stan MAK di TEI 2018, foto: Lina/pelakubisnis.com

Sampai saat ini kontribusi pasar ekspor MAK mencapai 25% dari total produksi. Sisanya  terdistribusi di pasar domestik. Lebih dari 2000 rumah sakit di seluruh Indonesia telah menggunakan produk-produk MAK

Perusahaan ini memproduksi alat-alat kesehatan, seperti beds, examination, operation, transfer solution, cabinet & locker, room accessories, trolley, dan  waiting room. Sedikitnya ada 200 model/tipe produk-produk yang diproduksi MAK. Perusahaan ini awalnya sebagai perusahaan pembuat bemper truk. Sejak 1998 bertranformasi menjadi produsen peralatan rumah sakit.

Sejarah berdirinya MAK tak bisa dilepaskan dari sosok nyentrik bernama Buntoro. Ia merantau ke Jakarta dari Purbalingga sejak SMA, lalu kuliah di Universitas Trisakti mengambil jurusan Tekno Elektro dengan baik, menunaikan skripsi, namun menolak ikut sidang. Saat itu ia percaya bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh gelar sarjana. Setelah selesai kewajiban kuliah, pada 1984, Buntoro diajak kawan lamanya bergabung mendirikan usaha produksi bumper mobil. Buntoro dan lima kawan: Hendy Rianto, Budi Atmoko, Rianto, Panggih Suwito serta Haryono bergerak bersama dalam PT Mega Adi Karsa (MAK), yang kini bernama PT Mega Andalan Kalasan dengan modal awal hasil saweran sebesar 80 juta. Hendy dan Rianto adalah teman sejak di Purbalingga. Sementara lainnya, adalah kawan Rianto sesama alumni Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo,  sebagaimana dikutip dari http://itjen.kemenperin.go.id.

Industri karoseri pada medio akhir pemerintahan Soeharto tengah mulai bersinar. Bumper MAK laris manis dibeli perusahaan karoseri besar seperti Adiputro Wirajati dan New Armada. Pada masa itu, mereka mampu memproduksi 2.000 bumper per bulan. Saat sedang semangat-semangatnya MAK bertumbuh, pada 1987 Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) seperti Astra International dan Indomobil meluncurkan produk otomotif baru dengan inovasi teknologi full pressed body. Ceruk pasar bumper menurun drastis. Tak ada lagi bumper terpisah. Semuanya Completely Build Up. Fenomena ini memukul MAK dan juga ratusan industri karoseri lainnya.

Seperti dituturkan Teguh Sri Pambudi dalam Never Ending Journey, menilai kejatuhan industri karoseri saat itu disebabkan oleh struktur industri otomotif nasional yang penuh monopoli dan menyebabkan ATPM yang diproteksi pemerintah dapat memaksakan teknologi full pressed body. Namun, terlambat menyadari perubahan lingkungan bisnis juga suatu kesalahan dan kekalahan besar PT Mega Adi Karsa. Tak seberapa lama PT Mega Adi Karsa mulai sekarat karena menanggung beban hutang yang tidak sedikit.

Pada  1988 pendiri MAK menyadari permasalahan bahwa Indonesia membutuhkan tempat tidur rumah sakit berkualitas tinggi, dengan harga yang lebih terjangkau, yang mampu menangani kondisi rumah sakit di Indonesia. Berbekal kompetensi di bidang teknologi mekanik, MAK hadir memberikan solusi kebutuhan tersebut.

Pada 1988, MAK mendapat pesanan sebanyak 50 tempat tidur senilai 50 juta dari Puskes ABRI untuk RS dr. Ramelan. Belakangan, Buntoro tahu bahwa Puskes ABRI membeli produk MAK diawali dengan rasa kasihan. Sempat terpukul, namun Buntoro berupaya agar proyek ini juga mengubah rasa iba menjadi bangga. Pada 1989 perlahan MAK bangkit dan mampu merestrukturisasi utang.

Ada cerita lucu pada masa-masa awal produk peralatan rumah sakit ini. MAK pada 1991 mendapat proyek dari RS Husada. Namun susah-susah gampang, ada pula isu bahwa RS Husada hendak memenuhi kebutuhan 20 tempat tidur ini melalui impor. Buntoro mengutus Surya, tenaga marketingnya untuk menawarkan harga setengah untuk kualitas yang sama. Syaratnya:  MAK dibolehkan pinjam tempat tidur impor itu untuk dicontek.

Situasi saat itu, produk impor sebagai pilihan pihak rumah sakit begitu kuat. Buntoro tak hilang akal. Ia menghadap langsung pimpinan puncak rumah sakit kala itu, dr. Samsi Jacobalis, Sp.B. Dengan menggugah nasionalisme, PMAK diberi kesempatan. Tibalah waktu yang dijanjikan. Walau sempat diwarnai drama pihak rumah sakit yang urung membeli produk MAK. Akhirnya tenaga marketing MAK berhasil mendapat kesempatan mempresentasikan produknya.

Sementara Dwi Etnawati menambahkan, MAK awalnya dari sebuah bengkel kecil yang menempati sebuah garansi, tapi kini MAK berkembang menjadi perusahaan peralatan rumah sakit seperti tempat tidur, lemari pasien, meja pasien, kursi roda, alat untuk memindahkan pasien, meja periksa, lemari obat, dan sebagainya. Boleh dibilang, MAK adalah one stop services untuk produk furnitur rumah sakit. “MAK kini menjadi pabrik alat kesehatan terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara,” urainya. Kapasitas produksinya bisa mencapai 100.000 bad setahun.

Saat ini MAK memiliki fasilitas produksi yang lengkap di Yogyakarta yang mampu menciptakan varian lengkap peralatan rumah sakit. MAK secara konsisten melakukan investasi dan meningkatkan kompetensi untuk menciptakan produk berkualitas tinggi.[] Yuniman Taqwa