Sehelai Batik Dihargai Ratusan Juta Rupiah, Fantastik!

Batik bukan sekedar melukis di atas kain.  Penghayatan  mendalam dari mulai perencanaan sampai membatik kaya filosofi. Namun tak semua perajin batik mampu menembus dimensi itu. Sapuan memilih “jalan sunyi” dalam membatik. Karyanya menembus harga ratusan juta rupiah.

Profesi membatik baru mulai digeluti pada 2005. Profesi sehari-harinya seorang guru IPA Sekolah Menengah Pertama (SMP) Paninggaran 2, Pekalongan. Padahal ia sendiri tak bisa menggambar, tapi menyukai pengamatan langsung dari sebuah lukisan, misalnya.

Itu sebabnya, ketika ingin membatik, ia mencari juru gambar untuk menginteprestasikan ide-idenya. Ia mendapat juru gambar tak jauh dari rumahnya. Sapuan mulai brainstorming dengan juru gambar tersebut dan terus melakukan observasi terkait dengan tema yang akan dijadikan motif batik. Hingga suatu ketika ia didapuk pertanyaan oleh juru gambar tentang kesungguhan membatik. “Pak guru kuat ingin membuat batik?” Tanya juru gambar tersebut. “Saya dibuat bingun. Seperti mengejek saya,” tambahnyasebagaimana dikutip dari www.batiklopedia.com.

Sapuan menambahkan, dirinya makin terkejut ketika juru gambar itu menganalogikan keahlian menggambar batik seperti meminjam tangan Tuhan. Maka chemistry antara keduanya pun terpaut hingga akhir hayat si juru gambar yang kini telah tiada. “Saya belum menemukan orang yang sepertinya. Tapi saya harus jalan terus,” kenangnya.

Itulah Sapuan, maestro batik yang karyanya dihargai super mahal. Selesai batik bertajuk Dewa Ruci pernah dihargai oleh kolektor seharga Rp250 juta. Walaupun ia tak jual batik itu karena masih digunakan untuk mengisi materi di Istana Negara, beberapa tahun yang lalu.

Menurut Sapuan, ada batik berharga ratusan juta karena pengerjaannya membutuhkan waktu lama dan memiliki kesulitan tinggi. “Batik yang saya produksi, selama ini disimpan di Jakarta. Harganya mencapai ratusan juta dan selalu naik setiap tahunya, jelasnya, sebagaimana dikutip dari tribunjateng.com.

Sapuan menambahkan awalnya ia membatik dengan alasan bisnis. Belakangan ia menghayati proses membatik dan memahami filosofi batik yang sarat makna kehidupan. “Kami menempatkan batik sebagai mahakarya tinggi. Di dalamnya ada sentuhan seni yang bernilai tinggi,” ujarnya seraya menambahkan ada batik yang penggarapannya halus dengan mengedepankan seni dan roh penjiwaan dalam membuatnya. Hal itu menaikkan gengsi suatu produk batik.

Pria yang penampilannya suka memakai sarung batik ini memilih “target market” yang sangat segmented, super niche.  Ia tidak “memproduksi” batik untuk konsumsi fashion, tetapi memilih menciptakan batik halus atau batik art. Menurutnya, ia sengaja memilih “jalan sunyi” ini untuk mengembalikan hakikat batik yang sebenarnya. Batik adalah sesuatu yang lebih dari sekadar yang kita ketahui selama ini, sebagaimana dikutip dari liputan6.com.

Lebih lanjut ditambahkan, sebenarnya batik bukanlah soal bisnis dan mencari untung semata, batik adalah budaya, buah budi, hasil cipta, olah rasa dan karsa manusia yang menyimpan nilai-nilai, ajaran hidup layaknya kitab suci, yang bisa mengantarkan manusia menuju ke penciptanya. Ia tak begitu mempermasalahkan batik ciptaannya hanya mempunyai “segmen pasar” yang sangat kecil. Ia tak pernah khawatir dengan sedikitnya kolektor yang mengapresiasi batiknya.

Sapuan  optimis suatu hari batik hasil ciptaannya akan menemukan kolektor yang mengapresiasi dengan harga tinggi. Selembar batik ciptaan Pak Sapuan dibandrol dengan harga Rp 200 juta rupiah. Ia lalu membandingkan harga lukisan dari para maestro yang harganya bisa jadi lebih tinggi dari harga batiknya

Pembuatan setiap lembar batik bernilai seni tinggi membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun. Bisa dibayangkan betapa halus pembuatan batik ini dan betapa ekslusifnya batik ini. Itu sebabnya karyanya kerap diburu para kolektor, tak jarang harganya mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Apa yang membuat batik buatannya begitu istimewa? Karya batik Sapuan begitu halus dan detail.

Setiap garis dan titiknya ditorehkan dengan hati-hati. Jika ada setitik saja yang salah atau meleset, Sapuan memilih tidak melanjutkannya. Pada saat proses pewarnaannya, ayah dari tiga anak ini juga tak segan mencelupkan batiknya berkali-kali untuk mendapatkan warna yang sempurna. Tak heran jika Sapuan butuh waktu lama untuk menyelesaikan selembar kain batik, sekitar satu sampai dua tahun.

Uniknya, batik Pak Sapuan terletak pada detailnya yang luar biasa. Ia menceritakan, untuk bisa menghasilkan detail yang rumit itu, ia memakai canting berukuran nol, sangat kecil dan memakai malam (lilin untuk membatik) yang diciptakan khusus.

Karya batik Sapuan sangat halus dan bernilai ratusan juta rupai (foto: ist)

Beliau tidak mengejar komoditi. Dalam setahun mungkin hanya tiga empat lembar yang jadi, dan seperti layaknya karya seni, kembali kepada selera kolektor, tertarik atau tidak, begitu kan? Meski demikian, Batik Sapuan ini sudah punya penggemar sendiri di kalangan ibu-ibu pejabat dan pengusaha di Jakarta sini, sebagaimana dikutip dari tehsusu.com.

Sapuan punya prinsip tidak mau membuat batik hanya semata  mengejar uang. Biarkan uang yang nanti mengejar kita, ya toh? Jadi, buatlah sebagus mungkin, karena yang bagus itu pasti akan dicari.

Di balik  ciptaan batik-batik Sapuan tersimpan cerita tersendiri yang filosofis. Batik karya Sapuan tidak terbatas pada motif-motif yang sudah ada seperti parang rusak atau truntum, kebanyakan karyanya adalah merupakan suatu cerita yang utuh baik kisah legenda ataupun keadaan masa kini dengan permainan warna-warna yang berani, sebagaimana dikutip dari balitravelnewspaper.com.

Menurutnya selalu ada filosofi di balik setiap kain batiknya. Seperti karya berjudul Petruk Kantong Tertutup.Sapuan menggambarkan situasi negeri saat ini, di mana para pemimpin di atas sangat nyaman dengan kondisinya. Beliau menggambarkan Petruk berjalan dengan tas yang digembok.

Keunggulan lain, batik Sapuan selalu memiliki cerita yang mengandung pesan moral, atau yang biasa disebut para ahli dengan ‘batik tematik’. Misalnya saja karyanya yang berjudul Garuda Angkrem, yang menyiratkan harapan akan lahir pemimpin yang adil di negeri ini. Selain itu, ada juga batik Menuju Suwung yang menggambarkan alam tempat seseorang memulai sebuah pencarian, dan batik Sumpah Tiga Era yang terinspirasi dari Hari Sumpah Pemuda, sebagaimana dikutip dari facebook.com

Pada 24 Oktober lalu, misalnya, di Kota Pekalongan digelar  Pekan Batik Nasional 2018, di GOR Jetayu. Pameran itu  memukau sejumlah pengunjung dari luar Kota. Salah satu pengunjung asal Jakarta, Harsomo yang mengungkapkan, kekagumannya atas batik bercorak pohon dan candi dengan warna biru indigo, karya maestro batik Sapuan. “ Sebagai pecinta batik dan kalau kita lihat karyanya sangat luar biasa sekali. Sebab tehnik  pembuatannya sangat luar biasa, terlebih pada pembuatan garis, yang dinilai proses yang sangat sulit sekali,” ungkapnya sambil menambahakan karya batik semacam ini  harus diapresiasi oleh masyarakat khususnya kalangan generasi muda, sebagaimana dikutip dari pekalongankota.go.id.

Menurut Sapuan cara menikmati batik sama dengan menikmati lukisan. Kalau lukisan dipajang di dinding, batik Pak Sapuan pun bisa saja dipigura di dinding bila mau. Tapi lain orang lain pula cara menikmatinya kan. Salah satu kolektor Batik Sapuan, menyimpan semua batiknya dengan rapi di dalam lemari, lalu setiap dua minggu sekali dikeluarkan dan dibentang, dinikmati sambil diangin-anginkan serta dikamper. Kampernya juga tradisional, pakai biji-bijian cengkeh dan kayu manis.

Bahkan, lama produksi pembuata batik karya sapuan banyak pertanyaan bagi perajin batik lainnya. “Ada yang bila bikin batik seperti Pak Sapuan iso ora mangan (bisa nggak makan-red). Mereka yang bilang demikian sudah menyangkut-pautkan dengan wilayah aqidah seolah-olah yang memberi makan itu perilaku kita”.

Itu Sapuan! Maestro perajin batik asal Pekalongan ini, menciptakan karya batik dengan penuh perasaan, menembus dimensi yang jauh nun di sana, sehingga hasilnya pun menimbulkan decak kagum, diburu kolektor batik dengan harga jual fantastic untuk sehelai baik.[] dari berbagai sumber/Yuniman Taqwa