Mempunyai Mimpi besar

Oleh: Yuniman T Nurdin

Pemimpin harus  punya mimpi besar! Mimpi besar itu yang boleh jadi dapat memompa semangat rakyat untuk  menggerakkan “potensi diri” bahwa hidup harus berarti. Ia menjadi ada karena ada nilai yang diusung dan diyakininya akan membawa kebahagiaan kelak. Karena frame mimpi itu, yang membuat “simpul-simpul” adrenaline terpacu untuk menggapai mimpi!

Paling tidak tendensi itu yang mendorong kita muncul sikap optimis menghadapi hari esok. Sikap ini mendorong kita tegar menghadapi tantangan. Tak mudah putus asa menghadapi masalah. Masalah merupakan kerikil kecil yang sebetulnya dapat diantisipasi bila kita selalu berpikir positif. Tak ada “jalan buntu” dalam menggapai sesuatu.

Memang kelihatannya klise. Tapi dari landasan sederhana itu akan muncul “energi besar” yang dapat menjadi “lentera” kita menuntun jalan kehidupan. Semangat-semangat seperti itu seharusnya dibangkitkan dalam menatap bangsa ini jauh ke depan. Dia menjadi pemicu adrenaline bagi anak negeri.

Pemimpin sebagai komunikator politik seyogyanya menanamkan sejumlah stimulus yang mampu membangun sikap optimis  dalam menjalankan hidup. Sebab, hidup bukan berada  di “ruang hampa” yang selalu berjalan lurus. Banyak jalan  “zig-zag” yang mempengaruhi untuk menggapai tujuan. Hal ini yang harus dipahami bahwa hidup tidak meluncur di jalan bebas hambatan (tol) – dengan gampang menggapai tujuan.

Hidup merupakan turbelensi yang bukan tidak mungkin menggiring kita ke sikap pesimis. Ketidaknyamanan dalam suatu kondisi tertentu —  tidak menutup kemungkinan menimbulkan keputusasaan – yang membuat “simpul-simpul adrenaline” menjadi lemah. Barangkali dalam kondisi demikian, muncul sikap “jalan pintas”, pesimistik dan apapun namanya mengakibatkan kendurnya semangat menggapai mimpi.

Apa kita ingin terjebak dalam kondisi demikian? Rasanya kita masih punya “tanggungjawab moral” untuk menempatkan diri kita sebagai bagian dari anak negeri ingin melihat bangsa ini maju. Iklim kondusif dengan memompa semangat dan memberi stimulus konstruktif seharus menjadi  “suara koor” bersama dalam satu tarikan nafas menuju Indonesia sejahtera. Itu yang seharusnya kita sepakati dalam membangun bangsa itu.

Dalam sebuah artikel bertajuk: Memahami Garis Besar Konsep Pemikiran Bung Karno Bagi Pembangunan Indonesia, oleh: Qiki Qilang Syachbudy, yang dimuat di academia.edu,  disebutkan dalam kisah pewayangan tokoh Bima merupakan  simbol  dari manusia kuat dalam hal fisik. Senjata yang terkenal dari Bima adalah kuku pancanaka. Bima merupakan putera kedua dari Pandawa (anaknya Pandu) setelah Yudhistira.  Tokoh Bima menyimbolkan seorang manusia yang karena kekuatannya ia bebas untuk melakukan berbagai hal. Tokoh jagoan inilah yang kemudian diidolakan BungKarno, dan mungkin dikemudian hari menjadi inspirasi bagi Bung Karno tentang impian masyarakat Indonesia yang memiliki kekuatan seperti Bima yang bukan saja memiliki kesehatan fisik mumpuni tapi juga memiliki karakter lurus sehingga acapkali Bima menjadi penolong bagi saudara-saudaranya yang lain. Selain itu pula Bung Karno mengharapkan bahwa dari rakyat Indonesia yang sebagai Bima itulah akan tercipta suatu generasi yang seperti anaknya Bima, yaitu Gatot Kaca yang memiliki otot kawat dan tulang besi serta mampu terbang  membelah angkasa demi melindungi rakyat Pringgandani  dari serangan yang berasal dari luar.

Paling tidak Bung Karno mempunyai mimpi besar terhadap Indonesia bahwa kelak Indonesia akan lahir generasi seperti Gatot Kaca. Vision Bung Karno ke depan menunjukkan sikap optimisnya bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara besar dan mampu membentengi ibu pertiwi yang terdiri dari 17.508 pulau.

Memang bukan perkara mudah untuk membentengi geostrategic Indonesia. Sejak zaman “kuda gigit besi”, era kolonial – dari mulai Portugis, Belanda, Jepang menduduki Nusantara – mengincar negeri ini karena kekayaan alamnya. Apa pun ada di sini!

Gambaran sejarah itu, rupanya tak berhenti sampai republik ini merdeka. Berbagai pendekatan geopolitik dan geostrategic karena kandungan yang ada di dalam “perut bumi”, permukaan bumi dan letak geografis Indonesia yang berada di posisi silang antara Benua Asia dan Australia dan Samudra India dengan Samudra Pasifik, menjadi rebutan banyak negara. Sadar tidak sadar, banyak kepentingan pihak asing yang harus diantisipasi.

Nah, itulah pentingnya nasionalisme dan relegius yang memadukan sila-sila dalam Pancasila. Ini bukan ideologi sepihak. Tapi ideologi bersama sebagai benteng pertahanan dari serangan pihak-pihak yang ingin mendapat manfaat dari Indonesia. Itu yang seharusnya menjadi “benteng pertahanan” negeri ini dalam menghadapi kekuatan lintas batas.

Lantas mimpi apa yang seharusnya dihembuskan para pemimpin terhadap Indonesia? Menempatkan posisi Indonesia sebagai keunggulan kompetitif dan komperatif yang dimiliki dari sebuah bangsa yang mempunyai nilai strategis ini. Sebagai negara kepulauan, Indonesia harus kembali berjaya seperti zaman kerajaan  Sriwijaya dan Majahapit tempo dulu.

Saya pun teringat kepada mantan Presiden Indonesia BJ Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Chairman Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS). Kalau tidak salah, ada 10 industri strategis, yaitu: PT PAL Indonesia, PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), PT Krakatau Steel, PT PINDAD, PT Barata Indonesia, PT INKA, PT LEN, PT INTI, PT Dahana dan PT Boma Bisma.

Bayangkan bila ke-10 industri strategis tersebut bersinergi, maka bangsa ini akan dapat sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Di awal tahun 90’an,  Indonesia berhasil menciptakan pesawat N250 yang dinilai sangat cocok dengan iklim geografi Indonesia sebagai negara kepulauan. Pesawat dengan 50 set itu mampu mewujudkan mimpi Soekarno menjadi generasi Gatot Kaca yang bisa membelah angka.

Banyak pemain asing, baik dari Italia maupun Kanada yang menarget pasar utama di Asia Tenggara untuk jenis pesawat terbang baling-baling. “Pasar utama di Asia Tenggara adalah jenis pesawat terbang seperti itu (Propeller Aircraft atau pesawat baling-baling) dan pasar terbesar di Asia Tenggara itu adalah Indonesia,” jelas Ilham Habibie yang kini juga terjun dalam industri pesawat terbang, sebagaimana dikutip dari okezone.com.

Tapi sayangnya mega proyek ini akhirnya kandas , karena industri pesawat terbang itu dihentikan. Dimana kegagalan N-250 lebih disebabkan karena Dana Moneter Internasional (IMF) menyarankan untuk menghentikan proyek tersebut. Saat itu Indonesia tak bisa berbuat banyak, keterbantungan dengan IMF sangat tinggi.

Tidak hanya itu. Kemampuan galangan kapal nasional, seperti PT PAL  dan industri galangan kapal nasional lainnya seharusnya mampu menjawab kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan. Indonesia membutuhkan banyak kapal sebagai konsekuensi negara kepulauan.

Saya kira kehadiran BUMNIS itu sudah jauh hari diperkirakan BJ Habibie bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan industri strategis yang dapat mengkoneksikan berbagai pulau yang ada di Indonesia. Saya rasa masih relevan bila kita menghidupkan kembali BUMNIS yang sesuai dengan dengan visi Indonesia 2030 mendatang.

Lagi-lagi ini merupakan mimpi besar Soekarno untuk mengembalikan kembali kejayaan bahari Indonesia di masa silam. Dalam sebuah pidato, Presiden Soekarno mengatakan: “Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Bangsa Pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan  sekedar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada meliter, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri”.

Dan bagaimana dengan tol laut? Bila program ini berhasil membangun konektivitas antara pulau di Indonesia, dan disinergikan dengan infrastruktur lain, seperti jalan tol yang dapat menghubungkan antara kawasan industri dengan pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia, kebutuhan listrik yang memadai, izin yang tidak berbelit-belit, program hilirisasi dan sumber daya manusia yang mumpuni, maka kita dapat memetik bonus demografi pada 2030.

Itulah mimpi besar kita saat! Songsonglah era tersebut dengan rasa optimis. Dan siapa pun presidennya harus punya mimpi besar membawa republik ini masuk ke “gerbang” sejahtera dan makmur. Semoga…![] Foto Ilustrasi: (via Michele Knight) berasal dari liputan6.com

*Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com