Ouval Research (Sch.), The Famous Brand Generasi Muda

Clothing Brand Ouval Research (Sch.) tak hanya dikenal kalangan anak muda era ‘90’ dan 2000’an, tapi juga digandrungi  generasi Z yang mulai mengenal barang-barang distro. Sebagai brand perintis di kategori produk distro, Sch mampu bertahan di era digital ketika yang lain tumbang.    

Rizki Yanuar: “Anak muda sekarang sudah familiar dengan Sch. sebagai logo baru Ouval Research” (Foto: pelakubisnis.com)

Gagasan brillian tiga sekawan  M Rizki Yanuar, Firman Firdaus dan Arif Maskom melahirkan merk Ouval Research. Ketiganya bertemu dalam satu komunitas pehobbi olahraga skateboard di Taman Lalu Lintas Bandung, di era 1990-an. Dari seringnya ngobrol bareng yang tak hanya membahas soal olahraga skate, tapi juga curhat, ngomongin lifestyle, fesyen, dan lain-lain yang sedang tren saat itu hingga ketemu ide membangun bisnis clothing. “Influence nya  memang  dari luar negeri. Karena saat itu melalui parabola kita bisa melihat channel-channel tv luar dan majalah-majalah asing yang menjadi panduan kami.  Makanya kami ambil merk yang berbau asing,”aku Rizki ketika pelakubisnis.com menyambangi salah satu outletnya di Buah Batu, Bandung, Jawa Barat.

Ketika Indonesia terimbas krisis moneter (krismon) di tahun 1997,  semua barang kebutuhan naik tinggi, apalagi barang-barang impor. “Saat itu kita mau gaya (pakai baju-baju branded), tapi susah!,”ujar Rizki. Hingga akhirnya,  Arif Maskom yang memang pemain skateboard professional dan sempat menjadi endorser  beberapa brand produk luar negeri  mencoba membuat sendiri desain-desain produk yang bisa mewakili komunitas olahraga ini. Lalu terbersit ide untuk membangun bisnis clothing dengan menggunakan merk asing yang saat itu dirasakan Rizki dan kawan-kawan sebagai sebuah prestige. Muncullah nama ‘Ouval Research’.

Ouval  memiliki arti,  Originality for Understanding Viction and Artificial Language. Sedangkan kata Research memiliki arti sebagai upaya inovasi untuk memenuhi kebutuhan anak muda dengan membuat desain produk yang unik dan memiliki difrensiasi, dalam arti tidak pasaran. Brand ini menurut Rizki, dibuat sebagai bentuk spontanitas  dan  karena gampang disebut. Bentuk oval diartikan secara harfiah  sebagai bentuk  ingin merangkul semua orang dan nama research itu berarti inovasi yang tak pernah henti.

Dengan modal Rp 250 ribu,  awalnya produk Ouval Research hanya dijual by order dari teman ke teman atau door to door di kalangan teman-teman pecinta skateboard saja. Maklum, sebagai anak kuliahan saat itu Rizki dan kawan-kawan punya modal pas-pasan, jadi bukan hal yang mudah untuk mereka memiliki sebuah toko. Namun, tak disangka Rizki dan kawan-kawan kalau produknya disukai pasar dan akhirnya berkembang.

Kolaburasi Rizki yang memiliki latar pendidikan Ilmu Komunikasi, Firman yang Sarjana Manajemen Akutansi dan Arif  yang  lulusan  Desain Interior ITENAS,   membuahkan hasil. Setelah tiga tahun dijual dengan sistem   door to door. Pun, akhirnya pada tahun 2000 bisa menyewa kios di Jalan Buah Batu, Lengkong, Kota Bandung yang sekarang ini menjadi kantor pusat sekaligus asset  Ouval Research. “Toko ini sebagai ruang pameran kami, ruang eksistensi,”tegas Rizki.

Sejumlah produk fesyen dihasilkan. Mulai kaos, sweater, hoodie, kemeja, celana, tas, sepatu sampai sandal dan papan skateboard. Dalam hal ini mereka mengusung konsep distro (distribution outlet) yang kala itu masih baru di kalangan anak-anak muda yang menjual produk pakaian dan aksesoris yang diproduksi dalam jumlah terbatas. Setiap item produk hanya diproduksi 50-100 pcs yang akhirnya membentuk image eksklusif karena produk-produknya ‘limited edition”.

Diakui Rizki,  ketika membuka toko artinya mencoba membuka diri ke dunia luar dengan berpromosi dan itu memang tak mudah. Ada overhead, bayar sewa dan segala macam. Intinya banyak rugi. Tak bisa hanya mengandalkan komunitas pertemanan saja, akhirnya ia  mencoba promosi endorsement salah satunya masuk  ke MTV Indonesia kemudian berkembang masuk ke MTV Singapure. Dari situlah Ouval Research mulai dikenal  pasar Singapure.

Untuk melakukan penetrasi pasar dengan cepat, ketika buka toko, selain mengandalkan komunitas pertemanan, melalui MTV juga endorsement melalui band-band indie seperti  Mocca yang sampai sekarang mengendorse Ouval Research.

Inovasi Tiada Henti…(Foto: pelakubisnis.com)

Sebagai salah satu perintis distro di tanah air hingga sekarang Ouval Research bisa menjaga imagenya di kalangan pecinta barang distro. “Di industry kreatif ini memang harus kelihatan unik. Kami punya idealisme, gaya desain kami juga beda. Agak sulit saya menjabarkan.  Untuk desain kami banyak main dengan tulisan ‘typography’, sedangkan pada item jaket kami  main di pola. Desain kami harus satu benang merah untuk menjaga ciri Ouval Research. Akhirnya kami bisa mengikat konsumen dengan kekuatan brand kita,”terang Rizki yang saat ini memiliki 5 tenaga desain grafis yang rata-rata berusia di bawah 30 tahun.

Di periode 2004-2008 distro booming , demikian juga Ouval Research yang sukses  hingga keluar Bandung. Selain membuka outlet sendiri,  distribusi Ouval Research juga menjangkau  berbagai kota di Indonesia.  Begitu boomingnya sampai mitra reseller mencapai 500 gerai, bahkan sampai ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. “Pertumbuhan penjualan kala itu per tahun lebih dari 200%. Semua orang bikin distro, wajarlah banyak yang latah dan tak sedikit juga yang hanya sebentar tumbang,” papar alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Rizki melanjutkan, sekarang desain-desain article lebih banyak. Secara kuantiti sekarang ini 1 model, dibuat 300-an pieces yang dijual outlet-outlet Ouval Research dan sekitar 200 reseller. “Lebih fresh disesuaikan dengan gaya desain sekarang dan lebih simpel. Grafis jarang ada repeat design,”tambahnya.

Diakui Rizki, saat ini tak sedikit pelaku bisnis distro yang tumbang tak kuat menghadapi persaingan yang menjamur di periode 2014-2018 dan kurang konsisten  dengan konsep desain. Perlu diketahui, Brand Clothing  merupakan kreasi merk sendiri, sedangkan distro adalah gerai toko yang menerima  produk brand clothing dengan bentuk kerjasama konsinyasi. Ouval Research konsisten melakukan inovasi dan membangun branding, mengikuti pola zaman.  Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengubah logo Ouval Research menjadi “Sch.”. “Rata-rata  anak  angkatan 2008 sudah mengenal dengan logo baru Ouval Research dengan ‘Sch.’. Lebih rebranding dan ikon logo saja yang diubah,”ujar pria 42 tahun ini beralasan.

Lantas, bagaimana ketika Ouval Research dipalsukan? “Rata-rata brand local yang sudah famous dipalsukan. Meski kita punya legalitasnya namun kalau mau diurus itu mahal. Kalau sudah terkenal pasti banyak barang palsunya, apalagi di marketplace, dijual dengan harga jauh lebih murah. Mereka sebut  barang KW ini dengan istilah ‘premium’,”jawab Rizki.

Untuk itu, menurut Rizki langkah brand image Ouval Research dibangun dengan  menjaga konsistensi dan mencari benang merah dari sisi desainnya, cara promosi, edukasi dan sebagainya.

Sulitnya membangun brand  di Indonesia ketika sudah terkenal, jangan heran bila belakang hari  barang kita dipalsukan (KW). “Banyak bermunculan clothing brand. Barang KW ini ada pasarnya. Itu gak masalah! Saya butuh pesaing karena kita butuh pesaing.  Kehadiran mereka  memicu saya lebih kreatif lagi. Tak usah banyak  bicara, bisa stand up sendiri, cukup menarik perhatian,  dan orang lain mengenal kita,”ungkap Rizki.

Alhasil, pertumbuhan penjualan Sch saat ini masih bagus dalam tiga tahun terakhir dan masih ada kenaikan penjualan per tahun 50 persen.  Yang penting ikatan brand dengan mempertahankan ciri khasnya.  Sekarang ada 12 gerai milik sendiri dan 200 gerai reseller.

Tantangannya sekarang, menurut Rizki, kini  usianya sudah  tak muda lagi (42 tahun). Ia mengawali bisnis ini di usia 20-an tahun. Sekarang ia harus banyak berkomunikasi dengan anak-anak muda di generasi Y dan Z. Alhasil, anak muda Indonesia sekarang mulai menerima ‘local brand’ bahkan bangga memakai merk buatan dalam negeri asal merk tersebut famous. Berbeda dengan di zamannya dulu yang masih ‘Luar Negeri Minded’.

Tak heran bila ada yang berani bayar mahal produk Ouval Research.  Seperti contoh item model jaket Stydry harga barunya Rp 325 ribu. Ada komunitas di Kaskus yang menjual sekennya sampai jutaan rupiah.  Harga terbentuk karena setahun ada beberapa model tertentu yang susah dibuat dan langka. “Sekennya ada yang jual sampai Rp 2 juta. Edukasi Ouval Research mereka sudah banyak tahu. Sudah seperti mobil Mercy yang sudah langka. Ketika ada forum seperti itu, tukar-tukaran ada beberapa yang harganya jadi mahal,”ujarnya.

Menyoal kehadiran digital marketing sebagai saluran komunikasi branding, menurut Rizki  tinggal memindahkan media promosi saja dan  mengikuti apa saja saluran yang efektif  dan efisien. “Anak sekarang sudah jarang menonton televisi, minimal sekarang ada tv kabel. Koran juga sudah tak beli lagi. Sekarang promosi Ouval Research (Sch.) digenjot melalui social media seperti facebook, instagram dan Youtube. Sekarang influencer tak mesti artis, seperti pelajar dan mahasiswa sesuai dengan target sasaran Ouval Research di usia 15 – 25 tahun,”papar bapak dua anak ini.

Bagaimana Ouval Research memanfaatkan saluran digital ini? Menurutnya memang ada nilai-nilai experience  yang hilang. Karena pada dasarnya konsep distro itu adalah toko yang menjual  brand clothing dengan sistem konsinyasi atau menjual produknya sendiri, dimana pembeli dapat melihat, menyentuh, dan merasakan  langsung produknya. Namun, karena zaman sudah berubah, Ouval Research pun mengikuti perkembangan zaman.   “Untuk itu, kita develop sendiri lewat website Sch., tidak jual lewat marketplace. Kecuali reseller ada beberapa yang masuk ke marketplace juga itu gak masalah.  Komposisi offline masih mendominasi, karena ciri khas distro memang  offline.  Adanya digital marketing,  kami cuma memindahkan toko dari offline ke online. Saat ini offline masih menguasai 70%,,”terang Rizki.

Ke depannya, ia ingin memanfaatkan channel online untuk menembus pasar luar negeri. Mengingat dari biaya lebih terjangkau. Paling tidak, menurutnya target awal  Ouval Research ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.[]Siti Ruslina