Kiprah Bisnis Cemilan Anto Kie

Pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang produksi makanan cemilan melahirkan produk-produk berkualitas tinggi dan menyasar segmen menengah atas.  Perkembangan jaman membuatnya memilih strategi distribusi ke channel-channel modern yang lebih kekinian.  Lokasi wisata pun menjadi incaran!

Fresh from the oven (Foto: Pelakubisnis.com)

Hari itu terlihat dua anak muda sibuk memanggang snack egg rolls yang bentuknya agak beda dari yang biasa kita jumpai di pasar.  Bentuknya pipih tapi tetap dengan bentuk lipatan yang digulung rapih.  Persis  sama dengan oleh-oleh  cemilan   egg rolls khas  Macau yang lagi ng-trend. “Saya sengaja  kemas open kitchen  agar pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan egg rolls.  Dan ternyata cukup menarik perhatian,” ujar Anto Kie , Direktur Utama CV Mustika, produsen  Phoniex  Egg Rolls yang menyewa booth   di salah satu  toko cemilan di  lokasi wisata Farm House Lembang, Jawa Barat ini.

Mulai menempati gerai di tempat wisata itu sejak September 2018. Namun antusias pengunjung yang menyempatkan diri menonton  proses produksi  cemilan yang berbahan dasar tepung terigu, tepung sagu  dan telor ayam ini menjadi sesuatu yang menarik.  “Ada beberapa pertimbangan kenapa saya pilih masuk ke lokasi wisata.  Kalau ke mall,  orang yang datang mungkin itu-itu saja. Sedangkan di tempat rekreasi   orang dari mana-mana,  dari seluruh Indonesia bisa datang kesini bahkan sampai orang Malaysia,”kata Anto soal kehadirannya menjual produk di lokasi wisata yang sempat  menarik perhatian pengunjung hingga  ada yang  ingin mengadopsi konsepnya masuk lokasi wisata dengan mengajak kerjasama franchise di daerahnya .  “Sampai lima kali orang itu mengajak kerjasama. Tapi  saya mau fokus  ambil lokasi wisata di Bandung dulu,”tegasnya.

Diakui Anto, egg rolls yang dijualnya berbeda dengan egg rolls yang sering kita jumpai di pasar. Selain bentuknya yang pipih,  di dalam lipatan Phoniex  Egg Rolls, ada  selai cokelat atau abon.  Cemilannya ini  juga tidak menggunakan bahan pengawet.  Makanya  egg rolls buatan CV Mustika ini  memiliki masa kadaluarsa lebih cepat, maksimal tahan selama  3 bulan setelah produksi.  “ Belum lama ini saya ke Macau dan ternyata Phoniex Egg Rolls sedang  jadi trend dan saya bawa konsepnya ke Indonesia,”aku pria 47 tahun ini.

Bekal pengalaman puluhan tahun di industri snack menginspirasi Anto menciptakan produk bermutu (Foto: CV Mustika)

Kiprahnya di industri cemilan memang  sudah tidak diragukan.  Ia juga membimbing sejumlah UKM memproduksi  fish skin,  kulit ikan goreng yang berbalut  telor asin dengan tektur yang renyah seperti keripik, yang sedang  popular dalam dua atau tiga tahun terakhir ini.

Jika Singapura sedang tren oleh-oleh  Salted Egg Fish Skin dengan merk Golden Duck dan Irvins, Indonesia juga punya  Ervan Fish Skin Salted Egg produksi  CV Mustika, Dadap-Tangerang yang dirintis Anto Kie sejak  tahun 2016. “Kriukk! Kulit ikan goreng Ervan rupanya amat tebal namun tetap renyah dan garing. Terlihat cincangan daun kari memenuhi permukaan lembaran kulit ikan. Rasa kuning telur asinnya sendiri terjejak kuat. Kami mendapati paduan rasa gurih manis,”demikian  kutipan tulisan detikFood yang membandingkan kualitas rasa  Ervan Fish Skin Salted Egg dengan merek lain.

Ervan adalah merek pertama yang dibangun Anto. Diambil dari nama putera bungsunya, Ervan Roderick (11). Latarbelakang bekerja di industry makanan sejak tahun 1988 membuatnya cukup percaya diri mengembangkan beragam produk cemilan seperti  potatoes chip, fish skin, egg rolls, kue soes kering dan lain-lain. Ia juga melakukan  kerjasama OEM (Original Equipment Manufacturer ) dengan merk makanan yang beredar di tanah air.

Diakuinya, saat ini perusahaannya masih dalam skala UKM  –usaha kecil  menengah—dengan perolehan omset  Rp 4-5 milyar/tahun.

Pria asal Sumatera Utara  ini membangun merek dengan menyasar segmen kelas menengah atas. Tak heran bila produk-produknya banyak  dijumpai di supermarket-supermarket sekelas  Farmers, Grand Lucky, Aeon dan Toko Total Buah dengan harga bandrol berkisar Rp 50-70 ribu per piece.

Ervan Fish Skin Salted Egg, produk buatan Indonesia (Foto: CV Mustika)

 

Cemilan Ervan Fish Skin dan Egg Rolls tersedia di ritel-ritel modern tanah air (Foto: CV Mustika)

Lokasi wisata merupakan  salah satu aktifitas pemasaran yang dipilih Anto untuk  menggaungkan merek produk- produknya.   “Membawa dapur ke tempat wisata. Sekarang orang tertarik beli oleh-oleh  dengan melihat langsung proses produksinya. Jadi kami terinspirasi untuk membuat display dengan open kitchen. Adonan kue kita buat disitu juga,” tutur Anto sambil menyebut omsetnya di Farm House sekitar Rp 200 juta per bulan.

Ia pun  menambah  satu gerai lagi di Farm House untuk menjual kategori produk kue kering seperti kue soes kering dan nastar yang juga akan disajikan dengan konsep open kitchen yang nantinya akan dilengkapi dengan tempat kursus singkat bagi para pengunjung yang ingin mencoba membuat kue di tempatnya. “Orang bisa belajar masak di tempat wisata. Tak perlu lama-lama, cukup sekali pertemuan mereka sudah bisa buat kue,” Anto berandai-andai tentang rencananya mengembangkan konsep kursus singkat di lokasi wisata Farm House.

Dulu, kita lihat BreadTalk dengan open kitchennya.   Kita ingat bagaimana  sesaknya orang antri membeli dan cukup fenomenal  di Singapura dan sampai ke Indonesia.  Konsep open kitchen menjadi  sesuatu yang baru  dan menarik perhatian  masyarakat kala  itu.  “Kali ini kita coba open kitchen untuk produk kue kering,”ujarnya.

Kini, produknya sudah menjangkau banyak kota di tanah air. Sebut saja Surabaya, Medan, dan kota-kota besar di Kalimantan,  Batam, Pekanbaru, Jambi, Palembang ,  Lampung  dan lain-lain.[]Siti Ruslina