Cara Ifan Kesuma Besarkan Oxone

Menggunakan sistem keagenan, Ifan Kesuma melibatkan banyak ibu rumah tangga menjadi corong yang menguatkan penetrasi produknya di pasar perlengkapan dapur.  Omset pun terjaga dengan pertumbuhan rata-rata 20% per tahun. Sekarang, siapa ‘emak-emak’ yang tak kenal Oxone?

Ifan Kesuma, Direktur PT Octa Utama (foto: pelakubisnis.com)

Latarbelakang orangtua yang bergerak di bisnis distribusi barang pecah belah perabot dapur, menginspirasi Ifan Kesuma, Direktur PT Octa Utama,  membangun brand Oxone yang diposisikan imejnya sejajar dengan peralatan dapur  Eropa.

Selesai  mengambil  bidang studi  Manajemen di Australia, ia berpikir bagaimana bisa bersinergi dan  membuat perusahaan orangtuanya berkembang lebih baik.  Namun ia rasakan ada plus minusnya menjual produk orang lain dan yang jelas margin keuntungannya tidak sebesar kalau mengelola merek sendiri. ”Saat itu terpikir oleh saya untuk memakai brand sendiri  dengan harapan suatu hari bisa diturunkan ke anak saya nanti,”kenang  lulusan Wolonggong University, Australia ini.

Akhirnya terciptalah merek Oxone. Menggunakan teori  filsafat Tionghoa, Yin and Yang, sebagai gambaran  kekuatan sifat yang saling berhubungan,  dimana  dua unsur keberadaan yang berlawanan tetapi saling melengkapi,  demikian  Ifan  menerjemahkan warna  hitam putih yang terkandung dalam brand Oxone yang dibangunnya sejak 2001.

Ia menjelaskan, logo Oxone   memiliki simbol Q  pada kata Octa yang berarti angka 8 dan One berarti 1 atau Utama yang dalam filosofi Tionghoa kedua angka 8.1 ini memiliki makna “Berkembang”.

Dalam perjalanannya, logo Oxone mengalami rejuvinasi di tahun 2009 berubah menjadi seperti logo Q-One yang berarti  Octa Utama .  “Kita harus mencari karakter sendiri ketika menciptakan sebuah brand. Karena, brand itu kalau ditata bagus seperti halnya mengasuh anak.  Kalau ditata dan diurus dengan bagus, dia bisa mempertahankan kerajaan kita,”papar Ifan.

Perlahan tapi pasti, jenis produk sudah ditentukan, peluang pasar pun besar, mulailah Ifan menyusun strategi mencari peluang bisnis kategori kitchenware house.  Ia pun bergerilya mencari  peluang  bisnis mengunjungi pameran-pameran  untuk mendapatkan rekanan pabrik yang memenuhi  kualifikasinya.  Hingga di tahun 2006 ia menemukan rekanan pabrik yang bisa memenuhi standar kualitas  produknya.

Dari situ ia pun membenahi perusahaan dan mulai menambah range product lebih banyak dengan menitikberatkan kelebihan pada sisi kualitas, model, desain warna yang menarik perhatian dan fungsinya. “Untuk desain model  dibantu adik saya yang memang memiliki background pendidikan di bidang desain,”jelas Ifan yang sudah bekerjasama dengan sekitar 100 pabrik di China, Korea, Turki dan Vietnam .

Tak main-main Ifan mengembangkan kategori Small Home Appliances ini. Dari ruko kecil ia membesarkan kategori Small Home Aplliances dengan brand Oxone  lewat  badan usaha ‘Perusahaan Dagang” (PD).  “Awalnya kami starting menjual timbangan badan dan kami ada rekanan supplier dari Korea.  Mereka memberikan sampel-sampel barang dari Korea seperti  water purifier,  panci susun made in Korea, kompor  dan lain-lain.  Kita sempat pakai artis Alya Rohali sebagai model iklan ,”ungkap Ifan yang lima tahun pertama banyak menjual produk-produk buatan Korea.

Dalam hal ini produk Oxone  dibagi   menjadi dua bagian yakni produk peralatan dapur elektronik dan non-elektronik.  Bila di tahun pertama hanya menjual sekitar 10 item produk, kini  tak kurang dari 400  SKU —stock keeping unit – sudah dihasilkan.  Namun saat ini sekitar 200-an item masih fokus dipasarkan dengan  hampir 50 hot item (terlaris) yang diminati pasar.  Diantaranya item panci susun yang penjualannya mencapai 8000 set /bulan yang setengahnya dijual lewat e-commerce.

Diakui Ifan, Flagship product Oxone saat ini ada di kategori  panci dan oven toaster. “Untuk panci ada item yang diawal kami luncurkan sampai sekarang masih laris. Itu panci legenda bagi kami.  Sementara di  kategori oven toaster termasuk yang penjualannya konsisten juga dan tetap kami pertahankan hingga hari ini,”ujarnya.

Selain panci dan oven toaster,  kategori produk lain yang juga cukup diminati pasar adalah pisau. “Kami bisa jual pisau 40 ribu set/bulan. Kami banyak dapat penghargaan di kategori knife,”papar putera sulung tiga bersaudara ini yang sempat mendapat julukan “Mr Panci” ketika Oxone diidentikkan pasar sebagai produsen panci.

Dan ia boleh bangga, setidaknya lima kateogori produk Oxone, yakni Juicer, Oven Toaster, Mixer, Pisau Dapur dan Panci Presto  mendapat penghargaan “Indonesia Digital Popular Brand Award 2018”yang diinisiasi  TRAS N CO  dan INFOBRAND.ID  untuk yang ketiga kalinya.

Puluhan penghargaan diperoleh Oxone dari banyak lembaga riset dan media. (Foto: pelakubisnis.com)

Puluhan penghargaan diperoleh Oxone dari banyak lembaga riset dan media. Sebut saja penghargaan Top Brand Award  dari Frontier Consulting Group, hampir setiap tahun di periode 2014 hingga 2018, Junior Master Chef Indonesia dari RCTI, dan Best Value Clothing Care Oxone Garment, Most Wanted Online Brand In Indonesia dari  marketplace Lazada.

Seperti filosofi yang dijalani Ifan menyeimbangkan teori Yin & Yang,  dari awal Oxone menerapkan sistem keagenan  yang merekrut banyak para ibu yang berjiwa bisnis menjadi sales force nya. “Kami dari Oxone tak pernah lupa dengan ibu-ibu arisan yang ikut membesarkan brand ini, yang tanpa kami bentuk, tanpa kami bayar, mereka hidup sendiri,”ujar Ifan yang sengaja membangun bisnis offline untuk memberi kesempatan bagi agen-agennya ikut membesarkan brand Oxone.

Di sisi lain,  PT Octa Utama sebagai principal melakukan aktifitas pemasaran dengan membina sales promotion mengikuti pameran-pameran di modern market seperti di ITC ManggaDua, menyewa booth kecil di Pekan Raya Jakarta dan beberapa mall di Jakarta.

Diakuinya,  ia tak akan meninggalkan sistem keagenan yang melibatkan para ibu rumah tangga yang memang mulai kewalahan geraknya di era milenial. Demikian juga dengan para sales promotion yang ditempatkan di modern market, setidaknya omset tergerus karena arus digital marketing yang tak terbendung.

Karena itu iapun  justru menguatkan  sisi keagenan dengan menambah kekuatan baru di lini digital marketing yang saat ini mulai memberikan kontribusi penjualan yang cukup signifikan dan membuat nama Oxone tambah kuat  di pasar perlengkapan dapur.  Omset pun terjaga dengan pertumbuhan rata-rata 20% per tahun.

Terkait dengan kegiatan promosi,  tahun depan placement  iklan Oxone di media cetak  akan dialihkan ke saluran komunikasi yang lain seperti broadcast dan saluran digital. Karena tak dapat dipungkiri bahwa era media cetak akan hilang.

Pada akhirnya, promosi lebih banyak melakukan endorsement, youtube, instagram, facebook, twitter dan social media lain-lain. “Kami punya website, Oxone Online yang cukup aktif juga berinteraksi dengan ‘emak-emak’.  Bila berkunjung ke website kami, nanti terlihat kami endorsement para ibu yang hobbi masak. Di Instagram Oxone juga pakai Jessica Iskandar, Gisella dan lain-lain,”tambahnya.

Dan Ifan akan kembali mengulang kesuksesannya di TVC melalui sponsorship lewat tayangan Master Chef.  “Tanpa promosi di televisi, memang agak terpengaruh karena TVC masih efektif mem-push penjualan.  Saya mau melakukan test , tanpa iklan di televisi penjualan naik atau tidak?,”papar Ifan yang memiliki sekitar 15 orang dalam tim marketingnya.

Perusahaan ini juga pernah membuat terobosan membuat aktifitas below the line melalui ajang “Battle Chef” di akhir 2014. Battle Chef adalah kegiatan promosi inhouse dari tim marketing Oxone yang mengajak komunitas Chef Junior dengan mendatangkan 10 chef junior yang kemudian mengundang Chef Degan sebagai jurinya.  “Ajang ini berlangsung setiap bulan selama 10 bulan yang kemudian dicari yang terbaik. Responnya cukup bagus,”cerita Ifan.

Kemudian ia juga pernah membuat kegiatan below the line bertajuk Home Made With Love di tahun 2016 yang berisi  talkshow, bazaar dan lain-lain. “Dan rencananya di tahun depan kami akan menggabungkan kegiatan below the line  Battle Chef dan Home Made with Love dalam satu event di mall-mall di tanah air,”papar Ifan untuk memperkuat brand Oxone.

Ditambahkan Ifan, ia  cuma mau brandnya yang melambung tinggi dikenal banyak orang. “Saya bisa luntur dan ketinggalan jaman, tapi  brand yang saya bangun ini tidak akan ketinggalan jaman. Intinya, dalam menjalani bisnis nya saya selalu  menerapkan prinsip berkomitmen, konsisten serta mau kerja kreatif,”ungkapnya.[]Siti Ruslina