Brodo, Sepatu Pria Generasi Milenial

Brodo  melenggang di pasar sepatu tanah air hingga  mencetak omset milyaran rupiah per bulan.  Apa yang spesial dari brand lokal sepatu  kulit pria asal kota Bandung ini?  

Brodo Parang Jati Series (Foto: jurnal.bro.do)

Pamor brand sepatu Brodo  semakin dikenal masyarakat ketika Presiden Joko Widodo mengendorse nya.  Memang tak dapat dipungkiri, sejak  saat itu semakin  banyak media menulisnya. Termasuk redaksi pelakubisnis.com yang ikut penasaran, apa gerangan kelebihan yang menjadi difrensiasi sepatu hasil besutan dua anak muda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini?  Dan jangan salah kaprah, bukan karena RI 1 mengendorse tiba-tiba merek sepatu ini laris terjual, namun jauh  sejak kelahirannya di tahun pertama 2010, desain sepatu Brodo sudah  menarik perhatian, terutama bagi generasi milenial.

Hampir semua generasi  milenial tahu merek sepatu pria ini. Empat persepsi yang mereka tangkap, sepatu Brodo adalah sepatu kulit, sepatu pria, brand lokal dan jika menyebut brand sepatu ini kita  langsung ingat kota Bandung.

Cerita berawal dari kebutuhan  Muhammad Yukka Harlanda yang kesulitan mencari sepatu ukuran besar. Kalaupun ada ukuran 47 seukuran kakinya,  ia harus rela merogoh kantong lebih dalam karena hampir   semua sepatu ukuran besar ada di deretan brand-brand internasional yang harganya lumayan Wow!.

Hingga suatu saat  ia perlu sepatu formal untuk acara wisuda. Bersama teman kuliahnya, Putera Dwi Kurnia yang kebetulan satu kost dengannya tapi berbeda  fakultas, mereka mencari sepatu sesuai dengan kebutuhannya.  Singkat cerita, setelah berkeliling ke sentra industri sepatu Cibaduyut, Yukka mendapati satu pengrajin sepatu yang hasil jahitannya sangat rapih dan sesuai dengan detil yang ia pesan.  Harga pun tak terlalu mahal tapi tak sedikit teman-teman Yukka yang menyukai sepatu buatan pengrajin Cibaduyut itu. “Kalau tak salah, waktu itu Yukka pesan sepatu semi formal untuk wisudanya,”ungkap Roland, Human Resources and Customer Service Division PT Brodo Ganesha Indonesia (Brodo).

Pengalaman memesan sepatu secara customized itu  membuahkan gagasan bagi Yukka dan Putera yang sebelumnya memang sedang berencana memulai bisnis namun belum ketemu ide mau bisnis apa.

Akhirnya ketemu ide membangun bisnis sepatu. Ide muncul dari kebutuhan pribadi mencari sepatu berukuran besar yang kita tahu sebelumnya hanya brand-brand internasional yang menyediakan stok ukuran besar di atas  ukuran 43. Pasarnya sangat segmented, sebagai sepatu kulit pria dan memiliki difrensiasi dibandingkan sepatu-sepatu pria yang sudah ada di pasar.  “Brodo dilahirkan dari sinergi dua alumnus ITB yang memiliki talenta berbeda yang kemudian disatukan. Keduanya saling mengisi. Yang satu punya  usaha tapi gak punya resources di bidang kreatif, yang satu pengen punya usaha tapi tak punya resources di bidang produksi. Akhirnya keduanya bersinergi. Di awal banyak kendala soal desain karena tidak mudah juga rupanya memahami desain yang disukai pasar,”terang Roland.

Memang bukan perkara mudah untuk memulainya, pikir Yukka dan Putera. Pasalnya ketatnya persaingan di industri sepatu tanah air yang didominasi dengan merek-merek asing sempat membuat ragu apakah bisnis ini bisa berkembang.

Apalagi brand-brand sepatu internasional sudah memiliki pusat produksi di Indonesia. Namun setelah dipikir-pikir, kalau  brand internasional saja bisa  dibuat di Indonesia dengan kualitas internasional, artinya orang Indonesia juga bisa membangun brand asli Indonesia dan bisa go global.

Berbekal keyakinan itu, bulan Juni 2010 melalui bendera PT Brodo Ganesha Indonesia (BGI),  Yukka dan Putra memulai usaha sepatunya bermodal tabungan keduanya yang terkumpul sekitar Rp 7 juta. Ada yang unik dibalik cerita perolehan modal tersebut. Bagaimana Yukka saat itu terpaksa  merogoh tabungan senilai Rp 3,5 juta yang ia kumpulkan dari  kecil hasil pemberian sanak keluarga di momen lebaran selama bertahun-tahun. Kemudian Putra juga memberikan modal dengan jumlah yang sama, mulailah hari itu keduanya berkomitmen untuk menjalani bisnis bersama.

Dari modal minim tersebut Yukka dan Putra memulai bisnisnya  dari 40 pasang sepatu pria yang awalnya  ditawarkan pada keluarga, saudara, dan teman-teman di kampusnya. Dengan membangun brand Brodo, Yukka optimis,  bisnis ini bisa jalan. Terlebih bila   melihat semakin banyaknya channel-channel distribusi pemasaran dan berkembangnya digital marketing di Indonesia.

Nama Brodo diambil dari Komik Masakan Italia, yang berarti kaldu ayam (Foto: Kinibisa)

Kelahiran nama Brodo sendiri, tidak ada hubungannya dengan sosok pria yang disebut “masbro” atau “ombro” misalnya. Nama Brodo tidak ada sangkut pautnya dengan sebutan di dunia fesyen bahkan di dunia persepatuan sekalipun. Nama Brodo terinspirasi dari  komik masakan Italia. Dalam komik tersebut digambarkan seorang koki yang selalu menggunakan bahan masakan berupa kaldu ayam yang membuat semua masakannya menjadi lezat. Brodo adalah kata lain dari kaldu ayam. Jadi Brodo diessensikan sebagai kaldu ayam yang lezat yang membuat semua orang suka. Seperti halnya Sepatu Brodo, diasumsikan sebagai sepatu berkualitas  hasil kreasi dan inovasi yang disukai banyak orang. Demikian visi yang dilontarkan para pendiri merek sepatu lokal asal Bandung ini.

Selama kurang lebih dua bulan mereka mencari  dan melakukan pendekatan dengan calon vendor di sekitar pusat pengrajin sepatu Cibaduyut,  yang bisa satu visi misi.  Tiga tahun pertama  boleh dibilang Yukka dan Putra mengerjakan semuanya sendiri. Berjibaku turun langsung dari urusan  produksi menjalin kerjasama  outsourching (vendor), mendesain sepatu sesuai keinginan hingga urusan pemasaran dan penjualan. Sampai-sampai mereka mempelajari desain sepatu dan bagaimana proses membuat sepatu secara otodidak. “Penetrasi pasar di tahun pertama  baru sebatas relasi-relasi dan teman-teman di kampus mereka dulu,”cerita Roland kepada pelakubisnis.com.

Semua channel pemasaran yang gratisan dicoba. Dari social media (socmed) facebook, instagram, twitter, BBM, e-commerce seperti tokobagus.com,  What’s App dan termasuk kegiatan below the line seperti memasang pamflet dan  aktifitas promosi offline lainnya.

Dengan target pasar anak muda usia 17-35 tahun, pendirinya ingin membuat Brodo diposisikan sebagai sepatu stylish, desainnya menarik perhatian, inovatif dan keren, tak kalah dengan brand internasional namun harganya terjangkau.

Milistone perkembangan Brodo tak luput dari peristiwa di tahun 2011 ketika merek sepatu ini masuk ke festival fesyen anak muda dan mencuri perhatian sebuah distro ternama, The Goods Dept yang kala itu sedang naik daun. “Saat Brodo ikut di Denim Market, kami kedatangan tim dari The Goods Dept. Mereka melihat-lihat sepatu Brodo. Yang mengejutkan adalah mereka menawarkan kepada kami untuk bergabung dengan The Goods Dept. Tanpa pikir panjang kami menerima tawarannya”jelas Yukka kepada media ibukota beberapa tahun lalu.

Masuk Distro The Goods Dept artinya Brodo akan semakin dikenal masyarakat di ranah penjualan  offline.  Karena sebelumnya Brodo hanya berjualan di ranah online dan sistem getok tular saja antar teman. Saat itu Yukka dan Putra  mendapat kewenangan mengikuti Brightspot Market, sebuah festival fesyen anak muda yang sangat terkenal di Jakarta.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kerjasama dengan The Goods Dept  membuahkan hasil. Keduanya terkejut saat menerima invoice penjualan dari distro yang terkenal di banyak daerah di tanah air ini yang bisa membukukan penjualan Rp 20 juta dalam kurun waktu satu bulan saja.

Boleh jadi hingga 2012  Brodo belum membukukan keuntungan karena saat itu setiap ada pemasukan langsung diputar kembali untuk biaya produksi.

Namun tahun 2013 perusahaan ini memutuskan mengubah skema bisnis mereka, merapihkan konten dan membuat laman web juga memaksimalkan  saluran pemasaran lewat internet yang ternyata sangat ampuh bagi pertumbuhan penjualan sepatu Brodo. Di tahun ini pula ia membuka toko pertama Brodo Store di daerah Kemang Selatan, Jakarta. Diharapkan kehadiran toko ini bisa mendongkrak kredibilitas produknya di jalur offline.

Tak pelak, upaya kerja keras Yukka dan Putra membuahkan hasil di tahun ketiga kelahirannya. Dimana sejak dirilis secara resmi, penjualan sepatu Brodo naik 400%. Bahkan hingga kini produksi Brodo sudah mencapai sekitar 10 ribu pasang/bulan yang dijual dengan kombinasi secara online dan offline dengan nilai penjualan milyaran rupiah per bulan.

Saat ini menurut Roland, Brodo terus melakukan penetrasi ke daerah-daerah lain yang belum tersentuh oleh timnya. Hingga kini sudah ada 11 toko (own store-red) dan gerai Pop Up Store, salah satu dari strategi pemasaran online-to-offline (O2O) yang dianggap ampuh dalam meningkatkan penjualan bisnis. Dalam hal ini Brodo sudah memiliki Pop Up Store di tiga titik yang menjangkau wilayah Kalimantan, Sumatera hingga Makassar. Seperti di Makassar. Brodo juga sudah menjangkau  mall seperti Kota Kasablanka dan Kuningan City Shopping Mall.

Sejauh ini diakui Roland, Brodo belum menjangkau pasar ekspor. Paling tidak yang terjadi saat ini sudah ada customer dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapure, New Zealand, Jepang, Korea, mereka yang belanja online. “Untuk pasar ekspor sejauh ini kami belum ada kerjasama B2B (business to business),”jelasnya.

Menurut Roland,terjadi pertumbuhan yang fantastis bagi Brodo di periode 2013 hingga kini. Ketika ia bergabung di tahun 2012, saat itu jumlah karyawan BGI hanya 9 orang. Tapi saat ini sudah mencapai 97 orang yang terdiri dari 7 tim bagian support, research and development hingga  di front office.

Image yang hendak dibangun Yukka dan Putra untuk brandnya tak muluk-muluk. Empat persepsi yang hendak ditanamkan dibenak konsumen, yaitu, Brodo adalah sepatu kulit, sepatu laki-laki, brand local dan berasal dari Bandung.

Yang menjadi difrensiasi bagi Brodo adalah, ada dua jenis sepatu  Brodo  yang berbeda dari produk sepatu lain. Jenis sepatu semi bootnya menggunakan alas batik parang, sementara untuk sepatu boot alasnya menggunakan gambar peta Indonesia. “Dalam hal ini marketingnya dikemas lebih kreatif sih…Kami memikirkan bagaimana caranya customer repeat, customer happy dan seterusnya. Intinya kami  bergerak ke digital marketing dan melakukan aktifasi di online dan offline juga yang saat ini porsinya 50:50,” terang Roland  yang membuat Brodo berbeda dan cepat dikenal pasar.

Menyasar segmen usia muda di kelas menengah dengan kisaran harga Rp 300 – 3 juta, merek sepatu  peraih Grid Story Factory dari ICMA  (Indonesia Content Marketing Award) & ICMF (Indonesia Content Marketing Forum ) ini diposisikan sebagai sepatu yang nyaman dipakai, modelnya up to date dan harga terjangkau.

Di sisi lain, selain produk yang berkualitas dan pola marketing yang dijalankan, keunggulan Brodo yang belum tentu dimiliki brand sepatu lain adalah memiliki after sales service.  Selain timnya sangat responsif menjawab keluhan pelanggan, kedua adalah setiap produk sepatu Brodo bergaransi. “Ada garansi 3 bulan, bila ada kerusakan bisa dibicarakan, apakah kasusnya sampai harus diganti atau cukup diperbaiki,”papar Roland yang bertanggungjawab di divisi Customer Service Brodo.

Hingga saat ini target pasar Brodo menyasar segmen usia antar 17 hingga 35 tahun. Namun seiring dengan perkembangannya, perusahaan ini juga sudah melengkapi produknya untuk segmen pasar yang lain seperti ada sepatu Brodo Kids dan seri Wiro Sableng berkolaburasi dengan influencer seperti Chicco Jerikho misalnya dan dengan beberapa influencer lain di Indonesia. Selain itu, belum lama ini Brodo juga tampil sebagai Official Merchandising Asean Games 2018.

Saat ini target tim Brodo kelak dalam beberapa tahun ke depan dapat menjadi  brand sepatu nomor satu di Indonesia dan membidik pasar yang lebih luas lagi dan bisa sejajar dengan brand-brand luar negeri. “Kalau bukan kita yang kembangkan produk dalam negeri, siapa lagi yang bisa memerangi produk luar?,”ujar Roland yang mengakui di momen lebaran setiap tahunnya permintaan bertumbuh dua sampai tiga kali lipat dari  hari-hari biasanya.

Kini Brodo tak hanya memproduksi sepatu kulit laki-laki.  Item produknya terus bertambah, dari model formil, sekarang mulai membuat yang casual, sepatu semi boot dan boot hingga menjual ikat pinggang, tas sampai aksesoris lainnya. [] Siti Ruslina/Ilustrasi: beritagar.id