NYIA Timbulkan Magnet Investasi Baru

Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, akan menimbulkan multiplier effect bukan hanya bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, tapi juga daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.  Bandara ini akan menjadi magnet investasi baru di daerah itu.

Yogyakarta menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang patut anda kunjungi. Provinsi ini sangat terkenal dengan wisata budaya. Keramahan warganya dan kenyamanan kota menjadi daya tarik utama kota yang biasa dijuluki kota pelajar ini.

Wisata sejarah seperti candi Prambanan, Borobudur, Keraton Yogyakarta dan Taman Sari, merupakan beberapa objek wisata yang menyimpan kisah adi luhur peradaban bangsa ini.  Selain wisata sejarah dan budaya, anda juga bisa menikmati wisata kuliner yang beraneka macam dengan harga terjangkau. Bagi anda yang suka belanja dengan harga murah, anda bisa berkunjung ke daerah Malioboro.

Candi Borobudur, misalnya,  merupakan kompleks candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun pada sekitar tahun 750 dengan gaya arsitektur India. Selain stupa induk di puncaknya, candi ini memiliki 2.672 panel relief, 504 arca Buddha, dan 72 stupa berlubang. Selain bangunan yang megah, lokasi candi yang berada di antara dua pasang gunung, yaitu Gunung Sundoro – Sumbing dan Gunung Merbabu – Merapi, membuatnya memiliki pemandangan alam yang luar biasa indah.

Bahkan, Candi Borobudur menjadi lokasi perayaan Hari Raya Waisak setiap tahunnya. Perwakilan umat Buddha dari berbagai negara — mulai dari Thailand hingga Tibet — akan berkumpul melakukan berbagai ritual dan bermeditasi di kawasan candi. Yang paling menarik dari perayaan ini adalah prosesi pelepasan lampion di malam puncak acara sebagai simbol dari rapalan doa baik yang dipanjatkan pada sang Buddha.

Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menargetkan pada 2019 jumlah wisatawan ke Yogyakarta mencapai 3,47 juta wisatawan. Kemudian hingga 2022, kunjungan wisatawan ke Yogyakarta ditargetkan naik mencapai 4 juta wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Dengan akan diresmikannya  Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, dalam waktu dekat ini  akan meningkatkan kunjungan wisata wancanegara. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, sebagaimana dikuti dari detik.com, Bandara NYIA nantinya akan menjadi salah satu bandara terbesar di Indonesia. Kapasitas penumpangnya mencapai 14 juta orang pertahun, 8 kali lipat lebih banyak dibanding kapasitas Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sebesar 1,7 juta penumpang pertahun.

Selain itu, panjang landasan Bandara NYIA mencapai 3.250 m, sehingga bandara ini mampu melayani hingga jenis pesawat komersil terbesar di dunia sekalipun, seperti Airbus A-380 ataupun Boeing 747 dan 777. Pembangunan Bandara NYIA ini diharapkan menjadi salah satu komponen utama pendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi memang kerap menimbulkan multiplier effects bagi masyarakat dan daerah sekitarnya.

Bandara NYIA tidak akan beroperasi sendirian. Sejumlah moda transporasi lain, terutama kereta api, juga akan mendukung kelancaran operasi bandara ini. Salah satunya adalah Stasiun Wojo di Dadirejo, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Stasiun tersebut menjadi stasiun yang terdekat dengan NYIA dan akan melayani lalu lintas pengguna bandara ini. Stasiun ini akan dioperasikan kembali untuk mendukung kelancaran dan kenyamanan para calon penumpang pesawat. Perjalanan menggunakan kereta menuju NYIA diyakini tetap memberi rasa nyaman. Penumpang kereta hanya menghabiskan 30 menit dari Stasiun Maguwo di kawasan Bandara Adisucipto menuju Wojo, lantas 10 menit dari Wojo menuju NYIA dengan menaiki Bus Damri. “Sekitar 40 – 45 menit sama turun naik. Convenience (kenyamanan) bagi internasional pun,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, minggu kedua Desember tahun lalu, sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Sementara dana yang dibutuhkan untuk pembangunan bandara tersebut sebesar Rp 10,9 triliun dengan rincian pembebasan tanah Rp 4,2 triliun dan pembangunan bandara dan bangunan pendukung Rp 6,7 triliun.

Direktur Angkasa Pura (AP) I Faik Fahmi, bila terwujud sesuai waktu pelaksanaan, bisa jadi proyek pembangunan bandara ini masuk sebagai bandara dengan pembangunan tercepat di dunia. “Mungkin ini adalah proyek pembangunan bandara dengan ukuran tercepat di dunia. Tapi, kita tetap memperhatikan kualitas. Kita sangat memperhatikan pemilihan materi. Walau sangat cepat, tidak mengurangi kualitas,” kata Faik, sebagaimanan dikutip dari kompas.com.

PT Angkasa Pura (Persero) melihat prospek baik dari beberapa maskapai internasional yang berminat membuka rute penerbangan ke Bandara Udara NYIA.  Faik Fahmi mengatakan, maskapai-maskapai itu berasal dari negara China, Korea, Jepang, hingga negara-negara Timur Tengah. Tidak ketinggalan pula Garuda Indonesia, sebagaimana dikutip dari kontan.co.id.

“Rencana April 2019, selain memindahkan enam penerbangan internasional dari Adisutjipto, saya mendapat beberapa permintaan pengoperasian dari beberapa negara. Saya kira ini sangat positif,” kata Faik seusai menerima Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Darmin Nasution di NYIA.  Kita melihat ada sekitar enam airlines yang sudah berminat. Beberapa dari China, Korea, Jepang. Middle east (Timur Tengah) juga ada.

Menurut jadwal peresmian bandara NYIA akan belangsung 29 April, tapi belakangan ini ditunda. Faik Fahmi menegaskan keputusan penundaan peresmian bandara tersebut tidak terkait dengan kesiapan operasional, tapi karena menunggu kepastian protokoler Istana. Perseroan mengaku masih belum mendapatkan pemberitahuan kapan Presiden Jokowi bisa hadir untuk meresmikannya.

Corporate Secretary AP I Handy Heryudhitiawan memastikan telah ada tiga grup penerbangan yang terdaftar siap membuka penerbangan ke NYIA. Ketiganya ialah Lion Group, Garuda Indonesia, dan Air Asia Indonesia.Lion Air akan menyediakan penerbangan rute penerbangan dari dan menuju NYIA dengan maskapai Batik. Adapun ketiga maskapai itu bakal membuka rute NYIA – Samarinda atau sebaliknya, NYIA – Balikpapan dan sebaliknya, serta NYIA – Denpasar atau Denpasar NYIA., sebagaimana dikutip dari tempo.com.

Dalam proses persiapan operasi maskapai di bandara baru, Handy mengatakan operator penerbangan telah melalui aspek HIRA atau Hazard Identification Risk Assesment. HIRA merupakan proses identifikasi dan pengendalian risiko yang dikoordinasikan bersama antara bandara, maskapai, dan regulator.

Selain itu, maskapai dipastikan telah memenuhi persiapan ekstra, seperti penunjukan staf kebandaraan dan persiapan bagasi. Ia memastikan, sejatinya secara fisik, bandara telah siap diresmikan. Bahkan, Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan sertifikasi untuk operasional bandara tersebut.

Sementara fokus menggarap penumpang internasional karena wisatawan asing menggunakan pesawat berukuran besar ke Indonesia, khususnya Yogyakarta. Saat ini Bandara Adisutjipto belum memiliki landasan pacu untuk pesawat berukuran besar membuat wisatawan asing terkendala untuk langsung mendarat di Yogyakarta.

“Karena potensinya luar biasa (Wisatawan asing ke Indonesia), jadi harus dimanfaatkan secara maksimum. Apalagi turis asing masuk ke Jogja sekarang susah karena harus pakai pesawat kecil. Besok (Dengan beroperasinya NYIA) pesawat besar bisa langsung ke sini (Jogja), seperti dari Jepang dan Korea bisa langsung ke sini,” ucap Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, minggu kedua Desember tahun lalu, sebagaimana dikutip dari detik.com.

Selain mengutamakan rute penerbangan internasional, Bandara Kulon Progo akan melayani penerbangan umrah.”Bandara ini (NYIA) berada di antara Jogja dan Jateng (Jawa tengah), sehingga potensi untuk umroh itu banyak sekali.

Meski mengutamakan penerbangan internasional, NYIA tetap digunakan penerbangan domestik. Namun baru bisa dilakukan pada 2020. “Untuk penerbangan domestik di NYIA rencananya dibuka 2020. Bandara Adisutjipto juga masih beroperasi. Jadi untuk pesawat domestik (Yang jalur penerbangannya) dekat atau kurang dari satu jam macem Jakarta-Surabaya penerbangan diarahkan dari Bandara Adisutjipto dan kalau yang (Penerbangannya) lebih dari satu jam diarahkan ke sini (NYIA),” terang Budi.

Dampak keberadaan bandara NYIA  juga akan memberi keuntungan bagi Jawa Tengah kendati berada di Jogja. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menilai pembangunan NYIA yang berada  di Kabupaten Kulonprogo akan memberikan dampak positif bagi Jawa Tengah. “Pembangunan bandara Kulonprogo ini harus juga bermanfaat bagi Jawa Tengah, khususnya Purworejo. Karena daerah ini merupakan daerah terdekat dengan bandara, maka Purworejo harus ikut bergeliat. Istilahnya, dengan adanya bandara Kulonprogo, rejeki Yogyakarta bisa menular ke Jateng, khususnya masyarakat Purworejo,” ujar Ganjar dalam siaran pers, November tahun lalu.

Apalagi lanjut Ganjar, jarak antara bandara Kulonprogo dengan Purworejo jauh lebih dekat daripada jarak bandara ke Yogyakarta. Secara geografis, tentu hal tersebut merupakan bonus positif untuk mengembangkan wilayah Purworejo. “Purworejo-Kulonprogo kan hanya sekitar tujuh kilometer, sementara bandara ke Yogyakarta jaraknya puluhan kilometer. Jadi peluang ini harus bisa ditangkap dan dioptimalkan, Purworejo harus mendapatkan benefit,” tegas Ganjar, sebagaimana dikutip dari harianjogja.com.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan, di antaranya melakukan penataan ruang dan menyiapkan rencana pembangunan di sekitar bandara Kulonprogo agar bisa mendapatkan nilai tambah dari bandara tersebut. “Kami sudah siap, tentu benefit yang dapat dioptimalkan misalnya akomodasi, hotel-hotel akan tumbuh. Kemudian kuliner, pariwisata, produk-produk UMKM dan industri kreatif lainnya harus tumbuh di Purworejo,” ujarnya.

Ganjar mengajak Bupati Purworejo, Agus Bastian, melakukan sosialisasi dan mengajak masyarakat berdiskusi persiapan menyambut dampak dari bandara Kulonprogo. Tujuannya, agar masyarakat ikut terlibat dalam menangkap peluang bagus ini.

DI Yogyakarta nampaknya bakal menjadi magnet baru pertumbuhan perekonomian di wilayah ini. Peluang investasi yang sedemikian besar dipastikan dapat mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat. Bagi pengusaha lokal, hal tersebut menjadi daya tarik keputusan untuk mengambil peran. Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) DI Yogyakarta, Tedy Gani Karim menandaskan, para pengusaha lokal harus berpartisipasi menyambut bandara baru tersebut. Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha. Meskipun sebenarnya, pembangunan inti bandara baru dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tetapi pengusaha lokal dapat menangkap peluang-peluang investasi pada kota penyangga ekonomi di sekitar bandara, sebagaimana dikutip dari kumparan.com.

Para pengusaha lokal bisa berpartisipasi dalam penyediaan sarana transportasi ataupun bisnis cargo yang pasti akan menjadi peluang untuk digarap. Selain itu, sektor properti juga memungkinkan menjadi peluang baru untuk didalami oleh para pengusaha lokal.

Tak hanya itu, para pengusaha lokal bisa menangkap peluang bisnis penyediaan tempat-tempat usaha baru seperti kompleks perkantoran, toko atau kios ataupun kompleks pergudangan Nantinya, tempat-tempat tersebut juga pasti dibutuhkan di seputaran bandara mengingat banyak pebisnis yang menginginkan tempat kerja mereka dekat dengan akses bandara.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY, Sugeng Purwanto, sebagaimana dikutip dari kumparan.com, April tahun lalu, mengakui, iklim investasi di DIY semakin membaik dari tahun ke tahun. Dari sisi nilai saat ini memang nilai investasi yang ada di DIY awal tahun 2018 sudah mencapai Rp 1,5 triliun. Dan tahun depan  (2019) diperkirakan mencapai Rp 17 triliun seiring dengan berdirinya bandara baru, karena untuk membangun bandara baru itu saja membutuhkan dana di atas Rp 5 triliun, belum lagi nanti infrastruktur di sekelilingnya.

“Setelah bandara baru ini ada, saya yakin investasi akan mengalami pertumbuhan. Kalau bisa, jangan pemain luar semua, harus ada pemain lokalnya yang berpartisipasi,”tandasnya. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kulonprogo, Agung Kurniawan mengakui jika pembangunan bandara Internasional Yogyakarta yang baru di wilayahnya telah menjadi magnet bagi investor. Beberapa pemilik modal telah menyatakan minatnya untuk menanamkan usaha mereka di Kulonprogo.[] Yuniman Taqwa/Ilustrasi: dpmpt.kulonprogo.go.id