Prospek Bisnis Wood Painting Lulus Yohanes Sutanto

Berkembangnya teknologi informasi di tanah air membawa Lulus Yohanes Sutanto  keluar dari zona aman  di tengah ekosistem yang sudah terbentuk di Pulau Dewata Bali. Ia pun melakukan lompatan katak melalangbuana mengarungi jagad maya membawa hasil karya hiasan dinding kayunya (wood painting).

Wood Painting menjadi tren dekorasi rumah, resto, kafe dan hotel (Foto: pelakubisnis.com)

Booth Cendana Permai Art Shop cukup menarik perhatian pengunjung  Pameran Pasar IdEA 2019 yang berlangsung 15-18 Agustus 2019 lalu.  Di event yang mempertemukan para pelaku industry e-commerce dengan konsumennya, dimana masing-masing pemilik platform shopping online menyediakan display produk-produk yang dapat dibeli langsung konsumen. Booth  milik Lulus Yohanes Sutanto ini hadir di salah satu booth Blibli.com di area Kategori Galeri Indonesia yang mengajak pelaku usaha kreatif tanah air ikut berdagang disitu.

Lukisan dinding dengan menggunakan medium kayu/papan trennya memang semakin meningkat. Seni lukis di atas kayu/papan atau yang kerap disebut wood painting ini merupakan bagian penting yang sedang menjadi trend untuk dekorasi rumah, resto atau kafe bahkan hotel-hotel.

Menghasilkan lukisan yang bagus tak selamanya harus menggunakan kanvas atau kertas.  Medium kayu/papan ternyata juga memiliki nilai seni yang tinggi.  Lulus, salah satu pengrajin asal Bali sudah memulai bisnis wood painting  ini sejak 1996.

Berawal dari hobbi melukis, tamatan Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan Teknik Otomotif ini terinspirasi menggunakan papan kayu sebagai medium lukisan-lukisannya. Selain bahan bakunya mudah didapat, melukis di atas kayu ternyata hasilnya tak kalah artistic dibandingkan melukis di atas kanvas atau kertas. “Saya cenderung melihat nilai seninya dan ternyata banyak orang lebih suka hiasan kayu. Saya pribadi lebih suka memproduksi  yang jarang ada di pasar, tidak umum,”tutur Lulus kepada pelakubisnis.com.

Tak ada kendala dalam bahan baku memacu Lulus untuk fokus menghasilkan karya lukis dengan menggunakan medium papa kayu dan terciptalah wall sign wood, hiasan dinding kayu yang memuat banyak gambar, cerita, quote yang menarik dan inspiratif.  Ada objek yang familiar seperti gambar tokoh-tokoh dunia, karakter animasi, objek mobil VW salah satu yang rupanya cukup banyak peminatnya, juga quote yang inspiratif yang merepresentasikan suasana ruangan dimana hiasan wood painting itu dipasang.

Bermodal ratusan juta rupiah Lulus membangun usaha ini dari awal bekerja sendiri hingga kini memiliki sekitar 20 karyawan yang membantunya.  Tak sedikit turis-turis dalam dan luar negeri yang berkunjung ke Bali  yang membeli hasil karyanya. Boleh dibilang hampir tak ada kendala berarti dengan usahanya lewat Cendana Permai Art Shop yang menjual beragam barang-barang kerajinan di daerah Gianyar, Bali. “ Tamu-tamu saya banyak  orang Eropa. Mereka order hiasan sign wood untuk dibawa ke negaranya. Lebih banyak dari mereka sistem order, memesan sesuai keinginan mereka,”ujar seniman yang banyak melukis tokoh-tokoh dunia dan membuat collectibles (koleksi mainan)  karakter animasi seperti Hulk, Superman, Tintin dan Kapten Haddock yang cukup menarik perhatian  di booth-nya.

Puluhan tahun sudah Lulus menjalani usaha wall sign wood, baru sekarang terbersit  untuk keluar dari zona aman. Teknologi Informasi (TI) membuka matanya untuk melebarkan sayap keluar ekosistem yang sudah ada, Pulau Bali. Kini Lulus keluar dari comfort zone karena TI memberi banyak peluang  untuknya  melanglang buana ke luar Bali. Sejak tahun lalu dia berpikir untuk akselerasi pasar. Menurutnya, tak ada salahnya melakukan lompatan katak kalau mau maju.  Lulus akhirnya melakukan transformasi. Business process diubah, e-commerce memungkinkan ia untuk  mengkombinasikan sistem pemasarannya dengan  sistem offline to online (o2o).  “Dulu cuma modal tempat dan modal  operasional beberapa ratus ribu rupiah saja.  Menjual produk ke toko-toko souvenir di Bali. Banyak juga  yang order dulu, customized,”ungkap Lulus.

Iapun memulainya dari pameran ke pameran. Baru tahun ini ia mencoba peruntungan keluar Bali.  Tahun ini ia berjualan  di  PRJ –Pekan Raya Jakarta- dan diluar dugaan, produknya sangat diminati pengunjung hingga mencetak omset ratusan juta rupiah.  “Animo masyarakat luar biasa. Nilai transaksinya hampir sama dengan omset rata-rata kami sebulan. Omset rata-rata sekitar Rp 200 juta per bulan,”ujar Lulus bersyukur bisnisnya semakin berkembang dikenal pasar lebih luas.

Dengan sistem o2o membuka peluang besar baginya mengembangkan usaha. Kini produk-produknya yang dijual mulai hrga Rp 60 ribu hingga ratusan juta rupiah, tak hanya terpajang di toko Cendana Permai di Bali, tetapi sudah bisa kita temui di modern outlet seperti Carrefour dan Atria Home Living yang menjual kebutuhan dekorasi rumah.

Terakhir ia digandeng pemilik platform Blibli.com menjadi peserta pameran di booth Galeri Indonesia, salah satu booth milik marketplace tersebut. Ia membawa produk  wood painting senilai  Rp 80 juta untuk pameran 4 hari di Pasar idEA2019. Sayangnya ia enggan menyebut berapa nilai transaksinya dalam pameran yang diselenggarakan di Hall A dan B, Jakarta Convention Centre (JCC) tersebut.

Ia berharap, produk wood painting Cendana Permai semakin diminati pasar yang lebih luas di tanah air.  “Kalau turis di Bali sudah tahu dengan  produk-produk saya.  Sekarang karena perkembangan zaman dimana semua masuk ke belanja online, saya pun mencoba tawarkan melalui belanja online dan berjualan ke Jakarta dulu.  Saya terlanjur menyukai pekerjaan ini, makanya saya berusaha membesarkan usaha ini,”kata Lulus,  seraya menambahkan, bahwa sangat disayangkan usahanya saat ini masih menjadi usaha pribadi dan belum berbadan usaha.”Setelah ini saya akan mengurus badan usaha,”tutupnya mengakhiri obrolan dengan pelakubisnis.com.[]Siti Ruslina