Sektor Industri Sumbang PDB 19,52% (y-on-y) Pada Semester I 2019

Jakarta, 11 Agustus 2019, pelakubisnis.com –  Indonesia saat ini  sudah masuk dalam kelompok G-20 dengan kekuatan ekonomi terbesar di posisi ke-16 dunia. Guna lebih mendongkrak perekonomian nasional, industri manufaktur memiliki peran yang penting.

“Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih sangat tinggi, karena kuenya juga masih besar. Jadi, perlu didorong untuk terus tumbuh,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, pada Congress of Indonesian Diaspora (CID-5) di Jakarta, pada 10/8.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional pada triwulan II tahun 2019 dengan capaian 19,52% (y-on-y). Sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, industri pengolahan nonmigas tumbuh 3,98% (y-on-y) pada paruh kedua tahun ini.

Selama ini industri manufaktur terus menyumbang paling besar bagi capaian nilai ekspor nasional. Sepanjang Januari-Juni 2019, pengapalan produk manufaktur nasional mampu menembus hingga USD60,14 miliar. Nilai ini berkontribusi sebesar 74,88 persen dari capaian ekspor nasional yang menyentuh angka USD80,32 miliar di semester pertama tahun ini.

“Kita sedang ingin menjadi negara yang lolos dari middle income trap. Pada tahun 2020, diharapkan kita sudah masuk di dalam upper middle income country. Syaratnya, anggaran penelitian mencapai 2 persen, produktivitas naik dua kali lipat, dan kontribusi sektor industri sebesar 25 persen,” sebutnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah terus mendorong terciptanya inovasi di sektor industri agar dapat berdaya saing global. Oleh karena itu, perlu peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan yang mampu memacu produktivitas dan kualitas industri nasional.

“Pemerintah sedang mendorong industri kita ke depannya berbasis inovasi. Bahkan, pemerintah telah menerbitkan peraturan yang tidak hanya bisa menarik untuk manufakturnya saja, tetapi juga  menumbuhkan pusat inovasi di Indonesia,” tandasnya.

Regulasi itu adalah Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019, yang mengatur pemberian insentif super taxdeduction sebesar 200 persen bagi perusahaan yang melakukan pengembangan SDM berbasis kompetensi dan sampai 300 persen bagi perusahaan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia.

Di samping itu, dalam mendukung implementasi industri 4.0 di Indonesia, Kemenperin terus berupaya membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya inovasi-inovasi di sektor manufaktur. Contohnya, Kemenperin telah membangun tiga unit mini showcase industri 4.0, yaitu Mocaf 4.0 di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor, Vision 4.0 di Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Bandung, dan Cacao 4.0 di Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) Makassar.[] sp