Cost Management Industri Migas Perlu Dikendalikan

Para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas perlu meningkatkan eksplorasi blok migas demi menjaga ketahanan energi ke depan. Pemerintah hanya menekankan peningkatan tata kelola termasuk harapan lebih efisien  mengelola industri migas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ketidakpastian ekonomi global yang melanda beberapa tahun terakhir ini perlu disikapi secara serius bagi kalangan industri migas nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menekankan pentingnya efisiensi di industri minyak dan gas bumi (migas) dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Betapa tidak, fenomena itu berimplikasi terhadap harga minyak dan gas yang kian tergerus. Sementara harga minyak dunia tak ada yang bisa memprediksi. Jonan menuturkan, sekitar 10 tahun lalu, harga minyak dunia pernah menyentuh US$120 per barel. Saat ini, harga  merosot tajam. Kita tak bisa prediks berapa harga minyak di masa mendatang.

Kini rata-rata harga minyak mentah Indonesia (IPC) pada Juli 2019 tercatat US$61,32 per barel atau menguat tipis 0,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya, US$61 per barel. Penguatan dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Penguatan juga terjadi pada ICP SLC Juli 2019 juga sebesar US$0,14 per barel dari US$ 61,84 per barel menjadi US$ 61,98 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah disebabkan oleh isu peningkatan pengayaan uranium Iran yang dianggap melanggar perjanjian nuklir yang disepakati pada 2015 lalu, sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com

Faktor lain adalah ketegangan yang dipicu oleh penangkapan kapal tanker Iran di selat Gibraltar oleh Inggris dan 2 kapal tanker minyak Inggris di Selat Hormuz oleh Iran, serta Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penembakan drone milik Iran oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.

Selain memanasnya tensi di Timur Tengah, kenaikan tipis harga minyak metah utama di pasar global juga dipicu oleh kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak hingga akhir Maret 2020.

Sementara perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok turut mempengaruhi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP)  Agustus 2019. Terdapat penurunan sebesar US$4,05 per barel dari bulan sebelumnya sehingga ICP Agustus 2019 ditetapkan sebesar US$57,26 per barel.

“Pengumuman Presiden Amerika Serikat atas tarif impor baru untuk sisa barang dan jasa Tiongkok senilai US$300 miliar dan penurunan nilai mata uang Tiongkok terhadap dolar AS berdampak pada kekhawatiran atas lambatnya ekonomi global. Tentu, ini berujung pada anjloknya harga minyak mentah dunia,” jelas Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi, di Jakarta, pada 6/9/2019.

Estimasi pertumbuhan ekonomi global, sambung Agung, mengalami penurunan sebesar 0,1% menjadi 3,1% berdasarkan publikasi yang dirilis oleh OPEC Monthly Oil Market Report (MOMR).

Dalam laporan yang sama, tercatat peningkatan suplai minyak mentah dunia bulan Juli 2019 dibandingkan bulan Juni 2019 sebesar 230 ribu bph menjadi 98,71 juta barel per hari yang dipicu oleh peningkatan produksi dari negara- negara Non OPEC.

Namun demikian, Jonan menambahkan, harga minyak dan gas dunia tergantung dari mekanisme pasar dan situasi perekonomian global. “Kita itu tahu bahwa harga minyak adalah harga yang terjadi dengan mekanisme supply demand dan pengaruh-pengaruh gejolak politik secara global sehingga harga minyak dan gas tak ada yang bisa menentukan,” ucap dia.

Menurut Jonan, hal yang perlu diperhatikan oleh para stakeholder maupun masyarakat Indonesia adalah sumber migas. Migas merupakan sumber energi yang tidak bisa diperbaharui dan yang bisa dilakukan hanyalah mencari sumber baru. Sehingga hal ini jadi perhatian penting bagi keberlangsungan industri migas itu sendiri. Hal itu disampaikan saat membuka gelaran Indonesia Petroleum Association (IPA) ke 43 Convention and Exhibition di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta, pada 4/9/2019.

Menteri ESDM sedang meresmikan pmeran IPA ke-43 di Jakarta/foto: ist

“Yang bisa kita lakukan dan yang penting adalah melakukan efisiensi daripada biaya-biaya produksi atau eksplorasi dengan cara menggunakan teknologi yang lebih up to date,” jelas Menteri Jonan serius.

Jonan  meminta kepada semua kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas untuk meningkatkan eksplorasi blok migas demi menjaga ketahanan energi ke depan.“Sebagai regulator, kami hanya menekankan peningkatan tata kelola termasuk harapan kami untuk lebih efisien (di sektor migas). Saya sudah minta Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk fokus bagaimana caranya meningkatkan eksplorasi,” ujar Jonan.

Peran SKK Migas untuk mengawal program kerja kegiatan eksplorasi dan eksploitasi juga mendapat perhatian Jonan. “Saya tidak begitu khawatir mengenai (risiko) gross split atau PSC lainnya. Yang saya tekankan ke SKK Migas mengenai cost management,” sambungnya.

Menurut Jonan, para KKKS harus mencari cara melakukan efisiensi. Pelaku usaha migas yang beroperasi di Indonesia adalah para pemain besar seperti Exxon, Conoco, Pertamina, Chevron, Eni, dan lainnya sehingga sangat memungkinkan untuk bisa menggunakan teknologi terbaru dengan biaya produksi lebih rendah.

Perkembangan teknologi baru, tegas Jonan, dapat membantu para pelaku usaha dalam memperbaiki tata kelola dan meningkatkan efisiesi. Harapannya, efisiensi ini mampu mengerek harga migas yang lebih ekonomis. “Saya percaya dengan teknologi baru yang bisa memperbaiki efisiensi. Teknologi bisa memperbaiki (tata kelola) dan efiensi bisa mempengaruhi harga (migas),” ungkapnya.

Sementara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) pun akan menetapkan sistem pengelompokan atau cluster untuk perusahaan produsen migas berdasar letak wilayah kerja guna menekan biaya produksi. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan, KKKS akan bersinergi guna mencari lokasi yang memberikan peluang keuntungan yang tinggi. ’’Ada enam sampai tujuh cluster. Jadi, harus ada kerjasama dan infrastrukturnya jangan sendiri-sendiri,’’ ujarnya.

Selain itu, efisiensi bisa didapatkan dengan melakukan pengadaan bersama. SKK Migas berkomitmen menghadirkan konsolidasi kebutuhan kontraktor dengan baik. Perpanjangan kontrak juga bisa menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi. ’’Kalau cuma setahun, akan mahal. Makanya, kami ciptakan kontrak jangka panjang,’’ imbuhnya. SKK Migas sedang berupaya mendorong efisiensi lifting gas bumi karena penggunaan untuk pengoperasian proyek masih terlalu tinggi.

Lebih lanjut ditambahkan, industri migas nasional  telah berhasil membuktikan bahwa mereka mampu bertahan pada era harga minyak rendah. Performa produksi tetap dapat dipertahankan meski belanja modal dihemat. Sejak 2014–2018, produksi minyak bumi empat perusahaan migas terbesar di dunia, ENI, BP (British Petroleum), ExxonMobil, dan Shell, mampu bertahan diangka 1,8–3,8 mmboepd (juta barel setara minyak per hari). Serangkaian strategi pengeboran di sumur eksploitasi dilakukan untuk meningkatkan produksi migas. Khususnya Mahakam dan Sanga-Sanga yang merupakan dua blok prioritas.

kegiatan eksplorasi migas di offshore/foto: ist

Menurut Dwi, ada empat langkah untuk meningkatkan efisiensi, yaitu: yang pertama adalah membentuk sinergitas investasi dengan membangun kluster-kluster pengembangan blok migas Kedua pengadaan bersama berbagai barang yang menjadi kebutuhan para kontraktor. “Belanja lebih banyak barang selalu lebih murah, selain itu pemanfaatan infrastruktur secara bersama akan menekan biaya,” katanya seraya menambahkan upaya ketiga adalah pembuatan kontrak jangka panjang bagi investor, dan keempat penggunaan teknologi terbaik.

Baru-baru ini, misalnya, SKK Migas bersamaMedco E&P Natuna Ltd, Premier Oil Indonesia dan Star Energy telah melakukan efisiensi biaya sebesar US$56,5 juta atau sekitar Rp 790 miliar. Efisiensi ini menyangkut penyediaan jasa transportasi udara bagi pekerja kontraktor lapangan.

“Efisiensi ini berhasil dicapai melalui sinergi kontrak efisiensi biaya sebesar US$ 56,5 juta atau sekitar Rp 790 miliar. untuk pekerja lapangan dengan ketiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tersebut,” ujar Kepala Divisi Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa SKK Migas Erwin Suryadi, di Jakarta Convention Center (JCC), pada 5/9.

Erwin mengatakan inisiatif kolaborasi SKK Migas dengan ketiga KKKS ini merupakan salah satu cara untuk mendapatkan efisiensi biaya tanpa harus menurunkan aspek kualitas keselamatan maupun operasional. “Kami berharap, inisiatif ini dapat menjadi acuan untuk pelaksanaan kontrak lainnya ke depan, ini juga untuk memastikan bahwa negara tidak lagi dirugikan dengan adanya destock atau barang mati,” jelasnya.

Sementara Vice President IPA Louise M McKenzie melihat Indonesia masih sangat potensial cadangan migasnya. IPA telah bekerjasama dengan pemerintah agar investasi industri migas di Indonesia lebih menarik.

Menurut Louise, pemerintah Indonesia saat ini telah menunjukan perhatian besar di migas, IPA siap bekerjasama guna meningkatkan produktivitas migas nasional. “Kita merasakan banyak capaian dari Pemerintah Indonesia, mulai dari kemudahan berbisnis, kebijakan fiskal yang pro-pertumbuhan, serta fokus yang baik pada kebijakan di bidang migas oleh Kementerian ESDM,” imbuhnya.

Ia memberi contoh, terbitnya keputusan Pemerintah tentang persetujuan revisi POD Blok Masela dan perpanjangan kontrak Blok Corridor, kata Louise,  menjadi sinyal positif  bagi para investor. Pemerintah pun  telah melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia. “Regulasi dan perizinan yang semakin sederhana dan pembukaan akses data migas, serta insentif perpajakan merupakan keberlanjutan langkah Pemerintah menuju arah yang tepat,” katanya.

Sementara  pemerintah berupaya meningkatkan iklim investasi hulu migas). Peningkatan iklim investasi tersebut diwujudkan dengan perubahan sistem fiskal pada industri hulu migas dari sistem cost recovery menjadi gross split.

“Era sekarang penuh dengan disrupsi. Sebab itu, industri migas juga perlu melakukan disruption, salah satunya dengan mengubah sistem fiskal dari cost recovery menjadi gross split ,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar di acara forum diskusi bertajuk ëMenilik Industri Migas Indonesiaí di Gedung Media Indonesia, Jakarta, Maret lalu.

Menurut Arcandra, sejak perubahan sistem fiskal pada 2017 lalu, industri migas lebih berdaya saing dengan menerapkan Gross Split. Prinsip dasar kontrak ini adalah Certainty, atau mempunyai parameter pemberian insentif terukur. Simplicity , yaitu tidak ada perdebatan mengenai biaya dan pengadaan independen. Dan Efficiency, yaitu mendorong industri migas untuk efisien sehingga mampu menghadapi gejolak harga minyak.

Hingga Juni 2019, sebanyak 42 kontrak kerjasama migas telah menggunakan skema gross split. Lima di antara kontrak tersebut merupakan amandemen dari cost recovery menjadi gross split. Selain itu, beberapa perusahaan migas lainnya juga sedang dalam proses untuk berubah dari cost recovery ke gross split.[] Yuniman Taqwa