Dibalik Seribu Cerita Tentang Batik

Batik merupakan salah satu  warisan nenek moyang  yang mendapat apresiasi tinggi di dalam dan luar negeri. Terbukti, untuk keempat kalinya  ajang Pameran Warisan, stand-stand batik tulis semakin ramai pembeli bahkan tak sedikit yang  memborong kain batik bernilai jutaan ribu rupiah.

Batik kini menjadi komoditi yang diburu (Foto: pelakubisnis.com)

Akhir Agustus lalu pelakubisnis.com berkesempatan mengunjungi  Pameran Wasiat Agung Negeri Nusantara (WARISAN) yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.  Pameran bertajuk “Citra Bahtera Nusantara”  yang dikemas dalam bentuk terkurasi ini  merupakan wadah para perajin dan pengusaha batik, tenun dan mutiara menggelar karya yang memiliki nilai estetika dan sarat akan filosofi.

Yap! Produk-produk  yang akan dipamerkan dalam ajang ini telah melalui proses kurasi yang dilakukan oleh tim kurator yang terdiri dari Komarudin Kudiya (Kurator Batik), Romi Oktabirawa (Kurator Batik), Dudung Alie Syahbana (Kurator Batik), Zainal Arifin (Kurator Tenun), dan Ratna Zhuhry (Kurator Mutiara).

Event ini adalah penghubung lintas generasi dan peralihan peradaban dari generasi ke generasi yang bertujuan menjaga seni dan budaya bangsa,  juga sebagai apresiasi kepada pebatik, penenun, pemerhati, pengrajin dan pengusaha batik di tanah air.

Owner Zainal Songket bersama Ibu Yeyen, Owner Batik Komar (Foto: pelakubisnis.com)

Kgs Zainal Arifin Husin, owner Zainal Songket  misalnya. Siapa yang tak kenal songketnya yang sudah lintas generasi dan lintas negara. Menurutnya, added value dari sebuah karya sebenarnya bukan hanya dilihat hasil akhirnya. Justru proses yang membuat sebuah karya mendapat apresiasi tinggi. “Songket dibuat dengan hati nurani, dengan pikiran yang tenang, dan pembuatannya  dari tiga bulan sampai satu  tahun,”ungkap Zainal yang saat ini dibantu sekitar 100 orang karyawannya.

Ada proses yang lama untuk menghasilkan songket bernilai puluhan juta rupiah. Dari pembuatannya yang menggunakan alat tenun yang sederhana, proses pewarnaan,  dan proses-proses lainnya hingga menghasilkan sebuah karya songket yang mewah dan menawan.

Tak heran, dalam memasarkannya, Zainal juga memiliki approach yang boleh  jadi jarang dimiliki pengrajin  lain. Konsep pembeli adalah raja  menjadi filosofi  Zainal  untuk memanjakan pelanggannya.

Lain lagi cerita dari stand Batik Komar milik kurator asal Bandung, Komarudin Kudiya dan istrinya Nuryanti Widya yang akrab dengan sapaan Bu Yeyen. Berlatarbelakang keluarga  pebatik, membuat pasutri ini tak bisa lepas dengan dunia batik. Bermula dari usaha batik Cirebonan, kini Batik Komar melakukan pengembangan desain-desain batik modern dengan kreasi yang unik, tematik dan mengikuti tren yang berkembang namun tetap menambah nilai wibawa bagi setiap pemakai batik.

Sayangnya menurut Yeyen, sebagai warisan budaya ternyata  sebagian masyarakat Indonesia belum dapat membedakan batik  dan tekstil bercorak batik yang akhirnya komunitas pebatik membuat RSNI (Rancangan Standarisasi Nasional Indonesia). Untuk itu  Komar dan istri berupaya mengedukasi masyarakat dengan membuat Program Wisata  Rumah Batik Komar. Dimana pengunjung dapat melihat proses pembuatan batik  bahkan tersedia paket pelatihan belajar membatik.

Dudung Alie Syabana men-deconstraction motif-motif lama dan me-reconstruction-nya menjadi kekinian (Foto: pelakubisnis.com)

Yang tak kalah eksotisnya adalah kehadiran Dudung Batik milik pebatik Dudung Alie Syahbana. Pebatik asal Pekalongan ini  melakukan terobosan keluar dari pakem pebatik pada umumnya.

Pada kesempatan itu pelakubisnis.com bertemu Musa Widyatmojo, desainer terkemuka Indonesia yang tengah singgah di stand Dudung Batik. Musa menyebut Dudung Batik  memiliki kekhasan dalam setiap karyanya. “Dia selalu mengolah yang baru menjadi  sesuatu yang berbeda, menjadi gayanya dia, style nya dia. Dia seniman batik. Berseni melalui batik. Karena berkarya melalui batik,  dia bukan sekedar menjual dan membuat batik, tapi ada yang membuat dia berbeda,”tutur Musa tentang pebatik Dudung Ali Sjahbana.

Lebih lanjut Musa menambahkan,  kalau ingin  mengetes  pedagang batik yang bagus rahasianya adalah  dia bisa cerita karyanya atau tidak?  Kalau dia bisa ceritakan dengan detil, dia orang yang pintar, tapi kalau tidak bisa cerita , dia tidak pintar.

Dudung pun angkat bicara. Konsepnya membangun usaha batik ini berawal dari tradisi lama yang kemudian disajikan  dalam konteks  kekinian. “Prosesnya adalah  men-deconstraction motif-motif lama dan me-reconstruction-nya menjadi kekinian,”ungkap pebatik asal Pekalongan ini.

Pebatik yang satu ini memang selalu diluar pakem dari komunitas pebatik pada umumnya.  Karya motif batik kawung miliknya  disertai  pointilis. Kabarnya Dudung yang mengawali motif berciri latarbelakang bola-bola kecil itu. “Di dalam  seni lukis disebut titik-titik besar dan  kecil. Saya punya orange dan abu-abu. Warnanya bertabrakan dan greynya berlayer. Itu ciri khas saya,”jelas Dudung.

Ia pun mulai menceritakan satu per satu motif batik yang telah dihasilkan. Ada satu kain bermotif  konsep tradisional, menggambarkan motif Mega Mendung  Majapahit yang dikombinasikan dengan motif Cirebon dan Jepang. Menggunakan  warna ciri Indonesia dengan warna kuning dan warna bertabrakan .

Motif Parang Motion karya Dudung Alie Syabana (Foto: pelakubisnis.com)

Adapula motif  Parang. Tetap menggunakan  pointilis, Dudung membuat motif parang dari tradisi Jawa seperti menggambar keong-keong, dengan teknik  menggambar dari kiri atas ke kanan bawah.  “Kalau  enam  delapan cm itu Parangteritis, untuk permaisuri, kalau 12,15cm  itu Parang Barong untuk raja, untuk penobatan atau perayaan naik tahta. Tapi  batik yang saya buat adalah  parang motion, berputar. Karena parang itu tumbuhnya di melinjon  (pusaran air-red). Mengambil cerita sejarah ketika Sultan Agung, panembahan senopati bersemedi di Parangteritis  Dia melihat pusaran air. Filosofinya begitu.  Jadi saya buat satu motif ada banyak cerita,”papar Dudung.

Pekalongan yang terkenal sebagai kota Batik memang  selalu melahirkan pembaharu-pembaharu yang mewakili jaman. Di masa kotemporer ini Pekalongan melahirkan Dudung Alie Syabana, seorang pria berdarah campuran, Jawa keturunan Arab dari Yaman.

Dudung bukan saja dikenal di kota kelahirannya dan di Indonesia tapi juga di dunia internasional mengenalnya sebagai seniman batik dengan hasil karyanya yang mendunia. Dudung mengajak orang untuk mencintai batik paling tidak peduli dengan keberadaan batik. Dia mengenalkan sekaligus menciptakan tren-tren baru tentang batik.

Dibalik motif Dudung Batik sarat nilai sejarah dan filosofi (Foto: pelakubisnis.com)

Karyanya juga terpasang di  Istana Thailand.  Dudung menganggap hasil karyanya tak dapat diukur dengan uang. Kalau satu helai kain batik motif   Mahabarata yang terjual dengan  harga Rp 70 juta/helai, itu bukan karena bahan baku yang amat mahal, tapi ia meminta setiap orang menghargai  proses kerja dan kreatifitas para pebatiknya. Bayangkan,   dengan menggunakan bahan mori ia bisa menjual karya  batiknya bernilai puluhan juta rupiah.  “Tapi buatnya satu tahun. Bayangkan sepanjang waktu itu kami mengerjakan bisa sampai satu tahun.  Seperti motif  Yesus dengan 12 Rosul ini. Terinspirasi dari lukisan  karya Leonardo Da Vinci.  Saya buat versi  wayangnya.  Wayang Sadat terinspirasi dari cerita-cerita nasrani, dari Kitab Injil. Saya terjemahkan dengan wayang Beber, yang ditulis dalam kertas atau kain. Saya buat di atas kain batik,”ujar muslim keturunan Arab Pekalongan ini yang kaya dengan pengetahuan sejarahnya.

Ia  tuangkan banyak cerita melalui  kain batik . Nama-nama dewa dalam dunia pewayangan dengan latarbelakang motif mega mendung, lalu ia ubah warna mega mendung yang dominan biru menjadi  orange. “Saya dapat pesanan dari seseorang yang kaya raya . Beliau memiliki museum dan sering membuat buku. Orang Indonesia keturunan Tionghoa di Bali, dia  memesan 100 helai batik (senilai Rp 70 juta-red).

Karya mahasiswa seni rupa binaan Dudung Batik (Foto: pelakubisnis.com)

Dudung menjelaskan satu per satu gambar yang tertulis di kain batik. Ada  gambar Candi Borobudur yang dibuat mahasiswa yang kebetulan ikut membantu di tempatnya.  “Karya anak mahasiswa ini belum tentu bisa dibuat pebatik biasa.   Gradasinya warnanya bagus, ada sudut dan gaya pandang,  jarak pandang, kearifan pandang, ada gelap dan terang. Dia tahu pencahayaan darimana sinar mentari berasal. Dia juga buat gambar  Candi Prambanan dengan gradasi warna yang sama,”Dudung menjelaskan satu motif Candi Borobudur dan Prambanan yang ditawarkan dengan harga Rp 35 juta.

Motif batik Mesir Kuno di masa kejayaan Fir’aun (Foto: pelakubisnis.com)

Dudung juga mempromosikan satu kain batik bermotif Mesir karya seorang Sarjana Seni Rupa asal Mesir yang rela hidup sederhana demi idealismenya menghasilkan  karya batik dengan motif-motif Mesir Kuno di  masa kejayaan Fir’aun. Bila sebelumnya orang Mesir menggunakan dedaunan  papyrus sebagai medium melukis, di Indonesia orang Mesir menggambar di kain batik. “Saya bantu dia (Sarjana Seni Rupa asal Mesir yang menetap di Pekalongan-red)  bereksplorasi dengan gambar-gambar versi Mesirnya melalui kain batik. Hasil penjualannya, uangnya saya kembalikan ke dia. Satu hal,  sebuah karya tidak bisa dihitung dengan uang,”tutur Dudung yang dibantu 150 pebatik ini.

“Mungkin hari ini belum bermakna apa-apa, tapi ketika bertemu orang Mesir, Saya menginternasionalkan batik melalui orang Mesir. Ini menjadi sesuatu yang menarik.  Jadi kita meninggalkan sesuatu dalam  hidup yaitu  warisan. Menjadi orang  biasa, kamu hanya makan tidur, makan tidur. Tapi kalau mau menjadi orang  luar biasa tinggalkanlah karya . Berkaryalah dalam hidupmu, tinggalkan sesuatu. Tinggalkan karena ada rejeki orang lain dan rejeki generasi yang akan datang. Agar batik dikenal dunia,”paparnya.

Dudung mulai mengenal dunia batik sejak 30 tahun lalu.  Filosofinya, “Jadi dirimu sendiri, jangan menjadi saya! Kami melakukan bagi sebuah pengabdian dalam hidup. Pengetahuan berlapis-lapis, cinta, keadilan, kesabaran dan pengabdian.  UNESCO memberikan penghargaan bagi batik Indonesia itu hanya regulasi, sebuah tata kelola. Sesungguhnya biarkan public yang memahami sendiri. Dia harus bisa mempresentasikan dan mendeskripsikan ini.  Pahami  teknik, web riset, kitab,dan pengetahuan. Berartilah dalam kehidupanmu. Mindset nya adalah jangan buat batik yang orang lain sudah buat,”Dudung menutup percakapan . []Siti Ruslina