Industri Baterai Percepat Pengembangan EBT

Hilirisasi sektor energi surya dengan memproduksi baterai skala besar menjadi solusi akselerasi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Era itu kini ada dihadapan kita! Bagaimana trennya ke depan?

Making Indonesia 4.0 yang telah dicanangkan pemerintah dapat diterjemahkan di sektor listrik  sebagai percepatan program Energi Terbarukan, Jaringan Cerdas (Smart Grid ), kendaraan listrik dan Layanan Charging bagi kendaraan listrik (EV – Electric Vehicle ) dan  sistim penyimpanan energy atau Energy Storage System ( ESS ). Produk, Teknologi, Layanan dan juga Knowledge serta Diskusi terkait listrik kekinian ini akan bisa kita temukan pada Conference & Exhibition HLN Ke-74 yang akan berlangsung pada 9-11 Oktober 2019 di JCC Jakarta.

Keandalan dan kualitas layanan sistim pasokan energi listrik akan makin meningkat bila didalamnya telah terintegrasi sebuah ESS. Era ESS yaitu memproduksi dan memanfaatkan baterai skala besar yang cerdas telah ada dihadapan kita sekarang, ini juga akan menjadi akselerator pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.

Pengembangan energi baru terbarukan dari sumber energy intermittent (  surya dan angin ), misalnya, masih terkendala  atas pengadaan  energy storage  (baterai). Meski harga ESS ini terus turun, namun pengadaan instrument itu masih memerlukan biaya besar, sehingga akselerasi pengembangan energi terbarukan itu kurang secepat dibandingkan pengembangan energi berbasis fosil.

Sementara pemerintah mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang ditargetkan mencapai 23 persen di 2025. Bahkan, Pidato Presiden Joko Widodo pada Conference of the Parties (COP 21) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), akhir November 2015 lalu mengatakan,  Indonesia berkomitmen mengurangi emisi 29% di bawah business as usual pada 2030. Angka ini meningkat menjadi 41% dengan bantuan dana internasional.

Pernyataan Presiden itu bukan “omong klobot”, tapi menunjukkan komitmennya kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia peduli terhadap efek rumah kaca. Sikap tersebut  diperkuat dengan dikeluarkannya UU N0. 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change.

Dengan dikeluarkan UU tersebut, berarti menjadi suatu kewajiban bangsa ini mengurangi emisi gas buang sesuai dengan komitmen itu. Bila pemerintah tidak menjalankan perintah UU itu, maka rakyat bisa menggugatnya. Tidak menutup kemungkinan DPR dapat melakukan pemakzulan atau impeachment bila hal itu terjadi pada waktunya.

Peneliti Energi Terbarukan dari ITB, Priyono Sutikno mengatakan sampai tahun 2050 batubara masih digunakan. Walaupun ada teknologi yang mampu mengurangi CO2 dari pembangkit batubara, seperti Carbon Capture and Storage (CCS). Tapi biaya penggunaan teknologi tersebut sangat mahal, sehingga belum ekonomis  diterapkan di Indonesia.

Sementara bila mengembangan energi terbarukan secara massif, kata Priyono, terkendala pada energy storage yang juga dinilai mahal. Padahal PLTU-PLTU yang lama di Jerman, dirubah menjadi energy storage. “Seharusnya Indonesia bisa meniru Jerman. Kita harus belajar dari Jerman,” katanya kepada pelakubisnis.com.

Namun demikian, menurut pantauan  pelakubisnis.com, PLTU berbasis energi fosil  mendominasi pembangkit di Indonesia. Sampai saat ini Indonesia masih mengandalkan energi fosil dengan kontribusi mencapai 87,7%.

Padahal di Tiongkok, misalnya, Pemerintahannya menjadikan pemanfaatan energi ramah lingkungan sebagai bagian dari program khusus “Revolusi Energi. Pemanfaatan energi terbarukan terus meningkat dari tahun ke tahun. Bila pada tahun 2005 hingga 2014, produksi sel surya di Tiongkok meningkat hingga 100 kali lipat. Pada tahun 2015, Tiongkok memproduksi energi surya hingga 43 GigaWatt (GW), dan tahun 2016, Tiongkok menggunakan 150.000 paten teknologi energi terbarukan, atau sama dengan 29% dari keseluruhan pemakaian di seluruh dunia

Tahun 2018, berbagai proyek teknologi energi terbarukan pun semakin banyak diaplikasikan oleh Tiongkok. Kapasitas total energi terbarukan di Tiongkok yang tercatat per akhir tahun 2018, termasuk energi hidro, biomassa, surya, dan angin, meningkat menjadi 728 GW berdasarkan data National Energy Administration (NEA), dengan energi surya sendiri sebesar 44.3 GW, sebagaimana dikutip dari solarnation-id.com

Sementara di Abu Dhabi kini memiliki penyimpanan daya baterai terbesar di dunia dengan kapasitas 108 MW/648 MWh. Dilansir dari Clean Technica pada Februari lalu, kapasitas ini lima kali lebih besar dibandingkan dengan baterai Hornsdale yang dipasang di Australia oleh Tesla satu tahun lalu.

Ada satu perbedaan penting lainnya antara  baterai di Australia dan baterai di Abu Dhabi. Unit di Australia menggunakan sel baterai lithium-ion, sedangkan baterai di Abu Dhabi menggunakan sel baterai sodium sulfur.

Dibandingkan dengan baterai lithium-ion, baterai sodium sulfur biasanya memiliki masa pakai yang jauh lebih lama. Biasanya 15 tahun atau 4.500 siklus pengisian. Efisiensinya sekitar 85 persen. Keuntungan lainnya adalah baterai sodium sulfur tidak menggunakan lithium atau kobalt, dua elemen yang pasokannya relatif sedikit. Sebagai gantinya mereka menggunakan natrium dan belerang, keduanya berlimpah di alam dan berbiaya tidak mahal, sebagaimana dikutip dari tek.id.

Kini Australia Selatan ingin membangun pembangkit listrik virtual 250MW. Pabrik ini akan terdiri dari ribuan panel surya dan baterai yang menjalankan perangkat lunak yang memutuskan kapan baterai diisi dan dibuang untuk memaksimalkan efisiensi dan nilai ke jaringan.Pembangunan akan dimulai dengan 1.100 properti perumahan umum. Warga mendaftar jika mereka tertarik pada program ini, dan seorang kontraktor Tesla akan datang ke rumah tersebut dan mencoba untuk memasang solusi penyimpanan surya dan baterai ke rumah tersebut.

Tesla Powerwall,: sistem penyimpanan energi listrik untuk perumahan , di Australia Selatan/foto: doc. Tesla

 

Instalasi sistem ini sudah dimulai, dan pemerintah Australia Selatan mengatakan instalasi akan berlanjut hingga 2020. Jika uji coba berjalan dengan baik, 24.000 rumah akan dimasukkan dalam pembangkit listrik virtual. Jika semuanya berjalan baik setelah fase kedua peluncuran, 25.000 rumah tangga Australia Selatan lainnya akan memiliki opsi untuk membeli ke dalam sistem. Instalasi di perumahan umum akan diberikan tanpa biaya kepada penduduk, sebagaimana dikutip dari anaktekni.com.

Bagaimana Indonesia?

Namun demikian,  ke depan Pemerintah Indonesia berkomitmen lebih banyak menggunakan energi terbarukan sebagai sumber energi. Political will itu dapat dilihat melalui UU dan sejumlah peraturan perundangan. Misalnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi yang mengharuskan pemerintah pusat dan daerah mendorong penggunaan energi terbarukan. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 yang menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050.

Menurut catatan Menko Perekonomia, hingga November 2018, di Indonesia sampai triwulan III tahun 2018 lalu persentase energi baru terbarukan di Indonesia baru sebesar 12,3% dari keseluruhan energi nasional. Komposisi ini akan terus ditingkatkan menjadi 23% pada 2025.

Sesuai Rencana Umum Energi Nasional. Hingga saat ini, batubara masih mendominasi penggunaan bahan bakar pembangkit listrik, yakni sebesar 59,2%. Penambahan kapasitas pembangkit listrik EBT (2015 semester I 2018) mencapai 1.696 MW yang terdiri dari PLT Bioenergi 959 MW, PLT Panas Bumi 545 MW dan PLT lainnya 192,1 MW.

Lambatnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia, karena biaya pembangunan pembangkit jenis ini dinilai mahal. Menurut Kepala Bidang Publikasi Penyelenggaraan Hari Listrik Nasional (HLN) 74, Roestomo, investasi komponen pembangunan PLTU  per 1 MW mencapai US$ 1,2 juta – 1,5 juta, biaya pembangunan PLTS bisa mencapai US$ 2 juta per 1 MW. “Artinya  tarif listrik PLTS lebih tinggi sedikit. Kalau tarifnya dinaikkan sedikit, harus mengikuti Biaya Pokok Penyedia Pembangkit PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Investor merasa keberatan karena biaya pokok PLTS tidak masuk. Sekarang sedang dibahas masalah ini, supaya investor bisa tertarik investasi  di sini,” katanya serius kepada pelakubisnis.com.

Roestomo menambahakan, membangun PLTS memerlukan lahan yang luas. Ia memebri contoh 1 hektar lahan untuk solar sel hanya menghasilkan 0.8 MW. “Pembebasan lahan kan menjadi masalah tersendiri. Kecuali seperti program PLN, yang mana waduk-waduk milik PLN untuk Pembangkit Tenaga Air (PLTA), di atasnya dibangun solar sel terapung, sehingga tidak ada pembebasan lahan,” tambahnya.

Dengan cara demikian, tambah Roestomo, biaya listrik PLTS biaya murah, di kisaran US$ 6 cent – 7 cent.  Kalau harus membeli harga tanah pasti di atas harganya sekitar US$ 11 per-KwH. Itulah kendala pengembangan PLTS. Pihak PLN mau beli listri dari PLTS mahal. “Investor maupun invest, tapi investasinya nggak kembali, Itu kendala pengembangan PLTS di Indonesia,” tambanya lagi.

Sejauh ini dari sisi bisnis ESS sudah cukup luas dipakai di Indonesia. Sejumlah hotel dan resort serta Base Transmission Station (BTS) atau menara telekomunikasi sudah menerapkan teknologi tersebut. Tidak hanya itu, sejumlah pembangkit energi terbarukan off grid mulai menggunakan ESS. Tapi untuk pembangkit listrik on grid belum bisa diaplikasikan karena regulasi masih dalam proses penyelesaian di Direktorat Jenderal Kelistrikan.

Sementara  Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) menyebutkan, tahun 2018 proyek PLTS dan PLTB dengan ESS akan membutuhkan tambahan investasi sekitar US$ 3 cent/kwh dibanding PLTS dan PLTB tanpa ESS.

Namun demikian, ke depan akselerasi pemanfaatan energi terbarukan di Ibu Pertiwi akan terus meningkat. Apalagi pengembangan teknologi energy storage (bateri) dalam skala besar mulai bermunculan di Indonesia. Juli lalu, umpamanya, Baran Energy meluncurkan meluncurkan teknologi baterai penyimpanan energi listrik berukuran skala besar untuk rumah, perkantoran hingga industri.

Baran Energy: kembangkan baterai skala besar/foto. doc. Baran Energy

Founder Baran Energy Victor Wirawan mengatakan, Baran Energy tengah mengembangkan produk berupa Baran PowerWall berkapasitas 8800 Watt-hour (Wh) yang bisa digunakan untuk rumah dengan daya 1300 W hingga 10.000 W, kantor, serta industri kecil. Selain itu, ada juga Baran PowerPack dengan kapasitas penyimpanan sebesar 126 Kilowatt-hours (kWh). Perangkat ini bisa digunakan untuk rumah berukuran besar yang memakai daya sekitar 10 kW – 60 kW, serta industri skala menengah.

Adapun perangkat paling besar adalah Baran PowerCube berkapasitas penyimpanan 1,2 Megawatt hours (MWh). Perangkat ini bisa digunakan untuk kawasan industri, pabrik, dan perkebunan, real estate, dan pertambangan. “Garansi untuk ketiga produk ini selama 10 tahun,” kata Victor, sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Teknologi ini diyakini akan mampu mengubah peta industri energi di Indonesia. Bahkan diperkirakan, penggunaan teknologi baterai penyimpanan energi skala besar di Indonesia akan massif, menyusul tren di sejumlah negara maju yang telah lebih dahulu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi ini.

Menurut Victor Wirawan, dengan teknologi revolusioner ini, masyarakat dimungkinkan untuk tidak perlu membayar listrik lagi. Karena baterai ini dapat menyimpan energi listrik yang dihasilkan solar panel pada siang hari untuk digunakan di malam harinya

“Sudah waktunya Indonesia secara nyata dan dengan dukungan yang tepat, memberikan ruang kepada energi terbarukan untuk dapat berkembang. Di berbagai negara, hal ini dilaksanakan dalam bentuk pemberian insentif dan ‘subsidi’ bagi energi terbarukan,” katanya.

Victor menyampaikan, keinginan membuat baterai sudah cukup lama, tapi baru terealiasi belakangan ini . Sebab,  bukan perkara mudah membuat baterai tersebut. Selain memerlukan  kegiatan  research and development , juga memakan waktu. Selain itu, biaya produksinya juga cukup besar. “Namun demikian, masyarakat luas masih bisa menggunakan alat tersebut, sebab kami telah menyediakan program Rp 1,” sambung Victor.

Menurut Victor, pihaknya mencoba melakukan inovasi model kepemilikan, supaya teknologi ini menjadi terjangkau. Sehingga, lebih banyak lagi orang yang bisa berpindah ke energi terbarukan. Program ini, diharapkan dapat membantu percepatan peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan.”Visi kami adalah mendorong penggunaan energi terbarukan dan mobilitas elektrik di Indonesia, namun menyediakan teknologinya saja tidaklah cukup,” jelas Victor.

Tidak hanya itu, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), sebagai salah satu unit litbang di bawah Balai Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, menghadirkan solusi inovasi produk penyimpan energi listrik (powerhouse) yang diberi nama B4TPowerHouse.

B4TPowerHouse : baterai praktis yang dapat dibawa kemana-mana/foto: doc.Kemenperin

“Produk ini fungsi untuk menyimpan daya seperti powerbank, namun dengan kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar. Inovasi ini memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat akan energi listrik yang praktis dan siap digunakan kapan saja dan di mana saja, terutama pada kondisi darurat,” kata Kepala BPPI Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Minggu (18/8).

B4TPowerHouse mempunyai kapasitas 20.000 milli Ampere per Hou (mAh) dan dapat ditingkatkan sesuai dengan pesanan. Masukan untuk pengisian adalah 12 -17 Voltage Direct Current (VDC) atau arus searah dan dapat dilakukan dari adaptor PLN maupun dari sumber energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sedangkan keluarnya dapat berupa arus searah bertegangan 5   Voltage Alternating Current atau Arus bolak-balik bertegangan 220 (VAC).

“B4TPowerHouse dapat dibawa ke mana-mana karena desainnya seperti tas koper kecil yang praktis dan ringan sekitar 2 kilogram, serta tahan hujan,” ungkap Kepala B4T Budi Susanto. Inovasi ini merupakan salah satu dari upaya B4T dalam pengembangan teknologi yang berbasiskan baterai ion lithium.

Namun demikian, tambah Roestomo, harga bateri sebagai energy storage di nilai masih mahal. Harga panel bateri untuk 1 MW bisa mencapai US$ 1 juta. Jadi bila ingin membangun PLTS plus energy store (baterai) bisa menelan biaya US$ 2 juta per 1 MW. “Baterai itu tetap memerlukan biaya  maintenance,” katanya serius.

Akan tetapi, penelitian dan pengembangan ini energy baru dan terbarukan akan memanfaatkan sumber daya mineral lokal Indonesia yang kaya, dan dibangun oleh para peneliti Indonesia yang tangguh. Selain itu, inovasi ini merupakan prioritas riset nasional dan sejalan dengan kebijakan pemerintah, yaitu Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) serta Making Indonesia 4.0 untuk sektor prioritas seperti industri otomotif dan elektronika.

Nah, melihat kompetensi yang dimiliki anak negeri atas pengembangan sektor hilir energai, yaitu baterai, maka arah pengembangan distribusi listrik di Indonesia ke depan akan lebih efisien lagi. Boleh jadi tidak diperlukan lagi pembangunan jaringan transmisi listrik dari sumber-sumber energi ke masyarakat pengguna.

Cukup dengan menggunakan baterai – sebagai energy storage – penggunaan listrik akan dapat menikmati listrik tanpa harus terkoneksi dengan jaringan distribusi PLN, misalnya. Era itu kini  sudah berada di depan kita. [] Yuniman Taqwa/ Ifsikumbang/foto utama: ist