Mimpi GENPRO Melahirkan UKM Tangguh

Pelatihan dan pendamping Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu treatment yang mampu meningkatkan kinerja UMKM. Sejak beberapa tahun terakhir ini Global Entrepreneur and Professional   (GENPRO) melakukan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan UMKM agar naik kelas.

Bukan perkara mudah merubah mindset para UMKM dalam menjalankan usaha sesuai dengan kaedah-kaedah bisnis yang sustainable. Umumnya mereka melakukan usaha tanpa   dibekali dengan pendekatan manajemen profesional.  Mereka belum banyak memahami  manajemen keuangan, membangun brand,  supply chain bahan baku, sehingga keberlangsungan bisnis yang dijalaninya sulit berkembang.

Untuk memperoleh akses permodalan dari perbankan, misalnya, belum banyak para UMKM mengetahui persyaratan yang diperlukan.  “Kebanyakan para UMKM sampai saat ini belum bankable, sehingga sulit bagi perbankan mengucurkan kredit modal kerja bagi UMKM. Pelatihan dan pendapingan yang dilakukan GENPRO — salah satunya bertujuan agar —  UMKM dapat merubah performance menjadi bankable, sehingga memudahkan memperoleh kredit pengembangan usaha,” kata  Presiden GENPRO Iwan Kurniawan kepada  pelakubisnis.com ,  pada 10/9 lalu.

Presiden GENPRO Iwan Kurniawan : Perhatian pemerintah sudah cukup terhadap UMKM/foto: pelakubisnis.com

Menurutnya tahun 2018 GENPRO bekerjasama dengan Bank Jawa Barat (BJB) melakukan pelatihan dan pendampingan  1000 UMKM se-Jawa Barat dan Banten. Para peserta itu dikompetisikan  membuat proposal untuk investor. Dari 1000 peserta dikerucutkan menjadi 100 peserta . Dari 100 peserta dipilih menjadi 5 terbaik. “Dengan cara membangun kompetisi seperti ini, para peserta terbangun keseriusan dalam berusaha,” katanya lagi.

Berdasarkan hasil pelatihan dan pendamping yang bekerjasama dengan BJB itu, GENPRO berhasil melahirkan dua UMKM yang mampu menembus pasar ekspor. Padahal produk yang diproduksi  hanya tusuk sate dan sambel. UMKM yang memproduksi tusuk sate ini berhasil tembus ke pasar ekspor ke Singapura dan UMKM yang memproduksi sambel dengan merek Mamika berhasil tembus pasar Singapura dan Jeddah, Arab Saudi.

“Nah, karena portopolio itulah BRI melihat GENPRO mempunyai akses ke pasar global,” kata Iwan. Hal itu yang mungkin membuat BRI tertarik berkolaborasi dengan GENPRO untuk membina nasabah BRI yang umumnya UMKM.

Iwan menambahkan, perhatian pemerintah sebetulnya sudah cukup.  Presiden Joko Widodo serang mengatakan, neraca perdagangan kita tidak pernah balance. Fenomena ini menurtut Iwan bukan karena masalah komoditi. Kita banyak komoditi. Kreativitas juga kita miliki. “Yang kami lihat masalah utamanya adalah kebijakan pemerintah. Contoh, saya dengar informasi dari teman-teman saya di Turki, bahwa Pemerintah Turki menawarkan beberapa proposal perjanjian trade dengan Indonesia,” kata Iwan.

 

Selama ini, lanjut Iwan, komoditi Indonesia sampai ke Turki lewat satu atau dua negara. Mereka tidak pernah bisa dapat akses direct. Kemudian Turki negara yang sudah bagus di bidang industri. Mereka berhasil membangun manufaktur sekelas di Jerman. Rata-rata mereka bisa mengakses 80 negara. “Barang Indonesia masuk Turki terhambat  pajak. Saya baru saja selesai berhubungan dengan Turki. Saya kena pajak bea masuk  30% untuk komoditi kain, sehingga produk kain barang jadi kami tidak compete. Padahal produk sejenis dari China 0%, karena sudah ada perjanjiannya,” urai Iwan serius.

Kelebihan GENPRO adalah akses pendampingan. Rata-rata pelatihan yang dilakukan UMKM tidak bisa menjamin pendampingan “Kami ada di 30 provinsi dan kepengurusan itu didorong kearah professional supaya memiliki sertifikasi pendampingan UMKM,” tambah Iwan.

GENPRO sudah dua kali bekerjasama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Bila GENPRO mempunyai target pertumbuhan sebesar 10.000 UMKM, berarti harus mempunyai 1000 tenaga pendamping yang telah mendapat sertifikasi. Artinya, 10 UMKM didampingi oleh satu orang pendamping yang sudah mempunyai sertifikasi.

Menurut Iwan, pendamping atau mentor diambil dari member GENPRO. Awalnya  pihak GENPRO memberi pendampingan dan pelatihan kepada member. Kemudian memberi memberi pelatihan dan pendampingan kepada UMKM yang lain. “Saling berjenjang. Kita pastikan member tumbuh dan saling menumbuhkan. Itu spititnya,” kata Iwan. Sampai saat ini GENPRO sudah memiliki 6000 member.

Sementara tahun ini GENPRO menjalin kerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia  (BRI) melakukan pelatihan dan pendampingan. Pihak GENPRO hanya melakukan pelatih dan pendampingan, sementara yang penetapan peserta  dilakukan pihak BRI. “Semua peserta pelatihan adalah nasabah BRI, peran GENPRO hanya melakukan training dan pendampingan selama enam bulan,” lanjut Iwan seraya menambahkan  bahwa training ini focus pada empat goal.

Sejak  dua tahun lalu BRI Incubator menggulirkan  Program Inkubasi Bisnis UMKM  berbasis 4G (Go Modern, Go Digital, Go Online dan Go Global).   Bagaimana mempercepat UMKM binaan BRI bisa bertumbuh cepat.  “Diharapkan dalam beberapa kali pertemuan peserta sudah mengalami pertumbuhan  dua kali lipat dan dapat menembus pasar ekspor,”tutur Djoko Purwanto,  Vice President  Incubation Division for Micro and Ritel Business, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Diharapkan hingga akhir tahun target peserta mencapai 500 UMKM.  “Dengan catatan, mereka adalah penghasil produk yang usahanya melalui proses kreatif. Kami me-literate , UMKM untuk berkembang. Prinsipnya, kami menghadirkan pembiayaan yang sederhana untuk tujuan menaikkan pendapatan UMKM berlipat-lipat ,”papar Djoko.

BRI Incubator tidak bekerja sendirian.  Ada GENPRO yang tugasnya membantu para UMKM dalam hal pelatihan dan mentoring.  Tak hanya itu. GENPRO juga berkontribusi mengurus jaringan bisnis BRI Incubator yang luas hingga ke mancanegara .

GENPRO  memiliki jaringan yang besar  hingga pasar ekspor. Kerjasama dengan Australia, Belgia, Turki, negara-negara ASEAN, sampai negara-negara di Afrika. “Kami memiliki misi yang sama dengan BRI. Memang harus diakui, tantangannya luar biasa berat. Tapi saya yakin UMKM ini akan terus berkembang,”tambah Presiden GENPRO, Iwan Kurniawan.

Diharapkan setiap tahun akan ada perusahaan UMKM yang sudah go global. “Kami berupaya  menaikkan skala bisnis UMKM. Itu target jangka pendeknya. Minimal 50% dari mereka bisa menembus pasar global,”ujar  Iwan optimis.

Baik GENPRO maupun BRI sama-sama mempunyai pekerjaan rumah dalam memajukan kinerja UMKM di tanah air. Dukungan  dari BRI, diantaranya berupa building capacity, menghadirkan pembelajaran-pembelajaran dalam kegiatan mentoring , ke arah soft competency di antara pelaku usaha.

Intinya keduabelah pihak bersinergi memaksimalkan kompetensi masing-masing.  BRI Incubator yang mengumpulkan UMKM nya, GENPRO justru  fokus di pelatihan. “Sesuai dengan program 4Go yang diusung BRI Incubator, GENPRO  berupaya membantu memodernkan dan  merapihkan bisnis UMKM, bagaimana menangani produksi  dan pemasaran lebih  efisien dengan menggunakan channel  marketing digital online agar dapat diterima pasar internasional,”jelas Iwan.

Selain berkolaborasi dengan BRI, tambah Iwan, GENPRO, Agustus lalu sudah menandatangani kerjasama dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka melahirkan 1000 UMKM baru pertahun di NTB. Sedangkan di Kabupaten Bengkalis, Riau, GENPRO kerjasama dengan DPRD di sana dan Kabupaten Sukabumi GENPRO bekerjasama dengan Bapak Walikota di sana.

“Hampir pasti setiap kepala daerah mempunyai program pengentasan kemiskinan, menambah lapangan kerja dan meningkatkan jumlah UMKM.  Kalau GENPRO mempresentasi program pendampingan UMKM pasti banyak yang tertarik. Tinggal kesanggupan GENPRO saja. Sampai saat ini GENPRO ada 30 Provinsi dan 200 kabupaten kota.,” tambah Iwan lagi. Bahkan, ada perwakilan di Malaysia, Singapura, dan di Brunai.

GEMPRO lahir pada 2015 yang diinisiasi oleh 12 UMKM. Visi-nya saat itu bagaimana UMKM itu banyak besinergi, kerja dan mencari peluang bersama. Dari Inisiasi tersebut digelar pertemua akbar Tangerang Selatan. Ternyata antusias peserta cukup banyak. Akhirnya Mei 2015 berdirilah Global Entrepreneurs and  Professional atau disingkat GENPRO.

Syarif Maulana,: selain pelatihan juga melakukan pendampingan. Ini yang membedakan GENPRO dibandingkan training center lainnya

Menurut penanggungjawab project kolaborasi dengan BRI, Syarif Maulana, respon BRI puas terhadap terhadap GENPRO. Tahun depan pelatihan sejenis akan gelar kembali  oleh BRI. Bahkan, GENPRO akan ditunjuk lagi tanpa melalui tender ulang.

Kepak kegiatan GENPRO, kata Syarif, tidak hanya di luar negeri. Bila tidak ada aral melintang, pada 23 September mendatang, GENPRO me-launching training khusus untuk Warganegara Indonesia di Brunai . Menurut catatan, ada 80.000 WNI di Brunei Darussalam . “Rata-rata mereka punya spirit pulang kampung (ke-Indonesia-red). Dan sampai di Indonesia mereka punya bisnis,” lanjut Syarif serius kepada pelakubisnis.com.

Lebih lanjut ditambahkan, GENPRO mempunyai cabang di Turki dan Qatar. Pengurus GENPRO di sana aktif melakukan sosialisasi entrepreneurship bagi warga negara Indonesia di sana. Tidak hanya itu, di Malaysia, misalnya, GENPRO melakukan sinergi dengan group-group sejenis ‘Dengan Singapura targetnya tahun ini ingin membuat event Expo Go Global BRI,” kata syarif seraya menambahkan GENPRO sudah sounding. Mereka sudah menunjukkan ketertarikan.

GENPRO ingin membuat event tiga sampai empat hari bertajuk Indonesia Market Day. Logikanya menurut Syarif masalah ekspor-impor selamanya ini hub-nya masih di Singapura. Oleh karena itu, tandem dengan pihak swasta harus kuat. “Kerjasama bilateral ekonomi dua negara akan cepat kalau masing-masing swasta-nya menekan pemerintah agar permasalahan di lapangan bisa selesai,” kata Syarif mengunci percakapan[] Siti Ruslina