Ad-House Clarion Events Mulai Kembangkan Pameran B2B

Ad-house yang dulunya dikenal sebagai event organizer mengusung pameran properti, tapi satu tahun terakhir ini mulai melirik Pameran B2B. Pengembangan sayap bisnis muncul karena kolaborasi dengan Clarion Events Group pada akhir 2017 lalu.

Bila anda pernah menyaksikan pameran-pameran properti, pasti anda akan mengenal PT Adhouse Indonesia CIPTA (Ad-house). Event Organizer (EO) yang berdiri pada 1989 tetap konsisten menggelar pameran properti. Bahkan, Ad-house identik dengan organizer yang mengusung tematik properti setiap pamerannya.

Gad Permata, Vice President PT Adhouse Clarion Events (Foto: pelakubisnis.com)

“Ad-house sejak berdiri sudah fokus menyelenggarakan pameran properti dan furniture. Hingga periode 2009 masih tetap fokus di pameran properti,” kata Gad Permata, Vice President PT Adhouse Clarion Eventskepada pelakubisnis.com, seusai acara pembukaan pameran Indonesia Properti Expo 2019, di JCC, Jakarta, 16/11.

Lebih lanjut ditambahkan,  pada akhir 2017, Ad-house  ber-partner dengan Clarion Events Asia, bagian dari Clarion Events Group, yang berasal dari Inggris (United Kingdom), sehingga berubah nama menjadi Ad-house Clarion Events.  Saat itu mulai melakukan pengembangan pameran dengan membuat tema-tema pameran baru.

Melalui PT Adhouse Clarion Events, Clarion Events akan memiliki posisi yang cukup kuat di negara dengan populasi terbesar keempat di dunia ini. Pembentukan aliansi ini juga untuk menumbuhkan event yang sudah ada dan membawa event berskala internasional ke Indonesia.

“Kombinasi antara kuatnya jaringan dan sejarah Ad-house membuatnya menjadi mitra yang ideal bagi Clarion Events Asia untuk menunjukkan komitmen kami di regional ini,” ujar Richard Ireland, Managing Director Clarion Events Asia, sebagaimana dikutip dari venuemagz.com.

“Kerjasama dengan Clarion Events Pte Ltd (Asia) akan membuka kesempatan bagi kami untuk masuk ke pasar B2B dan mengembangkan bisnis kami di sektor ini,” ujar Soedirman Zakaria, Presiden Direktur Ad-house. “Clarion Events yang memiliki jangkauan global dan pengalaman yang beragam akan membuka banyak kesempatan bagi kami serta dapat mengakses klien-klien baru untuk mengadakan acara di Indonesia.”

Tahun ini, misalnya, selain menggelar pameran properti, Ad-house Clarion Event  juga menggelar Real Estate Investment Forum. Event ini tidak hanya exhibition saja, tapi juga ada conference . Target delegate dari forum ini sekitar 300 peserta.

“Kemarin juga Ad-house menggelar pameran Public Safety Indonesia. Akhir tahun ini ada pameran partner kita, yaitu Global Source, sebuah pameran elektronik yang terbesar di dunia,” jelasnya Gad serius. Pameran ini biasanya diselenggarakan di Hongkong, dan  akhir tahun ini di bawa ke Indonesia.

Gad bersama Senior Marketing Manager Ad-house, Abdi Fajrin (Foto: pelakubisnis.com)

Menurut Gad Permata, dengan kolaburasi Ad-House dan Clarion, akhirnya terjadi transformasi . Ad-house kini mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya membuat tema-tema pameran yang baru. Transformasi teknologi industri MICE yang mengikuti perkembangan zaman. “Biasanya dulu Ad-house masih konvensional atau manual,  sekarang kita sudah mengenai dari sisi promosi  dan memperluas wawasan,” jelas Gad Permata serius.

Gad Pertama menambahkan, Clarion Events akan membawa event-event mereka ke sini. Sebut saja pameran Public Safety Indonesia.  Pameran ini sebetulnya milik Clarion yang sudah berlangsung sukses di laur negeri.

Public Safety Indonesia 2019, merupakan pameran dan konferensi teknologi keamanan publik dan kepolisian terkemuka di Indonesia. Acara ini akan menghubungkan perusahaan produk dan jasa dengan operator infrastruktur dan objek vital, arsitek, kontraktor, mekanikal dan elektrikal dan lainnya.

Keselamatan publik adalah kebutuhan, sekaligus isu utama, bagi warga perkotaan. Terlebih lagi, ketika infrastruktur kota kian lengkap dibangun. Tanggung jawab utama dari keselamatan publik berada di pundak pemerintah kota. Namun, hal tersebut dapat berjalan secara optimal apabila masyarakat juga turut  berperan dalam menjaga terwujudnya keselamatan publik.

Gad menambahkan Public Safety Indonesia merupakan event perdana Ad-house Clarion. Untuk sementara event ini diagendakan dua tahun sekali, artinya baru 2021 akan digelar kembali untuk kedua kalinya. “Event ini B2B yang segmented. Masyarakat masih menganggap bila berbicara security yang terkait adalah CCTV dan Satpam. Padahal di dalamnya ada public safety, bagaimana msyarakat bisa aman dan nyaman berjalan-jalan di ruang public dan public service,” lanjutnya.

Bagaimanapun, kolaborasi dengan sejumlah pihak penunjang keamanan publik perlu ditingkatkan. Datangnya era industri 4.0, dimana transformasi digital dan disrupsi  berlangsung di segala bidang kehidupan manusia,  dapat menyebabkan persoalan keselamatan publik kian sulit untuk dipenuhi.

Sementara khusus untuk pameran properti, Ad-house setiap tahunnya menggelar tiga pameran properti. Tahun 2018, misalnya, dari tiga pameran properti tersebut, sedikitnya 30.000  M2 space terjual. “Dari tiga pameran properti tersebut nilai transaksinya mencapai Rp 15 Triliun,” kata Gad serius. Sedangkan tahun ini, nilai transaksi menurun, sekitar 15%, menjadi sekitar Rp13 Triliun.

Salah satu booth di Properti Expo 2019 (Foto: pelakubisnis.com)

“Pameran Indonesia Properti Expo 2019 yang berlangsung 16 -26 November 2019 ini melibatkan sekitar 5000 tenaga kerja. Dari mulai kontraktor, marketing, agent property dan sebagainya. Bila setahun tiga kali pameran properti, berarti melibatkan 15.000 tenaga kerja,” tambah Gad lagi.

Menurut Gad, untuk 2020, Ad-house Clarion berharap ada kenaikan nilai transaksi. Optimisme itu dimungkinkan karena tahun politik  sudah selesai, sehingga tensi politik mulai mereda. Kondisi politik ini diharapkan bisa menggairahkan kembali bisnis properti. “Ada rasa optimisme dari para developer yang selalu mendukung Ad-house dalam setiap pameran properti yang digelar,” katanya. Proyeksi dari manajemen berharap kenaikannya bisa di atas 15% dibandingkan tahun 2019.

Sementara pasar millennials mulai dilirik para pengembang.  Menurut data BPS  pada 2020, sekitar 35% market di Indonesia adalah kaum millennials (17 – 35 tahun). Fenomena ini boleh jadi menjadi target pasar properti oleh developer. Itu sebabnya pada Indonesia Properti Expo 2019 ini, juga digelar Millennials Investalk yang membahas investasi properti di usia millennials.

Pasalnya, ancaman para millennials lima tahun mendatang tidak bisa membeli rumah. Ancaman itu mungkin saja terjadi bila gaya hidup millennial tidak berubah dan kurang pandai mengelola keuangan.

Demikian kesimpulan yang disampaikan Ken Handersen, Founder of Getherich, dalam acara millennials Investalk, pada Indonesia Properti Expo, pada 22/11, di JCC, Jakarta.

Menurut Ken, sebetulnya para millennials ingin membeli rumah, tapi ketika melihat harga rumah “selangit”, langsung kaget. Padahal untuk membeli properti seharga Rp 1 milyar tak mesti membayar sebesar itu. “Yang harus dibayar hanya DP (down payment), sedangkan kekurangannya bisa dicicil tiap bulan,” kata Ken dihadapan ratusan millennials yang tertarik ingin membeli rumah, tapi kurang keberanian.

Lebih lanjut ditambahkan, millennials harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kita juga harus bisa membedakan antara sisihkan dan sisakan. “Kalau mau beli properti, kita harus sisihkan dari sebagian penghasilan untuk DP properti.

Walaupun gaji kita tidak cukup untuk membeli rumah, tambah Ken, ada peran bank yang dapat membantu kita untuk mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Fasilitas ini menjadi solusi untuk membeli properti.

“Saya melihat para developer dan  perbankan sudah mulai  melirik pasar millennials. Beberapa bank sudah menyasar pasar millennial.  Bank Tabungan Negara (BTN), salah satunya menawarkan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) khusus millennials,” tambah Gad.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa