Jangan Terjebak Hedonisme, Atur Keuangan Anda

Survei yang dilakukan Rumah123 dua tahun lalu menyebutkan bahwa tiga tahun mendatang atau 2020, hanya 5% kaum milenial (kelahiran antara 1982 – 1995) yang sanggup membeli rumah. Sisanya 95% tak memiliki tempat tinggal.

Survei tersebut berdasarkan house price to annual income ratio atau rasio harga rumah berbanding pendapatan pertahun, harga rumah yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan (12 kali gaji, bonus dan THR). Jika diambil contoh rumah seharga Rp 600 juta, maka generasi milenial harus memiliki penghasilan per tahun Rp 200 juta atau perbulannya Rp 16 jutaan.

Upaya para pengembang membidik pasar millennials (Foto: pelakubisnis.com)

Menurut survei Rumah123, hanya 4% lebih kaum milenial yang memiliki gaji perbulan sebesar itu. Jadi sebenarnya pemasukan mereka saat ini terbilang biasa-biasa saja. Bila para milenial tersebut terjebak dalam pola hidup konsumsif. Maka ancaman tak mampu membeli rumah bukan isapan jempol.

Ini suatu fenomena! Gaya hidup milenial yang boros. mengikuti tren zaman, menyeret para milenial hidup dalam lingkaran hedonisme. Mereka menganggap penampilan dan gaya hidup sebagai “etalase” egois untuk menunjukkan eksistensi dirinya di tengah gempuran penawaran produk-produk atau jasa-jasa yang bisa mendapat predikat status simbul. Status simbul menjadi ukuran nilai dalam budaya modern menurut perspektif mereka.

Anda dapat lihat sendiri berapa banyak para milenial kongkow-kongkow – ngopi di kafé hanya — untuk menghabiskan waktu bersama komunitas. Aktivitas ini bukan sekali dua kali dilakoni, tapi sepanjang bulan. Boleh jadi sudah menjadi rutinitas paska pulang kantor. Argumen sederhana mengapa mereka harus kongkow-kongkow dulu setelah pulang kantor. Kemacetan menjadi vonis untuk mencari pembenaran di kalangan milenial.

Tak terasa setiap hari dia harus merogoh kocek lebih dalam dari ukuran-ukuran normal. Bila dengan penghasilan Rp10 juta, sehari ia bisa menghabiskan minimal Rp100.000,- untuk memenuhi naluri gaya hidup seperti itu, sudah dapat dibayangkan berapa besar tiap bulanya ia harus mengeluarkan uang. Seandainya dalam sebulan ada 22 hari kerja, maka jumlah uang yang dikeluarkan mencapai Rp2.200.000,-.

Angka itu baru dari satu sektor pengeluaran. Bila masih lajang, ia harus mengeluarkan biaya konsumsi sehari-hari. Bila sehari menghabiskan Rp100.000 untuk konsumsi, maka dalam sebelum mencapai Rp.3.000.000,-.

Tidak hanya itu, di akhir pekan para milenial di lingkup kota-kota besar mengeluarkan biaya tambahan untuk mengisi week end (nonton, makan dan lain-lain) yang nilainyan bisa mencapai Rp.200.000,-. Artinya dalam sebulan para anak-anak muda ini mengeluarkan uang sedikitnya Rp800.000,-. Apa selesai sampai di sini?

Tidak! Para milenial harus mengeluarkan uang transport, belanja pakaian dan sebagainya. Pengeluaran di sektor ini pun terbilang besar. Bila biaya transport sebesar Rp50.000/ hari, berarti 22 hari kerja nilainya mencapai Rp 1.100.000,-. Bila belanja pakaian dan pernik-perniknya dianggarkan Rp500.000/bulan. Artinya pos pengeluaran di sektor ini mencapai Rp1,6 juta.

Beruntung bila para milenial masih tinggal di rumah orangtua. Tapi sebaliknya, jika dia sudah tidak serumah dengan orangtua, berarti ia harus kost. Biaya kost bisa mencapai Rp1.500.000/bulan .

Kalau semua pos pengeluaran tersebut masuk dalam fix cost, maka pengeluaran milenial yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bisa mencapai Rp9.100.000,-. Bila gaji para milenial sebesar Rp10 juta, hanya tersisa Rp900.000, tiap bulannya. Bayangkan jika ada variable cost yang harus dikeluarkan, misalnya sakit atau pengeluaran tak terduga lainnya, berarti habislah gaji satu bulan tersebut!

Kemudian di akhir tahun dapat bonus dari kantor,  biasanya para milenial megalokasikan dana itu untuk liburan akhir tahun. Boleh jadi begitulah ritme gaya hidup milenial. Hidup bagaikan air mengalir. Tak terencana untuk mempersiapkan masa depan keluarganya kelak. Justru rencana “fantasi” untuk tetap dalam “lingkaran komunitas lifestyle” dalam in-group-nya menjadi prioritas.

Manajemen pengelolaan keuangan demikian, tak mungkin dapat membeli rumah. Asumsi ini bila para milenial belum berkeluarga. Bayangkan bila sudah berkeluarga dan telah memilih anak. Dengan sendirinya pengeluaran akan membengkak lagi. Apalagi sudah berpisah dengan orangtua, sehingga harus mengalokasikan biaya mengontrak rumah tiap tahunnya.

Gaya hidup para milenial model demikian – bila ditanya mengapa tidak membeli rumah? Jawabannya singkat: “Mahal, tidak terjangkau!” Akhirnya mereka pun lebih nyaman dalam kehidupan demikian. Bila sudah berkeluarga, mungkin tinggal di rumah orangtua atau mertua. Paling tidak  memilih mengontrak rumah.

Pertanyaannya, apa mungkin para milenial mampu membeli rumah? Mungkin! Jawabannya harus optimis. Tapi jawaban itu harus didukung dengan manajemen keuangan atau perencanaan keuangan  yang dijalankan secara konsisten.

Sebab, tanpa merubah mindset gaya hidup para milenial,  bukan tidak mungkin ancaman untuk generasi ini dalam lima tahun mendatang tidak bisa membeli rumah. Gaya hidup para milenial yang boros menjadi “virus” penyebab para milenial tak mampu membeli rumah.

Talkshow “Millennials Talk” di Indonesia Properti Expo (Foto: pelakubisnis.com)

Ken Handersen, Founder of Getherich, dalam acara millennials Investalk, pada Indonesia Properti Expo, pada 22/11, di JCC, Jakarta mengatakan, sebetulnya para millennials ingin membeli rumah, tapi ketika melihat harga rumah “selangit”, langsung kaget. Padahal untuk membeli properti seharga Rp 1 milyar tak mesti membayar sebesar itu. “Yang harus dibayar hanya DP (down payment), sedangkan kekurangannya dicicil tiap bulan,” kata Ken dihadapan ratusan millennials yang tertarik ingin membeli rumah, tapi kurang keberanian.

Lebih lanjut ditambahkan, millennials harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kita juga harus bisa membedakan antara sisihkan dan sisakan. “Kalau mau beli properti, kita harus sisihkan dari sebagian penghasilan untuk DP properti.

Untuk bisa membayar DP rumah, memang diperlukan perencanaan dalam mengelola keluangan. Misalnya 50% penghasilan kita untuk kebutuhan keluarga dan sebagainya, 10% untuk tabungan biaya pendidikan anak, 10% tabungan liburan, 20% tabungan DP rumah dan 10% tabungan biaya tak terduga.

Sebagai ilustrasi gaji millennial sebesar Rp 15.000.000 Dari jumlah tersebut 20% ditabung untuk membayar DP rumah. Artiinya setahun terkumpul Rp36.000.000,-. Bila anda ingin membeli rumah senilai Rp 600.000.000,-  dan jika DP rumah sebesar Rp60.000.000,-,  artinya kurang dari dua tahun anda menabung sudah terkumpul dana untuk DP rumah.

Walaupun gaji kita tidak cukup untuk membeli rumah  secara tunai,  tambah Ken, ada peran bank yang dapat membantu kita untuk mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Fasilitas ini menjadi solusi untuk membeli rumah.

Artinya sepanjang millennial konsisten mengatur perencanaan keuangan tanpa dipengaruhi stimulus lifestyle yang berlebih-lebihan, maka apa pun yang anda rencanakan bisa terwujud. Persoalannya mampukah anda keluar dari “lingkaran hedonisme” yang  begitu ketat mengepung kehidupan di kota-kota besar?. Semoga bisa…! [] Yuniman Taqwa//Ilustrasi: Shutterstock