Membangun Brand Indonesia Melalui Kegiatan MICE

*Catatan Redaksi pelakubisnis.com

Dimulai dari sosialisasi mengubah kebiasaan lama, event komunitas muslim ini semakin diminati pengunjung (Foto: pelakubisnis.com)

Tren produk-produk halal belakangan ini menjadi lifestyle di Indonesia. Namun demikian mengapa bila berbicara fesyen, misalnya,  kiblat dunia tidak bisa lepas dari  Milan, Paris dan New York. Padahal, bila bicara busana muslim, trennya  terus berkembang di sini. Pertanyaannya mengapa kita tidak bisa menyatukan stakeholder di sektor ini menggelar pameran skala internasional yang dapat mendatangkan buyer mancanegara. Dan pada akhirnya Indonesia dapat menjadi kiblat fesyen muslim dunia.

Padahal potensi ekonomi di sektor ini sangat besar. Potensi itu sebetulnya dapat dikemas dalam exhibition skala internasional yang dapat menjadi magnet buyer mancanegara, bila berbicara fesyen muslim. Sayangnya potensi yang besar itu – terkotak-kotak – dalam event kecil, sehingga gaungnya kurang menggema dalam skala global. Akhirnya Indonesia pun tak mampu menjadi kiblat fesyen muslim dunia.

Padahal Malaysia, umpamanya, yang jumlah penduduk muslimnya  jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia bisa membuat pameran-pameran halal dalam skala internasional. Ini baru satu subjek saja. Padahal banyak lagi subjek-subjek yang lain dapat “dieksplorasi” dalam ajang pameran internasional di Indonesia.

Boleh jadi ada ego sektoral masing-masing sektor.  Sektor fesyen, misalnya, antara desainer dan sektor penunjang lainnya terkotak-kotak. Belum lagi dalam perspektif kelembagaan yang membidangi masing-masing sektor. Ada kementerian UKM dan Koperasi, di Kementerian Perindustrian ada Industri Kecil dan Menengah (IKM), di Kementerian Perdagangan  ada Dirjen Perdagangan Dalam Negeri yang di dalamnya termasuk mengurusi perdagangan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah).

Padahal masing-masing sektor tersebut berada dalam komunitas yang sama. Ada kesan kurang harmonis karena masing-masing kementerian menangani komunitas yang sama. Seharusnya sektor-sektor dilebur dalam satu kelembagaan. Justru hal demikian lebih memudahkan mengkoordinasikan, sehingga tidak timbul ego sektoral.

Sektor pariwisata, umpamanya. Apakah terukur  target yang hendak dicapai? Jelas terukur! Satu hari wisatawan mancanegara (wisman) spend money sehari, sekian dollar. Pengeluarannya bisa diukur. Beda halnya dengan dunia exhibition. Mungkin buyer datang ke Indonesia dua tiga hari. Tapi bisa jadi buyer itu menandatangani kontrak pembelian furnitur, misalnya, selama dua tiga tahun ke depan.. Nah, mana yang akan dikejar, jumlah wismannya atau nilai transaksinya?

Memang pameran B to B (business to Business) yang datang dalam exhibition hanya 5000 buyer. Tapi kedatangan mereka membawa efek domino untuk perekonomian dampaknya sangat besar. Walaupun efek yang ditimbulkan tidak instan bila dibandingkan pameran B to C. Mungkin pameran B to B baru terasa dampaknya enam bulan kemudian.

Contoh lain, Asia Games Agustus tahun lalu, mengemas olah raga menjadi pariwisata. Atau piala dunia U-20 yang akan diselenggarakan di Indonesia pada 2021. Objek utama dalam event-event tersebutkan olah raga. Kalau kegiatan itu menghasilkan pendapat negara dari sektor pariwisata, maka hal itu hanya merupakan dampak dari event olah raga.

Perlu di ingat, Indonesia merupakan pasar potensial  KPop asal Korea, ada pasarnya di Indonesia, Setiap mereka show di sini, pasti membludak. Di balik suksesnya budaya Pop asal Korsel itu, negara langsung yang terlibat  mengedukasi pasar dan mempromosikan budayanya ke seantero negeri.

Demam K-Pop di tanah air tak lepas dari bagaimana Korsel melibatkan banyak stakeholdernya dalam membangun Nation-Branding (Foto: pelakubisnis.com)

Kita perlu belajar dari Korsel – bagaimana negeri Ginseng tersebut—menjual produk-produk mereka sampai produk budaya ke mancanegara. Bagaimana Jepang melakukan penetrasi pasar. Kendati sesama produk sejenis Jepang, seperti Toyota, Honda dan sebagainya, selalu bersaing. Tapi brand-brand tersebut menyatu menyerang bangsa untuk membawa brand Jepang.

Sementara produk anak negeri kurang diminati. Akibatnya banyak uang kita lari ke luar negeri. Pada titik tertentu, terjadi defisit neraca perdagangan. Masyarakat yang masih luar negeri minded. Mindset ini yang harus dirubah..

Padahal pasar di Indonesia sangat besar. Kalau di Singapura pameran mobil sudah sunset, karena infrastruktur perhubungan sudah jalan. Paling orang-orang kaya di sana yang naik Lamborghini dan lain-lain. Sedangkan di Indonesia pasar otomotif masih sangat terbuka lebar. Ada kebijakan ganjil genap merupakan indikasi infrastruktur transportasi public yang belum memadai, sehingga fenomena ini mendorong industri otomotif sangat berkembang di Indonesia. Itu sebabnya pameran otomotif selalu sukses di gelar di Indonesia.

Di Indonesia ada yang tidak terkoneksi dengan benar. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dari masyarakat. Walaupun masyarakat mampu membeli motor, tapi tidak pakai helm, bahkan mengendarai motor dengan melawan arus. Padahal pakai helm itu bertujuan melindungi mereka bila terjadi kecelakaan. Mental kita baru bisa naik sepeda, sudah naik motor. Mental kita baru bisa naik, motor, sudah naik mobil.

Bandingkan dengan di Singapura. Masyarakat Indonesia ke Singapura harus mengikuti aturan mereka. Di larang merokok di area public, misalnya. Tapi orang Singapura datang ke Indonesia bebas. Itu sebabnya harus dilakukan revolusi mental supaya peradaban masyarakat kita lebih maju.

Pertanyaannya, transformasi apa yang harus dilakukan para praktisi MICE, sehingga industri ini mampu mendorong perekonomian nasional? Diperlukan sinergi antara swasta dan pemerintah. Jangan terkotak-kotak, sehingga mudah diadu domba. Diperlukan kolaborasi dengan industri sejenis dalam melakukan promosi terintegrasi.

Bila industrinya berkolaborasi, maka promosi melalui pameran dapat dilakukan secara besar. Dan Singapura akan kalah bila kita melakukan treatment demikian. Perlu diingat, Singapura tidak mempunyai resource. Negara ini hanya mengandalkan produsen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam dan sebagainya.

Beberapa tahun Singapura mengadakan  pameran funitur internasional dari beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia. Tapi belakangan Indonesia menarik diri, akhirnya pameran furnitur di Singapura sejak tiga tahun terakhir ini tidak pameran furniture.

Bayangkan bila asosiasi-asosiasi furniture di Indonesia bersatu dan menggelar pameran internasional furniture di tanah air, bukan tidak mungkin ke depan Indonesia akan menjadi kiblat furniture internasional.

Memang tidak gampang mendatangkan buyer dari luar negeri. Bukan tidak mungkin beberapa kali pameran internasional harus menanggung rugi, hanya semata-mata untuk mendatangkan buyer dari luar negeri. Tiket buyer harus ditanggung dan sebagainya. Hal ini dilakukan event organizer hanya untuk memberi tahun bahwa di Indonesia  menghasilkan produk-produk furniture grade A, misalnya. Bila informasi demikian sudah diketahui buyer internasional, maka tahun-tahun  mendatang Indonesia akan menjadi tujuan bisnis internasional.

Suasana di Trade Expo Indonesia, ICE BSD (Foto: pelakubisnis.com)

Memang ada perbedaan perspektif antara pemerintah dengan swasta. Jujur kita akui, Trade Expo Indonesia (TEI) berhasil mengundang buyer internasional dan mencatat transaksi yang sangat besar. Salah satu kelemahan TEI adalah tidak segmented. Semua produk dipamerkan dalam ajang tersebut, sehingga tidak fokus. TEI  akan lebih baik lagi bila pamerannya hanya untuk 10 produk unggulan Indonesia. Sehingga pameran ini menjadi sesuatu! Bisa saja pemerintah buat TEI furniture, TEI hasil Renpah-Rempah dan sebagainya. Tidak bisa pameran multi produk digabung dalam satu event besar.

Analoginya bila anda ingin beli mobil, misalnya, pasti anda akan mengunjungi pameran otomotif, seperti GIIAS (Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show). Tidak mungkin ada mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ) untuk membeli mobil. Walau pun di PRJ juga ada otomotif.

Sebetulnya Indonesia bisa menjadi “magnet” kegiatan MICE internasional. Potensi pasar yang besar, resource yang banyak, dan dukungan penunjang kegiatan MICE, seperti objek-objek wisata menjadi modal untuk mengemas Indonesia sebagai kiblat kegiatan MICE internasional.

Rencananya pemerintah akan mengembangkan 10 daerah di Indonesia yang dapat menjadi daya tarik kegiatan MICE di Indonesia. Ke-10 daerah tersebut adalah Jakarta, Bali, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Medan, Menado, Semarang dan Batam.

Kegiatan MICE, khususnya corporate meetings dan incentive travels merupakan salah satu sektor utama yang menjadi perhatian Kementerian Pariwisata. Dengan pengelolaan yang lebih baik untuk memfasilitasi networking antara sellers Indonesia dengan para corporate buyers, maka akan meningkatkan jumlah kegiatan MICE yang dilakukan perusahaan nasional/internasional di Indonesia.

Dan hal itu mungkin saja bisa terealisasi. Tapi sekali lagi, sinergi antara pemerintah, swasta dan masyarakat untuk menunjang iklim kondusif kegiatan MICE harus terbangun di negeri ini. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi masing-masing industri, jasa dan apa pun  bentuk lainnya dalam satu kekuatan yang total  dalam membawa brand Indonesia.

Jangan lagi “terkotak-kotak” di antara kita, sehingga tidak terbangun brand Indonesia. Pemerintah perlu menjadi “perekat” atas nama bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan kegiatan MICE internasional. Ya… semoga! []