Mendulang Devisa Dari MICE

Kegiatan MICE digadang-gadang meberikan kegiatan ekonomi cukup signifikan. Walaupun saat ini kontribusinya baru mencapai sekitar 3% dari sumbangan Produk Domestic Bruto (PDB) di sektor pariwisata. Angka ini bisa jadi lebih besar lagi bila dilihat dari multiplier effect dari kegiatan MICE, khususnya exhibition.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan  Pameran Indonesia (ASPERAPI), Hosea Andreas Runkat (Foto: pelakubisnis.com)

Lima tahu kebelakangan ini, industri MICE  (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) kurang kondusif. Faktor ini disebabkan karena kurang dukungan dari pemerintah. Sebelumnya di Kementerian Pariwisata ada direktorat MICE, tapi belakangan direktorat tersebut dihilangkan. Padahal Direktorat ini sangat mendukung promosi MICE di Indonesia.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan  Pameran Indonesia (ASPERAPI), Hosea Andreas Runkat, pada pergantian Menteri lima tahun yang lalu, MICE dianggap kurang diperlukan, sehingga MICE terkesan “ditenggelamkan”. Akibatnya MICE tidak mempunyai “induk”, dan akhirnya MICE menginduk pada  pariwisata.

“Padahal antara parawisata dengan MICE bertolakbelakang. Pariwisata adalah wisata leisure sedangkan MICE itu bisnis atau business trip. Kita cukup straggle lima tahun belakangan ini. Tapi apa pun yang  dijalankan  selama ini adalah effort kita. Prinsipnya adalah aktivitas MICE akan tetap jalan, tapi kalau ada support akan lebih baik,” kata Andreas kepada pelakubisnis.com, minggu  ketiga November lalu, di Jakarta Convention Center (JCC).

Adreas mengatakan untuk kegiatan conference, biasanya dilakukan dengan cara bidding. Hal ini perlu mendapat dukungan pemerintah. Namun demikian, teman-teman di MICE cukup aktif dan inovatif dalam industri MICE dan akhirnya  mengembangkan bisnis tersendiri. “Hal ini yang sangat disayangkan, walaupun sampai sekarang kita masih bertahan dalam situasi apapun,” katanya serius.

Walaupun dua tiga tahun belakangan ini, tambah Adreas, optimisme teman-teman MICE sudah ada. Saat itu muncul event-event exhibition and conference skala internasional. Sayangnya event tersebut kurang  sinergi antara industri sama government . Kondisi demikian yang terjadi dalam konteks sinergitas antara pelaku usaha MICE dengan pemerintah.

Meskipun dari sisi event tetap banyak. Tapi, kata Adreas, membuat perhitungan jumlah pengunjung wisata tidak sulit. Akan tetapi, mendeteksi wisata bisnis seperti MICE itu sulit. Apalagi di airport sekarang sudah tidak ada lagi immigration card. Padahal dulu di Indonesia masih diberlakukan pengisian immigration card. Setiap penumpang yang masuk ke bandara international di Indonesia harus mengisi maksud kedatangan. Sekarang siapa pun penumpang yang masuk bandara internasional dianggap leisure.

“Ini yang menyebabkan ASPERAPI tidak mempunyai data berapa banyak business trip untuk mengikuti MICE yang datang ke Indonesia,” lanjut Andreas, seraya menambahkan agak sulit mengumpulkan data dari masing-masing stakeholder untuk mengetahui berapa banyak kunjungan business trip yang mengikuti MICE di Indonesia. Padahal dulu data ini ada di Direktorat MICE. Tapi karena direktorat ini dihilangkan, akhirnya ASPERAPI tidak mempunyai data yang lengkap.

Namun demikian, tambah Adreas, event-event  MICE mempunyai daya saing yang cukup tinggi. Spending money antara turis biasa dengan turis MICE bisa 1 berbanding 7. Kalau turis MICE datang  dia akan stay minimal di hotel bintang empat atau bintang lima. Kalau kunjungan turis leisure (backpacker-red) stay di hotel  bintang tiga ke bawah.

Kementerian Pariwisata terus menggali potensi ini. Salah satu lewat Indonesian MICE National Conference (INAMICE) 2019. Event  ini digelar April lalu di Merak Room 1-2, Lower Lobby, Jakarta Convention Center (JCC).

“Potensi besar dimiliki industri MICE. Sebab, MICE ikut mengatrol pergerakan wisatawan. Dengan potensi itu, optimalisasi harus dilakukan. Untuk mendukung akselerasi industri pariwisata melalui MICE, maka SDM-nya (Sumber Daya Manusia) juga harus disiapkan,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani, 9/4.

Mengacu data Global Business Travel Association (GBTA) 2014, posisi MICE sangat kompetitif. Sebab, minimal 50% dari transaksi wisata dunia USD1,18 Triliun adalah perjalanan bisnis. Porsi menjanjikan pun dimiliki Asia Pasifik dengan porsi transaksi MICE mencapai 40% dari slot tersebut. Giri Adnyani pun menambahkan, pertumbuhan MICE saat ini semakin positif.

Spending positif dimiliki wisatawan berbasis MICE. Berdasarkan International Congress & Convention Association (ICCA) pada 2018, wisatawan MICE memiliki kemampuan spending USD2.000 per orang per hari. Angka tersebut merupakan 7 kali lipat dari kemampuan spending wisatawan biasa. Spesialnya, wisatawan MICE ini memiliki rata-rata menginap 5 malam, sebagaimana dikutip dari liputan6.com

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang saat itu masih menjadi Menteri Pariwisata  menjelaskan, MICE akan menjadi salah satu pilar utama yang mendukung pergerakan masuk wisman ke Indonesia. “MICE ini sangat menjanjikan. Slot market-nya besar, lalu potensi transaksinya sangat menjanjikan. Hal ini harus dioptimalkan agar pergerakan wisman maksimal tahun ini. Lebih penting, MICE juga memiliki wisatawan berkualitas dengan kemampuan spending besar per harinya,” tutup Menpar.

Fenomena ini tidak disadari bahwa multiplier effect  yang ditimbulkan akibat kegiatan MICE jauh lebih besar dibandingkan turis leisure. “Kita baru terbuka ketika  Indonesia menjadi tuan rumah dalam acara Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia, di Bali, Oktober tahun lalu. Di situ terlihat dampak ekonomi dari kegiatan MICE cukup besar,” kata Andreas.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional PPN atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro membeberkan dampak perhelatan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali bagi perekonomian Indonesia.Data kolektif yang diperoleh Bappenas menunjukkan bahwa dampak ekonomi langsung Pelaksanaan Pertemuan Tahunan IMF-WB periode 2017-2018 sejak persiapan hingga pelaksanaan sebesar Rp 5,5 triliun.

Angka tersebut berasal dari investasi konstruksi infrastruktur periode 2017-2018 sebesar Rp 3,05 triliun dan pengeluaran peserta baik mancanegara sebesar Rp 582 miliar. Selain itu, pertemuan yang berlangsung selama 7 hari tersebut turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun tidak secara signifikan. Diketahui pertemuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia sebesar 0,01 persen dari baseline.

“Tambahan pertumbuhan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau baseline 5,15 persen menjadi 5,16 persen,” kata dia, dalam konferensi pers, di Kantornya, Jakarta, pada 18/12,  tahun lalu.

Kajian dari Oxford Economics tahun 2018 menyebutkan MICE punya potensi yang besar sebagai motor penggerak ekonomi. Hal tersebut tidak dilihat dari perputaran uang dan bisnis event saja, tetapi dari jumlah tenaga kerja yang diserap dari bisnis tersebut.

Saat ini dampak ekonomi event Indonesia menempati urutan ke-17, mengalahkan Thailand yang ada di posisi ke-22, dengan Direct Spending US$ 6,3 miliar, Direct GDP US$ 3,9 miliar, Average Spending per participant US$ 296, Total Participant 21,4 juta dan Direct Job 104.000 orang, sebagaimana dikutip dari gatra.com.

Sementara Vice President Ad-house Clarion, Gad Permata mengatakan, bila setahun menyelenggarakan 300 pameran, dimana setiap setiap event menyerap 3000 karyawan. Bayangkan berapa banyak karyawan yang bisa diberdayakan setiap pameran berlangsung. “Itu baru dari sisi penyerapan tenaga kerja, belum lagi dari pergerakan ekonominya. Nilai transaksi yang terjadi selama pameran dan pasca pameran.

Pemerintah optimalkan industri MICE sebagai salah satu unggulan penopang target kunjungan wisatawan mancanegara (Foto: [pelakubisnis.com)
Pemerintah akan mengoptimalkan industri Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran atau dikenal dengan MICE (Meeting Incentive Convention Exhibition) sebagai salah satu unggulan penopang target kunjungan 26 juta wisatawan mancanegara (wisman) lima tahun mendatang.

Direktur Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Leonardo AA. Teguh Sambodo mengatakan, ke depan pariwisata berperan sebagai sumber pendapatan baru bagi negara, salah satu sumber devisa, dan “obat” menurunkan defisit transaksi berjalan.

Angka-angka tersebut bisa jadi lebih besar. Pasalnya, masih banyak area-area yang dapat dioptimalkan melalui kolaborasi pemerintah, pelaku industri MICE dan pelaku bisnis atau perusahaan sektor lainnya. Teguh menuturkan dampak positif lainnya dari MICE adalah memperkuat nation branding atau promosi Indonesia secara internasional. Ini sudah terbukti saat Indonesia yaitu Bali jadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF–Bank Dunia tahun lalu, sebagaimana dikutip dari sindonews.com.

Sektor MICE merupakan indikator kuat perkembangan ekonomi suatu bangsa, penyelenggaraan sebuah event internasional membutuhkan perangkat keras infrastruktur fisik, dan perangkat lunak SDM yang ahli dan mentalitas pelayanan kelas utama. Dukungan infrastruktur dengan kualitas yang bagus menjadi hal yang sangat penting diantaranya akses udara, jalan atau rel kereta api, convention center dengan kualitas bagus, hotel antara bintang tiga hingga bintang lima, destinasi yang atraktif dan memiliki nilai tambah, pemasaran yang baik, dan professional conference organizer (PCO) lokal yang ahli di bidangnya.

Para wisatawan MICE pada umumnya mempunyai lama tinggal lebih panjang, karena mengikuti kegiatan pre and post tour dengan berbagai program seperti ladies and children program sehingga secara keseluruhan pengeluaran wisatawan tersebut lebih besar. Selain itu wisatawan MICE memiliki tingkat kekebalan yang relatif lebih tinggi terhadap berbagai isu ketidakjelasan di suatu negara. Sehingga tidak mudah membatalkan kunjungannya. Selain itu event MICE memberikan manfaat langsung pada ekonomi masyarakat seperti akomodasi, usaha kuliner, cinderamata, guide, hingga transportasi lokal sehingga sejalan dengan tiga strategi yang dijalankan pemerintah yakni pro-pengentasan kemiskinan, propenciptaan lapangan kerja, serta pro-pertumbuhan.

“Saya berharap Menteri Pariwisata yang baru ini bisa lebih terbuka. Melihat sektor pariwisata dengan pandangan yang luas, bukan hanya turis leisure. Jangan lupa, ada turis business,” katanya seraya menambahkan kita harus benchmarking dengan negara tetangga, seperti Singapura. Lihat potensi MICE di sana.

Sejauh ini kontribusi MICE terhadap perekonomi nasional memang masih kecil. Diperkirakan MICE menyumbang sekitar 3% dari sumbangan Produk Domestic Bruto (PDB) dari sektor pariwisata.  Walaupun sampai saat ini belum ada survei khusus berapa sumbangan MICE terhadap perekonomian nasional. Ke depan kabarnya Badan Pusat Statistik akan melakukan survei  khusus di sektor MICE ini.

Belum lagi bila dilihat dari nilai transaksi (penjualan-red), baik selama pameran maupun paska pameran. Sebagai gambaran pameran B to C Indocomtech 2019, yang berlangsung Oktober lalu mencatat transaksi sebesar Rp 700 milyar selama lima  hari pameran.

Tidak hanya itu Trade Expo Indonesia (TEI) ke-34 tahun 2019 sukses mencapai transaksi sebesar USD 10,96 miliar atau senilai Rp153,38 triliun. Nilai ini meningkat 29,04 persen dibanding pencapaian tahun lalu sebesar USD 8,49 miliar atau senilai Rp127,33 triliun. Angka ini akan meningkat paska TEI.

Paling tidak tergambar nilai ekonomi kegiatan pameran. Kegiatan pameran sudah menjadi suatu kebutuhan bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk atau jasanya. Nilai ekonomi dari kegiatan MICE mendorong perekonomian nasional.  []  Yuniman Taqwa