Sky Energy Menangkap Pasar RoofTop Melalui Inovasi

Meski pasar domestik belum semarak dibandingkan pasar ekspor, tapi tren RoofTop ke depan akan melesat bagai deret ukur.  Sky Energy Indonesia jauh hari mengantisipasi peluang itu dengan sejumlah inovasi dengan memproduksi sel surya dan panel surya non frame.

Sembilan tahun lalu, founder PT Sky Energy Indonesia Tbk (Sky Energy) mulai melihat arah pengembangan energi di Indonesia. Saat itu masyarakat dunia begitu konsen terhadap perubahan iklim. Fenomena itu menjadi pemicu berkembangnya energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai suatu keniscayaan untuk menjaga suhu bumi agar jangan sampai di atas 2 derajat celcius.

Indonesia merespon tren itu dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan. Sebut saja  Perpres No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.  Kebijakan itu mulai lebih banyak menggunakan energi terbarukan sebagai sumber energi. Political will itu dapat dilihat melalui UU dan sejumlah peraturan perundangan. Misalnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi yang mengharuskan pemerintah pusat dan daerah mendorong penggunaan energi terbarukan. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 yang menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050.

Dalam perspektif tersebut boleh jadi Sky Energy melihat ada potensi besar mengembangkan bisnis energi surya di Indonesia. Walaupun saat itu pasar dalam negeri  masih menilai panel surya merupakan barang mahal.

Dijelaskan Chief Commercial Officer PT Sky Energy Indonesia Tbk, Kurniadi Widyanta, pada 2008  PT Sky Energy Indonesia berdiri. Setahun kemudian (2009) Sky Energy joint transfer teknologi dengan perusahaan asal Jepang, Hitachi. “Di Jepang saat itu solar RoofTop sudah berkembang,” katanya serius kepada pelakubisnis.com.

COO Sky Energy Indonesia, Kurniadi Widyanta, foto: pelakubisnis.com

Menurut Kurniadi, kelihatannya tahun ini bagi pemerintah tidak ada cara lain untuk mencapai target 23% penggunaan energi terbarukan di Indonesia. Apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PLN, membuka peluang bagi masyarakat menjual listrik ke PLN. Regulasi ini boleh jadi mendorong akselerasi penggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap  atau RoofTop  di Indonesia.

Sky Energy melihat kebijakan itu mendorong pengembangan energi surya di Indonesia. Masyarakat mendapat pilihan sumber pasokan energi tidak tergantung pada PLN. Bukan tidak mungkin ke depan penggunaan PLTS RoofTop berkembang secara massif, seperti penggunaan handphone saat ini.

Walaupun  menurut Kurniadi, keekonomisan RoofTop saat ini masih seimbang, karena row material-nya sebagian besar masih impor. Ini menjadi kendala utama para produsen RoofTop di Indonesia. “Kami selalu melakukan edukasi bahwa RoofTop sudah menjadi barang biasa,” urainya seraya menambahkan, juga dilakukan edukasi penggunaan RoofTop yang memenuhi standar. Pasalnya, masih ditemukan  kejadian dimana konsumen mengalami masalah ketika menggunakan  PLTS Atap ini. Mungkin saat instalasi RoofTop terjadi salah pasang atau quality RoofTop yang tidak memenuhi standar, sehingga terjadi kebakaran.

Tak urung pemerintah pun cepat merespon penggunaan SNI bagi RoofTop yang beredar di Indonesia. “Sky Energy Indonesia selain memiliki SNI juga memiliki standar internasional, karena pasar kami dominan justru di ekspor. Makanya pada tender-tender yang dilakukan PLN beberapa waktu lalu, hanya ada beberapa perusahaan ikut kualifikasi,” katanya serius.

Kurniadi mengakui Sky Energy  sampai saat ini belum masuk ke segmen ritel, lebih banyak menangani project. Baru tahun depan mulai membidik pasar ritel. Strategi masuk ke ritel mengkombinasikan pola pembayaran dengan menggunakan leasing. Sekarang perusahaan leasing yang tertarik memasukkan list untuk melakukan pembiayaan kredit RoofTop.

Lebih lanjut ditambahkan, bila sudah masuk ke ritel, Sky Energy  akan melakukan penawaran terintegrasi, mulai dari pemasangan, service sampai pembiayaan. Sistemnya menggunakan blockchin,  “Konsumen yang ingin membeli RoofTop Sky Energy tinggal buka handphone, pilih kapasitas yang diinginkan, misalnya 1 KW, 2KW dan sebagainya. Tinggal klik, konsumen dapat informasi lengkap, termasuk berapa cicilan yang harus dibayar tiap bulannya,” lanjutnya.

Mantan Operational Director PT Bangun Prima Semesta ini, memprediksi satu dua tahun ke depan PLTS RoofTop akan berkembang cepat. Tinggal bagaimana Sky Energy menurunkan harga, menjaga kualitas dan meng-cover end to end orang yang memasang dijamin aman dan tidak merugikan.

Sementara menurut perhitungan Sky Energy, Break Event Point (BEP) menggunakan RoofTop mencapai tujuh sampai delapan tahun.

Itu sebabnya Sky Energy, kata Kurniadi, mulai memikirkan bekerjasama dengan financial service. “Kita sedang menjajaki kerjasama dengan beberapa rekan dari Jepang. Kemarin ada diskusi mengenai financial service dengan Hitachi, Toyota. Semua itu masih wacana yang dipertimbangkan,”jelas alumnus Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Sejauh ini Sky Energy Indonesia 100% murni Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun demikian, bila investor asing ingin ikutan (invest-red), ya boleh saja, tapi policy  masih tetap dikendalikan manajemen lama (lokal-red). “Kami sedang melakukan konsolidasi internal, karena saat ini sedang menyiapkan  pabrik. Minimal material kami meningkatkan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri-red),” jelas Kurniadi. Sampai saat ini TKDN Sky Energy berada di kisaran 43%. Dengan adanya pabrik ini dan pabrik kedua, di Cisalak, maka akan meningkatkan TKDN.

Komposisi terbesar produksi Sky Energy masih di pasar ekspor (Foto: pelakubisnis.com)

Menurutnya Sky Energy merupakan satu-satunya manufacture di Indonesia yang memproduksi sel surya. Tapi bukan memproduksi proses utama dikenal sebagai “Cz-Si wafers“(Czochralski Silicon wafers). Bahan ini kita belum bisa bikin. “Kita mulai dari impor wafers, dari bahan ini diolah menjadi modul. Sky Energy satau-satunya di Indonesia yang mampu memproduksi sel surya dengan kapasitas produksi satu line sekitar 100 MW/pertahun,” katanya serius. Dengan produksi sel surya, maka TKDN meningkat di angka sekitar 50%. Angka itu hanya berdasarkan hitungan raw material belaka. Tapi, kalau dihitung juga dengan SDM, maka angkanya bisa lebih dari 50%.

Bila tidak ada aral melintang, maka Januari 2020 sudah dapat memproduksi sel surya di pabrik ke-2 di Cisalak. Bahkan, shareholder sudah mempersiapkan lahan untuk ekspansi pembangunan pabrik sel surya yang ketiga. “Sebab, perkembangannya cepat sekali. Untuk meng-cover order dari kami saja tidak cukup,” tandas Kurniadi.

Kurniadi mengestimasi pertumbuhan RoofTop ke depan akan sangat tinggi. Saat ini kita baru mencapai 0,23% dari target yang diharapan pemerintah. “Angka itu masih sangat jauh sekali. Masa kita harus impor terus!,” jelas Kurniadi serius.

Lebih lanjut ditambahkan, Sky Energy saat ini hanya fokus memproduksi penerangan jalan umum (PJU). Sky Energy juga mempunyai pabrik lampu LED PJU dari hasil take over dari Sharp. “Ceritanya Sharp pada 2017 seluruh pabrik lampu LED PJU ditutup. Sky Energy membeli pabrik lampu LED PJU tersebut. Semua asset, termasuk sumber daya manusia dibeli dan pabriknya dipindahkan ke Bandung. Dalam waktu dekat ini, pabrik PJU  itu akan disatukan di sini. Kami akan membuat lampu PJU surya 200 watt. Sedangkan untuk RoofTop memproduksi 280 WP dan 350 WP,” jelas Kurniadi.  Itu produk panel surya yang menggunakan frame (bingkai).

Selain itu, Sky Energi juga melakukan terobosan dengan memproduksi panel surya non-frame. Panel surya tanpa bingkai ini satu-satunya di Indonesia, malah katanya satu-satunya di dunia. Sky Energy – untuk kategori panel surya tanpa bingkai – hanya lempengan modul surya, jauh lebih ringan,

Agustus lalu, Sky Energy launching panel surya non frame dengan kapasitas 240 WP. Dan ikut pameran di Amerika Serikat. Sky Energy, tambah Kurniadi, banyak dapat order dari Eropa, Afrika dan Amerika. “Tapi terakhir ini banyak dapat order dari Amerika,” lanjutnya.

Kebetulan produk Sky Energy yang dinamai J Leaf sangat diminati di Amerika Serikat. Jenis produk ini, Sky Energy sudah mendapat order sebesar 130 MW. Padahal jenis RoofTop  ini baru diperkenalkan pada Juli lalu. Saat itu Sky Energy melaunching tiga produk panel surya terbarunya yakni J-Leaf, J-Feather, dan J-Bifacia yang telah teregistrasi di Japan Patent Office.

Besarnya permintaan pasar ekspor itu, yang menyebabkan sedang mempersiapkan tambahan line produksi. Sampai saat ini baru ada tiga line produksi RoofTop dengan full kapasitas mencapai 200MW/pertahun. Dari kapasitas produksi sebesar itu, lanjut Kurniadi, minimum 80% kinerja produksinya.

Kurniadi memprediksi panel surya non-frame akan menjadi tren di masa mendatang. Pasalnya, selama ini ada kendala pemasangan panel surya konvensional (menggunakan frame). Bayangkan panel surya ukuran  1 m2 beratnya bisa mencapai 10 kg. Tapi dengan menggunakan RoofTop jenis J Leaf beratnya hanya sekitar 4 – 5 kg/1 m2.

Memang diakui Kurniadi, agak riskan pada saat pemasangan. Sebab, panel surya jenis ini sangat tipis sekali. “Kami diskusi dengan tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memformulakan metode pada saat handling panel surya ke atas saat pemasangan” tambahnya serius.

Memang harga jual J Leaf sedikit lebih mahal, sekiatar 20 sampai 30 persen dibandingkan panel surya yang menggunakan frame. Namun demikian, problem RoofTop itu hanya ada dua, yaitu berat panel surya dan kapasitas sel. Semakin besar kapasitas sel, maka satu panel akan makin besar dayanya. “Sekarang satu panel surya daya baru sekitar 5 WP. Siapa tahu ke depan dayanya semakin meningkat, sehingga semakin efisien. Research and Development (R&D) kami fokusnya adalah menurunkan berat panel surya dan memperbesar kapasitas sel surya,” katanya. Saat ini Sky Energy sudah mampu menurunkan berat panel surya. “Kami juga sedang mempelajari bagaimana supaya sel surya bisa maksimal. Saat itu baru 5 WP/persel, tapi kalau bisa sampai 7 WP per sel,”ungkapnya.

Lebih lanjut ditambahkan, J Leaf ini merupakan salah satu produk unggulan Sky Energy untuk segmen ritel. Walaupun RoofTop jenis ini harganya lebih mahal dibandingkan RoofTop yang menggunakan bingkai. Tapi seharusnya harganya bisa turun, karena J Leaf sudah tidak menggunakan bingkai. Biaya kontruksinya juga lebih hemat.

Untuk tahun ini – di segmen ritel – Sky Energy  mulai membidik pasar industrial estate (business to business-red). Misalnya di Cikarang. “Kami sdang negosiasi dengan Toyota, pabrik-pabriknya dipasang RoofTop jenis J Leaf supaya kontruksi bangunan atap pabrik tidak terbebani beban yang berat,’ tambah Kurniadi.

“Harga modul surya per WP sekitar Rp7000,-. Tapi kalau Anda lihat harga di online, itu harganya ‘jor-joran’ (banting harga-red). Tapi kami tahu dapurnya. Makanya perlu segera disertifikasi,” kata Kurniadi mengunci percakapan. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa