Jajaran Pertamina Harus Makin Solid Hadapi Bisnis ke Depan

Jakarta, 10 Desember 2019, pelakubisnis.com – Pertamina sebagai pengelola energi nasional ke depan tidaklah mudah karena tantangan bisnis semakin dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, seluruh jajara Pertamina harus bisa saling menguatkan dan solid dalam menghadapi tantangan tersebut.

Demikian disampaikanKomisaris Utama Pertamina Basuki Tjahja Purnama saat memberikan sambutan pada puncak peringatan HUT ke-62 BUMN bertema Energi Unggul Indonesia Maju, di lantai Mezzanine, Kantor Pusat Pertamina, Selasa (10/12).

Menurut Basuki, semua pencapaian yang telah diraih Pertamina selama 62 tahun ini merupakan kado indah tidak hanya bagi seluruh insan Pertamina, namun juga bagi Indonesia.  Hal tersebut terwujud berkat semangat dan tujuan yang sama dalam menjadikan Pertamina menjadi lebih baik lagi sesuai dengan visinya menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia.

“Saya yakin dengan kekompakan dan kerja sama kita semua. Tantangan ke depan pasti banyak, tapi mari kita memandang tantangan ini sebagai bagian dari peluang dan menjadi pengingat bahwa kita perlu bekerja sama dengan baik. Saya yakin dengan ridho Tuhan bisa membawa Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia,” ujarnya di hadapan Wakil Menteri BUMN I Budi Gunawan Sadikin, Plt Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto, seluruh jajaran komisaris dan direksi, serta insan Pertamina.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, semua pencapaian yang diraih Pertamina selama 62 tahun menjadi salah satu bukti bahwa BUMN ini telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Nicke mengingatkan, sebagai satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang energi, Pertamina menjadi tumpuan harapan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam memenuhi ketersediaan energi. “Karena menjadi satu-satunya ‘anak kandung’ di bidang energi, konsekuensinya kita harus mampu memenuhi harapan tersebut, tentunya dengan dukungan dari seluruh pihak, khususnya dari insan Pertamina,” tegasnya.

Nicke menyampaikan berbagai pencapaian telah dilakukan Pertamina dalam satu tahun terakhir. Di bidang hulu, tahun ini Pertamina melakukan 315 pengeboran sumur pengembangan. “Sebanyak 121 di antaranya adalah sumur pengembangan di blok Mahakam. Hal ini menunjukkan bahwa kita berupaya maksimal menahan decline rate yang terjadi di sumur-sumur mature di blok tersebut. Ketika mulai alih kelola pada 2018, decline rate Blok Mahakam mencapai 57%. Saat ini hanya 25% dan tahun depan kita maksimalkan menjadi 0%. Ini adalah pencapaian bagi kita yang banyak mengelola sumur-sumur yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun,” paparnya.

Selain itu, di luar negeri, melalui anak perusahaan PT Pertamina Internasional EP (PIEP), operasi Pertamina sudah mencapai 13 negara dengan hasil produksi minyak mentah keseluruhan mencapai 101 ribu barel per hari.

Di bidang pengolahan, tahun ini intake dan production kilang Pertamina mengalami peningkatan. “Unscheduled shut down kilang juga menurun. Hal ini mempengaruhi penurunan impor produk BBM hingga 7%. Walaupun kapasitas kilang kita masih lama, tapi produksi kita meningkat. Hal tersebut terbukti mulai Maret 2019 kita sudah tidak impor solar dan mulai April 2019 kita tidak impor avtur. Dari pengurangan impor tersebut menghasilkan penghematan devisa negara mencapai sekitar 31 triliun,” jelasnya.

Pertamina melalui kilang Dumai dan Plaju sudah bisa menghasilkan biodiesel sebagai dukungan terhadap program pemerintah dalam menerapkan mandatori B20 dan B30 sehingga bisa menurunkan impor solar.

Di bidang MP2, program strategis kilang nasional juga mengalami perkembangan yang bagus pada tahun ini. “Tadi pagi, progress pembangunan kilang RDMP Balikpapan sudah mencapai 10%. Ini berarti sudah sesuai dengan target yang kita tetapkan sehingga diharapkan bisa selesai pada 2023,” ungkap Nicke.

Setelah melakukan kesepakatan penerapan Dual FEED Competition (DFC) dengan dua konsorsium besar, program RDMP Balongan yang tadinya ditargetkan selesai pada pada 2023, akan diselesaikan dalam pertengahan 2022. Untuk kilang Tuban, Pertamina juga mendapat izin untuk melakukan reklamasi 200 hektar agar proyek kilang tersebut berjalan sesuai dengan rencana. Sedangkan terkait program RDMP Cilacap, Pertamina berharap pada pertengahan Januari 2020 ada kesepakatan baru dengan Aramco.

“Ada atau tidak ada partner, program RDMP Cilacap harus tetap berjalan sesuai rencana karena kilang ini merupakan  backbone  kilang kita dengan sepertiga produk BBM nasional diproduksi dari kilang Cilacap,” tegasnya.

Di bidang pemasaran retail, Digitalisasi SPBU meningkatkan transparansi dan keakuratan data pasokan dan konsumsi BBM di setiap SPBU. Tak hanya itu, berkat data yang realtime, kepastian stok pun bisa dikelola lebih efisien. Hingga 2019 Pertamina sudah mengintegrasikan lebih dari 2.000 SPBU Digital dan dilengkapi dengan implementasi aplikasi myPertamina sejalan dengan lifestyle digitalisasi.

“Produk pelumas Pertamina juga sudah merambah ke 17 negara dan produk aviasi Pertamina sudah tersedia di 60 negara,” tambah Nicke.

Pertamina juga membangun 50 lokasi TBBM, Terminal LPG dan DPPU di airport perintis di Indonesia Timur. “Kita akan mulai membangun pipa BBM di jalan tol dengan memanfaatkan Right of Way milik Wika, Jasa Marga, dan PGN sehingga keandalan pasokan dapat terjamin,” tukasnya.

Di bidang manajemen aset, Pertamina telah mampu menginvetarisasi lengkap data aset secara detil mencapai 48% dan hal itu akan terus dilanjutkan hingga 100%. “Hari ini, kita juga melakukan topping off gedung Grha Pertamina,” jelasnya.

Selain itu, Pertamina juga selalu berupaya menjaga keselamatan kerja dalam kegiatan operasionalnya. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Pertamina Group meraih 41 penghargaan dalam ajang Penganugerahan Penghargaan Keselamatan Minyak dan Gas Bumi (Migas) tahun 2019 kategori pembinaan keselamatan migas dan kategori tanpa kehilangan jam kerja sebagai akibat kecelakaan.

Nicke menyampaikan empat pesan utama dari Presiden Joko Widodo kepada seluruh insan Pertamina. Pertama, harus mampu menekan impor dengan melakukan berbagai inovasi dan pengembangan teknologi. Kedua, meningkatkan ekspor dengan memaksimalkan potensi bisnis yang dimiliki Pertamina. Ketiga, melakukan efisiensi di segala bidang. Keempat, memastikan program pembangunan kilang strategis nasional berjalan sesuai rencana sebagai antisipasi terhadap peningkatan konsumsi energi dan tantangan bisnis ke depan yang lebih dinamis.[] STK/sp