Promosi Pariwisata Dengan Multi-Channel

Catatan Redaksi pelakubisnis.com

Media film dan digital marketing menjadi keniscayaaan dalam mengemas promosi pariwisata. Dari mulai film sampai sosial media menjadi instrumen yang mampu meningkatkan kunjungan wisata.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pemerintah akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur, karena pemerintah ingin memperkokoh pondasi dalam berkompetisi, bersaing dengan negara-negara lain.

“Sesakit apa pun harus berani kita tahan, agar yang namanya pembangunan infrastruktur itu betul-betul rampung dan selesai. Artinya, kelanjutan pembangunan infrastruktur tetap kita laksanakan,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Rencana Pembangunan Jangka Menengah nasional (RPJMN) 2020-2024, di Istana Negara, Jakarta, pada 16/12.

Presiden menambahkan, ingin menyambungkan infrastruktur yang telah ada ini ke kawasan-kawasan industri, kepada kawasan-kawasan produksi pertanian, ke kawasan-kawasan produksi perikanan, kawasan-kawasan wisata yang ada di setiap provinsi di setiap daerah.

Presiden didampingi Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin memberi contoh. Misalnya ada jalan tol disambungkan ke kawasan-kawasan pertanian. Siapa yang menyambungkan? Presiden menjelaskan, ada Pemerintah Daerah (Pemda) yaitu pemerintah provinsi (Pemprov), ada pemerintah kabupaten (Pemkab), ada pemerintah kota (Pemkot).

Presiden meminta agar disambungkan airport yang telah dibangun atau yang sedang akan dibangun dalam proses ini juga dengan kawasan-kawasan wisata. Ia memberikan contoh seperti Labuan Bajo, Manado, Jogya, Mandalika, Danau Toba, dan Borobudur.“Setelah ini selesai, tugasnya Menteri Pariwisata untuk promosi besar-besaran,” jelas Presiden.

Jelas pesan yang ingin disampaikan orang nomor satu di Indonesia ini, bahwa infrastruktur yang telah terbangun harus terkonektivitas ke sumber-sumber produksi, termasuk sektor pariwisata. Pembangunan infrastruktur tersebut  merupakan fondasi untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Pasalnya, salah satu yang menyebabkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) beberapa tahun  terakhir ini tidak tercapai, karena keterbatasan akses menuju tempat-tempat lokasi. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, sehingga peran transportasi menjadi vital untuk melakukan kunjungan wisata di seantero negeri.

Langkah berikutnya, masih menurut Jokowi, tugas Menteri Pariwisata untuk promosi besar-besaran. Pertanyaannya media komunikasi apa yang memperkenalkan destinasi wisata Indonesia di mancanegara?

Film menjadi salah satu media yang dapat dimanfaatkan dalam mempromosikan destinasi wisata di Indonesia. Masih ingat film Ada Apa Dengan Cinta 2(AADC 2)? Film  remaja ini mampu menyedot penonton mencapai 3,6 juta penonton dengan pendapatan kotor mencapai Rp 109,9 miliar. Angka tersebut berdasarkan penjumlahan dari harga tiket bioskop yang dijual Rp30 ribu per lembar.

Dalam satu adegan di film AADC 2 di lokasi Gereja Ayam, yang berada di Bukit Rhema, di ekitar Candi Borobudur, Magelang, membuat gereja yang berbentuk seperti seekor ayam betina raksasa yang sedang mengerami telur di dalam hutan. Paska penayangan film AADC 2 ini, Gereja Ayam itu banyak diserbu wisatawan nusantara, bahkan dunia.

Tidak hanya itu,  ada  yang menarik di perfilman nasional usai momen lebaran. Film “Kulari ke Pantai” garapan sutradara Riri Reza. Hampir tak ditemui klimaks yang mengharu biru dalam film besutan Riri dan Mira Lesmana ini. Tapi seperti biasa, dua sineas Indonesia ini mampu mengemas ceritanya menjadi enak ditonton. Terlebih, ada sajian keindahan alam Indonesia dengan bahasa visual yang menarik. Dan kepiawaian mereka mencari talent yang pas mampu membuat penonton tersenyum puas. Ada secercah harapan bagi perfilman nasional dengan kehadiran film seperti ini. Boleh jadi film Kulari ke Pantai  akan menjadi gelombang baru bagi dunia film  nasional, khususnya di genre anak-anak.

Panorama alam yang menajubkan itu membuat dua sineas Indonesia, yaitu Riri Reza dan Mira Lesmana mengambil lokasi shooting di beberapa tempat di Banyuwangi dalam film “Kulari ke Pantai”. Film ini berhasil menyajikan bahasa visual yang membuah penonton berdecak kagum atas keindahan alam di sana. Mungkin kita selama ini hanya mengenal Bali, ternyata Banyuwangi  tak kalah indahnya.

Sebut saja pantai G-Land (Pantai Plengkung)! Pantai ini berhadapan langsung dengan perairan Samudra Hindia, sehingga pantai ini mempunyai ombak yang besar. Tekstur ombak  di Pantai G-Land memanjang, tinggi dan memiliki kecepatan yang tinggi. Itu sebabnya tak heran bila pantai ini menjadi lokasi incaran  para peselancar dunia.

G-land menjadi surga peselancar dunia/foto: ist

Boleh jadi film ini juga memberikan kontribusi terhadap promosi wisata di Banyuwangin. Paska film ini ditayangkan, banyak wisata domestik maupun mancanegara melakukan touring ke sana dan berakhir di Pantai G-land yang menjadi “surganya” para peselancar dunia.

Pantai G-land ini masuk ke dalam kategori Tujuh Keajaiban Ombak Tertinggi berdasarkan survey dari peselancar yang pernah ke sini. Ini dikarenakan, ombaknya memiliki tujuh gelombang, dan setiap gelombang bisa mencapai ketinggian 8 meter.

Hanya sebatas itu? Tidak! Film Entrapment yang dibintangi Sean Connery dan Catherine Zeta-Jones dirilis, gedung yang berlokasi di jantung Kuala Lumpur, Malaysia, ini belum lama diresmikan. Gedung dengan arsitektur yang khas, ditambah jembatan yang berada di ketinggian, langsung menyita perhatian dunia. Ditambah lagi, Petronas Twin Towers kala itu memiliki predikat sebagai gedung paling tinggi sedunia.

Film dapat berpengaruh besar terhadap perubahan jumlah kunjungan wisata. Hal ini disebabkan karena penonton termotivasi terhadap lokasi wisata yang mereka lihat melalui sebuah film. Motivasi wisatawan untuk berwisata dipengaruhi motif push dan pull (Hudson&Ritchie, 2006). Film tertentu cenderung memiliki daya tarik bagi wisatawan. Film merupakan media yang sukses untuk pariwisata jika alur cerita dan tempat lokasi film saling terkait karena film dapat memberikan gambaran secara visual dari lokasi film. Hal tersebut memberikan motivasi terhadap penonton film untuk mengunjungi dan mencari informasi mengenai  lokasi tempat pembuatan film (Hudson&Ritchie,2006), sebagaimana dikutip dari mdp-stpbandung.ac.id.

Masih dari sumber yang sama, film dengan lokasi yang menarik dan tidak diketahui oleh orang sebelumnya berpengaruh dengan meningkatnya jumlah wisatawan setelah perilisan sebuah film, dengan belum adanya batasan waktu seberapa lama dampak meningkatnya kunjungan wisatawan tersebut ke sebuah destinasi yang dijadikan lokasi pembuatan film tersebut. Hal ini semestinya dapat dijadikan alat promosi bagi pihak yang ingin mengembangkan dan memperkenalkan daerah atau tempat wisata yang dimiliki. Untuk membuat inovasi media promosi seperti film yang mengambil lokasi pariwisata supaya menarik kunjungan wisatawan.

Di samping itu,  pemanfaatan medsos ibarat komunikasi getok tular (dari mulut ke mulut). Tapi gaya komunikasi  di zaman now ini menggunakan medsos. Apa kelebihan gaya komunikasi model ini? Isi pesan menjangkau lebih luas.  Tidak menutup kemungkinan menjadi viral, bila pesan yang disampaikan menyentuh emosi audiens dan paling tidak frame of reference antara komunikator dan komunikan sama. Fenomena ini yang membuat komunikasi gaya sosmed dapat dijadikan alat promosi (digital marketing). Dan bila dilakun secara intens; dengan konten yang menarik, maka brand atau pun destinasi-destinasi pariwisata yang dikemas dalam konten tersebut pun dapat terdongkrat dalam tempo singkat.

Sebagai penganut performance marketing,  digital marketing tidak hanya sebatas membangun brand melalui online, namun keunggulan digital marketing adalah semua data dapat di-track, sehingga dalam membuat keputusan channel yang mana lebih dan berapa budget yang harus kita spend lebih tepat.

Kita dapat track performance marketing melalui digital marketing dibandingkan marketing konvensional. Selain itu kedua jenis marketing tersebut: digital dan konvensional sebaiknya dijalankan paralel dan tidak menggantikan satu dengan yang lain.

Menurut Amalia E. Maulana, Ph.D, Branding Consultant & Ethnographer Director PT. ETNOMARK Consulting, di zaman dimana komunikasi one-to-one, dan many-to-many sudah bisa dilakukan dengan biaya yang sangat rendah melalui internet, tentu ini entry barrier masuk ke bisnis. Tidak harus memiliki budget besar karena media massa bukan lagi sebuah keharusan. Pengelolaan yang optimal media internet termasuk media sosial menggantikan peranan media massa. Pesan tentang produk dan services bisa disampaikan secara lebih efektif dan efisien, biaya rendah, lihat Laporan utama Pelakubisnis.com, edisi Agustus 2019, bertajuk  Antara Menjual dan Membangun  Brand.

Amalia E. Maulana, Ph.D,: Promosi tidak harus memiliki budget besar karena media massa bukan lagi sebuah keharusan

Oleh karena itu, promosi memperkenalkan destinasi-destinasi pariwisata di Indonesia harus dilakukan secara massif dengan menggunakan multi-channel, termasuk media digital. Tapi, ingat, pemanfaatan digital marketing (sosial media dan sebagainya) dikemas sedemikian menarik dengan kondisi apa adanya. Jangan coba-coba mengemas konten di sosial media dengan agenda setting (rekayasa). Sebab, bukan tidak mungkin cara-cara demikian – bila konten tidak seusai fakta yang disampaikan, maka bukan tidak mungkin akan menjadi counter effect dari promosi yang diharapkan.

Itu sebabnya hospitality masyarakat harus dibangun menjadi suatu budaya dalam memberi pelayanan bagi wisatawan. Keramahan dalam suatu komunitas – menjadi karakter yang harus dimiliki – sebagai sebuah nilai yang melayani, bukan dilayani.

Karakter ini – bila ingin berkata jujur – kita masih jauh dari harapan para wisatawan. Ini menjadi introspeksi diri bahwa membangun karakter, berarti membangun bangsa. Bila bangsa ini ingin berubah, ingin menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa, ingin  meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka mulai dari diri anda. Perubahan dari diri anda, akan merubah wajah bangsa ini![] foto utama: ist