Sektor Pariwisata Mampu Tekan CAD

Banyak potensi keindahan alam Indonesia digadang-gadang mampu menghasilkan devisa yang cukup signifikan. Sektor pariwisata diproyeksikan akan menjadi “core economy” dan penyumbang devisa terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan.

Sektor pariwisata dapat menjadi salah satu instrumen menekan secara cepat perbaikan Current Account Deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan. Pasalnya,  pasokan valuta asing (valas) dari ekspor barang dan jasa tak mampu menutup kebutuhan valas untuk impornya. Ini menjadi faktor pemberat kurs rupiah setiap terjadi pembalikan modal asing dari pasar keuangan domestik.

Sejauh ini defisit transaksi berjalan mencapai US$ 31,1 miliar atau 2,98% terhadap PDB, tahun lalu. Ini nyaris mendekati batas aman 3% PDB. Defisit sempat mencapai 3,18% PDB pada 2013, namun kemudian berangsur turun menjadi 2,95% pada 2014, lalu 2,03% pada 2015, kemudian 1,82% pada 2016, dan 1,6% pada 2017.

Sementara pengembangan sektor pariwisata diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penguatan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Sektor pariwisata memiliki peran strategis yang dapat mendorong peningkatan penerimaan devisa sehingga pada gilirannya dapat memperbaiki neraca transaksi berjalan. Langkah-langkah koordinasi dan sinergi kebijakan yang diperlukan untuk mengakselerasi pengembangan sektor pariwisata menjadi fokus pembahasan Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (Rakorpusda) yang diselenggarakan pada akhir Agustus tahun lalu  di Yogyakarta.

Upaya untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan dengan mendorong pengembangan sektor pariwisata menjadi fokus perhatian Pemerintah dan Bank Indonesia. Berkembangnya sektor pariwisata akan berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkesinambungan, seimbang, dan inklusif.

Maret Lalu, Pemerintah menggandeng Bank Indonesia (BI) untuk menggenjot devisa dari sektor pariwisata, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, ada enam strategi jangka pendek yang akan dilakukan untuk menggenjot devisa pariwisata. Pertama mempercepat penyelesaiaan program infrastruktur. Kedua, mengembangkan atraksi di daerah perbatasan, atau cross border tourism. Ketiga ialah dengan meningkatkan kualitas fasilitas di destinasi wisata. Keempat, memperkuat promosi pariwisata nasional untuk meningkatkan lama tinggal wisman (wisatawan mancanegera). Kelima, Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)  dan perbaikan dukungan data dan informasi. Keenam, menyusun standar prosedur manajemen basis kepariwisataan dan selanjutnya membentuk forum manajemen krisis kepariwisataan daerah, agar mampu mengantisipasi dan melakukan solusi bersama apabila terjadi bencana di sejumlah daerah.

Sektor pariwisata diproyeksikan akan menjadi “core economy” dan penyumbang devisa terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan. Selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, sektor pariwisata berkembang signifikan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Bambang Brodjonegoro saat Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata (Rakornaspar) III Tahun 2019 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta pada September lalu mengatakan, fokus kita lima tahun ke depan adalah memperkuat devisa melalui pariwisata,

Bambang menjelaskan, persaingan ekonomi global saat ini sangat berat. Komoditas ekspor saat ini tidak bisa diandalkan untuk jadi penghasil devisa. Sektor pariwisata yang saat ini jadi harapan besar. “Salah satu item transaksi berjalan adalah travel, selisih antara berapa pengeluaran wisatawan asing di Indonesia yang menjadi devisa dan berapa wisatawan Indonesia yang mengeluarkan. Alhamdulillah masih surplus. tapi surplusnya menipis,” katanya, sebagaimana dikutip dari pelakubisnis.com pada 11 September lalu.

Menurut Bambang,  target yang ditetapkan untuk pariwisata pada 2024 yaitu menyumbang devisa mencapai US$28 miliar atau setara dengan 26 juta kunjungan wisman dan memberikan kontribusi PDB mencapai 5,5 persen.

“Untuk wisnus targetnya mencapai 350-400 juta orang, serta mempekerjakan 15 juta orang pekerja dan meningkatkan peringkat Travel and Tourism ke posisi 29 sampai 34,” kata Bambang yang saat ini diberi kepercayaan oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.

Turis asing sedang berlatih menari/foto: ist

Sementara Menteri Pariwisata periode 2014 – 2019, Arief Yahya saat Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia (Masata) di Kota Kasablanka, Jakarta, Oktober lalu mengatakan, Indonesia memiliki ribuan destinasi, baik yang sudah populer namanya maupun yang masih belum digarap optimal. Apalagi pembangunan infrastruktur terus digalakkan, maka bukan tidak mungkin dunia pariwisata akan menjadi andalan baru bagi pemasukan negara.

“Saya optimis tahun ini dan lima tahun ke depan, industri pariwisata menjadi salah satu yang menyumbangkan devisa terbesar, mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar US$20 miliar,” katanya.

Berdasarkan data World Travel & Tourism Council, kata Arief, pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat tumbuh dengan menempati peringkat ke-9 di dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara. Capaian di sektor pariwisata itu juga diakui perusahaan media di Inggris, The Telegraph yang mencatat Indonesia sebagai “The Top 20 Fastest Growing Travel Destinations”.

Indeks daya saing pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan membanggakan, dimana peringkat Indonesia naik 8 poin dari 50 pada 2015, ke peringkat 42 pada 2017. “Persaingan sekarang ini bukan soal yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi siapa yang tercepat. Kita bisa melampaui negara-negara pesaing kita di Asia Tenggara,” ujarnya semangat.

Sejauh, sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari US$12,2 miliar pada 2015, menjadi US$13,6 miliar di 2016, dan naik lagi menjadi US$15 miliar pada 2017. Pada 2018 ditargetkan meraup devisa 17 miliar dolar AS serta pada 2019 dibidik menyumbang devisa nomor 1 mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar 20 miliar dolar AS.

tutup buku 2018 meningkat mencapai angka US$19,29 miliar atau hampir menembus target tahun ini sebesar US$20 miliar. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB tahun 2018 mencapai 4,50%, dan tahun 2019 mencapai 4,80%,

Sementara tingkat spending atau belanja mereka selama berwisata dan berada di tanah air sebesar US$1.220 perwisman per kunjungan atau istilahnya Average Spending Per Arrival (ASPA). Angka itu sudah termasuk perhitungan wisman dari 19 pintu utama imigrasi, sejumlah 13,3 juta wisman, ditambah 2,71 juta wisman dari pintu lainnya sehingga jumlah totalnya 15,81 juta wisman.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) belum memasukkan devisa dari pintu lain dan lebih fokus pada 19 pintu utama yang spendingnya US$1.440 perkunjungan. BI sendiri sampai saat ini belum memasukkan wisman dari pintu lain yang jumlahnya cukup signifikan mencapai 2,7 juta, meskipun spending mereka yang sudah disurvei, hanya US$150 perkunjungan. Hal itulah yang menjadi alasan ASPA dihitung US$1.220 per kunjungan.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2017, kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Indonesia hanya sebesar 4,11%. Nilai andil ini juga jauh lebih rendah dibanding tahun 2000 yang masih mencapai 9,38%.

Devisa dari sektor pariwisata pada tutup buku 2018 meningkat mencapai angka US$19,29 miliar atau hampir menembus target tahun ini sebesar US$20 miliar. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB tahun 2018 mencapai 4,50%, dan tahun 2019 mencapai 4,80%, sebagaimana dikutip dari wartaekonomi.co.id.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama  Kusubandio ingin kualitas turis asing di Indonesia naik kelas, sehingga bisa membantu meningkatkan devisa negara. Sebab, dibandingkan turis di negara lain, turis Indonesia per tahun lebih banyak tetapi pengeluarannya lebih sedikit. “Meningkatkan kualitas wisatawan yang datang ke Indonesia itu lebih penting, sehingga spending mereka pada saat di Indonesia lebih tinggi,” ujar Menteri Tama pada Rakornas 2019 di Sentul, Jawa Barat, minggu kedua lalu, sebagaimana dikutip dari merdeka.com.

“Sekarang (wisman) kita kira-kira US$1.220, New Zealand hampir US$5.000 per arrival. Artinya apa? Kualitas wisatawan yang datang ke New Zealand lebih tinggi walaupun jumlah wisatawannya cuma 4 juta,” lanjutnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama  Kusubandio: ingin kualitas turis yang datang ke Indonesia naik/foto Bekraf

Wishnutama mengatakan, Presiden Jokowisecara khusus telah meminta dirinya untuk meningkatkan devisa dari sektor pariwisata. Oleh karena itu, industri wisata RI harus ditingkatkan kualitasnya tidak hanya destinasi namun juga kualitas SDM serta wisatawan itu sendiri.

Dia menjelaskan salah satu cara meningkatkan daya tarik wisata dalam negeri adalah dengan menggelar event-event atau festival yang berkesan. Event wisata tersebut dibuat sedikit namun berkualitas sehingga mampu menggaet wisatawan asing untuk berkunjung.

“Event itu harus dipikirkan, tidak sekadar banyak sehingga membuat wisatawan ingin datang lagi. Wisatawan juga harus berkualitas dalam artian pengeluarannya,” kata Wishnutama usai mengikuti Upacara Serah Terima Jabatan, di Gedung Sapta Pesona Kemenpar, Jakarta, pada 23/10..

Wishnutama menyebut perlunya kreativitas untuk mengelola daya tarik wisata. Pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai core business bangsa Indonesia ke depan, sehingga harus dikelola lebih kreatif agar menghasilkan devisa serta dikunjungi wisatawan berkualitas.

“Selain promosi dan infrastruktur, dibutuhkan kemampuan lebih kreatif untuk mengelola daya tarik wisata,” kata Wishnutama seusai acara serah terima jabatan (Sertijab) dari Menteri Pariwisata Kabinet Kerja Periode Tahun 2014-2019 Arief Yahya kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019-2024 Wishnutama Kusubandio.

Wishnutama menyatakan, kreativitas tidak hanya dibutuhkan dalam mengelola produk ekonomi kreatif seperti film dan musik, tetapi juga pada pariwisata khususnya bagaimana membuat destinasi pariwisata memiliki daya tarik yang luar biasa.

“Alam Indonesia yang menarik itu sebagai anugerah Tuhan. Tinggal bagaimana kreativitas kita untuk menjadikan sebagai daya tarik yang luar biasa agar dikunjungi wisatawan,” kata Wishnutama. Ia memberikan beberapa contoh destinasi ternama dunia yang dikunjungi banyak wisatawan karena dikelola secara kreatif sehingga memiliki daya tarik yang luar biasa.

Menparekraf mengambil contoh event karnaval bunga Pasadena. Karnaval bunga rose terbesar dunia yang diselenggarakan di Pasadena, Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS) dalam menyambut pergantian tahun setiap 2 Januari tersebut memiliki daya tarik tinggi karena dikelola secara kreatif.[] Yuniman Taqwa/foto: Ilustrasi: ksp.go.id