Siasat NKP Bertahan di Pasar Yang Sesak

Kenaikan Upah Minimal Regional (UMR) selama lima tahun terakhir ini mencapai 130%, rupanya berpengaruh pada industri metal stamping. Dalam kurun waktu tersebut puluhan perusahaan terpaksa tutup karena tak mampu bersaing. Bagaimana PT Nandya Karya Perkasa mampu bertahan di tengah persaingan sangat ketat saat ini?

Hadi Yudiansyah, Direktur Operasional NKP (Foto: pelakubisnis.com)

Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) industri otomotif yang terus meningkat, mendorong industri komponen otomotif tumbuh subur bah jamur di musim hujan. Tak kurang 300-an perusahaan besar di lini bisnis Metal Stamping, Welding and Heat Treatment memproduksi sparepart otomotif (mobil dan motor) yang menyuplai kebutuhan produsen otomotif di Indonesia. Bila jumlah pemain di kategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)) di lini bisnis sparepart ini, boleh jadi jumlahnya mencapai ribuan perusahaan.

Tak pelak persaingan bisnis ini cukup ketat. Untuk bisa menjadi vendor di produsen otomotif tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan persyaratan ketat. Di samping standar kualitas yang diakui dunia, juga  kontinyuitas pasokan yang terjaga. Pasalnya, mata rantai industri otomotif cukup panjang, sehingga tak boleh terputus dalam mensuplai  komponen.

Itu sebabnya rekam jejak perusahaan yang menjadi vendor produsen otomotif  harus dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu produsen industri Metal Stamping, Welding and Heat Treatment memproduksi sparepart otomotif dalah PT  Nandya Karya Perkasa (NKP). Perusahaan besutan Hadi Subroto pada 1996 ini sudah banyak memakan asam garam.

Debut bisnisnya dimulai pada awal tahun 80-an di rumahnya di bilangan  Dukuh Atas, Jakarta. Rumah tinggal berukuran 6 meter x 12 meter persegi ini disulap dijadikan bengkel, selain  tempat tinggal. Hadi pun menciptakan mesin untuk membuat dies-dies roll untuk kursi.

Usaha Hadi pun kian menggelinding dan maju. Dari hasil usahanya, Hadi dan istri mampu membeli tanah seluas 430 m2 di daerah Cisalak, Depok Jawa Barat. Di atas lahan tersebut dibangun bengkel sebagai cikal milestone NKP.

Di Bengkel Cisalak, Hadi sudah mampu mempekerjakan tak kurang 40 karyawan. Di bengkel tersebut Hadi memproduksi berbagai macam produk rumah tangga seperti lampu minyak templok, gantungan baju, kursi makan, meja tv dan lain-lain. Hanya dengan bermodal motor Vespa tua Hadi memasarkan produksinya sampai ke kawasan Kota Tua, Jakarta bahkan sampai Karawang.

Seiring perjalanan waktu, usaha Hadi kian berkembang. Di tahun 1993 Hadi mendirikan CV Hadi Karya. Tak lama kemudian, mendapat kepercayaan dari industri otomotif roda dua nasional Federal Motor yang kini bernama PT Astra Honda Motor (AHM). Ia dipercaya membuat dies dan komponen press plate untuk sepeda motor Honda.

Usaha Hadi makin berkembang. Pada tahun 1996, bapak 4 anak ini  memperoleh pinjaman modal kerja dan investasi senilai Rp450 juta dari Astra Mitra Ventura (AMV). Sejak itu badan usaha CV Hadi Karya berubah nama menjadi PT Nandya Karya Perkasa. Lantas memperluas usahanya dengan membeli lahan di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat seluas 4500 meter persegi serta membeli mesin-mesin yang dapat menunjang pembuatan dies dan komponen press plate.

Tak pelak, NKP pun didapuk menjadi mitra Astra. Melalui Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA), pihak Astra  membimbing secara teknis maupun non teknis mengenai pengelolaan perusahaan yang baik dan benar. Tidak hanya itu, mitra Astra ini kerap disertakan dalam berbagai pameran di dalam dan luar negeri, sehingga membuka akses pasar yang makin luas.

NKP pun lantas memindahkan pabriknya ke Cicadas, Gunung Putri Bogor. Selain itu NKP juga mendapat pinjaman pembangunan pabrik dari bank senilai Rp2,5 ,miliar. Rupanya pabrik di Gunung Putri pun dinilai kurang luas. Akhirnya, NKP mengembangkan usaha dengan membangun pabri lebih luas di Cileungsi, Kabupaten Bogor. Pabrik baru di Cileungsi itu luas bangunan 8000 meter persegi yang berdiri di atas lahan 2,2 hektar.

Keberhasilan NKP tak lepas dari tangan dingin Hadi Subroto. Ia bukan tipe orang yang lekas puas. Ia terus mengembangkan dan menyempurnakan proses produksi. Baginya inovasi menjadi kata kunci  untuk tetap eksis  bertahan dalam kancah bisnis. Tak pelak lagi, Hadi berhasil mempersingkat pembuatan komponen yang umumnya melalui beberapa proses pencetakan (dies) menjadi dalam satu kali kerja saja melalui sistem progressive dies.

Kini Hadi lebih banyak memberi nasehat kepada putera dan puteri serta menantunya yang beberapa tahun terakhir ini, mulai NKP dikendalikan genarasi kedua. Usia sepuh Hadi yang kini berusia 83 tahun tak lagi terlibat secara operasional. Lalu, mau di bawa ke mana NKP ke depan?

“NKP melakukan pembenahan internal untuk meningkatkan efisiensi” (Foto: pelakubisnis.com)

Menurut Direktur Operasional PT Nandya Karya Perkasa (NKP), Hadi Yudiansyah, lima tahun terakhir ini bisnis NKP mengalami pasang surut. Di tahun 2014/15 terjadi kenaikan Upah Minimum Regional mencapai 50%. Kebijakan pemerintah menaikkan UMR sebesar itu, turut mempengaruhi kinerja NKP. Sementara pangsa pasar tergerus cukup signifikan, mencapai 30%. “Bayangkan dari mulai omzet mencapai Rp175 milyar pada 2015  turun menjadi Rp 130 milyar sampai tahun 2016,” katanya kepada pelakubisnis.com, pada minggu ketiga Desember lalu, di Pabrik NKP, Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Pada tahun 2017, omzet mulai bergerak naik, walau belum pulih sepenuhnya. Baru di tahun ini (2019-pen)  omzet NKP bergerak naik diangka Rp175 milyar, menyamai omzet pada 2014. Kenaikan omzet ini karena satu tahun terakhir ini banyak perusahaan sejenis berskala besar yang berguguran. Fenomena ini mendongkrak omzet perusahaan. “NKP dapat limpahan market dari tutupnya perusahaan-perusahaan tersebut,” katanya seraya menambahkan bahwa peningkatan itu juga karena ada perubahan strategi internal di NKP. Misalnya melakukan semi otomanitasi produksi, merekrut pemagangan, ternyata sangat membantu performance perusahaan.

Yudiansyah menambahkan, dalam kurun lima tahun terakhir ini kenaikan UMR sekitar 130%. Di Kabupaten Bogor, misalnya, saat ini UMR mencapai Rp4.400.000. Sementara NKP masuk dalam kategori perusahaan sektor satu yang wajib menerapkan penggajian di atas UMR yang angkanya di sekitar Rp 4,6 –  Rp 4,7 juta/bulan. “Karyawan NKP umumnya sudah bekerja di atas 10 tahun. Ya, nggak mungkin dibayar dengan UMR, gajinya sudah di atas   Rp 5 juta per bulan,” lanjutnya.

Saat ini semi otomatisasi di NKP mulai berjalan (Foto: pelakubisnis.com)

Mau tidak mau, lanjutnya, NKP melakukan otomatisasi secara bertahap. Langkah ini diambil dalam rangka melakukan efisiensi agar bisa lebih kompetitif di pasar. Sebab, selama ini NKP lebih banyak sebagai perusahaan padat karya. Sampai saat ini jumlah karyawannya mendekati angka 600 karyawan. Dari jumlah tersebut, karyawan tetap sekitar 60% (360 karyawan) dan sisanya karyawan kontrak.

Lebih lanjut suami Dini Sulistyowati ini menambahkan,   NKP rencananya akan melakukan relokasi pabrik ke Slawi, Jawa Tengah. Dasar pertimbangan dari segi transportasi, misalnya, sudah tidak ada hambatan, jalan tol sudah terhubung. “NKP bukan hanya pindah pabrik, tapi juga melakukan proses-proses semi otomatisasi. Misalnya tiga mesin yang tadinya dikerjakan oleh masing-masing operator, maka dengan semi otomatisasi, tiga mesin hanya dibutuhkan satu operator,” tambah Yudiansyah.

Walau saat ini NKP sudah melakukan semi otomatisasi, karena tuntutan persaingan. Sebab, tanpa melakukan  itu perusahaan sulit bisa bersaing, di tengah persaingan yang ketat dan variable cost yang terus bergerak naik. Margin yang terus menipis – bila tak mampu melakukan transformasi – sulit rasanya bisa bertahan dalam kondisi bisnis saat ini.  Beberapa tahun terakhir ini, misalnya, sedikitnya ada 30-an perusahaan sejenis skala besar yang gulung tikar.

Walaupun sebetulnya, tambah Yudiansyah, kenaikan cost produksi tidak diimbangi dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas. Kondisi ini yang menggencet margin, sehingga ada perusahaan yang tidak bisa survive dan ada yang bisa survive juga. Perusahaan yang tidak efisien – dalam kondisi persaingan yang ketat saat ini – akan tutup. Kondisi ini yang terjadi belakangan ini. NKP melakukan efisiensi terhadap proses produksi. Dari mulai efisiensi tenaga kerja, efisiensi bahan baku dan sebagainya.

Langkah strategis yang dilakukan NKP dengan merelokasi pabrik ke Slawi dalam rangka menekan cost produksi. Di mana karyawan tetap akan di bawa ke Slawi, sedangkan karyawan kontrak tidak diperpanjang dan digantikan dengan karyawan lokal dari Slawi. “Di NKP cost untuk Sumber Daya Manusia (SDM) bisa mencapai  angka di kisaran 25 persen,” kata Yudiansyah seraya menambahkan selain gaji, juga ada jaminan kesehatan, jaminan pensiun, baju seragam, makan karyawan dan lain-lain.

Sementara ketergantungan row material  impor masih tinggi. Ada jenis baja tertentu yang tidak diproduksi di dalam negeri (Krakatau Steel/KS). Baja jenis low carbon KS memproduksi, tapi untuk jenis high carbon KS tidak memproduksi, sehingga terpaksa harus impor dari China, Jepang atau Korea Selatan. Sedikitnya sekitar 30% row material masih impor, artinya TKDN sudah mencapai 70%.

Yudiansyah: “Untuk menginstal mesin menjadi industri 4.0 perlu investasi besar” (Foto: pelakubisnis.com)

Yudiansyah menambahkan, bila tidak ada aral melintang, pertengahan 2020 NKP akan pindah ke Slawi. Relokasi pabrik ini menelan investasi mencapai Rp 50 milyar. Sumber pembiayaan berasal dari pinjaman perbankan dalam negeri. Semua karyawan tetap akan diboyong ke pabrik baru, kecuali karyawan kontrak yang sudah habis masa kontraknya tidak akan diperpanjang. “Kami sudah merekrut karyawan lokal, tapi untuk sementara diperbantukan di pabrik  Cileungsi ini,” katanya serius.

Saat ini  sedang dilakukan kontruksi pekerjaan sipil, dan diperkirakan Juli 2020 pabrik di Slawi sudah bisa beroperasi. Pabrik yang dibangun di atas area seluas 17.000 meter persegi ini, secara perlahan juga melakukan semi otomatisasi karena sudah menjadi tuntutan agar tetap eksis. “Proses permindahan dari pabrik Cileungsi ke Slawi dilakukan secara bertahap. Diperlukan waktu satu sampai dua tahun, baru seluruhnya pindah ke pabrik Slawi,” tambahnya.

Namun demikian, untuk menerapkan industri 4.0 di industri metal stamping ini, diakui Yudiansyah, NKP belum siap. Pasalnya untuk menetapkan industri 4.0 itu  memerlukan dana investasi yang sangat besar. “NKP saja untuk semi otomatisasi saja belum seluruhnya diterapkan hanya sekitar 10% dari total proses produksi yang dijalankan secara semi otomatis,” tandasnya serius. Sedangkan untuk pekerjaan non-produksi sudah menggunakan software, seperti bidang accounting. Yang belum NKP lakukan adalah instal suatu unit ke dalam equipment mesin-mesin yang dimiliki NKP.

Yudiansyah mengakui, banyak mesin-mesin NKP yang usianya sudah tua, sejak tahun 90-an. Kalau mesin-mesin yang ada di sini dikombinasikan dengan otomatisasi  melalui  Internet of Things ( IoT) industri 4.0, maka mesin-mesin yang ada harus dilakukan perombakan atau diganti dengan mesin-mesin baru. Untuk melakukan perombakan mesin atau mengganti mesin-mesin baru diperlukan investasi besar.

Beberapa waktu yang lalu pihak manajemen, kata Yudiansyah, pernah konsultasi dengan provider mesin  otomatis (Schneider). Pihak Schneider mencoba instal mesin  NKP secara gratis. “Kami menanya berapa cost untuk meng-instal mesin menjadi otomatis?  Lumayan besar, bisa mencapai Rp100-an juta,” kata Yudiansyah.

Memang ke depan akan lebih mudah, tapi ada efek yang ditimbulkan. Manpower makin berkurang. Apalagi dengan diterapkan IOT, sehingga akan lebih ramping lagi. “Kalau perusahaan-perusahan Jepang yang modalnya cukup besar, mereka dengan mudah melakukan transformasi teknologi. Kalau NKP kan kapitalnya hanya berdasarkan keuntungan yang  didapat dari usaha yang tidak diambil untuk dijadikan modal usaha baru, sehingga akhirnya bisa berkembang seperti sekarang ini.

“Kami banyak ide! Tapi  untuk merealisasikannya butuh modal. Nah, ini yang kami tidak punya. Akhirnya pinjam bank. Seperti bangun pabrik di Tegal (Slawi) ini. Pembangunan itu bukan modal sendiri, melainkan pinjaman bank,” kata Yudiansyah serius, bila bertahan di sini, dengan kondisi saat ini, pasti NKP tidak survive. Itu sebabnya manajemen memutuskan relokasi pabrik supaya bisa survive.

Menurut Yudiansyah, bila dilihat perkembangan saat ini, kelihatan perkembangan bisnis stamping akan stagnan. Kondisi ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan produksi. “Saya sendiri agak bimbang. Kalau tidak ada pertumbuhan bagaimana saya membayar pinjaman untuk membangun pabrik di Tegal (Slawi),” katanya serius. Walau demikian harus tetap optimis menghadapi kondisi ini. Apalagi kita menghadapi bonus demografi, kita banyak orang dan konsumsi sendiri, sehingga harusnya kita bisa survive.

Yudiansyah mengakui ekspor otomotif di tahun-tahun mendatang akan meningkat. Mudah-mudahan imbas perang dagang Amerika Serikat dengan China tidak berimbas demand negara-negara lain membeli barang dari Indonesia. “Apalagi kalau bicara basis produksi motor Indonesia lebih besar pangsa pasarnya. Kalau saya dengar Mitsubishi  di Vietnam sudah membangun industri untuk mobil Xpander. Otomatis produksi Xpander di Indonesia tidak terlalu banyak lagi. “Kayak-kayak gitu juga akan ada pengaruhnya dengan industri stamping di Indonesia,” tambahnya.

Sampai saat sedikitnya 300 jenis sparepart yang diproduksi NKP. Dari jumlah tersebut, diantaranya  adalah Bracket Muffler, Air Feed, Fin Drive Face, Stay Tail Light, stay FR Fender, Hing Seat, Plate Comp  Setting,  Gusset Main Pipe, Cover Eng CTR Unit, Adjuster Chain Assy Stay Lower Cover, Stay RR Fuel Tank, Clamp Belt Cooling Duck Seat Catch Comp KZL, Seat sendiriCatch Comp K25 BRKT Pivot R/L Comp ARM Comp Chain   Tensioner Stay Cover Sub Body, Stay Fuel Filter Stay Tank Reak, Pipe, Joint Breather Kab, Box Assy Battery, Cap Fuel yanFilter, Stay Comp Visor, Clamp, Hinge Comp R/L, Stay Lower Cover, Plate  L Cover, Duct stamping, Stay Comp FR Cover dan banyak lagi lainnya.

Sejauh ini sudah banyak  produsen otomotif (mobil dan motor-red) yang komponennya dipasok NKP. Diantaranya adalah  Astra Honda Motor (AHM), Kawasaki, Suzuki, dan beberapa produsen otomotif lainnya. “Tapi yang NKP langsung memasok ke produsen otomotif (jadi vendor) hanya di AHM, Kawasaki dan Suzuki. Sedangkan pasokan perusahaan-perusahaan otomotif lainnya dilakukan melalui pihak ketiga,” katanya. Sebab, untuk masuk langsung ke produsen otomotif memang agak sulit.

Menurut Yudiansyah, NKP sendiri memasok ke AHM mencapai 81% dari volume produksi NKP, sisanya dipasok ke pihak ketiga yang didistribusikan ke banyak produsen otomotif (motor dan mobil) berbagai mereka di Indonesia. “Sampai saat ini kapasitas produksi mesin-mesin NKP sudah mencapai 90%. Bila dihitung jumlah sparepart yang diproduksi, per bulan di atas 10 juta unit sparepart,” katanya.  Kini slot produksi yang tersisa hanya 10%. Itu pun untuk mengantisipasi bila ada order mendadak.

Itu sebabnya NKP pun memiliki beberapa subkon (sub kontraktor) yang mendukung NKP. Sedikitnya ada 30 perusahaan yang menjadi subkon NKP. “Nggak semua subkon NKP itu perusahaan UKM, tapi ada juga besar yang menjadi subkon NKP,” jelasnya.

Ke depan, kata Yudiansyah, NKP akan melakukan otomatisasi karena memang ini sudah menjadi tuntutan. Sementara target pertumbuhan pada 2020 diperkirakan bisa tumbuh 5 sampai 10 persen. Dan rencananaya pabrik di Cileungsi akan dikembangkan untuk pembangun pabrik plastic injection.  Tapi perlu waktu, perlu mempelajari know how, bagaimana potensi pasar dan sebagainya. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa