Kemendag Ajak Pelaku E-Commerce Penetrasi Pasar Ekspor

Potensi perdagangan elektronik di dunia diproyeksikan terus tumbuh hingga mencapai US$ 6,53 triliun pada 2023. Mendag Agus Suparmanto mengajak pemangku kepentingan e-commerce (niaga elektronik) berkolaborasi mendukung peningkatan transaksi produk lokal dan memperkuat ekspor Indonesia di pasar global melalui pemanfaatan niaga elektronik.

Saat ini barang-barang luar negeri yang diperdagangkan melalui e-commerce terus mengalami peningkatan,  sehingga dikhawatirkan akan membanjiri perdagangan dalam negeri dan berpotensi menyebabkan perdagangan yang tidak sehat di Indonesia. Hal ini yang perlu diawasi agar perdagangan dalam negeri dapat berjalan dengan sehat.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya menanggapi soal banyaknya produk impor yang masuk lewat perdagangan online atau e-commerce. Hal ini menyusul rencana pemerintah membuat aturan baru guna membatasi derasnya produk impor yang masuk ke dalam negeri dari e-commerce.

Menurut William, Tokopedia sebagai pelaku e-commerce, sebagaimana dikutip dari okezone.com,  tidak melakukan perdagangan cross border atau lintas negara. Artinya, semua barang yang dijual dalam marketplace tersebut sudah lebih dulu masuk ke Indonesia dan kemudian dijual oleh pedagang domestik.

 

Sementara Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta pemangku kepentingan e-commerce (niaga elektronik) berkolaborasi mendukung peningkatan transaksi produk lokal dan memperkuat ekspor Indonesia di pasar global melalui pemanfaatan niaga elektronik.

Demikian disampaikan Mendag Agus dalam Forum E-Commerce Indonesia 2019 di Jakarta, pada 9/12. Forum dengan tema “Optimalisasi Daya Saing Produk Dalam Negeri Menuju Pasar Global Melalui Pemanfaatan E-Commerce” didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Keuangan, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, serta Asosiasi E-Commerce Indonesia.

Acara ini dihadiri sekitar 500 peserta dari platform daring, pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), akademisi, dan pendukung ekosistem niaga-el, komunitas perdagangan digital, serta kementerian/lembaga terkait. “Pertemuan ini merupakan momentum penting bagi Indonesia dan diharapkan seluruh ekosistem niaga-el bersama-sama dapat berkolaborasi, bahu-membahu untuk mendukung peningkatan transaksi produk lokal menembus dan berjaya di pasar global di era perdagangan bebas,” tegas Mendag Agus.

Mendag Agus menggarisbawahi, potensi perdagangan elektronik di dunia diproyeksikan terus tumbuh hingga mencapai US$ 6,53 triliun pada 2023. Potensi ini tentu perlu terus dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi produk lokal dan penguatan ekspor Indonesia.

Sementara pengguna internet 2019 yang diperkirakan mencapai 360 juta membuka potensi yang sangat besar bagi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Berdasarkan riset Google, Temasek dan Bain & Company yang bertajuk e-Conomy SEA 2019, pangsa pasar (gross merchandise value/GMV) e-commerce ASEAN pada 2015 baru mencapai US$ 5,58 miliar dan akan tumbuh menjadi US$ 38,2 miliar. Kemudian, pada 2025 kembali tumbuh menjadi US$ 153 miliar atau setara Rp 2142 triliun, sebagaimana dikutip dari katadata.co.id..

Ekonomi ASEAN, misalnya, tumbuh rata-rata sekitar 5% mengindikasikan stabilnya perekonomian kawasan. GMV ekonomi digital Asia pada 2015 baru mencapai US$ 32 miliar, kemudian pada 2019 diproyeksikan tumbuh menjadi US$ 100 miliar dan menjadi US$ 300 miliar pada enam tahun ke depan.

Kolaborasi mendukung peningkatan transaksi produk lokal dan memperkuat ekspor Indonesia (Foto: pelakubisnis.com)

Itu sebabnya  Mendag Agus  mengajak  pemangku kepentingan e-commerce untuk berkolaborasi. “Melalui kolaborasi bersama, kita dapat mendukung peningkatan konsumsi produk lokal dan penguatan ekspor Indonesia dengan perdagangan online sesuai dengan keahlian kita masingmasing. Kementerian Perdagangan sangat optimis pertumbuhan ekspor Indonesia hingga dua digit pada tahun 2020 dapat terwujud,” terang  Agus dalam siaran pers Kemendag pada 9/12 lalu.

Selain itu, Mendag Agus juga menyampaikan informasi mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik yang baru saja diterbitkan. Regulasi yang menitikberatkan pada kepastian berusaha, perlakuan yang seimbang antar pelaku usaha dan perlindungan konsumen diharapkan dapat terus menumbuhkan ‘consumers trust’ dan ‘confidence’.

Salah satu poin yang diatur dalan PP tersebut adalah kewajiban pelaku usaha untuk memiliki izin usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). Tujuan yaitu menghindari diskriminasi antara pelaku usaha luring (offline) dengan daring (online), dan pelaku usaha luar negeri dengan pelaku usaha dalam negeri.

Menyikapi dinamika perdagangan global, Mendag Agus juga menyampaikan, Kementerian Perdagangan memiliki program-program strategis dalam mendukung pertumbuhan ekosistem perdagangan melalui sistem niaga-el. Program tersebut di antaranya pendampingan dan pengembangan manajemen usaha, digital branding dan pemasaran, pelatihan ekspor secara daring, serta program fasilitator edukasi niaga-el untuk melatih “local heroes” di daerah agar dapat menularkan pengetahuan niaga-el ke UKM di lingkungan sekitarnya.

Dirjen Kemendag, Suhanto (Foto: pelakubisnis.com)

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Suhanto menambahkan, Kemendag terus memberikan dukungan ketersediaan informasi bagi para pelaku usaha yang ingin mengekspor produknya, seperti informasi mengenai intelijen pasar, promosi dagang, prosedur ekspor dan impor serta berbagai informasi lainnya yang dipersyaratkan di negara tujuan ekspor. Informasi tersebut dapat diakses melalui web exim.kemendag.go.id.

Pada forum tersebut juga digelar temu wicara dan berbagai pameran produk-produk lokal hasil binaan berbagai platform niaga-el seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli, dan Shopee yang telah memiliki berbagai program meningkatkan kualitas produk UMKM Indonesia.

Sementara Juni tahun lalu, Kementerian Perdagangan mendorong para pelaku usaha untuk melakukan ekspor dengan memanfaatkan ekonomi digital, yaitu melalui e-commerce (niaga elektronik/niaga-el). Untuk mendorong hal itu, Kemendag menyelenggarakan seminar dan klinik bisnis bertema “Perluasan Pangsa Produk Indonesia di Pasar Luar Negeri Melalui Pemanfaatan E-Commerce” pada 19 Juni 2019 di Malang, Jawa Timur. Seminar berlangsung atas kerja sama Kemendag dengan Korean International Trade Association (KITA), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), dan Ralali.com beserta mitra mereknya, Tokoin. Kegiatan ini juga didukung Dinas Perdagangan Kota Malang.

Dalam seminar tersebut, Kemendag tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memberikan pelatihan praktis kepada 150 peserta yang hadir. Diharapkan, usai mengikuti seminar tersebut, para pelaku usaha dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat. Hadir sebagai pembicara yaitu Nofia Kartika Sari, KITA; Achmad Ichsan, LPEI; Zebedeus Rizal, Ralali.com; serta Mutia Rachmi, Tokoin.

“Melalui kegiatan ini diharapkan para pelaku usaha bisa lebih siap memanfaatkan niaga-el untuk memasarkan produknya, baik di dalam maupun luar negeri secara daring. Pemanfaatan niaga-el ini juga dapat mendorong ekspor nonmigas Indonesia yang tahun ini ditargetkan meningkat sebesar 7,5 persen dari tahun sebelumnya,” ujar Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor, Marolop Nainggolan.

Menurut Marolop, niaga-el memberi kemudahan bagi para pelaku usaha yang ingin mengekspor produk-produknya tanpa harus membuka toko di negara tujuan. Dengan cara ini, para pelaku usaha pun dapat menjual produk-produknya lebih banyak lagi.

Salah satu program yang memfasilitasi para pelaku usaha untuk memanfaatkan teknologi digital, terutama niaga-el, yaitu Digital Handholding Program (DHP). DHP adalah program jasa konsultasi Indonesia di bidang teknologi informasi (digital) yang dilakukan oleh LPEI. Program ini memberikan pendampingan, fasilitasi, dan pemberdayaan bagi pelaku UKM berorientasi ekspor untuk mampu memasarkan, memperluas akses pasar, mempromosikan, serta meningkatkan daya saing produk unggulannya di market place global (global niaga-el).

“Dengan mengikuti program ini, para pelaku usaha bisa mengembangkan kapasitas, mendapatkan penasihat bisnis, dan mengikuti program khusus pelatihan ekspor,” imbuh Marolop, sebagaimana yang dikutip dari siaran pers Kemendag, pada 25 Juni tahun lalu.

Marolop menambahkan, platform daring dapat dimanfaatkan untuk menyiasati keterbatasan anggaran promosi dan pemasaran. Promosi dan pemasaran dengan memanfaatkan teknologi sebenarnya memberikan keuntungan bagi para pelaku usaha. Tanpa biaya tinggi dan hanya dengan menggunakan jaringan internet, pelaku usaha sudah bisa memasarkan produk atau jasa secara luas ke masyarakat.

Bahkan, para pelaku usaha dapat memanfaatkan perencanaan sumber daya perusahaan (Enterprice Resource Planning/ERP). ERP adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi, maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. ERP meliputi sistem pencatatan, dari mulai transaksi hingga informasi lainnya dari sebuah usaha yang dapat diakses secara daring.

Selain itu menurut Maralop, para pelaku usaha juga mendapatkan pelatihan praktis dalam melakukan promosi dan solusi bisnis ERP. Dengan metode lokakarya seperti ini diharapkan para peserta dapat langsung mempraktikkan ke dunia nyata dan dapat menjadi lebih andal dalam memanfaatkan teknologi digital baik dalam melakukan promosi, transaksi, hingga pencarian solusi.

“Bukan hanya bagi para pelaku usaha, keuntungan penerapan niaga-el juga dapat dirasakan oleh konsumen, masyarakat luas, dan pemerintah. Niaga-el juga menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan usaha-usaha kecil dan menengah dan juga mempermudah komunikasi antara penjual dan pembeli,” pungkas Marolop.

Lokakarya diselenggarakan di Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur. Malang dipilih karena merupakan salah satu kota yang perekonomiannya didukung oleh kegiatan industri yang memberikan kontribusi sebanyak 33,05 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, sektor perdagangan di kota ini memberikan kontribusi sebanyak 29,68 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Saat ini Malang juga menerapkan sistem ekonomi kreatif. Hal ini terlihat dari tingginya peran UKM dalam roda ekonomi dan penggunaan terhadap aplikasi serta permainan digital sebagai subsektornya.[] Yuniman Taqwa