Peluang atau Ancaman Cross Border Bagi Pelaku Bisnis?

Perdagangan internasional kini ada di genggaman tangan! Hadirnya cross border e-commerce tidak hanya “banjir” produk impor di Indonesia, tapi produk anak negeri pun dapat dengan mudah tembus ke pasar ekspor. Apakah ini peluang atau justru ancaman?

3 besar kategori produk potensial Indonesia untuk pasar ekspor (Foto: pelakubisnis.com)

Pagi itu sekumpulan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan wajah penuh semangat sibuk berbaris antri dan bersiap-siap  mengikuti Seminar “Global Sources for Global Market” di event Global Sources Electronics yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta, 5 Desember lalu.

Event yang mempertemukan pengusaha Indonesia dengan 350 pemasok dari Cina daratan, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong tersebut  menjadi kesempatan emas bagi para pelaku bisnis di Indonesia untuk memperluas jejaring pengadaan barang elektronik impor, mencari tahu inovasi terbaru dan menemukan mitra bisnis potensial.

Namun, event ini tak hanya ditujukan bagi para importir, melainkan  juga mengundang para eksportir dan  UKM/UMKM calon eksportir. Rupanya ada seminar yang  bertajuk  ‘Global Sources for Global Market’ yang menghadirkan pembicara selain praktisi di bidang pembiayaan dan pelaku bisnis ekspor impor, juga  marketplace seperti Lazada dan Bukalapak yang  membahas  tantangan  ekspor ke mancanegara melalui crossborder e-commerce platform atau lintas batas niaga elektronik.

Perdagangan lintas batas negara melalui  e-commerce  tak dapat dibendung lagi seiring dengan penetrasi  milyaran pengguna sosial media di dunia.  Twitter, Instagram, dan Facebook  menjadi  sarana promosi ampuh bagi para pemilik produk.

Arberts Noah Redly, Owner Lapak Brightfull (Foto: Ist)

Arberts Noah Redly, salah satunya, pelaku UMKM yang sudah mengekspor produknya melalui e-commerce platform.  Owner produk perawatan tubuh dan  rambut Bioherbal dan BMKS ini menilai banyak terjadi perubahan perilaku cara belanja orang ke depan. “Saya memulai penjualan online pertama melalui blackberry messenger di kisaran tahun 2010. Saat itu, saya menjual berbagai macam produk, namun lama kelamaan kami fokus pada produk perawatan tubuh dan rambut. Lalu pelan-pelan kami mendirikan merek sendiri bernama BIOHERBAL dan BMKS,”papar pemilik Lapak Brightfull di Bukalapak ini  kepada pelakubisnis.com.

Selama ini ia memilih berjualan secara online karena  biaya operasional lebih murah, cashflow perputarannya cepat, dan data pun menunjukan bahwa market online sedang berkembang. Saat ini, semua barang Brightfull  dijual dan distribusikan lewat online. Cara ini dirasakan Arberts  relatif mudah dan efektif.

“Banyak orang bilang, tidak butuh usaha dan dan modal untuk bisa berbisnis melalui e-commerce. Memang ada benarnya, tapi yang paling penting sebenarnya adalah knowledge untuk menjalankan dan memperbaharui cara berbisnis. Saya rasa aturan mainnya sangat friendly untuk para UMKM dalam mendirikan usaha,”ungkapnya.

Ia menjelaskan, sejak  2015 tumbuh dan berkembang bersama Bukalapak hingga bisa melahirkan local brand bahkan mampu menembus pasar ekspor dengan dengan sistem cross border e-commerce.  “Bagi kami itu adalah keajaiban luar biasa. Tapi keajaiban itu tidak berhenti di sana saja.  Kami juga mulai dikenalkan pasar luar negeri lewat pameran. Pameran pertama di Kedutaan besar Singapora. Dari pameran tersebut, saya mendapat reseller pertama, dan dari disitulah jalan dan pasar saya terbuka, melalui fitur BukaGlobal di Bukalapak,”cerita Arberts.

Ia melanjutkan, banyak pelaku bisnis Indonesia mengalami kesulitan menembus pasar ekspor. Saat orang bicara ekspor, biasanya identik usaha butuh modal besar, koneksi, harus punya barang banyak, dan pemasaran sulit. Namun, dengan kehadiran BukaGlobal dari Bukalapak, memungkinkan  pelapak menjual barang produksinya ke mancanegara.

“Kami menjual barang ke 5 negara tujuan. Walaupun  pasar ekspor masih kecil bagi kami, tapi dengan kerjasama yang digagas Bukalapak bersama Kementerian Perdagangan, ini membuat kami yakin, jika pemerintah terus mendukung kami dan Bukalapak, maka kami para pelaku UMKM bisa terus mengembangkan pasar ekspor yang lebih luas lagi.

Di era digital  seperti sekarang Arberts bersyukur, banyak kemudahan yang ia dapat dengan bekerjasama dengan marketplace yang menyediakan platform official store dan memberikan konsultasi gratis tentang cara membangun brand dengan tepat.

Hal senada diakui Harry Sanusi, CEO PT Kino Indonesia Tbk (KINO) yang sudah jauh-jauh hari membidik pasar ekspor. Pengusaha yang dikenal sebagai The Innovator ini banyak menghasilkan terobosan kategori produk baru di tanah air. Salah satunya ia menemukan tren baru di industri personalcare dengan melahirkan Ellips, produk vitamin rambut dalam bentuk soft capsule.

Sejak diluncurkan tahun 2003, penetrasi Ellips terbilang sukses di tanah air bahkan hingga mancanegara, terutama  negara Jepang. Harry menemukan pelanggan setia dari Jepang yang setiap kali ke Indonesia  selalu memborong vitamin rambut Ellips sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya di Jepang.

Dan di era digital marketing ini ternyata Ellips dapat membuktikan bahwa produk buatan Indonesia mampu menembus mancanegara.  Diantaranya  bersama program Tmall Global X Lazada  Sell to China memasuki pasar di China dan mulai membuka lapak di Tmall Global untuk pertama kalinya di September 2019.  Terbukti,  sumber Lazada menyebutkan,  produk vitamin rambut besutan Harry ini  berhasil meraih penjualan  40 kali lipat pada momen 11.11 dibandingkan penjualan regular di Tmall Global.

Harry Sanusi, CEO KINO Group (Foto: Ist)

Kepada pelakubisnis.com, Harry Sanusi menjelaskan,  fenomena digitalisasi memang telah membawa perubahan terhadap cara pemasaran produk dan memberikan kesempatan yang lebih baik terhadap produk Indonesia yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk menembus pasar internasional. Terlebih lagi cross border ini menyediakan platform dimana kami sebagai produsen dapat memasarkan produk kami lebih bebas dan luas.

“Kami bersyukur bahwa produk kami dapat diterima di pasar internasional. Tentu saja ini bukan hal mudah karena seluruh produsen di seluruh bagian dunia juga terekspos dengan kemudahan yang disediakan oleh era digitalisasi saat ini. Oleh karena itu penting bagi kami untuk terus berinovasi, menjaga kualitas produk dan memiliki hal yang berbeda dengan pemain-pemain lain yang ada,”papar pria kelahiran 6 September 1967 ini.

Saat ini, lanjutnya, kontribusi penjualan e-commerce  KINO Group masih sangat kecil karena sebagian besar penjualan masih berasal dari traditional channel. Namun diakui Harry, pihaknya tengah  mempersiapkan diri dengan menjalin kerjasama dengan platform online yang ada supaya dapat terus menyesuaikan diri dengan perubahan market, tak hanya di market domestik tapi juga pasar internasional. “Tentunya persiapan menghadapi masa depan yang akan dipenuhi digitalisasi juga akan meningkatkan nilai ekspor secara keseluruhan,”tambah Harry.

Selain KINO Group, berdasarkan data Lazada, ada beberapa perusahaan nasional yang sukses di momen harbolnas  akhir tahun lalu dan salah satu yang  percaya diri menghadapi persaingan perdagangan antar negara melalui e-commerce adalah OrangTua Group (OTG). Melalui  unit bisnis makanan dan minuman (MaMin) OT Tango,  OTG hadir di pasar China sejak 2016 dan untuk pertama kalinya berhasil meraih pertumbuhan pesat kurang lebih 100% (YoY) di momen 11.11 di Program Tmall Global X Lazada Sell to China dan berhasil  mendapatkan 43 juta view selama livestream.  Bahkan sampai dipromosikan influencer nomor satu di platform Taobao Live (Viya) dan Youku.

Tak dipungkiri, munculnya platform online membawa masyarakat di tanah air mendapatkan ilmu baru tentang  cross border e-commerce. Di satu sisi masyarakat lokal akan terbius dengan limpahan produk-produk asing dengan harga yang menggiurkan, namun di sisi yang lain masyarakat  negara-negara lain juga bisa berbelanja produk buatan Indonesia. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pemilik produk di tanah air untuk bisa melakukan penetrasi pasar seluas-luasnya di pasar dunia.[]Siti Ruslina